
Namaku Luki Sakti, seseorang yang akan segera masuk ke kelas 1 SMA di kota Pontianak dan sedang melakukan perjalanan menuju rumah baru ku semenjak kebakaran 1 tahun yang lalu. Sekarang aku yatim piatu, kedua orang tua ku meninggal akibat kebakaran itu. Aku tidak mempunyai sanak saudara, atau lebih tepatnya aku tidak tau. Kenapa ? Karena saat itu tidak ada yang datang menemuiku. Aku sempat trauma beberapa waktu, tapi dengan bantuan dokter sekarang aku sudah baik - baik saja walaupun tidak sepenuhnya.
Beruntungnya aku hanya mengalami luka bakar ringan pada punggungku berkat kedua orang tua ku yang sempat menyembunyikanku di dalam bak mandi. Aku bisa hidup berkecukupan sampai saat ini berkat dana bantuan dari orang - orang yang peduli padaku termasuk rumah yang akan aku tempati nanti. Selama perawatan aku tidak masuk sekolah dan melakukan ujian di Rumah Sakit. Pemerintah memberiku pengecualian buat mendaftar masuk sekolah tanpa wali.
"Hidup memang harus selalu di syukuri ya", gumamku.
Saat ini aku sedang menuju rumah tempatku pindah dari daerah tempat tinggal lama ku yaitu Singkawang menggunakan taksi.
"Masih jauhkah bang ?", kataku.
"Sebentar lagi dek...", jawab Supir Taksi.
Tak lama mobil pun berhenti.
"Nah sampai ni dek...", kata Supir Taksi kepadaku.
Aku pun menurunkan barang - barang bawaanku dan membayarnya. Aku tersentak setelah melihat apa yang ada di depanku ini rumah berlantai 2 dengan desain yang elegan.
"Uwaahhh... ini rumah apa hotel ?", gumamku.
Segera aku bergegas untuk masuk dan membawa barang bawaanku karena hari mulai gelap. Tetapi...
"Lah.. kok ga ada ?! Kok ga ada kunci rumahnya...?!", kataku sambil kebingungan meraba di saku - saku baju dan celanaku.
Tak lama kemudian aku pun tersadar...
"Eh.. ternyata pake sandi pintunya" sambil ku tertawa.
"Jaman udah maju aj...", gumamku.
__ADS_1
2 jam kemudian barang - barang yang kuperlukan sudah disusun rapi, aku pun segera bergegas mandi. Setelah mandi aku melihat ke jendela untuk melihat pemandangan sekitar dan aku tak percaya apa yang kulihat. Sebuah bayangan seorang wanita sedang ganti pakaian terlihat dari jendela rumah disebelah karena pantulan cahaya ruangannya.
"Waw.. apakah itu bidadari ?"...
"Aku beruntung mempunyai nama Luki yang selalu Lucky", gumamku masih memandanginya.
Tiba - tiba bayangan itu menoleh ke arahku dan sekejap menutup tirai jendela miliknya. Aku kaget bukan main dan membuat jantungku berdegup kencang.
"Dia melihat.. ku ?"
"Apa ini akan jadi masalah ?" sambil ku bertanya - tanya.
Aku pun menutup tirai dan segera tidur karena besok adalah hari pertama ku masuk SMA.
Keesokan harinya...
Senin, 28 Juli 2025 adalah hari dimana aku memulai masa muda ku. Aku bersiap - siap dan segera berangkat ke sekolah.
Tak lama sesampainya di sekolah, upacara pun dimulai.
"Hei.. pst.. pst.."
Dari kiri seorang laki - laki berbisik kepadaku dari belakang, aku pun menoleh. Sebelum aku selesai menoleh tiba - tiba...
Cup~
Sebuah sentuhan kulit lembut nan kasar menyentuh pipi ku dan aku pun tersentak...
"Iiihhhhhhhhhhh..!!", kataku sambil bulu kudu ku merinding.
__ADS_1
"Kau ngapain noleh tiba - tiba.. e buset..!!", kata orang asing itu kepadaku teriak dengan nada pelan.
Aku dan orang asing itu pun diam - diam mengusap bersih bekas kecupan itu.
"Hueekk.. itu adalah ciuman pertamaku tau..!! Padahal aku ingin melakukannya dengan seorang wanita yang seksi.. selesai sudah.." kata orang asing itu dengan nada murung.
"Siapa juga mau ciuman dengan cowo.. iiiihhh..", jawabku.
Orang - orang di sekitar barisanku tertawa pelan karenanya.
"Lupakan.. coba kau liat guru wanita yang menggunakan topi sendiri di barisan kedua sebelah kanan di depan sana itu ?", kata orang asing yang belum ku kenal itu.
"Emangnya ad apa ?" jawabku.
"Dia itu guru tercantik di sekolah ini dan lagi dia terbilang cukup muda.. aku ingin sekali di ajari sesuatu olehnya.. kau tau sesuatu ? Ya sesuatu.. he.. he.. hehe.." , jawabnya sambil ngiler.
"Kayaknya ada yang ga beres dengan otak ni anak.. semoga aku d jauhkan dari orang ini", gumamku dalam hati.
Sesaat setelah aku selesai berbicara dengan orang yang belum ku kenal itu, aku kembali mencoba melihat guru itu. Tiba - tiba mata kami saling menatap dan sekejap aku langsung memalingkan wajahku.
"Dia.. dia.. melihatku ?!" gumamku dalam hati.
Kemudian aku mencoba kembali melihatnya, tetapi guru itu sudah tidak ada di barisan para guru.
"Bikin berdegup aj ni jantung", kataku sembari menghela nafas.
Tak lama kemudian upacara pun berakhir. Kami siswa baru segera masuk ke kelas yang sudah di tentukan, tetapi ternyata tidak untuk ku. Saat perjalanan menuju kelas aku diberhentikan oleh guru itu yang ternyata sudah menungguku.
"Ikut saya ke ruang konseling !" , kata guru itu dengan tegas.
__ADS_1
"Eh.. ? Eeehhhhhhh.. ?!", jawabku sambil terkejut kebingungan.