
Rungkut suar memendar intuisi dharma, memikirkan tentang syarat apa yang harus dirinya penuhi untuk menjadi warga lokal desa ini.
Sang tertua kini melanjutkan pernyataannya yang tadi, agar dharma tidak merasa penasaran yang begitu mendalam atas syarat yang ia ajukan.
"Syaratnya gampang. Cari kitab di bawah tanah, deket lapang tepat diantara pohon jati." sambung tertua melanjutkan syaratnya.
pikiran dharma mendadak menggembung dalam benak penuh sesak. Ternyata apa yang ia dengar barusan dan apa yang telah disampaikan abah, mempunyai kesamaan yang signifikan. Yaitu mencari kitab yang sudah terkubur di bawah tanah.
"Sebentar yut...... maksudnya saya harus menemukan dulu kitab, baru sehabis itu saya adik saya diterima di sini?" sungguh syarat yang diberikan tertua membuat dharma pusing tujuh keliling.
"kalo kamu sanggup ya silahkan. Tapi kalo kamu tidak sanggup, silahkan keluar!" tertua berbicara serius sambil memandang tajam wajah dharma.
merasakan hawa yang berbeda ketika pertama masuk ke dalam pendopo dan pada saat uyut memicingkan matanya, membuat dharma menciut seluruh keberanian yang ada. Semua konsentrasinya buyar. Tak terkecuali panca yang langsung menyela pembicaraan itu dengan satu kalimat saja.
"kitab itu buku bukan, kak? panca melirik dharma dengan ekspresi datar.
Pertanyaan panca membuat dharma merenung seperkian detik. Bahwa apa yang adiknya tanyakan merupakan sebuah petunjuk baginya untuk mengetahui dan menemukan kitab yang telah terkubur.
"Satu kali lagi dhar! Uyut bakal kasih kamu waktu tiga hari buat nyari itu kitab. Kalo engga ketemu, wayahna kamu harus pergi dari sini!," tertua desa tidak ingin dharma berlama-lama mencari dan menemukan kitab itu, karena ketidakadaan batas waktu untuk menentukan seseorang dalam berkehendak akan membuat dirinya lalai.
"Iyah yut saya paham. Tapi apa yang tadi panca tanyakan ke saya juga ada benernya. Kitab itu berbentuk buku atau bukan?" sesaat panca memalingkan wajahnya, dharma langsung mengajukan pertanyaan petunjuk.
"ahhh uyut gatau! itu terserah kamu. yang terpenting tiga hari setelah hari ini, kamu harus bertemu lagi sama uyut dan menceritakan apa isi dari kitab itu,"
"kalo seperti itu, saya tidak harus bawa bukti fisik dong?" kini dharma mulai memancing pertanyaan agar tertua memberikan sebuah jawaban pasti.
"kalo kamu bawa kitab itu kesini tapi kamu engga ngerti apa isinya, buat apa," jawab uyut.
"terimakasih yut. saya pasti akan mengetahui isi dari kitab yang dimaksud uyut."
"ya sudah, kalo kamu sudah mengerti silahkan melanjutkan aktivitasmu." tertua desa berdiri, lalu meninggalkan dharma di sana.
"langkah pertama yang harus saya lakukan adalah menanyakan ke Ansel, ada ga pohon jati di sekitaran lapang," ucap dharma di dalam hatinya.
Akhirnya dharma juga panca menghampiri Ansel yang tengah berbincang-bincang hangat dengan warga di Dekat kebun cabai.
__ADS_1
"sel..... mau nanya nih," dharma menepuk pundak Ansel dari belakang.
Ansel melirik ke belakang lalu berkata "ada apa. mau nanya apa emang,"
"jangan di sini, ga enak ngomongnya,"
"yaudh kita cari tempat lain aja,".
Mereka bertiga melimpir ke tempat yang lebih tenang, setidaknya suasana di tempat tersebut tidak terlalu ramai. Ansel mengajak dharma berbicara di bawah pohon mangga. rimbunnya dedaunan membuat obrolan mereka seakan terasa khusu.
"nah ini baru cocok nih tempat." ucap dharma.
"kamu mau ngomong apa, kayanya serius?"
panca yang sedari tadi dipegang tangannya oleh dharma malah melepaskan cengkeramannya. panca langsung berlari dan malah mendekati Ansel.
"cari-cari kesempatan aja nih bocah," melihat perginya panca menghampiri Ansel. dalam tatapan iri.
"ehh panca ke sini," membuka kedua tangannya seperti ingin memeluk.
"ka Ansel, apa kabar," kata panca sambil memeluk Ansel.
"di Deket lapang ada pohon jati ga?" dharma memandang dalam pembicaraannya.
"kamu ngajak aku cari tempat sepi, cuman buat nanya ini? ekspresi sedikit kesal terpapar dari wajah cantiknya.
"eehhhh bukan gitu Ansel, takutnya kalo aku nanya gini, orang-orang yang di Deket kamu bakal mikir yang enggak-enggak,"
"ohh gituu..... Perasaan gaada deh pohon jati di deket lapang. tapi coba aja cek sendiri,"
"Hah gaada?" dharma mengkerutkan keningnya.
"ko kamu yang panik gitu sih,"
"sebentar, sebentar, sebentar, aku mau ke lapang dulu. titip panca yah," setelah mengatakan itu, dharma hendak pergi namun dicegah oleh panca yang kembali bertanya.
__ADS_1
"kak mau kemana?"
"kakak mau ke lapang dulu sebentar, kamu di sini dulu sama kak Ansel yah, nanti kakak kesini lagi."
Dharma memacu dengan cepat kedua kakinya. Ansel kebingungan melihat tingkah dharma saat ini, tapi ia lebih memilih untuk diam dan menghiraukannya. setelah itu Panca diajak jalan-jalan menyusuri desa oleh ansel agar lebih mengetahui keindahan serta kesejahteraan desa ini.
Ketika dharma tengah berlari menuju lapang untuk melihat pohon jati. ketika fokusnya beralih ke segala segmen kemungkinan, seketika itu juga pikiran tidak memfokuskan penglihatan untuk meraba dan memperhatikan ruas jalan yang ada.
semilir angin merusuk jarak pandang dharma, sehingga dirinya tidak dapat mendeteksi dari arah depan terdapat seorang bapak-bapak yang sedang berjalan santai mengarahnya. bapak itu menggunakan baju batik lesuh, serta kopiah hitam hinggap di kepalanya.
Di garis datar mulut bapak itu, menempel selinting rokok yang didiamkan, sampai-sampai setengah dari kertas rokoknya berwarna kuning karena bercampur dengan air liur.
'BRAKKK' suara jatuhnya tubuh dharma.
namun anehnya bapak-bapak yang ditubruk dharma tidak merasakan efek dari hantaman tubuhnya. ia tetap kokoh berdiri sambil melihat ke arah belakang tempat jatuhnya dharma.
"Kade jang," sepatah kata yang keluar dari mulut bapak itu.
"maap pa,, saya ga sengaja. tadi galiat," dharma bangkit langsung menghampiri bapak itu hendak meminta maap.
"tidak apa-apa.... Kalo mau nyari itu kitab, bedah dulu spritualitas."
"ko bapa tau, saya mau nyari kitab?"
"falsafah Jang,"
"maksud pa?
"bapak mau pergi dulu. sampurasun......"
Bergeming tanpa usik sedikit pun, dharma tertatih memandang bapak-bapak itu pergi.
"ini apalagi lagi." keluh dharma di dalam hatinya.
Penggalan kata spiritual adalah spirit+ual. Spirit mengandung arti semangat, kehidupan, pengaruh, antusiasme, spiritus itu bahan bakar dari alkohol, dan minuman anggur itu disebut sebagai spirit atau minuman yang memberi semangat. Spirit sering diartikan sebagai ruh atau jiwa. Jadi arti kiasannya adalah semangat atau sikap yang mendasari tindakan manusia.
__ADS_1
Di masyarakat sering terlupakan bahwa arti sebenarnya spirit itu adalah entitas atau makhluk atau sesuatu bentuk energi yang hidup dan nyata, meskipun tidak kelihatan di mata biasa dan tidak punya badan fisik seperti manusia, tetapi spirit itu ada dan hidup. Spirit bisa diajak berkomunikasi sama seperti kita bicara dengan manusia yang lain. Interaksi dengan spirit yang hidup itulah sesungguhnya yang disebut spirit-ual.
TUNGGU PART BERIKUTNYA<3