God' Mistake

God' Mistake
Chapter 14 : Hilang nya pembatas


__ADS_3

Ada sebuah tembok besar yang mengelilingi Sachi.


"aku dimana?"


"aku tadi sedang latihan bersama yang lain" ucap nya dalam batin.


Sachi melihat keatas, dia seperti didalam menara yang kosong. Tembok mengelilingi nya, langit-langit tampak jelas diatas.


Sachi mencoba berkeliling tembok tersebut, dan tidak ada pintu atau pun lobang sama sekali. Hanya tembok yang tinggi, dan sedikit lebar. Dengan motif nya yang sama semua.


"Bagaimana aku bisa keluar dari sini" ucap batin nya.


Dia mencoba memanjat tembok tersebut, hanya mencoba nya. Mana tau tiba-tiba ada kekuatan menempel ku'. Pikir nya.


Dia melompat ke tembok, dia menahannya. Tak sampai 1 detik dia terjatuh.


"hmm, bagaimana ini. Sudah lebih dari 2 jam aku berada disini" pikir nya.


Tiba-tiba seutas cahaya datang dari atas, menghampiri Sachi.


Cahaya yang berukuran tangan itu terdiam didepan Sachi, lalu Sachi mengambil nya.


Sachi berjalan kearah tembok tersebut dengan memegang cahay tersebut. Harap nya ada keajaiban yang terjadi.


Dia meletakkan cahaya tersebut di tembok sekaligus lengan nya.


"srriiiitttttttt"


Suara berisik gesekan tembok masuk kedalam lantai yang ia pijak.


"wowww" ucap Sachi kagum. Cahaya tersebut masih berada di dalam genggamannya. Sembari melihat cahaya itu.


Setelah tembok itu sudah turun ke bawah tanah, tiba-tiba angin mendatangi tubuh Sachi. Seolah-olah Sachi menyerap angin yang berada disitu.


Sachi membuka mata nya.


"hei Sachi" kata mami Ren.


"ehhh mami" ucap nya sambil menegakkan badannya untuk duduk


"ada yang sakit nak?" tanya mami khawatir.


"tidak mami, aku ingin latihan lagi" kata nya berdiri dengan cepat.


"istirahat dulu Sachi, kau baru siuman" ucap mami perhatian.


"gapapa, aku sudah seperti biasa" jawab Sachi sambil berlari ke tempat guru Sin berada.


...


"guru Sin maaf" kata nya menundukkan badannya.


"kau sudah sadar nak, masuk lah kebarisan" ucap nya.


Sachi berjalan masuk kebarisan yang tadi, melihat temannya yang masih berdiri tegak memejam kan mata.


Sachi memejamkan mata nya, dan dia merasakan Cakra nya berada di dada nya. Tak panas lagi, bahkan menenangkan. Pikir nya.

__ADS_1


Dia tersenyum dalam batin, sekaligus heran.


'mengapa tak panas lagi, apa yang sudah terjadi? Apa karena cahaya tadi yang menolong ku. Dimana pula cahaya itu". Batin nya.


Dia merasakan kenyamanan disitu dan berhenti di kenyamanan tersebut.


Guru Sin menyentuh mereka satu persatu kecuali Sachi, sudah hampir 3 jam mereka memejamkan mata nya.


Sachi ditinggal oleh mereka, dia berdiri sendiri di tengah lapangan.


"guru, Sachi tidak?" tanya Menma heran.


"dia baru saja memejamkan matanya belum ada setengah jam" jawab guru Sin.


Sachi kini tak beranjak dari kenyamanan di alam Cakra nya, dia terlalu menikmati nya.


Setelah dua jam lebih Sachi berdiri, guru Sin menyentuh nya.


"Apa aku lulus guru Sin?" tanya sachi girang karena bisa merasakan Cakra.


Guru Sin menggelengkan kepala nya, tanda tidak lulus.


"aku sudah bisa merasakan nya guru, nikmat sekali. Angin berhembus kencang aku sampai tertidur di alam bawah sadar" ucap Sachi.


"bukan itu ujiannya, jika itu teman mu lebih dulu bisa melakukannya" ucap guru Sin.


Sachi berjalan bergabung dengan yang lainnya, dan beristirahat.


Mereka semua saling berdiskusi apa yang mereka rasakan dan bagaimana lulus ujian nya.


"aku merasakan gelap, tenang, suara angin, dan hewan-hewan menjadi satu. Ada satu cahaya tadi, tapi aku malas untuk beranjak kesana. Jadi aku berdiam dan merasakan ketenangan itu". Ucap Gori salah satu teman Sachi.


"aku merasa berada di pohon yang rindang, angin yang sejuk, dan suara musik yang merdu. Angin yang sangat kuat dan pemandangan desa yang amat indah" ucap Sachi.


"ya sudah nanti latihan sekali lagi kita datangi cahay tadi". Ucap popo mengajak mereka.


Sachi masih memikirkan alam bawah sadar Cakra nya sendiri, bagaimana cara dia bisa lolos dari latihan tahap pertama ini.


Setelah mereka beristirahat sekitar 1 jam kurang. Guru Sin memanggil mereka.


"heiii semua, kemari lah" ucap guru Sin. Mereka semua berlari ke sumber suara.


"kalian semua ambil posisi push up" ucap guru Sin.


Mereka semua mengambil posisi push up.


"wanita push up 50 kali, pria push up 150 kali".


"haaaaaaaa???" mereka semua kaget lalu kepala mereka semua mengarah ke guru Sin.


"kau gila guru" ucap popo.


"aku tidak mau tau, kalian harus menyetor nya padaku. Aku akan menunggu sampai jam berapa pun" ucap guru Sin.


Para pria serentak berhitung dan begitu pula para wanita.


"satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, e... Enam belas, tuu.... Tujuh belas" mereka menarik nafas dan turun lagi.

__ADS_1


"deeeeeelapan belas, se.... Sembilan belas, duaaa puluh". Mereka semua tertidur di atas rumput kelelahan tak sanggup lagi.


Para wanita sudah berhenti dari hitungan 5 tadi.


"sudah capek?" tanya guru Sin.


"belum guru".


Mereka mengambil posisi push up lagi.


"duaaa satu, duaaa dua, dua tiga, duaaa empaattt!!!" mereka terjatuh tak ada yang sanggup lagi.


"dalam pertarungan tak hanya Cakra yang kalian perlukan, kekuatan fisik jauh lebih penting dari Cakra" ucap guru Sin.


"berdiri lah" suruh guru Sin.


Mereka semua berdiri sambil membersihkan baju nya yang sedikit kotor karena tiduran di rumput.


"lari lahh keliling desa" suruh guru Sin lagi.


"3 putaran saja".


"baik guru" ucap mereka serentak.


Mereka berlari beriringan, dan seirama. Saling bersama, memelankan tempo ketika sudah lelah.


"ayoooo semuaaaa satu keliling lagi" ucap Gori tepat ketika di depan rumah guru Sin.


"ayooooo" ucap mereka teriak serentak.


.....


"haaaa... Haaa... Haaa" semua kelelahan. Sebelum nya tak pernah latihan seperti ini.


"Ren ambilkan minum mereka" suruh guru Sin kepada mami Ren.


"akhirnya bisa minum" ucap Sachi mengeluh lelah.


Mereka semua tergeletak kelelahan.


'ingin pulang makan dan tidur, sungguh nikmat' pikir popo dalam hayalannya.


"bangun, mengapa kalian semua tiduran. Duduklah". Ucap guru Sin marah melihat mereka semua berbaring.


"tutup mata kalian, dan rasakan Cakra nya lagi" suruh guru Sin.


Mereka semua memainkan mata nya, seperti pembicaraan mereka tadi. Mereka akan mendekati cahaya tersebut agar lulus ujian yang pertama ini.


Mereka menutup mata, dan sampai matahari terbenam tidak ada yang lulus hari ini.


"Bagaimana?" tanya sachi kepada mereka.


"aku tidak tau, aku seperti hilang ingatan di alam bawah sadar Cakra. Aku tau harus kesana tapi tidak bisa bergerak, rasa nya semua tubuh ku malas sekali bergerak" kata Baki menjawab.


"iyaa, sama" "aku juga begitu" "aku juga".


Semua sependapat dengan Baki.

__ADS_1


"aku bisa bergerak dengan bebas, aku berada disebuah pohon di atas gunung. Dengan pemandangan sebuah desa. Aku berkeliling di gunung tersebut dan tidak ada apa-apa".


Kata Sachi menjelaskan alam bawah sadar nya.


__ADS_2