Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!

Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!
Bab 3. Pendekatan


__ADS_3

Sunyi~


30 menit pun telah berlalu...


"Anu..", ujarku sembari ingin melepaskan pelukannya.


Sesaat aku ingin melepaskan pelukannya, tiba - tiba dia kembali mengeratkan pelukannya.


"Sebentar lagi..", jawabnya dengan sedikit nada manja.


Aku yang mendengar ucapan itu pun pasrah menunggu hingga dia selesai memelukku. Entah kenapa pelukannya terasa nyaman sekali sehingga aku berpikir untuk tidak melepaskannya juga. Tak lama kemudian, terdengar dia sedang mengambil nafas panjang dengan kepalanya yang masih berada di pelukanku dan dia pun segera melepaskan pelukannya.


Dia terlihat mengusap sisa air matanya dan dengan lega tersenyum kepada ku seraya berkata...


"Makasih.. aku senang..", sambil menatap mataku.


"Ahh.. dia manis sekali..", gumamku dalam hati terpesona melihatnya.


Setelah itu, kami pun mencoba berdiri. Sesaat kami hampir sepenuhnya berdiri, tiba - tiba dia kembali terduduk. Aku berpikir bahwa kemungkinan dia kelelahan akibat kejadian tadi. Segera aku mengulurkan tangan kananku untuk membantunya berdiri. Dia pun tersadar melihat luka di tangan kananku dan merobek sedikit kain pada pakaiannya untuk menutupi lukaku.


"Sinikan tangan mu.. !", ujarnya sambil meraih tanganku.


"Adududuu..", reflek bicara ku keluar karena kesakitan.


"Pasti sakit..", ujarnya lagi sembari meniup luka di tangan kananku.


"Ah.. engga sakit kok..", sambil mencoba menutupi rasa malu ku.


"Udah jangan bohong..", sautnya sambil mengikat kain itu ke tanganku.


Setelah dia mengikatkan kain itu ke tanganku, dia pun mencoba berdiri kembali. Tetapi saat hampir sepenuhnya berdiri dia kembali terduduk. Dikarenakan hari sudah hampir gelap, akhirnya aku berinisiatif membantunya menuju ke rumahnya.


"Bu guru.. sini saya gendong..", sembari aku berjongkok untuk bersiap menggendongnya.


"Ehh.. ap.. ehh.. tapi tangan kamu kan sedang terluka..", terlihat dia kebingungan sambil menoleh ke arah sekitar.


"Engga apa - apa.. luka seperti ini aja besok juga bakal sembuh.. hari juga sudah mulai hampir gelap.. saya akan antar ibu kerumah.. yuk..!", ujarku.


"Emm, iya.. baiklah..", ujarnya sambil terlihat malu - malu saat akan di gendong.


"Oke, udah siap..?", tanyaku.


"Emm iya siap..", jawabnya sambil menahan malu.


"Baiklah kita mula..iiiiiiiii..!!?", ujarku mencoba berdiri.

__ADS_1


"Ueeeee.. berat !", gumamku dalam hati.


"Pasti beratkan ?! Turunkan saja akuu...!", teriaknya sambil memberontak.


"Tentu saja berat.. itu artinya saya bisa merasakan kalau ibu itu ada..", tegasku.


Sesaat setelah aku mengatakan hal tersebut, entah kenapa dia tiba - tiba jadi hening. Aku sempat menyaksikan bagaimana dia bertingkah seperti anak kecil walaupun usianya lebih tua dari ku. Tapi itu yang membuatnya terlihat sangat imut.


Aku pun segera melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Selama perjalanan aku menanyakan arah rumahnya dan dia pun menunjukkan ke arah mana yang harus dituju. Hal ganjil pun mulai terlihat seiring waktu.


Sesampainya di tujuan...


"Eh.. ini kan rumahnya tepat di samping rumahku ?!", gumamku dalam hati sontak membuatku terkejut.


"Kalau begitu bisa turunkan saya ?", ujarnya kepadaku.


"Ah.. tentu..", sautku sembari menurunkannya dengan perlahan.


"Kalau begitu ayo masuk sebentar buat mengobati tanganmu yang luka itu..", ajaknya.


"Ngga apa - apa bu.. rumah saya dekat kok.. tu..", jawabku sambil menunjuk ke arah rumah tepat di sebelah rumahnya.


"Ehhh.. saya baru tau..", balasnya.


"Makasih udah nolongin sama nganterin saya dengan selamat..", balasnya sambil ikut tersenyum malu.


"Kalau gitu saya pamit dulu..", sembari aku jalan menuju ke arah rumahku.


"Tunggu !", teriaknya.


Aku pun berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya.


"Bolehkah saya tau nama kamu ?", tanyanya dengan wajah yang di arahkan ke samping dan matanya melirik - lirik ke arahku.


"Luki Sakti.. panggil saja Luki !", jawabku dengan senang.


Aku pun segera kembali berjalan menuju ke rumah dan hari benar - benar sudah gelap. Aku melupakan bahwa aku harus membereskan sisa barang - barang pindahan ku. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukannya esok hari dan segera mandi karena luka ku perlu untuk dibersihkan.


Selepas mandi aku bergegas mengobati luka di tanganku ini, dikhawatirkan akan terkena infeksi. Untungnya aku selalu siap sedia mengenai kotak P3K berhubung sangat bermanfaat. Selesai mengobati luka, tak lupa aku menyiapkan makan malam. Wajar saja, aku mulai hidup mandiri sejak saat itu.


Setelah selesai menyantap makan malam, aku pun beristirahat sejenak dikarenakan kejadian yang tak terduga. Akhirnya pun aku memutuskan untuk segera tidur. Sebelum tidur aku sempat menyadari satu hal.


"Aduh, aku lupa menanyakan nama ibu guru itu, sepertinya besok saja ku cari tau, kepala ku sudah mencapai batas..", gumamku sembari mulai terlelap.


Keesokan harinya...

__ADS_1


Kriiiiiinggg~


Kriiiiiinggg~


Kriiiiiinggg~


"Ahh sudah pagi.. cepat sekali malam berlalu..", sambil ku mematikan alarmnya.


Aku pun segera bangun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Tiba - tiba tubuhku lemas seketika dan aku pun tumbang ke lantai.


"Sial..", gumamku seraya kehilangan kesadaran.


3 jam kemudian...


"Ahh !!", sontak aku terbangun.


"Uwah udah jam segini, sepertinya aku kekurangan energi.. aku mesti periksa ke dokter terdekat.. bolos di hari kedua masuk sekolah.. oh masa muda ku..", sembari aku berdiri.


Aku pun mulai berganti pakaian dan bersiap - siap pergi ke dokter. Soal sarapan sepertinya aku bisa membelinya di mini market. Setelah siap aku melihat maps lokasi, karena aku belum terlalu hafal mengenali daerah tempatku tinggal. Untungnya ada apotek terdekat tak jauh dari komplek rumahku sehingga dengan berjalan kaki saja sudah cukup.


Dalam perjalanan terlihat sedang ada warga sekitar yang membersihkan selokan bersama - sama. Tak lupa aku menyapa mereka supaya aku bisa lebih beradaptasi dengan kawasan di daerah ini. Aku pun melanjutkan perjalanan ku menuju ke apotek. Sesampainya di lokasi ternyata apoteknya sedang tutup, terlihat ada pemberitahuan bahwa mereka tutup sementara dikarenakan ada urusan. Aku pun memutuskan kembali dan hanya singgah ke mini market untuk membeli beberapa makanan buat sarapan.


Setelah selesai urusan dari mini market, aku kembali melanjutkan perjalanan. Saat aku sudah hampir sampai menuju rumah terlihat dari kejauhan ada seorang wanita tepat di depan pintu sedang memencet - mencet tombol bel rumahku. Terlintas dalam pikiran bahwa aku mengenali wanita itu, aku pun segera bergegas kesana.


Sesampainya, aku pun berdiri tepat dibelakangnya dan seraya berkata...


"Maaf ada yang bisa saya bantu ?", tanyaku.


Setelah mendengarkan apa yang ku katakan, wanita itu pun berbalik dan benar saja apa yang ku pikirkan.


"Saya mencari Lu..ki..", jawabnya.


"Oh bu guru.. ada yang bisa di bantu ?", tanyaku lagi.


"Huwahhh.. syukurlah.. saya pikir kamu kenapa - kenapa karena engga ada masuk sekolah hari ini..", jawabnya sambil merengek ingin menangis.


Aku terkejut dengan apa yang dia katakan. Dia benar - benar mencemaskan aku.


"Makasih udah mencemaskan saya.. saya baik - baik saja..", balasku sembari mengelus kepalanya.


Entah kenapa saat aku mengelus kepalanya dia tidak mengeluh soal itu, ini benar - benar akan jadi kebiasaan. Mata kami pun lagi - lagi saling menatap. Sontak kami pun saling memalingkan wajah. Tiba - tiba suasana berubah canggung.


"Anu.. kalau mau.. silahkan masuk ke dalam..", ajak ku sembari menurunkan tanganku tadi.


"Iya.. dengan senang hati..", jawabnya dengan nada rendah sambil menahan malu.

__ADS_1


__ADS_2