
Pintu kumuh milik rumah sang paman terbuka lebar dengan masuknya sinar matahari merambat ke setiap penjuru rumah, ini merupakan bukti tentang sebuah rasa semangat dari sang murid dharma membedah misteri tak terpecahkan. "Langit sudah cerah! ini saatnya kamu melakukan penerapan ajaran luhung dengan ilmu," ucap paman, menepuk-nepuk pundak Dharma dalam tawa sembari nyerengeh.
"Ayo paman, hatiku menakar semua kemungkinan besar nanti," Dharma menggelitik langit-langit rumah dengan pandangannya.
Perjalanan mereka dipenuhi serangga-serangga berjalan menutur dari belakangnya, ruas kecil dan jalan berkelok serta menanjak curam membuat dharma mengeluarkan keringat dingin di area kening, mata nang sayu semakin menarik ke bawah, pohon-pohon besar itu tidak membentuk oksigen segar, seolah-olah tempat ini berbeda dari tempat lain, mungkin juga penilaian akhir atau test Dharma ialah pengukuran kapasitas tubuh dengan membahayakan kondisinya sendiri, atau kata lain ini merupakan tes bunuh diri.
"Tempat apa ini! paru-paruku serasa terhimpit," sambil memegang dadanya, Dharma menuai ucapan kekesalan terhadap tempat itu.
"Ini baru permulaan Dharma! di depan banyak sekali rintangan menunggumu," jawab Paman
"Hah! apa di depan semakin menipis oksigennya?"
"Hahahahaha....... bergembiralah karena monster itu akan memakanmu hidup-hidup."
Sontak Dharma terheran-heran, dalam sesak mencengkram dirinya mendapatkan pertanyaan selewaran di benak, "Apa saya dilatih untuk ujian ini? ataukah saya dilatih agar bisa menjadi nutrisi bagi para monster itu," sekumpulan pertanyaan merusuk seketika, takut campur bisingnya serangga berbunyi nyaring ditambah pepohonan nyiur seakan melambai-lambai agar diduduki olehnya, tapi karena sang paman terus bergerak maju, membuat Dharma tidak bisa meminta henti dari rasa lelahnya.
__ADS_1
Langkah demi langkah tercipta, pada akhirnya mereka berhenti di persimpangan jalan setapak, mereka berjalan cukup jauh kira-kira sepuluh kilometer dari rumah paman, di atas gunung, persimpangan itu ada membuat Dharma bertanya kemanakah mereka harus berbelok "Lewat mana ini paman," tanya Dharma menoleh memandang wajah paman Nang dipenuhi keringat di sekujur tubuh, "Ini kembali padamu, mau belok kanan atau kiri?" jawab si paman, walau ucapannya berbelit dengan napas lelah.
"Maksudnya, saya harus, memilih?"
"Benar! Kalau kamu belok kiri kamu akan menemukan monster seram, berbadan besar dan dipenuhi bulu di kepalanya. Monster itu pernah menarikmu waktu itu."
"Jadi saya harus melawan monster yang belum pernah dikalahkan paman, gitu?" keningnya mengkerut, sedikit kesal terpancar dari intonasinya.
"Paman sudah tua, jika paman masih berumur sepertimu mungkin paman bisa mengalahkan monster itu dalam jumlah tiga sekaligus,"
"Tapi kalo belok kanan, ada apa?"
"Belok kanan aja biar selamat," Dharma menyeringai senyum, menggoda untuk tidak melawan monster jahanam di depannya.
"Silahkan saja Dharma. Mungkin jika belok kanan kamu pasti selamat dan bisa pulang ke Desa menemui adikmu, tapi setelah itu kemampuanmu tidak akan bisa diprediksikan sampai mana, latihan selama enam bulan tidak akan pernah aplikasikan dan tujuanmu untuk merubah masa depan negeri ini akan sirna ditelan jaman.
__ADS_1
Pernyataan sang paman membuat Dharma bergedig, dan memang benar latihan selama ini ditempuh agar bisa melewati rintangan seperti ini nantinya.
"Saya akan memberikan hormat pada paman dalam bentuk menyelesaikan tes terakhir ini, jadi saya harap, paman dapat menungguku dengan tenang di rumah sana. Entah bertahan atau tidak, ini merupakan tonggak ukur kemampuan Dharma selaku murid pa Dalang,"
"Paman senang, ketika kamu bersemangat dan mampu menghadapi ujian ini dengan berani, sampaikanlah ke monster itu dengan lantang, kamu ialah murid dari sang Dalang!"
Tekuak fakta ternyata sang paman bernama Dalang, selama ini Dharma mengetahui nama asli paman ketika latihan tepat pada bulan purnama bulan empat, namun Dharma tak kuasa menyebutkan namanya, baru kali ini dirinya sanggup melantunkan untaian kata-kata motivasi agar ia mempunyai daya keseimbangan antara kekuatan dan takaran spiritual.
"Sudah, berarti kamu dan paman berpisah di sini! silahkan pergi dan hadapi. Paman akan pulang," Seusai mengucapkan kata perpisahan, pa Dalang pamit dan langsung berbalik pergi. Dharma hanya terpaku menyadari kini ia hanya seorang diri mempertaruhkan nyawa, Seperti sepucuk kertas berisikan kalimat indah, Dharma berderai air mata.
"Aku menghabisi semua monster di depan, mau berapapun jumlahnya aku akan maju menghadapi.
Dharma berkelok ke kanan, melihat situasi jalan tersebut, tekstur tanah basah membuat sendal kulitnya bergelimang lumpur. Langkah kakinya terdengar menandakan di tempat itu tidak ada suara sedikit pun, sangat hening. "deg.....deg......deg....deg" suara detak jantung Dharma terdengar nyaring juga jelas, pikirannya melayang membayangkan situasi seram di depannya.
Pada akhirnya Dharma menghela nafas langkahnya menderap cepat, terendus bau busuk menyengat sehingga Dharma lantas menghampiri asal aroma tak sedap itu. karena penciuman Dharma telah meningkat, tidak susah bagi Dharma menemukan asal muasal aroma tersebut. "Hahh!" Dharma meremang, letupan kesal bergejolak bangkit tatkala melihat asal bau busuk itu ternyata berasal dari bangkai manusia dalam kondisi tercabik-cabik perutnya, semua organ tubuh tidak utuh seperti gigitan harimau menghabisi buruannya.
__ADS_1
Suara melengking nyaring terdengar di balik rimbun pohon bambu, lantas Dharma meleret dengan cepat dalam pandangan sinis mengarah ke suara tadi. Sedikit demi sedikit tangan bersisik keluar, kuku-kukunya sangat tajam berwarna hitam pekat. Dharma terus saja memperhatikan mahluk aneh di atasnya dengan khusuk.
Tapi ternyata, di belakang tubuh Dharma melesat benda tajam mengarah ke pundaknya. Dharma merangsang serangan itu, dengan sigap langsung menepis benda tajam itu dengan golok yang disompangkannya di pinggang terlilit sutra, benda berukuran kaki manusia dapat bergerak cepat dalam skala 100 km/jam, entah siapa itu, robeknya alam menghambur gendang awal pertarungan.