GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
KI MASTAK


__ADS_3

jejaring sosial masyarakat tidak mampu membedah tulisan tuhan, mereka terlalu lelap dalam beristirahat, terlalu sibuk dengan urusan manusia. Teriakan manusia bermunculan dari arah barat, tepatnya datang dalam kerumunan pohon yang memenuhi gunung-gunung tinggi.


Ansel dan juga masyarakat yang telah tahu simbol teriakan itu pun, mulai masuk ke rumah dalam kondisi panik. mengunci setiap pintu dan juga jendela yang terpampang di dekorasi rumah mereka.


sumur sebagai sumber kehidupan warga, langsung ditutup rapat menggunakan papan kayu khusus yang sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak ada lubang untuk bisa dimasukkan benda apapun.


Ansel yang pada saat itu masih menimba air sumur, beralih cepat memandang tajam asal muasal suara itu datang. bergeming tanpa usik, seketika pegangan tangannya bergetar. seolah tubuh sudah tidak mempunyai daya untuk menahan ember berisikan air.


tanpa tahu alam bawah sadar mengontrol Ansel 'tuk berlari tanpa menoleh kebelakang, mengesampingkan kedua ember yang telah ia bawa dari rumah. mendobrak pintu rumahnya sendiri, sampai dharma yang tengah tertidur pulas bangun dibuatnya. semua pintu dan juga jendela yang telah dibuka kini ditutup. Dharma masih duduk di sofa, mengawasi sikap Ansel sedang menutup semua pentilasi rumah.


"Ada apa ini Ansel!" tanya dharma yang sangat kebingungan.


Ansel menghiraukan pertanyaan dari dharma, dirinya sibuk masih mengunci. karena pertanyaan dihiraukan ia memutuskan berlari ke arah ansel, memegang kedua pundaknya lalu menatap dengan keseriusan.


"ada apa ini Ansel!"


Ansel gemetar tak tertahankan, wajahnya pucat, dan tidak bisa berkata-kata.


gemuruh suara orang-orang yang datang dari barat semakin terdengar jelas. Ansel menepis tangan dharma yang memegang pundaknya. Ia melimpir dan bersembunyi di sudut ruangan yang terhampit lemari besar.


"suara apa itu?" kini dharma mendengar rombongan orang diluar sana. karena dharma tipekal orang penasaran ia hendak membuka jendela, namun Ansel menyela tindakan tersebut.


"jangan dibuka!" teriak Ansel.


"kenapa ada apa ini" jawab dharma.

__ADS_1


"sebaiknya kau bersembunyi,"


"Iyah ada apa! dan siapa orang yang berbondong-bondong datang ke desa ini?"


Ansel membisu seribu bahasa. dia bersembunyi memeluk kedua kakinya di tepi ruangan. tubuhnya tidak henti bergerak, menandakan bahwa adrenalin sedang meletup-letup dahsyat.


Kedudukan memang semakin sulit. Ratusan hentakan kaki semakin bergema di atas tanah, rasa penasaran dharma sudah sampai di titik akhir, pertanyaannya belum jua dijawab oleh siapapun. Lantas pintu yang telah terkunci dibuka oleh dharma. Dirinya berlari keluar untuk memenuhi hasrat keingintahuan akan fenomena aneh yang terjadi.


"luncurkan panah api....."


Teriakan seseorang disusul dengan ratusan anak panah berapi menderu bagai disiram dari angkasa. beberapa anak panah terkena suhunan rumah, beberapa lagi berbenturan sendiri.


dharma sudah berada di luar rumah. hatinya berguncang hebat, melihat ratusan panah berapi menuju kepadanya. kalo saja dharma menggugu apa kata Ansel, mungkin dharma sekarang dapat berlindung di dalam rumah.


namun apa daya, nasi sudah jadi bubur, mau tidak mau dharma harus tetap berada di luar. karena kalo tidak, pintu yang sebentar saja terbuka akan termasuki anak panah yang tengah meluncur ke arahnya.


beberapa anak panah dapat dengan mudah ditangkis oleh dharma, hal tersebut dilakukan dalam kurung waktu semenit sampai semua anak panah telah habis diluncurkan.


Dalam geramnya dharma maju ke depan ke arah rombongan itu berada. untuk kedua kali dharma kesurupan oleh leluhur, yang juga telah merubah struktur tubuhnya. dharma terlihat bukan sebagai anak muda, melainkan seorang resi gagah perkasa dalam konsep Tri tangtu di buana. Resi itu dipenuhi oleh pernak-pernik perhiasan kerajaan.


seorang resi yang merangkap jadi panglima perang tengah merasuki tubuh dharma berseru keras sambil mengacungkan pusaka sakti yang bernama 'ki mastak' pusaka ini telah ada sejak abad ke tujuh Masehi, tepatnya di daerah Sumedang.


Pedang milik Prabu Agung Resi Cakrabuana (Nama lain Prabu Tajimalela) ini, dikenal dengan sebutan Pedang Ki Mastak. Uniknya, pedang Ki Mastak genggaman Prabu Tajimalela ini, ternyata memiliki bentuk mirip dengan model-model pedang dari Kerajaan Persia di masa lalu (Damaskus).


Dari gelanggang peperangan, resi itu maju sendirian, menghadapi ratusan manusia yang siap dengan paritnya. Terdengar seruan tertahan yang keras. pedang Ki mastak yang bagai mempunyai mata dan perasaan melayang lurus ke arah pemanah yang sudah siap dengan busur panah. Musuh merasakan desis angin bertiup lembut. sebagai manusia biasa tanpa kesaktian, simbol itu dihiraukan.

__ADS_1


Ternyata pedang Ki mastak hanya butuh waktu seperkian detik untuk menempuh jarak lima puluh meter agar dapat menghunus perut lawan. teman yang dipinggir nya tidak sempat untuk berpikir, dari manakah pedang itu berasal.


kecepatan resi jadi berlipat karena didorong oleh ajian sakti yang dipakainya. Ajian itu bernama "Hampang angin' ajian kelas tinggi yang belum tentu dikuasai orang di zamannya. Ajian Hampang angin' memaksa si pengguna untuk meringankan beban tubuh seiras dengan angin yang berhembus.


Tentu latihan yang ditempuh untuk menguasai ajian ini perlu tirakat bertahun-tahun agar menguasainya dengan sempurna.


Serangan membabi buta dilancarkan oleh resi, dalam sekejap ia dapat mengalahkan sepuluh musuh sekaligus mengunakan pusaka sakti yaitu pedang Ki mastak.


musuh tidak bisa melawan dan hanya diam dalam kebingungan, karena gerakan resi bagai atmosfer yang tak akan terlihat oleh mata biasa. satu persatu kepala terpotong, darah bermuncratan ke segala arah.


debu tanah mengembung di arena peperangan. kebingungan musuh terbendung tatkala melawan seseorang yang bahkan tidak terlihat. pada akhirnya semua orang mati di tangan resi itu.


Suatu gebrakan serangan yang luar biasa. banyak faktor yang mendukung serangan serentak ini berhasil mulus. pertama, pengalaman yang sangat matang. kedua, pusaka sakti Ki mastak milik resi itu sendiri, sehingga ia hafal betul di mana titik beratnya, dan bagaimana mengendalikannya.


semua desa yang sedari tadi bersembunyi mulai keluar rumah untuk melihat kegaduhan yang telah usai di luar. begitu pula Ansel dan panca yang langsung melihatnya.


Mereka semua tercengang melihat ratusan mayat yang tak jelas rupanya berserakan di atas sana, tepatnya diluar gerbang desa. mereka melihat ada seorang pria yang memegang pedang pajang tengah berdiri di antara ratusan mayat itu.


"kak ini ada apa, ko banyak panah di genteng rumah?" panca meremas baju Ansel yang penuh ketakutan. ia melanjutkan pertanyaan "kemana ka dharma ka?"


Ansel hanya geleng-geleng kepala melihat kondisi desa yang dipenuhi ratusan anak panah. panca menepuk perut Ansel dengan keras karena kesal pertanyaannya tidak dijawab.


"AAAWWW...... Sakit panca!"


"mana kakak?"

__ADS_1


"mungkin dia telah mati,"


satu kalimat yang langsung membuat panca mengerang tangis saat itu juga.


__ADS_2