GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
MAHLUK MISTERIUS


__ADS_3

rintik embun bersorak riai dalam kehangatan ruang yang cukup, keharmonisan mereka sedikit demi sedikit mulai terbangun dengan sebutir telur yang tersimpan di dalam kotak bersirakan debu.


Dharma menganggukkan kepalanya sembari nyerengeh, tindak laku paman itu membuat rambutnya mendadak lepek. Namun paman itu merubah bentuk ekspresinya ketika bercerita intisari dongeng yang ia kumandangkan.


"Tapi guru paman tetap menyelipkan kekhawatiran yang berlebih, pada saat itu guru paman sedang bergurau canda, tapi kepalanya mendadak sakit seperti terpukul batang besi yang berat, membuat dirinya merengis kesakitan.......... satu patah kata yang terciprat dari mulutnya yang bau tembakau adalah 'hati-hati'. Entah hati-hati apa yang dia maksud. Pernyataan itu didukung oleh Sambaran petir yang menyambar terus-menerus sampai tiga hari lamanya, sehingga paman dan guru harus meditasi untuk menahan lapar dengan dalih melatih ilmu, padahal mah biar engga kerasa lapar aja HHAHHAHAA.......," Cerita panjang itu ditutup candaan yang membuat dharma ikut terbahak-bahak tak kuasa menahan gurauan paman yang humoris.


Tidak terasa pagi sudah datang, luka yang bertebaran di sekujur tubuh dharma sedikit menghilang dan sembuh, kicauan burung kenari menghiasi pendengaran yang penuh pengharapan. Dharma hendak keluar, menampaki indahnya gunung, runtaian sungai mengalir deras, daun yang jatuh terkulai di tanah, hasrat hidup kini muncul lagi ditutur sang paman mengeluarkan sebatang rokok yang lesuh.


"paman! rokok apa itu," seru dharma memegang gagang pintu sambil melirik ke arah paman.


"ini cuman rokok yang belum habis. Kamu mau?" paman berlari menghampiri dharma dan langsung memegang tangannya agar tidak pergi keluar. Sontak perbuatan itu dicegah oleh dharma yang refleks langsung menepis tangan paman karena didasari geli.

__ADS_1


"maaf paman! tapi itu tidak sopan!" memicingkan sorot tajam.


"jangan pernah keluar pada waktu ini, khususnya di daerah sini!" juga paman yang serius kali ini.


"kenapa?"


"kau akan mati,"


"udara pagi di daerah sini bukan tempat yang tepat untuk menghirup udara segar, paman sengaja meracik ramuan agar udara pagi di sini terlihat kotor,"


"kenapa paman melakukan itu, apa tujuannya?"

__ADS_1


"jika kamu ingin tahu, pergi ke sebelah barat daya, dekat hutan Pinus belantara. Ada sebuah pohon besar yang akarnya membentuk terowongan sempit. Kamu hampiri sana! tapi jangan harap kembali dengan selamat,"


"ada monster kah? atau jawara sakti menginginkan tubuh manusia untuk menjadi lebih kuat?"


"lebih dari monster dan jawara sakti, menyeramkan jika digambarkan di sini. Jika kamu penasaran, kamu hanya akan melihatnya sekali seumur hidup, karena habis itu kamu akan mati,"


"kenapa paman tidak mengalahkan, tidak susah dengan kemampuan paman saat ini, dengan latar belakang seorang pendekar dari gunung kidul, dengan bejeb-bejeb yang diperoleh dari latihan yang keras. Semua komponen itu telah terkumpul, namun kenapa paman seperti kelihatan takut bahkan ketika menceritakannya?" Dharma menyadari ketakutan yang mengakar kuat dalam batin paman, entah kejadian traumatik apa yang dirinya alami sehingga ketika menceritakannya pun paman bercucuran keringat dari keningnya.


"Bukan seperti itu anak muda, tidak semudah membalikkan telapak tangan, lalu membalikan batu dengan kelingking saja. Kekuatan yang kokoh berasal dari hati yang murni, ada beberapa taraf di mana manusia tidak pernah menembus batasan itu. Sebuah tembok besar yang ada di hadapan paman, tak pernah terpanjat bahkan ketika memakai sepatu kulit asli." paman menjawab pertanyaan dharma dengan sungguh, dalam pita suara yang serak, merangkak pergi lalu membiarkan dharma membuka pintu itu.


Pintu rumah paman tidak bersih, ada beberapa sudut yang sudah rapuh, seperti terbengkalai tak terawat. Dharma masih tetap memegang gagang pintu itu, membisikan ketakutan ketika suara berkereketan merusuk pendengarannya, namun itu tidak membuat dharma berhenti membuka pintu.

__ADS_1


Setelah pintunya terbuka lebar, angin berhembus kencang, menghadang laju langkah dharma dalam mendobrak rasa keingintahuannya yang terpendam. Benar saja, kulit hitam menjulur datang dengan cepat, melilit pergelangan tangan dharma. "Hahhh.... apa ini, paman tolong!" gesit berlari, sang paman memotong daging berkulit hitam mengunakan sebilah pisau, dan langsung menutup pintu. "BRAKK" Suara hantaman pintu yang ditutup keras.


__ADS_2