God' Mistake

God' Mistake
Chapter 18 : Kematian


__ADS_3

Sachi sedang berada di perjalanan pulang, tak seberapa jauh lagi dia akan sampai di panti asuhan.


Sementara itu guru Sin sedang menghadang Shima untuk menahannya.


Shima mengeluarkan pedang nya berjalan ke arah guru Sin dengan tenang.


"sssssttttttt" tiba-tiba Shima menghilang dari pandangan guru Sin.


Guru Sin tak merasakan keberadaan sesaat hingga dia merasakan keberadaan shima tepat di belakang nya.


"Hi pria tua" ucap Shima ingin mendekap nya dari belakang tapi guru Sin melompat tinggi ke depan.


"huuufffttt, hampir saja", ucap guru Sin.


Kini guru Sin mencoba menyerang nya, dengan jurus keluarga louist yang hanya bisa di gunakan oleh mereka.


Di namakan lightning.


Lightning meningkatkan jumlah aliran listrik yang ada di tubuh dengan menggunakan Chi milik nya. Tapi tak semua orang bisa melakukannya, hanya golongan darah tertentu dan, aliran Cakra tertentu. Jika tidak orang tersebut akan terbakar habis.


Kini tubuh guru Sin sudah di penuhi dengan listrik.


"wwwussshhhh" guru Sin menyerang dari depan dengan tangan kosongnya.


"tttinnnngggg" pedang Shima menahan tangan guru Sin yang sudah dibaluti oleh Chi dan Chu yang menjadi listrik.


Guru Sin memukul nya dengan sangat cepat.


"paammm, pammm, pammm, pamm" Shima yang tak bisa melihat tangan guru Sin hanya menerima pukulan nya tak bisa menangkis nya.


Lebih dari seratus pukulan yang di lancarkan guru Sin.


Guru Sin memukul nya dengan sekuat hati, berharap ini adalah pukulan terakhir untuk nya.


Shima tercampak jauh karena pukulan akhir tersebut, guru Sin yang telah banyak mengeluarkan Cakra nya sedikit kelelahan sekarang.


Tak lama Shima terbaring ia bangun tanpa ada luka apa pun.


"hahahahaha ternyata hanya segini kekuatan dari louist. Mati saja kau" ucap Shima sambil berlari menuju guru Sin.


Ternyata kecepatan Shima lebih cepat dari guru Sin, disitu guru Sin menyadari level mereka jauh berbeda.


Shima belum mengeluarkan kemampuan apa pun, dia hanya menggunakan aura dan Cakra nya.


"aaaaaaaaaaaaaaa"


Menjerit guru Sin kesakitan dengan sekali pukulan yang amat kuat dan sangat cepat tepat di perut nya. Guru sin tercampak ke udara, lalu tiba-tiba di udara shima sudah berada di belakang guru Sin dan menendang tumbuh bagian belakang nya.


"bummmmmmmm" suara tanah dan tubuh guru Sin yang berhadapan.


"Kau memang sangat kuat, benar seperti rumor nya"

__ADS_1


Ucap guru Sin kesakitan dengan muntah darah yang amat banyak.


Tanpa berbicara apa pun, Shima langsung mengambil pedang nya yang terjatuh lalu menusuk tepat dijantung guru Sin.


"cuiiihhhh, dasar lemah" ucap Shima setelah menusuk guru Sin.


"Mengapa keluarga lemah seperti itu bisa menjadi pemimpin dunia" ucap Shima berbicara sendiri.


"aku akan membunuh semua apa pun yang bersangkutan dengan louist" lanjut Shima berbicara pada diri nya sendiri.


Ia berjalan ke rumah panti asuhan tersebut. Sangat gelap, lampu di matikan, dan suara anak-anak yang menangis terdengar jelas.


Shima berjalan mendatangi arah suara.


"hadapi aku dulu"


Ucap popo dengan berani nya mendatangi Shima. Lalu Menma datang dari belakang nya.


Ssssiiiinggggg...... Tiba-tiba Shima yang sedang berjalan menghilang dari hadapan mereka berdua.


Tanpa bersuara apa pun Shima menusuk mereka berdua dengan halus tanpa menjerit kesakitan.


"Aku akan membunuh segala nya" batin Shima.


Ia mulai berjalan lagi ke arah suara, ia masuk kesebuah ruangan dimana mereka berada. Mami Ren, mami Juni, dan mami Beka melindungi anak-anak disana.


Namun tak sempat berbuat apa pun. Mereka semua sudah mati.


Kini dendam telah menyelimuti nya, di perlakukan layak nya bukan manusia dengan eksperimen sampah tersebut. Dan pemerintah dunia menyetujui eksperimen tersebut.


Setelah membunuh semua orang di panti asuhan tersebut, ia pergi dan tak ada yang tau kemana.


Tak lama setelah itu para Nobi dari kota datang, dan melihat setiap jalan berlumuran darah. Warga desa yang melihat Nobi datang langsung berkumpul di panti asuhan tersebut.


....


Sachi sampai didesa


"pak, disini aja saya". Ucap Sachi kepada supir istana tersebut.


"baik" ucap supir tersebut.


Sachi turun di stasiun desa, dan berlari kepanti asuhan. Ia melihat dari kejauhan orang sedang berkumpul di panti asuhan.


Karena penasaran dia berlari sedikit lebih kencang.


"ada apa ini?" tanua Sachi kepada kerumunan orang tersebut karena khawatir.


"terjadi pembunuhan baru saja terjadi" ucap salah satu warga.


Hati nya mulai tak enak.

__ADS_1


Ia langsung menjatuhkan tas nya yang ia kenakan. Dan langsung berlari disela-sela kerumunan warga.


Ia melihat mayat guru Sin, yang sudah berlumuran darah sedang diangkat oleh para Nobi.


"guru Sin, guru Sin, bangun lah. Bagaimana yang lain" tanya sachi mengikuti mayat guru Sin yang sedang diangkut tapi tidak ada jawaban apa pun. Air mata sudah mengalir lewat pipi nya.


"dia baik-baik saja?" Tanya sachi ke para Nobi yang sedang mengangkut mayat guru Sin.


Nobi tersebut menggelengkan kepala nya.


Tangis Sachi semakin pecah, tak tahan melihat nya ia langsung berlari ke dalam panti asuhan untuk memastikan.


"tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin!!!!". Teriak Sachi sambil berlari ke dalam dengan tangisan yang amat dalam.


Setelah ia masuk kedalam, tepat di depan pintu ia melihat tubuh Popo dan Menma yang tergeletak dengan darah di tubuh nya.


Tak bergerak tubuh nya terpaku melihat nya, tak menyangka apa yang ia lihat.


Ia langsung mengecek jantung mereka berdua.


"Popo, popo, kau dengar aku" ucap Sachi dengan tangis nya, sembari mengecek jantung popo.


"Menma, menma, bangun lah"


"heii kalian berdua, bangun lahhhh!!!" ucap Sachi menjerit.


Sachi memanggil para Nobi untuk mengangkut jasad Menma dan popo.


Ia langsung berlari lagi kedalam mengikuti jejak darah seseorang.


Dan disana lah ia melihat segalanya, hati nya hancur melihat kenyataan ini.


"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" ia menjerit menangis, melihat orang tua nya di panti asuhan tertidur dengan darah.


Ia terduduk, memeluk mami nya.


Menangis ia sekencang-kencang nya, perpisahan yang tak terduga terjadi. Menangis ia dengan penuh penyesalan.


Kini semua tak bisa di ubah lagi, kenyataan bahwa ia kini tak memiliki tempat pulang lagi. Panti asuhan yang ia cintai tak ada artinya lagi.


Berjam-jam ia menangis, tak ada apa pun yang berubah.


"AKAN KU CARI KAU SAMPAI KE NERAKA SEKALI PUN, AKAN KU BUNUH KAU. AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN MU!!!"


Ucap Sachi teriak dengan matanya yang kini penuh dendam, tangannya ia kepal kan sampai darah mengalir dari telapak nya.


Sachi menangis berhari-hari, dengan darah yang sudah kering di tangannya.


"KAU TUNGGU ITU ********!!!"


Batin Sachi.

__ADS_1


(Author menulis ini sampai meneteskan air mata loh, ga tega).


__ADS_2