
Terlihat Keremangan sinar sendu Astra jingga merambat ke dalam rumah Ansel melewati jendela yang terbuka. Mereka singkuh meratapi dharma yang sudah bangun dari komanya.
"Kamu kenapa? tanya Ansel melipir menengadahkan kepalanya dekat dharma yang tengah terbaring.
"Aku gapapa.... tapi tolong kamu, kamu jangan terlalu Deket," jawab dharma sedikit terbata dan gemetar.
"ohh iya maap..." Ansel tersipu malu, wajahnya seketika memerah. untuk menutupi kesaltingan, Ansel langsung pergi ke depan jendela sambil menahan malu.
"Malu banget.." ia menahan senyumnya dengan menghadap ke luar rumah.
"ka Ansel kenapa kak?" keluguan panca dengan serta-merta menanyakan tingkah Ansel yang menurutnya aneh.
dharma menjawab pertanyaan adiknya itu, walau dia tahu bahwa Ansel sedang menahan malu di sudut jendela.
"Ahhh engga, mungkin ka Ansel mau ngirup udara segar." dharma menyeringai, dia berucap sambil melirik Ansel yang masih terpaku di sana.
"TOK...TOK....TOKKK" Ada yang mengetuk pintu dari luar.
Ansel menghampirinya langsung. ternyata itu adalah tetangga yang ingin menyampaikan pesan tertua untuk membawa panca dan dharma ke pendopo, tempat ia sering mengerjakan tugasnya.
"Anak baru itu masih di sini?" ucap tetangga.
"iyahh mereka masih di sini. kamu mau apa nanyain mereka."
"ada pesan dari tertua, katanya mereka disuruh menghadap nanti sore,"
"ko tertua tiba-tiba tahu mereka. siapa yang ngasih tau?
"namanya juga tertua. pasti tau lah," dia menyenggol Ansel dengan tangannya, lalu meringis senyum.
"Ohh iya yah, dia kan sakti. Hahahaha," Ansel bergelek tawa menutupi mulutnya.
"Mungkin itu saja, yang ingin saya sampein. Selebihnya kamu anterin yah mereka kesana. Dahh.." Tetangga tadi selepas menyampaikan pesan dari tertua langsung pergi dari rumah Ansel. Diikuti lambaian tangan menyertainya.
Ansel menutup pintu rapat-rapat, dia menengok ke arah dharma berada.
"kamu nanti sore dipanggil tertua, suruh ke pendopo!"
"pendopo nya ada di mana emang?"
"Nanti saya anter kesana"
"panca juga yah," kini melirik panca.
"Iyah kak. Tapi aku gaakan diapa-apain kan?" sepertinya panca masih memiliki rasa trauma akan upaya pembunuhan kemarin, sewaktu dia dan kakaknya hampir saja dimakan dan dibakar oleh kelompok kanibal.
"engga akan diapa-apain ko, santai aja ya sayang." menghampiri panca. pola nafas panca mirip orang yang ketakutan ketika diberitahu bahwa ia juga akan dibawa menghadap sang tertua.
__ADS_1
seraut wajah dharma mendadak berubah, dia langsung meremas ingatannya karena teringat akan perkataan Abah yang ada di dimensi itu. Abah berkata bahwa dia harus menemui Kasmin untuk belajar usik. Jangan-jangan Kasmin yang dimaksud adalah tertua. Tapi semua itu tidak langsung dibenarkan, dharma harus mengetahui dulu siapa nama asli dari tertua.
"Ansel!" memanggil Ansel
"Iyahh, ada apa?"
"nama asli tertua itu siapa?" dharma membentuk ekspresi wajah penasaran.
"kamu mau tau?" Ansel sedikit ingin mengajak bercanda, dari nadanya.
"aku nanya serius!" dharma cukup menekan pertanyaannya pada Ansel.
"iyahh deh iya, santai aja kali jangan sewot gitu!" Ansel merubah cara bicaranya jadi sedikit bete.
"biasanya suka dipanggil Lame. kalo nama aslinya aku gatau."
"LAAMMEE?" Dharma memicing, ternyata dugaannya salah. tertua bukan orang yang dimaksud Abah.
Jika bukan tertua yang dimaksud, berarti Kasmin adalah seseorang yang berbeda. mungkin saja dia tidak berasal di desa ini, tapi mungkin saja tertua tahu siapa itu Kasmin, dan di mana ia bisa berjumpa dengannya.
meneruskan perjalanan Karuhun menang tidak semudah yang dharma kira. dharma disodorkan beberapa teka-teki rumit, untuk menggerayangi arti dibalik kata Kasmin. dharma sontak berdenting bingung. kepalanya serasa berpusar cepat, simbol yang diberikan belum terkuak olehnya, beberapa jawaban mungkin mulai terpampang, akan tetapi menyambungkan garis benang merah antara jalan ini menuju jalan itu masih belum tercerahkan.
"aku mau menemui tertua!"
"kamu mendadak semangat gitu sih?" Ansel cukup kebingungan melihat dharma yang beralih cepat dari penasaran ke antusias.
"ada yang mau saya tanyain ke dia."
"kamu gaakan tahu. yang harus kamu tau, kamu sangat manis dan cantik."
mulut Ansel ditahan keras agar tidak tersenyum. sorot matanya menatap kesana-kemari setiap sudut yang ada, agar dirinya tidak melanjutkan rasa baper atas pujian dharma tadi.
"kalo ketawa, ketawa aja... jangan ditahan gitu, malah keliatan makin manis loh."
jantung Ansel berdetak kencang. rasa malunya kini sudah membeludak sampai tak tertahankan, hingga membuat dia akhirnya melepaskan senyum indahnya di hadapan dharma.
"tuh kan makin manis kalo senyum," gurauan dharma tidak ada hentinya. Ansel sudah tidak dapat menahannya lagi. suara melengking nyaring terdengar darinya.
"udah dharma....." letupan kebahagiaan Ansel tercantum dalam lampiran kata 'udah dharma'
itu sudah cukup mengetahui bahwa Ansel adalah seseorang yang tulus. perlakuan yang dia berikan terhadap dirinya dan juga panca sudah menjadi representasi sifat dan karakternya.
dharma sangat bahagia menemukan sosok pengganti ibunya untuk panca yang masih bertumbuh.
Pendopo adalah bagian bangunan yang terletak di muka bangunan utama. Maka pendopo yang di desa Ansel adalah bangunan yang cukup megah jika dibandingkan dengan rumah warga biasa.
Pendopo itu tidak memiliki dinding. Diantara sudut bangunan terdapat tiang kayu yang terbuat dari jati berwarna coklat. Luas pendopo itu sekitar 12x9. sangat besar untuk sekelas bangunan di era krisis moneter ini. Kayu-kayunya diukir indah, Bahkan sesekali jika kita melihat dengan jeli akan terpampang sesosok pria paruh baya yang bongkok, dengan membawa tas di pinggangnya.
__ADS_1
Atap pendopo dihiasi lampu-lampu besi. walau bukan dari listrik, mereka memakai kayu untuk bahan penerangan dari lampu tersebut. Di atas genteng ada semacam kubah berbentuk bunga teratai yang menyambung dengan kayu menuju setiap sudut pendopo.
"Duduk Jang.....," tertua mempersilahkan dharma dan panca untuk duduk di teras sejajar dengannya.
sementara itu Ansel seusai mengantarkan dharma dan adiknya malah menunggu di luar area pendopo sembari mengobrol hangat dengan para penduduk yang tengah beraktivitas.
kedua kakak-beradik ini duduk bersila dan juga tegap badannya, kedua tangan ditumpangkan ke dengkul yang terlipat.
"jangan tegang seperti itu.," ucap tertua
Dan benar saja dharma dan panca terlihat sangat tegang, bahasa tubuh yang mereka lontarkan sangat mudah dipahami oleh setiap orang, cara duduknya, ditambah raut wajah sedikit memerah, menandakan bahwa adrenalin mereka tengah memuncak.
"Iyah tertua!" tegas dharma
"Jangan panggil saya tertua, orang-orang di desa ini sering memanggil saya dengan sebutan uyut." intonasi uyut begitu berwibawa, walau sedikit pelan ketika berbicara.
"Iyah uyut," jawab panca menyeringai lebar
"kau anak baik," uyut atau tertua membalas senyum panca.
"kalo boleh tau siapa namamu nak?" tanya uyut yang tertuju ke panca.
"panca, uyut. sama ini kakak saya namanya dharma." panca tidak hanya memperkenalkan dirinya, melainkan juga memperkenalkan kakaknya yaitu dharma sambil menunjuknya.
"pinter kamu panca," uyut kembali tersenyum.
"kalo boleh tau, kita dipanggil ke sini ada apa ya? tanya dharma.
"jadi... maksud uyut manggil kalian berdua kesini buat kenalan sama uyut... masa ada warga baru, uyut sampe gatau,"
"Iyah uyut maap kami tidak langsung melapor ke uyut. Kalo boleh, kami minta jadi warga disini.... Boleh ga uyut?"
"Boleh.... Kalian sangat diterima di sini. Tapi, kalian mau tidur dimana?
"nah itu yang buat dharma bingung, kami tidak mempunyai rumah."
"kalo kalian mau, di sana (menunjuk ke arah selatan) ada rumah bekas uyut yang jarang kepake. Kalo kalian mau boleh tinggal di sana,"
Dharma dan panca begitu kegirangan, mendengar bahwa mereka akhirnya mempunyai tempat singgah yang pasti, meski itu bukan miliknya. Dharma lantas bersimpuh dengan penuh rasa terimakasih di hadapan tertua.
"Makasih uyut......" dharma menghaturkan rasa terimakasihnya dengan sungkem ke uyut yang telah memberikan mereka tempat tinggal.
"udah, udah, udah, jangan terlalu berlebihan dharma." mengembalikan posisi dharma semula agar tidak sungkem padanya.
"kami sekali lagi mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya ke uyut."
"Tapi ada syaratnya...." Abah ternyata tidak secara percuma memberikan rumah ke dharma, melainkan ada sebuah syarat yang meski dipenuhi oleh dharma sebagai warga baru di desa tersebut.
__ADS_1
Buktinya dharma belum mengetahui nama desa itu, yang selama hampir tiga hari dia sudah berada di sana.
TUNGGU PART BERIKUTNYA