GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
KITAB DIRI


__ADS_3

burung kenari melayang-layang di angkasa, mengarahkan langkah dharma tuk pergi ke dalam sebuah kotak hitam yang tidak terjamah. Ketika derap kaki dharma sedikit tergesa, dari arah belakang terdengar besing suara manusia sedang mengikutinya.


Dharma menghiraukan suara manusia yang tengah mengikuti sedari tadi, ia tetap berjalan maju secara tegak memandang semua ruas jalan yang ada. Satu lirikan ke arah belakang pun dharma tidak melakukannya, keseriusan dalam mencari kitab yang terkubur membuat dharma seolah tuli.


dua pohon menjulang tinggi mengapit jalan masuknya menuju lapang. Dharma Sudah melihat kedua pohon besar itu dari jauh. Namun ketika dirinya sedang berjalan tepat berada di dua pohon besar, ada seseorang dari belakang memukul leher dharma menggunakan balok kayu.


"BRAKKKK....' dharma terhempas dua meter ke depan. Kepalanya mendarat terlebih dahulu sebagai tumpuan karena hentakan yang sangat keras mengakibatkan kepalanya jatuh ke tanah ditutur badannya yang juga ikut terbanting.


rasa dongkol berdenting kencang, amarah yang meluap-luap kini dirasakan dharma. dirinya sekonyong-konyong dipukul dari belakang Tampa alasan yang jelas.


Namun apa daya, dharma hanya bisa menggeleng pasrah ketika penglihatannya mendadak buram. ia masih meringkuk lemas sembari memegang leher belakang yang terkena serangan tadi.


Tiga menit berlalu, dharma sudah terpasung tidak melakukan apapun di tempat di mana ia terjatuh. Ketika merasa bahwa kondisinya sedikit membaik, dan penglihatan mulai kembali jelas, baru lah dharma bangkit dari keterpurukan untuk melihat siapa orang yang telah memukulnya.


Waktu telah berlalu cukup lama walau hanya tiga menit, tentu saja orang yang memukul dharma tidak ada di sekitarnya, celingak-celinguk mencari keberadaan orang biadab itu tapi tetap saja dirinya tidak menemukan siapapun di sana.


"Siapa yang tadi mukul," ucap dharma di dalam hatinya.


dharma lantas melanjutkan pergi ke tengah lapangan untuk menemukan letak pohon jati itu berada.


"ko gaada yah, ternyata bener kata Ansel. di deket sini gaada pohon jati, yang banyak cuman pohon Pinus sama pohon yang aku gatau namanya." dharma sedikit terkukuh, bahwa apa yang dikatakan tertua dan Abah yang ada di mimpinya ternyata memberikan data yang salah.


Informasi selewengan membuat dharma kembali mengorek memori ingatannya untuk mencari petunjuk lain dari apa yang telah ia hapal kemarin.

__ADS_1


"kata Abah mengatakan bahwa kitab itu terdapat di bawah tanah, di deket pohon jati tepatnya di daerah lapang." karena dharma terlalu lama berdiri di sana sambil berbicara sendiri, ditambah kakinya yang sudah terasa pegal-pegal. dharma memutuskan untuk melimpir ke samping lapang dan menengadah tubuhnya di batang pohon.


ketika leher bekas pukulan tadi terkena batang pohon, dharma menyeringai kesakitan. dampak dari hantaman keras tadi ternyata masih berbekas, hanya saja rasa sakitnya akan timbul ketika leher itu diraba atau terkena objek lain.


"jangan-jangan saya dikibuli sama Abah dan tertua........ tapi masa dari gerak tubuh mereka, saya ko ga melihat tanda bahwa mereka sedang berbohong....... jadi lapang mana yang harus jejaki untuk mencari kitab itu?" gumpalan pertanyaan menyerbu pikiran dharma, dalam sekilas dharma mengira dirinya telah dibohongi oleh tertua desa dan Abah yang ada di dalam mimpinya.


seperti cahaya kencang yang mengolebat di hadapannya, dharma langsung teringat dengan sepotong kalimat yang diucapkan bapak-bapak tadi. Bapak yang mengenakan pakaian batik serta kopiah hitam, mengatakan sepatah kalimat yang pada saat itu dharma tidak mengerti maksudnya.


'falsafah jang' nada bicaranya bahkan masih terngiang-ngiang di otak dharma. pikiran dharma kini liar tak berujung, mencocokkan semua informasi yang ada di dalam bank data yang telah dimiliki.


"mungkin uyut dan abah ingin memberikan saya tataruncingan agar saya sedikit berpikir. maksud mereka kitab itu bukan buku melainkan hal yang lain......"


"makasih panca, kamu telah memberikan clue-nya untuk saya.... Hahaha," garis bibir dharma melengkung ke atas bagaikan mangkok.


"terkubur dalam tanah, di dekat pohon jati........ jati. lalu tanah?" dharma berpikir dan mulai membedah makna di dalam perkataan uyut.


"tanah, tanah, tanah, kenapa harus tanah. ada apa di tanah? dan kenapa juga harus ada pohon jati?" menghela nafas dan memejamkan matanya, agar lebih khusu dalam berpikir.


"manusia, jati dan tanah, lalu kitab!..... ohhhh saya tau maksudnya sekarang.."


robeknya terik matahari menjadi gumpalan awan hitam menandakan maksud dari falsafah yang dikatakan bapak tadi. gemericik hujan mulai turun membasahi alam bumi.


Dharma bersikukuh berdiam diri di bawah pohon yang rimbun dengan dedaunan. dharma merasa bahwa hujan kecil ini tidak akan mengguyur tubuhnya, sehingga ia tetap rehat dan melanjutkan berpikir.

__ADS_1


"JATI DIRI!" kalo ini, dharma mengacungkan telunjuk ke depan dan membentuk ekspresi senang.


manusia berasal dari tanah, pohon jati adalah simbol agar dharma dapat dengan mudah menemukan arti dari kitab yang terkubur di bawah tanah, jika digabungkan antara tanah dan jati maka filosofis akan mudah terbentuk.


yaitu jati diri.


Tapi lagi-lagi kebingungan mengucur dalam benaknya, beberapa pertanyaan kini tercipta. Dirinya masih belum bisa menemukan apa itu kitab jati diri.


jika diringkas kitab jati diri akan berubah menjadi kitab diri. lalu apa itu kitab diri? bagaimana isinya, dan apa yang terkandung di dalam kitab diri?.


Karena keasikan dalam berpikir, dharma tidak menyadari hujan semakin deras. dari celah dedaunan air langit mulai mengucur yang kini mulai membasahi dirinya yang sedang berteduh.


Dengan tergesa dharma beranjak, mencari tempat yang cukup riuh untuk dirinya dapat melanjutkan membedah tulisan kitab diri.


dharma berjalan sempoyongan, kabut tebal mulai turun, membatasi jarak pandang dharma. bajunya basah kuyup, serta telapak kaki dharma sangat kotor karena terciprat tanah yang sudah bercampur dengan air hujan di lapangan itu.


sedikit namun pasti, dharma telah keluar kawasan lapang. Tampak rumah kosong terlihat olehnya. dharma mengira rumah itu kosong karena terdapat banyak sekali dedaunan yang berserakan dipekarangan rumahnya. sehingga dharma menyimpulkan bahwa rumah itu tidak berpenghuni.


Akhirnya dharma sudah sampai, di depan rumah itu terdapat kursi panjang yang terbuat dari bambu, ini sudah cukup bagi dharma untuk dijadikan tempat peristirahatan di kala langit tengah membagikan keberkahan bagi umat manusia.


menggigil tanpa henti, semua baju dan celananya kini telah basah, dharma mengeram kedinginan. ia membayangkan ada selimut hangat untuk membantu dirinya yang sedang kedinginan.


duduk sambil menyodorkan tubuhnya di bilik rumah dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan, dharma malah melanjutkan mencari arti dari kitab diri.

__ADS_1


Namun anehnya, dharma belum mengetahui apa itu falsafah yang sejatinya. sehingga dharma hanya menggerayangi simbol yang disodorkan oleh tertua desa dan Abah.


__ADS_2