
Liz sedikit takut, ia sangat tidak ingin mati percuma hanya karena Sachi tidak menolong nya.
Liz keluar dari balik pohon, ia melempar sebuah batu yang diberikan orang tua nya sebelum pergi ke kompetisi ini.
Batu tersebut bisa membuat seseorang di dekat nya perlahan kehilangan Cakra. Dan Cakra tersebut bisa pindah ke pemilik batu.
"Kalian terlalu kuat, aku tidak berani bertarung dengan kalian." ucap Liz berniat mengulur waktu.
"Kau yang menatang kami" jawab salah satu dari mereka.
"Maaf kan aku, lebih baik kalian mencari orang lain. Aku mengaku kalah." ucap Liz.
"Sudah tidak ada kata maaf. Ku bunuh kau!!!!"
Liz tidak bisa berbuat apa-apa, rencana nya gagal. Ia menutup mata sudah pasrah akan kematian atau pun kekalahan nya. Namun, Sachi tidak mungkin menghianati perkataannya sendiri.
Sachi berlari lebih cepat dari pada mereka berdua. Ketika melihat Liz menutup mata dan mereka berlari, Sachi dengan cepat menghadang mereka.
Posisi Sachi yang cukup jauh dari Liz kini sudah berada di hadapan musuh mereka.
"Siapa kau?" ucap salah satu dari mereka.
Liz membuka mata nya, ia pikir dia akan mati disini.
Sachi tak menjawab apa-apa. Sachi berbalik badan berjalan ke arah Liz yang ketakutan.
"Ternyata kau temannya. Kebetulan sekali bisa mendapat no peserta 2 sekaligus." ucap salah satu dari mereka.
Mereka menyerang langsung menyerang Sachi. Namun, dengan mudah Sachi dapat menahannya.
Liz yang di belakang Sachi, berlari untuk mengambil batu yang ia lempar tadi. Ia menyimpannya lagi di tas.
"Pergi lah, aku tidak ingin melukai kalian" Ucap sachi ketika melihat mereka kelelahan yang tidak bisa melukai nya.
"Kau berlagak sombong, akan ku bunuh kau" ucap nya sembari berlari mendekati Sachi.
Sachi menendang nya dan jatuh pingsan. Temannya membawa yang pingsan tadi lari.
"Hei mengapa kau tidak mengambil no pesertanya" tanya liz
"Aku lupa" jawab Sachi santai.
"Ya sudah lah. Ternyata kau sangat kuat, bisa ajari aku seperti yang kau lakukan tadi." minta Liz.
"Boleh." ucap Sachi santai.
"yeeeeee, sekarang ya?" minta Liz.
Dan hari ketiga mereka tak terasa sudah malam saja.
__ADS_1
...
"Heii bangun ayo kita latihan lagi" ucap Liz semangat. Dia tidak sadar bahwa kini dia didalam kompetisi.
"Baiklah" ucap Sachi.
"Hei Sachi, kau belajar dari mana bertarung seperti ini" tanya Liz ketika mereka ingin bersiap-siap latihan.
"Aku berlatih di desa lalu di bawa ke kota" ucap Sachi santai.
"Jadi kau berlatih di kota, pantas saja kuat. Tapi bagaimana bisa? Kau kan dari panti asuhan." tanya Liz penasaran
"Ceritanya panjang, aku tidak bisa memberitahu mu sekarang" ucap Sachi.
"Ahhh" Ucap Liz manja dengan gemas, Sachi hanya melihat nya tersenyum dalam hati. Eliza adalah wanita yang sangat polos, dan manis. Sachi selalu suka Liz yang terlihat gemas, tapi ia tak memberitahukan nya.
"Jadi latihan?" tanya sachi.
"Jadi.. Jadi" ucap Liz.
Mereka berlatih dengan serius, hingga tak lama setelah itu hujan mengguyuri hutan sangat lebat.
"Masuk ke dalam" Ucap sachi.
"Baju mu akan basah" lanjut nya.
Liz berlari menuju ke dalam gubuk yang kecil, begitu pula sachi di belakang nya.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Liz sembari membalikkan badan.
Ia terkejut melihat Sachi sudah membuka baju nya. Tubuh Sachi yang kekar, dan tidak begitu kurus.
"Heiiii apa yang kau lakukan" Tanya Liz wajah nya memerah malu. Namun ia ingin melihat tubuh Sachi yang kekar itu. Ini kali pertama untuk Liz berdua didalam sebuah ruangan, begitu juga Sachi.
"Aku hanya membuka baju, baju ku basah" Jawab Sachi sembari memeras baju nya yang sedikit lembab.
"Sini baju mu, biar ku keringkan" minta Liz sambil menjulurkab tangannya. Ia membuang pandangannya dari tubuh Sachi.
"ada apa? Kau malu aku buka baju" Ucap Sachi sambil memberikan baju nya.
"Tentu tidak... Aku sudah terbiasa dengan itu" Ucap Liz dengan terbatah-batah.
"Berarti kau? Aku tidak menyangka" Ucap Sachi menuduh nya.
"Apa??? Kau pikir aku perempuan yang tidak benar? Aku melihat tubuh ayah ku tentu saja. Awas kau berpikir macam-macam" Ucap Liz dengan nada tinggi sembari melihat wajah Sachi.
"Oooo, maaf.. Maaf" ucap Sachi.
Hujan tidak berhenti hingga malam hari, mau tak mau mereka harus tidur bersama malam ini. Lagu pula tidak akan ada orang yang mau menyerang dengan hujan selebat ini.
__ADS_1
"Mari kita tidur, sudah malam" Ucap Sachi mengajak Liz. Mereka duduk hadap-hadapan sembari berbicara tentang apa saja.
"Be... Berdua?" Tanya Liz yang malu sekaligus gugup.
"Tentu saja. Jika kau tidak mau, kau berjaga lah malam ini" Ucap Sachi sembari bersiap untuk tidur. Ia tidur tanpa baju dan hanya celana pendek.
Didalam gubuk ada sebuah matras yang disiapkan dari kompetisi ini serta selimut. Sedangkan gubuk, mereka harus membuat nya sendiri dengan apa pun yang sudah di siap kan hutan.
Namun, matras milik Liz tinggal di gubuk yang sudah di serang pada hari pertama. Ia lupa membawa nya.
Hanya tinggal matras milik Sachi.
"Kita tidur sa... Satu selimut?" tanya Liz gugup.
"Jika kau mau kedinginan malam ini, tidurlah di kayu-kayu itu" ucap Sachi.
Alas dari gubuk mereka adalah papan-papan yang ditidurkan. Jadi ketika hujan mereka sudah aman. Sedangkan tembok nya, mereka menggunakan daun-daun kering yang cukup tebal lalu diikat menjadi satu. Begitu pula atap nya.
Kain milik Liz tertinggal lagi di gubuk yang pernah di serang waktu itu.
"Aku tidur duluan. Jima kau mau tidur, berbaring lah disini" ucap Sachi lalu membalikkan badannya.
"Baiklah..." Ucap Liz.
Malam semakin sunyi dengan suara hujan yang mendesir atap gubuk mereka. Liz yang sudah mengantuk masih malu ingin tertidur di samping Sachi.
Sedangkan Sachi tertidur dengan pulas.
Liz memberanikan diri, perlahan-lahan ia tidur disamping Sachi agar tak mengeluarkan suara. Ia perlahan masuk ke dalam selimut yang dipakai Sachi.
Sachi sadar akan hal itu, ia merasakan ada hawa seseorang dibelakang nya.
"Hmmmm" Suara Sachi yang ingin mengganggu Liz.
Liz kaget dan menoleh ke belakang perlahan-lahan.
"Huuuu, ternyata mengigau" batin Liz lega.
"Hmmmm" Suara Sachi lagi.
Liz menoleh lagi, dan ia kaget melihat wajah Sachi sudah berbalik arah.
'Bagaimana ini, dia berada di belakang ku tepat' Batin Liz.
'Ya sudah lah, aku juga sudah terlalu mengantuk' batin Liz yang berniat tidak peduli.
"Liz, kau akan mati. Aku akan membunuh mu, lihat lah besok." ucap Sachi yang masih memejamkan matanya.
Liz ketakutan, ia tak bergerak. Ia pikir Sachi sedang mengigau, dan itu sudah di niat kan sejak awal.
__ADS_1
Liz menangis dengan suara pelan, ia meneteskan air mata nya.
Sachi yang melihat nya tak tahan untuk tertawa, ia melepaskan semua tawa nya malam itu.