
Sejenak suasana di dalam ruangan menjadi hening. Teriakan para penonton mulai terdengar. Waktu di mulainya pertandingan tak lama lagi. Terlihat para pemain menatap ku dengan serius menandakan bahwa perkataan itu bukan sebuah candaan.
"Baiklah, jika ada yang bisa ku bantu maka akan ku lakukan..", ujar ku dengan pasrah.
"Yeahhh !!!", teriak mereka dengan senang.
"Pertandingan ini tidak jadi di batalkan.. wuohhh !!", teriak mereka dengan senang.
"Uwah, berarti kalau tadi aku menolak maka pertadingannya akan di batalkan ?! Aku tak tau ini hal yang baik atau malah jadi hal yang tidak baik..", gumam ku dalam hati.
"Ah, tapi aku belum pernah bermain sepak bola sebelumnnya..", ujar ku.
"Oh soal itu tenang aja, kau hanya akan diam dan menunggu bola datang aja.. mudah kan ?", ujar Dion.
"Aku enggak paham, jadi apa maksudnya ?", tanya ku kebingungan.
"Kau, akan menjadi penjaga gawang kami..", ujar Dion mengacungkan jari jempolnya.
"Oi tunggu dulu, bukankah posisi itu yang terpenting supaya tidak kalah ?!", saut ku.
"Tenang aja, kami akan membalas berapa pun gol yang mereka dapat.. lagi pula mereka hanyalah tim yang pernah masuk 3 besar di tingkat nasional dan hanya ada 2 pemain penyerang yang sangat handal.. itu bukan apa - apa..", ujar Dion dengan percaya dirinya.
"Oi !! Itu menandakan kalau aku pasti bakal kebobolan dengan mudah ?! Sialan, ini bukan pertanda hal yang baik, arghhh !!", gumam ku dalam hati dengan kesal.
"Sudahlah, semua akan baik - baik aja.. benarkan semuanya ?!", ujar Dion.
__ADS_1
"Yoi !!!", teriak mereka bersamaan.
"Benar kata Dion.. karena kamu belum pernah bermain sepak bola sebelumnya, jadi kami tidak berharap banyak padamu..", ujar Kak Na pada ku.
"Ughh.. perkataannya benar - benar menusuk..", gumam ku dalam hati yang mendengar perkataannya.
"Baiklah semuanya , waktunya bersiap - siap !!", teriak Kak Na.
"Ohhhh !!!!", saut mereka dengan serentak.
Aku pun di berikan seragam, sepatu, kaus kaki dan sarung tangan. Untuk ukurannya sendiri sudah di sesuaikan secara umum. Aku pun ikut bersiap - siap. Ini benar - benar hal yang gila, jantung ku tak henti - hentinya berdetak dengan keras. Suhu tubuh ku tiba - tiba menurun karena melakukan hal yang belum pernah ku lakukan sebelumnya, apalagi di depan banyak penonton yang akan melihat. Di saat aku sedang gugup - gugupnya, tiba - tiba sepasang telapak tangan yang lembut dan hangat menyentuh wajah ku di kedua sisi pada bagian pipi ku.
"Kamu akan baik - baik saja.. lakukanlah dengan cara mu sendiri..", ujar Kak Na tepat di hadapan ku dengan senyumannya.
"Wuohh, aku penasaran kenapa kalian bisa seakrab itu.. apakah kalian pacaran ? Beritahu aku dong ! Cuit cuit..", ujar Dion.
Plakkk~
Seketika kedua tangan yang tadinya hangat sedang menyentuh kedua pipi ku, tiba - tiba menggila dengan menampar wajah ku tanpa ampun.
"Sialan Dion, merusak suasana hati ku yang sedang bagus - bagusnya bersama Kak Na.. tapi kalau enggak begini, bukan Kak Na namanya.. ughh, sakit juga..", gumam ku dalam hati.
Tok, Tok~
Tok, Tok~
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, seseorang yang datang memberitahukan untuk para pemain segera memasuki lapangan. Para pemain kami mulai mengambil nafas yang dalam dan berangkat. Saat berjalan di lorong, suara penonton mulai terdengar semakin jelas. Kami pun berbaris bersamaan dengan tim lawan.
Setelah menunggu beberapa saat, kami pun akhirnya keluar menuju ke lapangan. Terlihat kilatan - kilatan kamera yang mengarah ke kami. Penonton mulai bersorak dengan meriah. Aku pun meyakini, bahwa pasti ada satu orang yang sangat terkejut melihat ku berada di sini.
"Ugh, bagaimana nanti aku akan menceritakannya soal ini..", gumam ku dalam hati.
Kami pun menuju ke tengah lapangan bersamaan dengan para wasit. Kemudian berbaris kembali dan mulai menyanyikan lagu kebangsaan. Setelah selesai, kami pun mulai mengundi untuk menentukan siapa yang akan memulai terlebih dahulu. Saat pengundian, tim lawan yang akan memulai. Kami pun saling berjabat tangan dan menuju ke posisi masing - masing.
Saat masih dalam persiapan, aku melakukan gerakan - gerakan ringan agar tubuh ku tak mengalami cedera saat bergerak dengan tiba - tiba. Seketika suara para penonton terhenti dan para pemain mulai bersiaga.
Priiiiit~
Peluit tanda di mulainya pertadingan babak pertama pun terdengar. Para penyerang tim lawan mulai melakukan pergerakan dengan cepat. Kekompakan yang sangat bagus dari lini depan para pemain tim lawan. Tim kami mulai bersiap untuk menghadang. Kedua pemain penyerang dari tim lawan mulai mencari celah dan memberikan bola pada pemain tengah mereka. Para pemain tengah mereka mulai mengumpan dan semakin mendekati ke sisi kotak penalty. Para pemain kami masih mencoba untuk merebut bola, namun masih belum dapat merebutnya.
Tiba - tiba umpan terobos mulai di lancarkan, seketika salah satu pemain tim lawan berhasil melewati celah dan mendapatkan bola. Pemain penyerang tim lawan itu maju dan memasuki area goal box. Tanpa pikir panjang dia menendangnya, bolanya mengarah tepat di mistar gawang dan sayang sekali bolanya memantul ke sisi luar lapangan. Aku yang berada tepat di depannya hanya bisa terkejut melihat gaya permainan tim lawan. Jika begini terus, maka hanya masalah waktu sampai mereka berhasil mencetak gol ke gawang ku.
Aku pun menghela nafas dalam - dalam. Seperti yang di katakan oleh Kak Na, aku akan melakukannya dengan cara ku. Senjata yang ku punya adalah membaca pergerakan lawan selangkah lebih depan. Walaupun aku belum pernah bermain sepak bola sebelumnya, tapi tubuh ini sudah ku latih untuk dapat melakukannya.
Kali ini adalah tendangan ku dari gawang, kawan setim ku mengerti kalau aku belum pernah melakukan sebuah sepakan keras, jadi mereka mendekati ku untuk menerima bola dari ku. Sepakan pelan dari ku memulai kembali jalannya pertandingan.
Kali ini, tim kami yang memegang kendali bola. Perlahan - lahan tim kami mulai maju menuju ke daerah lawan. Pertahanan lawan sungguh sangat teratur seperti tidak ada celah untuk di lewati. Dion dengan kecepatannya maju untuk mencari celah, tim kami pun maju dan mengumpan ke arahnya. Dion pun mendapatkan bola tersebut dan dengan cepat menuju ke arah kotak penalty. Pertahanan lawan begitu ketat sehingga membuat Dion kewalahan dan memaksakan untuk menembak. Tendangan keras dari Dion, namun sayang arahnya tepat berada di hadapan kiper.
Dengan cepat si kiper menendang bola lambung dengan keras. Serangan cepat dari tim lawan. Semua pemain lawan melesat tanpa henti melewati pertahanan tim kami. Kali ini bola kembali di umpan oleh pemain penyerang tim lawan. Aku pun juga mulai mengamati pergerakan kecilnya.
"Tendangan keras kembali di lancarkan ke sisi lain sudut gawang dan apakah yang terjadi ?!!!", teriak komentator pertandingan.
__ADS_1