God' Mistake

God' Mistake
Chapter 2 : Si Beruntung


__ADS_3

"Ungkap kan kebenarannya" kata seorang pria menggunakan jas putih di mimpinya.


Sachi terbangun dari pingsan nya setelah setengah jam tidak sadar kan diri. Dia selalu mimpi bertemu dengan pria itu, tapi baru kali ini pria itu berbicara.


"Apa yang terjadi?" tanya sachi ke semua orang yang berada dikamar nya.


"Syukur lah kau tidak mati" bilang popo spontan, dengan menghela nafas


"Sachi apa kamu baik-baik saja? Kamu tadi terjatuh pingsan" tanya mami Ren


"yaaa, aku baik2 saja ga ada yang sakit kok. Sekarang aku bisa mengangkat meja sendirian" jawab Sachi dengan semangat sambil berdiri


...****...


Beberapa hari setelah itu.


Karena mami Ren masih penasaran, mereka dikumpulkan lagi Bertiga. Dihalaman panti asuhan mereka melakukan hal yang sama. Harapan mami Ren dia baik-baik.


"pejamkan mata kalian, dan rasakan tepat di tengah dada kalian" ucap mami Ren lagi.


Mereka bertiga mengulanginya, namun kali ini Sachi tidak merasa begitu kepanasan lagi. Walaupun panas, tapi ada kesejukan yang amat nikmat dia rasakan.


"Sebarkan keseluruh tubuh apa yang kalian rasakan di dada" lanjut mami ren


Popo dan Menma mengalirkan Cakra nya ke seluruh tubuh hingga mata. Jemari mereka bahkan terasa lebih bertenaga dari sebelumnya.


Perlahan Cakra Sachi mengalir dari dada, menuju tubuh bagian bawah lalu ke bagian atas. Bisa dia rasakan dari dada lewat tenggorokan, hingga jemarinya. Cakranya yang dialirkan kemata tidak berhenti, sakit kembali terasa diatas matanya. Tapi tidak sesakit ketika pertama mencoba nya.


Sachi tidak tau, bahwa sebenarnya setiap manusia tidak ada yang pernah bisa mengalirkan Cakra nya hingga ke otak. Dia fikir semua sama, tidak ada yang berbeda.


Mami Ren melihat Sachi dengan wajah cemas, "akan kah dia baik-baik saja" gumam nya dalam hati. Mami Ren juga tidak tahu bahwa Sachi bisa mengalirkan nya.


Selama Berjuta-juta tahun, tidak ada seorang pun yang bisa mengalirkan Cakra hingga ke otak. Ada beberapa orang yang cukup kuat, gosip nya bahkan hingga keseluruh penjuru dunia. Tapi tetap saja mereka tidak bisa mengalirkan Cakra hingga ke otak.


...****...

__ADS_1


Beberapa puluh tahun sebelum seorang anak pertama menembus keberadaan Cakra terkuat.


Mengalirkan Cakra hingga ke otak dipertanyakan oleh salah seorang dokter yang berada di kota. Dia bertanya-tanya dengan dirinya sendiri "Mengapa manusia tidak bisa melakukannya, tohh tubuh ini milik kami".


Dia dan temannya meneliti tubuh manusia, dari luar hingga dalam ke bagian terkecil.


Selama beberapa tahun dia meneliti, dan beberapa orang jadi bahan percobaan. Ternyata dia menemukan fakta bahwa ada sebuah benda yang amat sangat kecil disetiap manusia yang terletak dikening. Dia berspekulasi bahwa ini memang dari manusia pertama. Yang memang diciptakan Dewa seperti ini, tidak bisa diganggu gugat.


Dia sangat yakin akan hal itu, lalu dia membuat buku yang isi nya menjelaskan. Bahwa setiap manusia ditakdirkan seperti ini, Dengan kemampuan terbatas menggunakan Cakra. Dan buku itu sangat diyakini oleh kebanyakan orang.


Tapi salah satu dokter yang bersama nya tidak percaya akan hal itu, dia percaya jika ada salah satu dari setiap manusia memiliki keberuntungan.


...******...


Mami Ren menyuruh mereka memusatkan Cakra ke mata kanan dan kiri mereka. Satu persatu di perintah nya untuk membuka mata.


"Pusat kan Cakra kalian kebagian mata kanan dan kiri, lalu buka mata dan beritahu mami apa yang kalian lihat" perintah mami.


"Menma buka matanya nak" kata mami.


"Mami aku bisa melihat seseorang disana sedang memperbaiki pintu rumah nya, seorang kakek tua" jawab Menma dengan kagum.


Tiba-tiba penglihatan nya kembali seperti semula. Karena mereka hanya dilatih mengalirkan Cakra, bukan mempertahankan.


"Kamu belum bisa menggunakan Cakra dengan lama, mungkin hanya beberapa detik saja". kata mami Ren setelah melihat wajah Menma heran.


Menma terduduk karena kelelahan, menghela nafas panjang seperti di kejar anjing.


"Popo silahkan buka matanya" perintah mami ren


"mami aku dapat melihat seekor belalang di pohon itu" langsung jawab Popo kaget. Pohon ya berada dibelakang desa, memang cukup besar. Tingginya melewati rumah warga.


Popo pun langsung terbaring hanya 3 detik dia bisa bertahan menggunakan Cakranya.


Perutnya langsung bunyi kelaparan.

__ADS_1


Sachi masih memejamkan matanya.


"Sachi buka mata nya" kata mami


"wussshhhhh".


angin kencang datang serentak dengan Sachi membuka matanya. Hewan-hewan berlarian ketakutan, burung-burung berterbangan. Mami dan yang lainnya pun terkejut.


"Mami aku hanya bisa melihat matahari dengan jelas, tanpa perlu kesilauan lagi".


Kata Sachi kecewa.


"Mengapa yang lain bisa melihat jauh, sedangkan aku seperti ini" kata Sachi marah.


Sachi tidak sadar bahwa semua terlihat bergerak lambat ketika dia membuka matanya.


Para pengasuh belum sadar bahwa Sachi adalah manusia yang beruntung dari miliyaran manusia lainnya. Mereka hanya berfikir, mungkin karena dia kelainan gen sejak lahir dan Membuat Cakra nya bermasalah.


"Tidak apa Sachi, bukan kah itu bagus ketika kamu tidak merasa silau lagi. Seperti pahlawan-pahlawan di buku" kata mami meyakinkan Sachi.


"Besok kita akan mencoba mengalirkan Cakra ke kaki. Malam ini mami akan masak banyak makanan" lanjut mami sambil tersenyum.


...*****...


Dimeja makan malam yang panjang, Sachi duduk di ujung sebelah kanan. Dia iseng mencoba mengalirkan Cakra nya lagi.


Tidak tau apa yang akan terjadi, dia fikir hanya penglihatan nya yang berubah.


Dibuka ke dua mata nya.


Tiba-tiba suara binatang menjerit semua, Seperti tadi siang. Dia melihat ke arah lampu yang tidak lagi silau, lalu dia melihat semua orang berlari menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar.


Semua bergerak lambat, dia dapat melihat ekspresi Popo dengan jelas, baju-baju mereka yang melayang ketika berlari menuju jendela.


Sachi mengedipkan matanya, semua kembali normal. Sepertinya Sachi masih belum sadar akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2