
Dulu saat aku masih SMP, aku tidaklah populer. Semasa kelas 1 SMP aku pernah menyukai seseorang. Namanya adalah Putri Anastasya, dia memiliki rambut panjang yang indah. Itulah yang mungkin membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Dia satu kelas dengan ku dan termasuk salah satu yang tercantik di sekolah. Dia banyak di tembak oleh anak laki - laki termasuk kakak - kakak kelas. Aku terbilang dekat dengannya, kami saling mengerjakan tugas kelompok bersama.
Ada kalanya kami saling jalan bersama hanya berdua saja untuk mencari bahan referensi untuk tugas yang akan kami kerjakan. Aku sempat berpikir bahwa kami terlihat seperti sepasang kekasih. Dia juga pernah mengajakku untuk main kerumahku sembari mengerjakan tugas. Terkadang kedua orang tuanya tidak ada di rumah karena sibuk bekerja. Dia sangat jago memasak, masakannya benar - benar sangat enak karena mungkin kedua orang tuanya yang selalu tidak ada di rumah.
Menurutku dia benar - benar orang yang baik, tidak heran dia sangat populer di kalangan anak laki - laki di sekolah maupun di luar sekolah. Saat itu aku pernah di berhentikan oleh sekelompok kakak - kakak kelas saat sepulang sekolah tanpa sepengetahuannya dan para guru. Aku berpikir sepertinya mereka akan menghajarku karena kedekatanku dengannya dan benar saja aku benar - benar babak belur. Mereka mengatakan untuk tidak dekat - dekat lagi dengannya. Aku sempat melakukan perlawanan walaupun tidak banyak, wajar saja dikarenakan tubuhku tidak setinggi sekarang yang hanya seukuran rata - rata anak - anak perempuan di sekolah pada saat itu. Apalagi mereka melakukannya berkelompok hanya untuk menghajarku seorang diri.
Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk menembaknya pada saat akhir semester 2. Keberanianku terbilang cukup besar, aku tidak akan mundur hanya karena dihajar. Saat waktunya telah tiba, aku pun mengajaknya sepulang sekolah dan hanya kami berdua yang tau. Aku melihat taman dan aku putuskan untuk melakukannya di sana.
"Putri, ada yang mau aku sampaikan sama kamu..", ujarku.
"Apa itu ?", balasnya penasaran.
"A..aku.. menyukai mu !!",
"Maukah kamu jadi pacarku ?!", sambungku lagi.
Hening~
Deg~
Deg~
Tiba - tiba suara jantung ku seperti terdengar sangat keras, terlintas di pikiranku apakah dia mendengar suara jantung ku ini.
"Mm..maaf, aku tidak bisa. Apakah selama ini kamu berpikir bahwa aku menyukaimu ? Jangan terlalu percaya diri, kita dekat hanya sebatas teman saja. Jadi, kita tidak lebih dari sekedar teman yang saling mengerjakan tugas pada umumnya. Apakah hanya itu yang ingin kamu sampaikan ? Kalau hanya itu saja, aku pergi..", jawabnya dengan memasang raut wajah yang merasa jijik terhadapku.
"A..aa..", balasku tak bisa berkata apa - apa lagi selagi dia pergi.
Aku benar - benar kecewa pada diriku bahwa selama ini aku hanya salahpaham. Itu membuatku trauma untuk dekat dengan cewek lagi. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah bertemu apalagi berbicara padanya. Saat kenaikan kelas 2, kami berdua berada di kelas yang berbeda. Kemudian terdapat rumor bahwa dia sudah memiliki pacar. Selama kelas 2, aku benar - benar menjadi pendiam sampai kenaikan kelas 3 hingga kejadian kebakaran itu terjadi. Saat berada di Rumah Sakit tak terlihat dia datang menjenguk yang benar - benar menandakan bahwa hubungan saat kami dekat itu tidak pernah terjadi.
Setelah menyelesaikan masa perawatanku di Rumah Sakit, aku memutuskan untuk kembali bangkit. Aku akan memiliki seorang pacar saat SMA nanti, itu sebuah keharusan karena itu merupakan salah satu kenangan masa muda ku yang membuatnya menjadi lebih menarik.
Kemudian saat ini, aku mengajak seorang wanita cantik yang juga merupakan guruku di sekolah masuk ke dalam rumah.
Ceklek~
Suara pintu rumah yang tertutup membuat suasana semakin canggung. Ini pertama kalinya aku mengajak seorang wanita masuk ke dalam rumah, apalagi rumah yang ku tinggali sekarang hanya aku seorang.
"Anu, silahkan duduk di sofa..", ajak ku.
"Ah iya..", jawabnya sembari duduk.
__ADS_1
"Kalau gitu saya siapkan minuman dulu sekalian makan siang..", balasku sembari menuju ke dapur.
Tiba - tiba kepala ku kembali merasakan pusing dan membuatku tersandar di dinding. Dia yang melihat itu kaget dan segera merangkul ku.
"Ah maaf.. saya baik - baik saja..", ujarku.
"Baik - baik darimana ?! Kamu tiba - tiba tersandar kedinding seperti ini, apakah ini karena gigitan anjing yang kemarin ?", tanyanya sambil khawatir.
"Ah engga kok, saya cuma kelelahan..", jawabku supaya tak terlalu memikirkan apa yang terjadi kemarin.
"Dimana kamarmu ?", balasnya.
"Ehh ?!! Kenapa tiba - tiba ibu nanyain kamar ?", jawabku sembari kaget dan memikirkan yang tidak - tidak.
"Buat membaringkan kamu lah.. ! Kamu pasti memikirkan yang tidak - tidak kan ?!", balasnya sambil memasang wajah cemberut.
"Ahh.. tidak kok..", jawabku mengelak.
"Kamar saya di lantai 2..", lanjutku sembari dia membawa ku menuju kamar dan segera membaringkanku.
"Kalau begitu biar saya aja yang nyiapin makan siang, badan kamu panas, ini juga merupakan tanggungjawab saya karena kamu ud menolong pada saat itu, lebih baik kamu diam saja di balik selimut dan jangan bawel, mengerti ?!", tegasnya sambil memasang wajah mengerut nan imut.
"Baiklah..", balasku.
Klontang~
Klentang~
"Hmm.. ?!", terkejut ku sambil membuka mata.
"Suara apa itu ? Arahnya dari dapur..", gimamku dalam hati.
Selama beberapa saat suara itu pun hilang. Tak berapa lama pintu kamarku terbuka dan terlihat ibu guru itu masuk membawa makanan dan minuman untukku.
"Ah kamu sudah bangun di waktu yang pas, ini masakannya sudah jadi.. tadaaa..!!", sautnya sembari mendekat ke arah ku.
"Haha.. maaf ngerepootiiii....in ?!!", balasku sambil terkejut melihat apa yang dia masak.
"Hoi.. hoi.. hoi.. ini beneran makanan ?! Kok kental dan gelap ?!!", gumamku dalam hati sambil menelan air liurku.
"Kenapa cuman di lihat ? Silahkan dimakan..", ujarnya sambil tersenyum berharap aku segera memakannya.
__ADS_1
Aku pun mendekatkan piringnya dan mengambil sendok. Setelah itu aku mulai mengambil sesuap dari makanan itu.
"Baiklah.. selamat makan !", sautku sembari memasukkannya ke dalam mulut.
Seketika itu pun aku pingsan.
"Luki ?! Lukiiii..?!", teriaknya membangunkanku.
"Eh.. apa yang terjadi ?", balasku sembari bangun.
"Ahh.. aku sepertinya pingsan selepas memakan makanan itu ya..", lanjutku dalam hati.
"Maaf, aku sebenarnya belum bisa masak..", ujarnya sembari memasang wajah cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Dasar dia..", gumamku dalam hati.
"Jadi saat kamu pingsan, aku pergi keluar sebentar dan membelikan makanan bungkus ini untuk makan siang tadi sama malamnya nanti..", sautnya sambil memberikan makanan itu padaku.
"Baiklah.. kalau begitu ini sebagai permintaan maafnya ya.. aku terima..", balasku.
"Uh.. jahat..", balasnya lagi.
Haha~
Haha~
Akhirnya kami pun tertawa selama beberapa saat. Hari sudah mulai gelap, dia pun bersiap untuk kembali pulang.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu.. maaf ngerepotin..", ujarnya menuju keluar.
"Ah iya, bener - bener deh ngerepotin..", jawabku sambil bercanda.
"Iihhh.. jahat..", balasnya sambil cemberut.
"Haha.. makasih udah mau menjenguk..", balasku.
"Emm iya..", balasnya lagi.
Setelah itu dia kembali ke rumahnya, entah kenapa aku merasa senang hari ini bisa mengobrol dengannya dan tak terpikir olehku bahwa kami berdua saat mengobrol tanpa sadar tidak menggunakan kata formal lagi. Apakah ini kebetulan semata menurutku. Kemudian aku pun bersiap - siap untuk mandi.
Malamnya, saat aku sedang membaca buku tiba - tiba aku melihat sebuah mobil ada di depan rumahnya. Terlihat seorang laki - laki keluar dari mobil dan membawa serangkai bunga. Laki - laki itu terbilang tampan dengan jas. Kemudian laki - laki itu membunyikan bel rumahnya, tak berapa lama dia pun keluar. Saat laki - laki itu memberikan bunga itu, dia sangat senang dan sepertinya dia menyuruhnya masuk ke dalam. Tetapi laki - laki itu menolak dan segera pamit pergi. Dia pun kembali masuk ke dalam rumah sembari mencium serangkai bunga itu. Aku pun jadi tidak lagi mood untuk membaca, akhirnya aku putuskan untuk tidur.
__ADS_1
"Aaahhh.. lelaki yang memberikan serangkai bunga untuk seorang wanita, siapa lagi kalau bukan kekasihnya.. sepertinya lagi - lagi aku salah paham soal dia.. padahal dia bukan siapa - siapa ku, tapi hatiku terasa sakit..", gumamku dalam hati sembari perlahan - lahan mulai terlelap tidur.