
Hari ini Sachi, Menma, dan popo perdana pergi kesekolah.
Mereka sekarang sudah berusia 6 tahun, mereka dengan semangat menggandeng tas masing-masing.
Di antar oleh mami Juni, sekolah nya tidak jauh dari panti asuhan.
Sekolah nya berada di tengah-tengah desa, dikelilingi oleh rumah warga.
Mereka berjalan, menyusuri jembatan. Hanya parit yang kecil, untuk mengaliri air ke sawah-sawah para petani.
Menma menggandeng tangan mami Juni, sedangkan Popo dan Sachi berjalan didepan mereka.
Mereka sangat tidak sabar, karena belum pernah merasakan suasana sekolah.
Sebelum mereka masuk sekolah, mami sudah mengajar kan mereka sedikit tentang angka, huruf, dan membaca.
Tapi hanya Sachi yang tidak bisa membaca, dia anak yang sulit fokus.
"itu sekolah nya" bilang mami Ren.
Mereka berlari, Menma langsung melepaskan tangan mami dan ikut berlari dengan mereka.
Mami menuntun nya ke kelas, dan berpamitan dengan mereka
"Mami akan menjemput kalian lagi, jangan kemana-mana ya". Bilang mami
"okee" kata mereka serentak.
Mereka menyalam tangan mami, dan masuk kekelas.
Pelajaran pertama di mulai dengan perkenalan.
Dan belajar pun di mulai.
Hingga akhir, Sachi hanya tau nama-nama temannya, dan pulang tanpa membawa ilmu.
..
Mereka sedang menunggu mami Juni menjemput mereka, seperti janji nya tadi.
Mereka duduk di depan kelas sambil tertawa, lalu tiba-tiba ada seorang wanita memakai penutup kepala dan penutup mulut menghampiri mereka.
"Hi nak, kalian sedang apa?" tanya wanita tersebut sambil membuka penutup mulut nya.
"Kami sedang menunggu mami menjemput" kata Sachi berani.
"Kau sudah besar Sachi, aku sangat rindu padamu" sambung wanita itu.
"Apa kita pernah ketemu bu?" tanya Sachi penasaran.
"hanya beberapa kali, sudah lama sekali. Ibu pamit dulu ya, ibu hanya ingin melihat wajah kalian dari dekat. Kirim salam ke mami kalian ya" jawab wanita itu sambil menutup kembali mulut nya.
Tidak lama wanita itu pergi, mami Juni datang.
__ADS_1
"Apa kalian lama menunggu nak?". Tanya mami Juni
"Tidak mami, hanya sebentar". Jawab Menma.
"Mami, tadi ada seorang wanita yang kirim salam ke mami" kata popo.
"siapa?" tanya mami Juni.
"Tidak tau siapa, tapi seorang wanita dia pakai penutup mulut. Dan dia kata nya pernah melihat Sachi, dan rindu dengan Sachi" jawab Popo sambil berjalan pulang.
...***...
Hari berjalan dengan cepat, tidak terasa sebulan lebih mereka sudah sekolah.
Mereka tidak perlu diantar jemput lagi oleh mami.
Sachi dan Popo adalah orang yang pintar dan rajin dikelas. Sedangkan Sachi kembalikan dari mereka.
Dia sangat pemalas ketika belajar.
..
Ketika siang hari, selepas Sachi pulang sekolah. Mami Ren mengajak nya ke rumah guru nya, seperti yang dijanjikan nya tahun lalu.
Tidak hanya Sachi, semua diajak nya pergi ke rumah guru tersebut. 20 anak akan dilatih tingkat lanjutan dari merasakan dan mengalirkan Cakra nya.
Yang mana tujuan latihan ini hanya untuk mengetahui apa yang salah dengan Sachi.
Setelah makan siang bersama di meja makan, mami memberitahu mereka.
"Mengapa tidak dari dulu mami". Jawab Sachi kesal.
...
Mereka sedang berjalan menuju rumah guru tersebut, Mami Ren dan Mami Juni menemani mereka. Sedangkan mami Beka menjaga rumah.
"kita sudah sampai, itu guru kalian salam tangannya ya" kata mami Ren.
"kalian sudah sampai, lama aku menunggu kalian" kata guru tersebut sambil menyalami mereka satu persatu.
"Baru ada waktu mereka datang kesini guru" kata mami Ren.
'Guru' dalam hati mereka semua kaget, mulut mereka terbuka seketika.
Mami tertawa melihat wajah mereka yang kaget.
"Mami belum memberitahu kalian ya, mami lupa. Biarkan guru saja yang menceritakan semua nya". Kata mami Ren.
Berpaling wajah mereka semua ke guru tersebut.
"kau ini selalu menambah pekerjaan ku Ren" kata guru nya.
Mami Ren dan mami Juni tertawa melihat mereka.
__ADS_1
Guru tersebut duduk diatas kursi kayu, bersiap-siap ingin menceritakan dan meperkenal kan diri.
"kalian semua tidak mengenal ku kan?" tanya guru tersebut memulai pembicaraan.
"tidak....." jawab mereka serentak.
"Nama ku sin, kalian bisa memanggil ku guru sin. Apakah kalian diajarkan mami Ren merasakan Cakra?". Tanya guru itu lagi.
"Bukan hanya merasakan, bahkan sampai kami bisa lari cepat. Wuuussshhh". Jawab Sachi dengan semangat sambil menggerakkan tangannya meragakan gerakan pesawat.
"siapa nama mu nak? Tampaknya kau yang paling semangat" tanya guru itu lagi.
"nama ku Sachi guru sin" jawab Sachi lantang.
Guru Sin mengangguk mendengar jawaban Sachi dan melanjut bicara nya.
"jadi Cakra ada tahapan melatih nya, yang pertama kalian akan merasakan Cakra di dada kalian"
Mereka semua mengangguk sambil duduk mendengarkan guru Sin, berbicara.
"Kedua, mengalirkan Cakra keseluruh tubuh" lanjut guru Sin.
"Ketiga, memusatkan Cakra ke bagian tubuh tertentu".
"Keempat, cara mempertahankan Cakra"
"apakah kalian bisa mempertahankan Cakra? satu menit saja" tanya guru sin lagi.
"Tidak guru" jawab mereka serentak.
"Baiklah, besok akan kita mulai dari tahap yang keempat". Kata guru Sin.
"kelima, merubah Cakra menjadi AURA"
"keenam, mempertahankan aura. jika kalian ingin selamat dalam sebuah pertarungan, kalian haru bisa mempertahankannya minimal 24jam".
"aura memiliki beberapa tingkatan, yang pertama itu CHO. Cho adalah aura yang kalian keluarkan untuk pertahanan. Yang kedua, CHI untuk menyerang dan mengintimidasi lawan.
Gabungan dari kedua nya dinamakan SERIN. SERIN adalah tingkatan paling sulit dari aura. Kalian harus bisa mempertahankan kedua nya ketika bertarung".
"Dan aura masih bisa dikembangkan lagi, tergantung orang tersebut ingin berlatih atau tidak. Karena aura setiap orang bisa berbeda-beda jenis kekuatannya. Yang lainnya akan saya beritahu ketika kalian semua sudah bisa melakukan apa yang telah ku ajarkan nanti". Kata guru Sin.
Baru kali ini Sachi bisa fokus mendengarkan, mungkin karena ini adalah sesuatu yang penting bagi nya nanti.
Diantara mereka masih ada yang kebingungan, tampak dari wajah nya.
"Mami Ren adalah murid ku yang sangat cerdas. Dia bisa menguasai semua itu hanya dalam waktu 3 tahun". Lanjut guru sin.
"haaa tiga tahun?? Lama sekali" kata BAKI, salah satu anak dari panti asuhan yang lebih tua dari Sachi.
"Itu sudah sangat cepat, tapi masih ada yang lebih cepat lagi. Coba Ren, gunakan Chi mu". Suruh guru Sin.
"baik guru" ucap Mami Ren.
__ADS_1
Mami Ren menutup matanya sebentar, ketika dia membuka mata tiba-tiba suasana mencekam dan udara terasa menghilang perlahan. Mereka semua terkejut dan terdiam.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa LIKE dan tinggalkan komentar kalian di bawah.