
Bruakkk~
"Kak Na.. Kak Na..", ujar ku sembari menggendongnya bak Putri Cinderella.
"Hmm ?", saut Kak Na perlahan membuka matanya.
"Kak Na enggak apa - apa ?", ujar ku.
"Ada suara yang begitu keras, apa yang terjadi ? Kenapa berantakan ? Lalu kenapa Bang Luki menggendong Kak Na ?", tanya Mira yang baru saja datang.
"Tu.. turunkan aku !", ujar Kak Na dengan wajah yang terlihat memerah sembari memukul - mukul tubuh ku.
"Aduduh, iya.. iya baiklah.. tunggu..", ujar ku sambil menurunkannya.
"Jadi, ada yang bisa jelaskan ?", tanya Mira.
Aku pun menjelaskan apa yang terjadi saat aku akan mengambil kue - kue yang di minta oleh Mira. Mira pun dengan cepat memahami situasi yang terjadi.
"Kak Na, berterima kasih sama Bang Luki, kalau enggak ada Bang Luki mungkin Kak Na udah terluka.. cepat !", tegas Mira.
"Tapi.. ?!", saut Kak Na.
"Kali ini enggak ada tapi - tapian..", tegas Mira lagi.
"Makasih udah menolong..", ujar Kak Na pada ku.
"Bagus.. sebagai hukuman atas keteledoran Kak Na, Kak Na beresin barang yang berserakan ini sendiri.. mengerti ?!", tegas Mira.
"Mengerti..", saut Kak Na dan mulai membereskan barang - barang tersebut.
"Bang Luki bisa melanjutkan membawa kue - kuenya ke depan..", jelas Mira dan beranjak pergi.
Aku pun melanjutkan membawa kue - kue tersebut. Saat akan mengambil kue terakhir, Kak Na sudah tak terlihat di dapur. Pinggang ku mulai merasakan nyeri akibat menahan beban yang tiba - tiba. Dalam keadaan seperti itu aku kembali menjaga kasir. Saat sedang berjaga, seseorang masuk dan membuat ku terkejut.
"Selamat datang !", sambut Mira.
"Pu.. Putri ?!!", gumam ku dalam hati.
"Silahkan di lihat - lihat kue yang ingin di pilih..", ujar Mira pada Putri.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu bisa pilihkan kue yang cocok untuk berdua ?..", balas Putri sambil melirik ke arah ku dengan senyum kecil.
"Baiklah, tunggu sebentar..", jawab Mira.
"Ugh.. aku tak tau apa yang sedang di pikirkan olehnya..", gumam ku dalam hati merasa was - was.
Mira pun menunjukkan kue - kue yang di inginkan Putri. Setelah beberapa lama, mereka pun selesai memilih dan menghampiri ku. Aku pun membungkuskan kue yang telah di pilih oleh Putri. Setelah melakukan transaksi, Putri pun mulai beranjak pergi. Entah kenapa aku mengerti maksudnya, segera aku bersiap untuk menyusulnya.
"Mira, bisakah abang pergi keluar sebentar ?", ujar ku.
"Tentu, toh belum ada pembeli yang datang lagi sekarang..", jelas Mira.
"Ah makasih, abang akan segera kembali..", balas ku.
Aku pun pergi keluar untuk menyusulnya. Seperti dugaan ku, terlihat Putri sedang duduk di sebuah bangku pinggir jalan. Aku pun segera menghampirinya. Dia pun sadar aku sedang menghampirinya dan tersenyum pada ku.
"Aku tau kamu akan datang..", ujar Putri.
"Mungkin hanya kebetulan..", ujar ku sembari duduk di sebelahnya.
"Ini kuenya..", ujar Putri memberikan kuenya pada ku.
"Bagaimana kamu tau aku ada di sana ?", tanya ku.
"Aku kan selalu memperhatikan mu, terlihat kemarin kamu cukup lelah dari biasanya dan kamu agak buru - buru kalau udah selesai dari kegiatan klub.. jadi aku mengikuti mu deh..", jelas Putri dengan tawa kecilnya.
"Yang ku harapkan cuma satu, jangan terlalu memaksakan diri, janji ?", sambung Putri lagi sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Baiklah, janji..", ujar ku sambil menggait jari kelingkingnya dengan jari kelingking ku.
"Kalau begitu aku mau pulang, kamu pun masih ada yang harus di kerjakan..", ujar Putri sambil beranjak pergi.
Uhuk, uhuk~
"Kamu enggak apa - apa Putri ?", tanya ku khawatir.
"Enggak apa - apa kok, cuma batuk.. sampai besok, daa..", ujar Putri.
Aku pun beranjak kembali ke toko. Untungnya belum ada pembeli yang datang selagi aku keluar sebentar. Saat sedang berjaga, entah kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang memperhatikan ku. Namun aku pun hanya mengabaikannya saja.
__ADS_1
Waktu sudah semakin larut malam, terlihat pembeli sudah tak kunjung datang. Mira pun mulai bersiap untuk menutup toko. Segera aku ikut membantu. Saat sedang membereskan barang - barang di dapur, terlihat Kak Na muncul secara tiba - tiba. Kemudian Kak Na meraih tangan ku dan menarik ku untuk duduk di sebuah kursi. Kak Na pun mengambil salah satu kursi lagi dan meletakkannya tepat di belakang ku sembari duduk. Tiba - tiba Kak Na mengangkat seragam ku dari bagian bawah ke atas.
"Kya !!", jerit ku dengan spontan.
"Berhentilah berteriak seperti wanita !", saut Kak Na sembari mencubit tubuh ku.
"Aduduh sakit, maaf tadi cuma bercanda.. kenapa tiba - tiba Kak Na mengangkat pakaian ku ?!", ujar ku penasaran.
"Diamlah sebentar, jangan banyak tanya..", tegas Kak Na.
Tiba - tiba pada bagian sekitar pinggang, aku merasakan sebuah sentuhan telapak tangan yang lembut dan hangat. Ya, tangan itu adalah milik Kak Na. Tangannya mulai mengusap - usap bagian sekitar pinggang ku dengan balsem.
"Kak Na, ini ?", tanya ku.
"Aku dari tadi memperhatikan mu, kamu selalu memijat kecil pada bagian pinggang.. aku berpikir bahwa itu pasti di sebabkan oleh ku saat kamu menggendong ku yang sempat terjatuh tadi.. jadi biarkan aku melakukan ini untuk berterima kasih..", ujar Kak Na.
"Uwahhh.. tak ku sangka, padahal dia selalu membentak ku saat kami saling berhadapan.. tapi sekarang..", gumam ku dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu dengan senang hati aku menerimanya..", ujar ku.
Kak Na pun dengan lembut mengusap - usapnya dan terkadang memberikan pijatan kecil pada bagian pinggang ku. Sejenak aku merasakan kenyamanan dan tak ingin segera selesai. Tiba - tiba Mira datang dan melihat kami.
"Ya ampun, apakah kalian sekarang udah akrab ?", ujar Mira dengan candaannya.
"Ini.. bukan seperti yang kamu lihat..", kejut Kak Na.
Plakkk~
"Aduuuh sakit !", jerit ku kesakitan karena Kak Na tiba - tiba menampar dengan keras pada bagian pinggang ku.
"Hmph !!", sautnya dengan kesal dan beranjak pergi.
"Dasar Kak Na.. apakah perlu Mira lanjutin ?", ujar Mira.
"Enggak apa - apa, sepertinya udah selesai..", jelas ku.
Aku pun kembali melanjutkan membereskan sisa barang - barang tadi. Setelah selesai, aku pun berganti pakaian. Kemudian aku bersiap - siap untuk pulang. Tak lupa aku di berikan beberapa potong sisa kue untuk cemilan malam. Aku benar - benar berterima kasih dan segera beranjak pergi. Saat dalam perjalanan, hawa yang tadinya dingin menjadi hangat berkat balsem yang di oleskan oleh Kak Na.
"Hmmm.. padahal Kak Na orangnya cukup kasar, tapi tangannya benar - benar halus dan lembut.. tapi ya sudahlah..", gumam ku dalam hati sembari memakan sepotong kue untuk merayakan ku yang telah melewati hari ini dengan banyak hal.
__ADS_1