
Pagi tiba. Matahari terbit dengan cerah, di panti asuhan pinggir desa. Hari yang cerah untuk melakukan segala aktivitas yang menyenangkan. Para pria membersihkan halaman, dan memotong rumput. Sedangkan wanita membantu mami belanja, dan memasak.
...***...
Siang menuju sore sangat ditunggu oleh Sachi, hari ini mami akan mengajarkan lagi cara mengendalikan Cakra.
Dan ini adalah hari terakhir, biasanya hanya di lakukan dua hari saja. Karena Sachi jatuh pingsan hari pertama, ini menjadi hari yang ketiga.
Sachi itu anak yang sangat aktif, tidak mau kalah, dan anak yang sangat penasaran. Pasti dia akan mencari tahu jika penasaran. Seperti mengalirkan Cakra ini.
Dia sangat persis dengan orang tua nya.
Tidak ada satu orang pun yang menyadari ke janggalan aliran Cakra Sachi, mau itu mami Ren dan kedua mami lainnya. Bahkan dia sendiri tidak tau. pikir nya, apa yang terjadi dengannya juga terjadi dengan orang lain.
...***...
Mereka di panggil ke halaman oleh mami, Sachi dengan cepat berlari meninggalkan Menma dan Popo. Dia sangat tidak sabar melihat apa yang bisa di lakukan lagi oleh Cakra nya. Hari ini dia tidak mau kalah, karena kemarin dia tidak bisa melihat dengan jauh seperti yang lain.
"Hei kalian, cepat lah" kata nya teriak dengan semangat.
"Jangan pingsan lagi ya" kata Popo meledek sambil berjalan.
"Waktu itu aku sedang sakit" jawab Sachi dengan malu.
"Baiklah, hari ini kita akan lomba lari dengan memusatkan Cakra di kaki" kata mami kepada mereka.
Sachi tersenyum lebar, dia ingin menunjukkan kalau dia tidak akan kalah lagi.
Mami menyuruh mereka melakukan apa yang telah diberitahu kemarin. Dengan cepat mereka melakukannya karena sudah terbiasa.
Setelah mereka melakukannya, mami menyuruh mereka memusatkan Cakra ke tubuh bagian bawah, Dari pinggang hingga ujung jari.
"Semua, buka mata nya dan kontrol pernapasan kalian" bilang mami.
"Setelah hitungan ketiga lari" lanjutnya.
Mereka semua membuka mata, bernafas dari hidung dan membuang dari mulut.
"Satu ...... Dua....... Tiga......."
__ADS_1
Mereka berlari dengan jarak 50 meter dari tempat mereka berdiri.
Menma merasa badannya lebih ringan dan lari nya sangat-sangat cepat dari sebelum nya.
Karena popo memiliki badan yang besar, dia kesulitan karena merasa kaki nya terlampau ringan.
-Sachi 50 meter \= 0,5 detik
-Menma 50 meter \= 5 detik
-Popo 50 meter \= 6,5 detik
Sachi sangat senang, dia adalah yang tercepat dari mereka bertiga. Dia melompat-lompat kegirangan.
Ketika lomba lari...
"Satu...... Dua...... Tiga"
6 langkah Menma masih berlari, 8 langkah Popo masih berlari, Sachi sudah sampai diujung.
Yang melihat dia seperti kecepatan cahaya, sangat cepat. Seperti bukan manusia biasa pada umumnya.
Menma dan Popo sempat tersentak ketika berlari, angin yang berhembus melewati mereka sedikit lebih lambat. Sachi sudah berada di ujung, lalu angin seperti melewati mereka.
Mereka kaget melihat Sachi secepat itu.
Sachi merasa berlari seperti biasa, tidak ada yang berubah. Memang Tubuh nya terasa lebih ringan dari sebelum nya. Tapi tidak ada yang beda selain itu.
Dia tidak sadar mengapa bisa menjadi yang pertama, yang dia rasakan hanya berlari seperti biasa. Tapi orang yang melihatnya seperti kecepatan cahaya.
...**...
Ketika semua masih tersentak kaget, dan Sachi masih menjerit kegirangan. Mami Ren mulai memikirkan ada hal yang tidak beres dengan anak ini. Dia merasa, Sachi adalah anak yang diberkati Dewa.
Yang mana sebenarnya anak ini adalah kegelapan bagi Dewa itu sendiri.
"Sachi bagaimana kau bisa melakukannya" tanya Popo penasaran, dan mereka semua juga penasaran apa yang di lakukannya.
"Aku hanya berlari seperti biasa, dan tiba-tiba sampai diujung. Tapi itu tadi sangat menyenangkan, seperti di tiup angin". Jawab nya jujur.
__ADS_1
"Kau luar biasa Sachi, masih kecil tapi berlari secepat kilat seperti itu, hebat" puji salah satu temannya di panti asuhan, yang umurnya lebih tua dari Sachi.
...***...
Malam hari, ketika semua anak-anak tidur. Mami Ren mengajak mami lainnya berbicara tentang apa yang terjadi tadi.
"Bagaimana menurut kalian?" mulai mami Ren membuka pembicaraan
"Aku tidak tau pasti mengapa, tapi sangat aneh seorang manusia melakukan itu" kata mami JUNI
"Aku rasa dia telah diberkati Dewa akan Cakra ya seperti itu" kata mami Ren
"Apa kah itu ada hubungannya dengan Cakra? Semua manusia ditakdirkan dengan Cakra yang sama" tanya mami Juni
"Cakra setiap manusia itu sama, jika berlebih akan membuat sel-sel di tubuh manusia tersebut hancur. Ku rasa ini ada hubungannya dengan kesalahan genetik Sachi, kita dulu membawa nya ke rumah sakit ketika dia masih bayi. Dokter mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh dari gen nya. Berbeda dengan teman-teman nya". Jawab mami BEKA.
"Apa ini ada hubungannya dengan bekas luka di dada Sachi? Tanya Mami Juni lagi.
"Sepertinya ada, tapi kita tidak tau itu apa" jawab mami Beka.
"Aku akan mencari buku tentang gen, dan Beka tolong kamu pergi ke kota dan jumpai dokter yang menangani Sachi dulu. Tanya padanya kelainan gen apa itu". Suruh mami Ren.
"Aku juga akan mencari informasi dari warga desa, mungkin mereka ada yang tau". Lanjut mami ren.
"Baiklah, selamat malam" kata Mami Juni.
Mereka bubar dari tempat pembicaraan tersebut, dan pergi ke kamar masing-masing. Dengan pikiran mereka yang masih dibingungkan dengan seorang anak berumur 5 tahun, melakukan ketidak Mungkinan seorang manusia. Yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh dewa.
Fun fact:
Setiap anak yang umur nya mencapai 15 tahun, akan pergi ke kota dan mengikuti kompetisi yang dibuat Dewa dari zaman dulu. Dan anak-anak di panti asuhan yang pergi untuk melakukan kewajiban itu hanya sedikit yang kembali. Hanya 2 orang, dan mereka sekarang sudah besar. Dan tidak tinggal di panti asuhan lagi.
Semua anak di panti asuhan yang pergi selalu bertahan sampai akhir, dan hanya mereka berdua yang pulang karena gagal. 6 orang yang bertahan dan katanya bertemu dengan Dewa, belum kembali-kembali. Sudah 7 tahun, dari tahun yang berbeda-beda mereka pergi.
Mami pikir mereka akan sibuk, dan tak ada waktu lagi.
Terimakasih sudah membaca novel saya ini, saya harap kalian semua suka. Jangan lupa like dan komen. Apa pun yang kalian kritik, akan saya perbaiki dengan sebaik mungkin.
Arigatou minna....
__ADS_1