
"PARA PENONTON SEKALIAN, INI SUDAH HARI KEDUA. TERSISA 15.670 PESERTA. BERIKUT NAMA-NAMA PESERTA YANG SUDAH GUGUR, ATAU PUN MENYERAH". Lalu muncul nama-nama dari tv penonton.
"TERIMAKASIH, SELAMAT MENYAKSIKAN KEMBALI".
Kini sachi dan Liz sedang mencari tempat untuk membuat gubuk seperti sebelumnya.
Begitu ramai di pulau yang kecil. Setiap perjalanannya menjumpai musuh atau mendengar suara pertarungan.
"sssssttttttt" suara pedang yang di keluarkan perlahan. Namun Sachi dapat mendengar nya.
Sachi memegang tangan Liz yang tadi nya sedang berjalan untuk berhenti.
Liz hanya melihat Sachi dan memainkan mata nya. Liz langsung mengerti apa yang di maksud Sachi.
Sachi dan Liz berdiri diam, mendengar dengan jeli dimana musuh akan menyerang mereka.
"Awasss!!!" ucap Sachi sembari memeluk Liz.
"Ssssseeeeetttttttt" suara bom asap yang di lemparkan musuh ntah dari mana posisi nya.
"takkkk.. Takkkk... Takkk" suara orang berlari mendekati mereka, ada 2 orang.
Sachi menyadari nya, namun ia tak melepaskan pelukan nya dari Liz. Sachi takut Liz yang akan terluka.
Satu orang masuk ketengah-tengah asap tersebut, dan menyerang Sachi.
"aaaaaa.......!!!" Sachi teriak kesakitan. Ia langsung melapisi tubuh nya dengan Chu. Berharap jika ada serangan lagi ia tidak akan terluka.
"keluarkan Chu mu" ucap Sachi pelan di telinga Liz. Liz langsung mengeluarkannya.
Liz sangat gugup, ia pikir mereka akan mati di tempat itu.
Namun musuh mereka sudah menyiapkan dengan matang persiapan mereka. Chu yang mereka keluarkan tidak berfungsi, musuh menyerang dengan senjata Suci yang hanya ada 30 buah di dunia ini. Konon kata nya senjata tersebut di buat oleh Dewa.
Jika ingin menghentikan senjata itu hanya satu, Serang balik.
Senjata itu sangat kuat, tidak tau siapa saja yang memiliki nya. Jika dijual harganya akan sangat mahal. Bisa menghidupkan 7 keturunan.
Sachi di serang lagi, dan merobek sedikit tubuh bagian belakang nya.
'Bagaimana bisa' batin Sachi heran.
Sachi langsung melompat dengan tinggi untuk keluar dari bom asap itu.
Ia menggendong Liz yang ketakutan. Sachi melihat seseorang di luar asap tersebut, dan satu nya lagi tidak terlihat karena di dalam asap.
Satu orang yang di luar sebagai mata untuk menunjukkan posisi Sachi dan liz. Dan yang satu nya lagi adalah senjata untuk menyerang.
Orang yang berada di luar sedang mengalirkan Cakra matanya dan mentransfer ke seseorang yang satu nya lagi.
__ADS_1
Sachi tak bisa menahan diri nya lagi, jika ia menahan kekuatannya, mereka akan terbunuh di tempat itu.
Sachi turun kembali kedalam asap tersebut, dan berlari keluar sembari menggendong Liz.
"Teppaaarrrrr" bunyi petir yang Sachi keluarkan dari telapak tangannya mengenai orang tersebut.
Liz tidak melihat nya, ia hanya menutup mata ketika di gendong oleh Sachi.
"Aaaaaaaaaaaa" teriak nya kesakitan sembari untuk memanggil rekannya yang masih berada di dalam asap.
Sachi tak memberi orang tersebut keluar, ia langsung mengeluarkan lightning nya lagi.
Sachi menyerang dengan area serangan seluruh asap tersebut, Sachi tak tau dimana posisi musuh.
Namun, tak ada suara dari musuh. Kemudian asap menghilang perlahan dan tak ada orang di dalam asap tersebut.
"Siapa itu tadi?" batin Sachi heran. Ia melihat kebelakang untuk memastikan orang yang terkena petir tadi masih ada.
"Hei siapa itu tadi?" tanya sachi kepada pria tersebut.
"Aku tidak tau" balas nya kesakitan di seluruh tubuh nya dan bergetar.
Orang tersebut lari dengan kesakitan, Sachi membiarkan nya pergi.
"Hei Liz, sudah selesai" ucap Sachi yang menggendong Liz.
Liz memegang kuat baju Sachi.
"Sudah aman, tenang lah" Ucap Sachi menenangkan dan memeluk Liz.
'Kekuatan apa itu tadi, apa benar ada dua orang yang menyerang ku tadi' batin Sachi yang masih heran dengan serangan dadak tadi.
"Sachi, sini aku obati luka mu. Kau akan kehabisan darah jika tidak".
Liz mengelap darah Sachi dengan robekan dari baju nya, kini ia hanya memakai setengah baju. Perut nya terlihat jelas.
"Heiii, mengapa kau merobek nya" ucap Sachi malu, lalu membuang wajah nya kebelakang.
"sudah, diam lah. Aku akan menghentikan pendarahan ini dulu". Ucap Liz.
Liz berjalan kebelakang tubuh Sachi dan memberikan sedikit Cakra nya untuk menutup pendarahan Sachi.
.....
"Sudah baikan sekarang?" tanya Liz setelah mengobati Sachi.
"Sudah, terimakasih ya" ucap sachi.
"Kau tidak ada yang terluka kan?" balas sachi bertanya.
__ADS_1
"Tidak, terimakasih Sachi" ucap Liz dengan senyum manis nya.
"Gunakan jaket ku ini, kau akan kedinginan nanti" ucap sachi membuka jaket nya dan memberikannya.
"waaawwww badan mu wangi" ucap Liz mencium jaket Sachi. Sachi hanya tersenyum malu mendengar nya.
Mereka beristirahat sebentar di tempat pertarungan tadi dan melanjutkan perjalanannya lagi setelah itu.
...***...
"Sachi sekarang sudah besar ya, dia juga tampan" ucap Baki menonton tv kompetisi Dewa, dan Sachi sedang di sorot oleh kamera tersembunyi.
"Benar, sudah 6 bulan sejak kejadian pembunuhan itu. Dan sifat nya sangat berubah sekarang" ucap hana.
"Aku sangat rindu padanya" lanjut hana, ketika melihat Sachi di tv.
"Jangan kalian lupakan, dia itu sangat kuat sekarang. Mungkin kita bisa di habisi nya dalam waktu 1 menit saja" ucap gori bercanda.
"iyaa benar, kita harus bersyukur jadi bagian dari keluarga nya" balas Baki.
"Guru Sin bahkan sampai mengirim nya ke kota waktu itu kan. Sachi anak yang sangat beruntung" sambung Baki.
"Dia memang anak yang unik sejak kecil Baki, bahkan dia bisa berlari dengan cepat. Kau ingat itu kan?" ucap hana membalas perkataan baki.
"Tentu aku ingat, kejadian 10 tahun lalu. Aku terkejut melihat nya" ucap baki.
"aku sangat rindu pada mami" sambung Baki yang tersentuh hati nya , setelah mengingat 10 tahun yang lalu.
"Aku juga" "aku juga"... Ucap mereka membalas perkataan Baki.
"Masakan mami Juni sangat enak, aku sangat rindu dengan ayam goreng nya" Ucap gori.
"Andai aku bisa putar waktu, aku akan kembali ke masa kita kecil dulu" ucap hana berharap ada keajaiban.
"Itu benar, bagaimana kalau kita membuat mesin waktu? Siapa tau kita bisa menciptakan nya" ucap gori mengeluarkan ide nya.
"kau berpikir terlalu jauh bodoh" ucap baki.
"Ayo lah, kita harus membuat kemungkinan menjadi nyata. Tidak ada yang tidak mungkin" ucap gori meyakinkan.
"Ya sudah itu terserah mu, kami membantu mu" ucap hana ingin memberhentikan hayalan gori.
"Baiklah, aku akan membaca buku sebanyak mungkin" ucap gori yang aneh dengan hayalannya.
Mereka melanjutkan kembali menonton kompetisi Dewa.
...***...
"Mati kau!!!!" ucap kun teriak.
__ADS_1
"Kau terlalu bersikap bodoh, keluarga kalian memang sangat bodoh. Padahal sudah di berkati Dewa dengan kekuatan yang hebat" ucap rennan yang berhasil menghindari serangan kun.
"Jika kau selemah ini sebaik nya kembali dan tunggu aku di final" lanjut nya.