
Setelah menikmati hidangan yang diberikan olehnya. Aku segera ingin pamit pergi untuk melanjutkan melihat - lihat klub yang tersisa. Tetapi tepat saat aku ingin berpamitan, datang beberapa murid kelas 1 yang lain dan semuanya adalah siswi. Kemudian siswi - siswi itu mengatakan ingin melihat - lihat klub memasak. Lalu Kak Liliana mengijinkan mereka melihat - lihat dan mengobrol bersama.
Disaat aku sedang melihat situasi tersebut, aku pun sementara mengurungkan niat ku untuk berpamitan pergi. Terlihat Kak Liliana sangat senang saat mengobrol. Aku teringat saat di perjalanan membawa barang - barangnya tadi bahwa dia mengatakan sangat senang apabila mengobrol dengan seseorang. Aku tak tahu apa maksud dari perkataannya itu.
Tiba - tiba Kak Liliana memanggilku dan menyuruhku untuk mendekat ke tempat mereka berada. Kemudian Kak Liliana pun menyarankan untuk mengadakan lomba memasak dadakan bersama sebagai aktivitas klub. Para siswi setuju untuk melakukan lomba tersebut. Akhirnya kami murid kelas 1 melakukan lomba dan Kak Liliana sebagai pencicip makanannya. Kami pun diberikan apron agar pakaian yang kami gunakan tidak kotor saat memasak.
"Baiklah.. waktu memasaknya adalah 1 jam, kita mulai !", teriaknya dengan semangat.
Bahan - bahan sudah di siapkan dan lomba pun dimulai. Aku masih kebingungan ingin memasak apa. Disaat aku sedang memikirkan apa yang ingin ku masak, siswi lainnya sudah mulai memasak. Kemudian aku pun memutuskan untuk memasak makanan andalanku di rumah dan itu adalah mie. Mie adalah makanan yang dapat di nikmati kapan pun.
Saat ku cari di tempat persediaan, ternyata ada. Aku pun segera mulai memasaknya. Aku melengkapi masakan ku dengan berbagai bumbu rahasia buatanku. Waktu pun berlalu dan tersisa 20 menit, para siswi itu pun selesai terlebih dahulu. Lalu Kak Liliana mencicipi makanan tersebut. Saat mencicipinya, dia terlihat senang tetapi bukan dari makanannya melainkan senang dari suasana yang terjadi saat ini.
Setelah itu masakan ku pun selesai dan tersisa waktu 10 menit. Aku segera menghidangkan makanan tersebut padanya. Kemudian dia pun mulai mencicipi makanan ku.
"Nyam, ini juga tidak kalah enak..", jelasnya.
"Ku pikir makanan ku akan meledak - ledak..", gumamku dalam hati sambil tersenyum.
"Ah maaf, seharusnya aku mengomentari makanan kalian.. tapi semua makanan ini sangat enak..", ungkapnya sambil terlihat malu.
Akhirnya lomba memasak dadakan pun berakhir dan makanan yang kami masak di nilai dengan enak. Setelah melakukan penilaian, siswi - siswi itu pun segera pamit untuk pergi. Hal tak terduga pun terjadi, saat siswi - siswi itu sudah berada di luar ruangan, mereka mengatakan hal yang tak sepatutnya.
"Hei, ternyata memasak itu mudah banget..", gumam salah satu siswi.
__ADS_1
"Haha.. jadi kamu bakal bergabung dengan klub memasak ?", gumam siswi lainnya.
"Tentu saja enggak, terlalu mudah dan enggak menantang sama sekali.. seharusnya masakan ku di nilai sangat enak, tapi malah hanya di nilai enak dan sebanding dengan masakan cowok itu.. kakak itu enggak bisa menilai mana masakan yang enak.. jadi untuk apa bergabung..", saut siswi lainnya sambil tertawa.
Mereka tidak sadar bahwa suara mereka masih terdengar ke dalam ruangan. Aku yang mendengar hal itu pun kesal dan ingin memberi pelajaran pada mereka. Tapi saat aku akan mengejar mereka, Kak Liliana meraih tangan ku dan menahannya.
"Enggak apa - apa, ini udah biasa terjadi.. seorang laki - laki enggak mungkin menyakiti seorang wanita kan.. jadi perasaanmu saja udah cukup, makasih..", ungkapnya sembari tersenyum namun dengan wajah yang sedih.
Aku pun mengurungkan niat untuk mengejar mereka. Aku sangat tahu bahwa kata - kata itu sangat menyakitinya, tetapi dia membiarkan dirinya supaya tegar. Dia pun segera membereskan dapur.
"Akan ku bantu..", ujarku sambil ikut membereskannya.
"Ahh enggak perlu repot - repot, soalnya aku yang menyarankan lomba ini.. jadi ini adalah aktivitas klub dan kamu adalah tamu..", ungkapnya.
"Eh, kamu yakin ? Bukankah siswa laki - laki kurang suka hal beginian ? Apa karena kamu kasian ? Kalau karena kasian, lebih baik jangan..", ungkapnya.
"Tentu saja bukan karena hal seperti itu.. saat ini aku tinggal sendiri, jadi setidaknya aku ingin mempelajari berbagai masakan untuk ku sendiri.. jadi aku tidak akan mengkhawatirkan apa yang akan aku makan di rumah.. apalagi aku akan di ajari oleh kakak, setiap hari aku akan memakan makanan yang sangat enak..", jelasku.
"Ehh.. kamu berlebihan..", jawabnya sambil menahan malu.
"Baiklah, alasanmu sangat menarik.. kamu akan aku terima, Senin lusa kamu bisa membawa formulir masuknya kemari.. aku menantikan kita saling mengobrol lama satu sama lain..", jelasnya dengan senang.
"Tentu saja..", balasku.
__ADS_1
Aku yang mendengar itu merasa sangat senang. Kami pun kembali membereskan peralatannya. Setelah selesai membereskannya, aku pun segera pamit dan beranjak pergi.
Saat dalam perjalanan, aku kembali bertemu dengan Dion. Dia benar - benar tampak kelelahan.
"Yo Luk !", serunya sembari terengah - engah.
"Oo.. masih hidup ternyata kau..", balasku.
"Kasar sekali kau.. kau harusnya menyemangatiku ! Oh ya, soal Kak Liliana tadi.. aku di ceritakan oleh Kak Nana kalau Kak Liliana itu saat masih kelas 1 dia tidak mudah bergaul dengan orang lain, makanya dia selalu sendiri kecuali dengan ketua klubnya saja.. tapi sekarang ketua klubnya itu sudah lulus, jadi sekarang dia benar - benar sendiri dan lagi dia benar - benar populer di kalangan siswa karena masakannya.. setiap ada kompetisi memasak di tiap acara sekolah, dia selalu menjuarainya dan akhirnya di juluki Ratu Masakan !", jelas Dion padaku.
"Cocok sekali dia mendapat julukan itu, masakannya benar - benar sangat enak.. ah terus soal kesendirian itu tenang saja, aku udah memutuskan masuk klub memasak.. jadi dia tidak sendirian lagi..", ungkapku.
"Woi !! Itu berarti kalian hanya berduaan saja dong ?!!", balasnya merasa kesal.
"Kau kan udah punya Kak Nana, semangat !", tegasku sembari meledeknya.
"Kampret !! Apakah persahabatan kita serapuh ini ?!!", balasnya dengan kecewa.
"Kalau begitu aku pergi pulang dulu.. sampai ketemu di sekolah lagi.. haha..", ujarku dan bergegas pergi.
"Jangan pergi dulu ! Urusan kita belum selesai !", teriaknya sambil terlihat kesal.
Kemudian waktu sudah menunjukan sore hari, tak terasa aku sudah berlama - lama di sekolah. Aku pun bergegas pulang untuk bersiap karena malam ini ada 2 pertemuan. Saat dalam perjalanan, aku pun singgah menuju mesin ATM berhubung uang yang ada di dompet ku tersisa sedikit. Setelah mengambil yang ku butuhkan, aku pun melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah, aku melihat sejenak kediaman Hana. Terlihat di kediamannya seperti sedang tak ada orang. Aku pun segera masuk dan beristirahat sebentar. Kemudian waktu sudah menunjukkan 1 jam sebelum waktu pertemuan. Aku pun bergegas bersiap - siap. Ini adalah peperangan masa mudaku.