
"Ternyata keluarga Naku membosankan" ucap pria tersebut yang dapat menghindari kekuatan kun. Namanya adalah Rennan.
Kun menyerang nya dengan berhadapan menggunakan tangan kosong. Hanya Chi dan Chu saja yang digunakan nya. Begitu pula Rennan.
Kekuatan bertarung mereka seimbang. Kun memukul ditahan Rennan, Rennan memukul ditahan Kun. Mereka saling menyerang, tapi tidak ada yang dapat memukul dengan telak. Saling menahan dan saling memukul.
Lalu kun menggunakan kekuatan tanah nya untuk menyerang, Kun menaikkan tanah yang berada di kaki Rennan. Namun, Rennan dapat merasakan ada nya Cakra di tanah yang ia pijak. Ia melompat sebelum tanah itu menusuk nya.
Kun adalah maniak bertarung, ia tak segan-segan membunuh lawannya. Tapi, ia menemukan lawan yang salah. Ia tak pernah kesulitan seperti ini sebelum nya.
"Berani sekali kau" ucap Rennan ketika berhasil menghindari serangan kun.
Rennan maju tanpa Chu yang ia alirkan. ia menendan kun, namun dengan mudah kun menahannya dan menendang wajah Rennan.
Rennan langsung melompat mundur, wajah nya berdarah. Ia mengelap darah nya dan kembali bersiap menyerang.
"Ternyata semua orang di kompetisi ini terlalu lemah" ucap kun ketika melihat wajah Rennan berdarah.
Rennan kini menyerang dengan Chu dan Chi di tubuh nya. Ia mengubah teknik bertarung nya menjadi sangat halus.
Rennan menyerang nya, namun di tahan oleh kun. Mereka saling memukul dan menahan serangan keduanya. Hingga tiba-tiba kun terjatuh lumpuh.
Ia tidak bisa menggerakkan tubuh nya.
"Ternyata kau dari keluarga Yoon. Sial, aku tidak menyadari nya" ucap kun yang sudah tergeletak lumpuh.
"Keluarga Naku memang terlalu lemah, kalian hanya menyerang tanpa berfikir". Ucap Rennan.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuh mu. Kutukan itu hanya bertahan selama 3 jam, kau akan kembali seperti biasa" lanjut Rennan.
"Namun, aku akan mengambil no peserta mu. Jika kau ingin ini kembali cari aku. Tidak akan asik jika aku membunuh yang terkuat lebih dulu. Mungkin kita bisa berjumpa di final nanti". Ucap Rennan mengambil no peserta kun lalu pergi meninggalkannya.
"Sial, aku lengah" ucap kun emosi.
"Aku akan membunuhnya" batin kun.
Ini adalah kekalahan Kun yang pertama. Ia selalu menang biasanya.
Rennan bukan lah lawan yang bisa di remehkan.
Sementara itu Rennan.
"Pukulan nya sangat kuat, untung aku sempat mengalirkan sedikit Chu. Jika tidak aku akan pingsan dengan konyol". Batin Rennan.
....
Malam tiba.
__ADS_1
Sachi dan Liz sedang membuat api untuk makan mereka.
"Jadi bagaimana jebakannya?" tanya Liz.
"Sudah ku buat, kita hanya perlu menunggu seseorang terkena jebakan itu". Jawab Sachi.
"Haaaa sejak kapan?" tanya Liz lagi.
"Sejak aku pergi mencari makanan" jawab Sachi santai.
"Baiklaaahhh mari kita tunggu mereka" ucap Liz senang.
Mereka menghabiskan makan malam yang sudah mereka masak cukup lama.
"Hei tidur lah, biar aku yang berjaga disini" ucap Sachi.
"Nanti jika ada musuh bagaimana?" tanya Liz lalu ia menguap karena ngantuk.
"Tenang, sudah jebakan" ucap Sachi.
"oooiyaa yaaa, aku akan tidur duluan. Setelah itu kita bergantian ok" ucap Liz lalu berjalan ke gubuk yang mereka buat tadi.
Sachi hanya melihat dan berjaga di kesunyian hutan. Lalu ia mencoba melatih teknik bertarung nya di tengah malam yang sepi.
Tanpa terasa matahari sudah terbit, lalu Sachi berhenti melatih teknik nya. Dan duduk sebentar untuk istirahat. Lalu Liz keluar.
Sachi hanya mengangkat kedua pundak nya keatas.
"Kau istirahat lah sebentar dan tidur" ucap Liz dengan wajah yang marah tapi imut.
Sachi menuruti nya dan masuk kedalam untuk tidur beberapa jam.
Ketika Sachi tidur, ternyata mereka sudah di buntuti dari kemarin. Para pembuntut itu tau bahwa ada jebakan yang mengelilingi gubuk Sachi dan Liz. Bahkan mereka tau jalan mana yang bisa dilewati.
"Hei gadis". Ucap pembuntut itu kepada Liz yang sedang duduk di depan gubuk.
"Siapa kalian?" tanya Liz dengan nada sedikit tinggi.
"Kami hanya ingin no peserta kalian" ucap salah satu dari mereka.
Liz mulai panik, ia tak ingin membangunkan Sachi yang baru tertidur.
Jadi Liz menyerang mereka sendirian dengan kemampuannya.
Liz menyerang dengan kekuatan penuh nya, ia menggunakan kekuatan rakyat biasa, yaitu menciptakan senjata dari benda apa pun.
Liz memegang kayu dan kayu tersebut berubah menjadi pedang.
__ADS_1
"Hihihi, ternyata hanya rakyat jelata biasa" ucap mereka dengan tawa jahat.
Mereka menyerang Liz, liz dapat menahan serangan mereka berdua dengan kesulitan seluruh aura nya pun sudah ia keluarkan. Tapi ia hanya seorang wanita dan bukan dari darah keluarga yang hebat.
"Ternyata kau cukup hebat" ucap mereka dengan tawa jahat.
Mereka menyerang liz dengan tipe serangan yang berbeda.
Satu orang menyerang nya dari depan, dan liz dapat menahannya bahkan menyerang balik. Namun satu lagi diam-diam sudah berada di belakang liz dan memukul nya hingga pingsan.
"AaaaaaaaaaaAa" ucap liz teriak sebelum pingsan.
Sachi yang kaget mendengar suara jeritan langsung terbangun dan keluar dari gubuk nya.
Sachi melihat liz yang sudah tergeletak, dan dua orang pria di dekat liz.
Tanpa pikir panjang Sachi langsung menyerang mereka dengan tangan kosong, salah satu dari mereka mengambil pedang milik liz. Namun, kekuatan mereka berbeda jauh dengan Sachi. Seperti langit dan bumi.
Tanpa sempat melihat wajah Sachi, mereka sudah terjatuh pingsan duluan.
"Hei liz, bangun lah" ucap Sachi mengangkat kepala liz di paha nya. Dan memeriksa detak nadi liz.
"Huuuffhh, ternyata masih hidup" batin Sachi lega dengan menghirup nafas panjang.
Liz tak menjawab apa pun, ia masih pingsan karena pukulan dari belakang tadi.
Lalu Sachi membawa nya masuk ke dalam gubuk dan membiarkan liz sadar sendiri nya.
'Bagaimana mereka bisa masuk kelingkaran itu, apa kami sudah di buntuti mereka sejak awal' batin Sachi sembari memikirkan nya.
Sachi membawa tubuh mereka yang pingsan di pinggir pantai. Sachi menggendong mereka dengan Cakra berlari nya, dengan sangat cepat Sachi sudah sampai di tepi pantai. Meninggalkan tubuh mereka dan pergi kembali ke gubuk mereka.
....
"Kau sudah sadar? Makan lah ini" tawar Sachi ketika melihat liz keluar.
"Terimakasih, maaf kan aku" ucap liz menyesal.
Sachi hanya mengangguk dan memakan masakan yang baru saja di masak nya.
"kita berada di kompetisi dengan 20.000 orang di pulau yang kecil ini, maka bersiaplah selama 7 hari kita akan selalu menghadapi musuh" ucap Sachi mengingatkan liz.
"Sekali lagi maafkan aku, dan terimakasih sudah menolong ku" ucap liz
"Aku berhutang budi pada mu" lanjut liz.
"kau makan itu, kita akan pergi mencari tempat baru" Ucap Sachi.
__ADS_1