Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!

Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!
Bab 25. Awal Persaingan


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertandingan sepak bola itu, entah kenapa aku mulai menjadi bahan pembicaraan murid - murid lain. Setiap aku berjalan di sekitar sekolah, aku terlihat seperti sangat mencolok. Kemana pun aku pergi, mereka selalu memperhatikan ku. Akibatnya, aku merasa tidak nyaman.


Selama jam istirahat pertama sampai terakhir saat ini, aku benar - benar tak berkeinginan untuk keluar dari kelas. Aku pun merebahkan kepala ku di meja. Saat aku sejenak memejamkan mata, tiba - tiba sebungkus roti tergeletak di depan wajah ku. Aku pun terbangun dan melihat Putri sedang berdiri di hadapan ku.


"Makanlah, kamu pasti lapar..", ujar Putri.


"Putri ! Makasih, aku jadi ingin memeluk mu..", ujar ku karena terharu.


"Benarkah ? Kalau begitu coba peluk saja aku..", ujar Putri.


"Eh ? Benar boleh ?!..", saut ku.


"Tentu saja bercanda, wee..", balas Putri dengan canda sambil menjulurkan lidahnya.


"Ugh.. padahal aku sudah sempat senang tadi..", gumam ku dalam hati dengan kecewa.


Putri pun duduk di kursi tepat depan ku dan menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Sejenak Putri menatap dalam mata ku. Aku pun jadi salah tingkah di buatnya.


"Kenapa tiba - tiba menatap ku seperti itu ?", tanya ku sembari memakan roti pemberian darinya.


"Suka - suka aku..", jawab Putri.


"Bagaimana bisa begitu, teman sekelas jadi pada melihat ke arah kita..", bisik ku.


"Abaikan saja..", balasnya.


Aku pun hanya mengabaikannya dan segera menghabiskan rotinya.


"Ini minumannya..", ujar Putri sembari memberikan sebotol minuman pada ku.


"Ah makasih..", balas ku sembari meminum minuman darinya.


Setelah selesai, aku pun menghela nafas. Sejenak aku terdiam memikirkan tentang apa yang terjadi. Kenapa tiba - tiba aku menjadi bahan pembicaraan murid lain di sekolah.


"Aku tahu kenapa kamu menjadi bahan pembicaraan murid lain..", ujar Putri.


"Benarkah ? Tunggu, kenapa kamu tahu aku sedang memikirkan hal itu ?", tanya ku keheranan.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus bertanya lagi ? Bukankah aku pernah mengatakan kalau aku selalu memperhatikan mu..", ujar Putri.


"Ugh.. apa dia sedang menggoda ku ?!", gumam ku dalam hati.


Sejenak aku tersipu oleh perkataannya.


"Apakah kamu sudah melihat koran sekolah ?", tanya Putri.


"Belum.. memangnya kenapa ?", jawab ku kebingungan.


"Sudah ku duga, di situ memberitakan tentang dirimu.. itu sebabnya kamu jadi bahan pembicaraan murid - murid di sekolah ini.. mungkin kata yang cocok adalah populer, yap kamu benar - benar seseorang yang populer sekarang..", ujar Putri.


Aku pun terkejut dan penasaran tentang apa yang di beritakan oleh koran sekolah. Saat aku akan bertanya mengenai itu pada Putri, tiba - tiba dari depan pintu terdengar seseorang yang sedang memanggil nama ku. Aku pun menoleh untuk melihat siapa yang sedang memanggil ku.


Saat ku lihat, ternyata salah satu teman sekelas ku dan yang mengejutkan adalah seseorang yang berada di sebelahnya. Seseorang itu adalah Kak Liliana yang sedang memasang wajah cemas. Terlihat teman sekelas ku itu mempersilahkan Kak Liliana masuk. Kak Liliana pun perlahan menuju ke tempat ku. Semua teman sekelas ku pada melihat ke arahnya. Kak Liliana pun sedikit tertunduk karena malu. Kemudian sampailah Kak Liliana tepat di hadapan ku.


"Kak Liliana ? Ada perlu apa ?", tanya ku.


"Apa.. Apa benar kamu bergabung dengan Klub Sepak Bola ?! Kenapa kamu tidak memberitahu ku ?! Apa kamu sudah tidak suka berada di Klub Memasak lagi bersama ku ?", tanya Kak Liliana dengan raut wajah yang tampak sedih.


Aku yang mendengar pertanyaan dari Kak Liliana itu menjadi semakin penasaran tentang isi pemberitaan dari koran sekolah tersebut. Aku pun berdiri untuk menenangkannya. Terlihat semua mata tertuju ke arah kami.


"Benarkah ? Jadi kamu masih suka berada di Klub Memasak bersama ku ?", tanya Kak Liliana untuk memastikan jawaban dari ku.


"Iya benar, tentu saja aku masih suka.." jawab ku.


"Syukurlah..", saut Kak Liliana dengan senyuman.


Setelah Kak Liliana sudah baikan dari kecemasannya, aku pun kembali ingin menanyakan mengenai pemberitaan dari koran sekolah tersebut yang tak sempat aku tanyakan tadi. Tetapi, lagi - lagi terdengar suara dari arah pintu kelas yang memanggil nama ku.


"Ugh.. apakah ini yang di namakan de javu ?! Perasaan ku tidak enak..", gumam ku dalam hati seperti merasakan suatu hal yang buruk akan terjadi.


"Luki ! Apakah Luki ada di sini ?!!", teriaknya yang merupakan suara seorang wanita.


Aku pun kembali menoleh ke arah pintu. Namun bukan hanya aku saja yang menoleh, tetapi semua yang ada di ruangan ikut menoleh. Siapa sangka seseorang yang berteriak memanggil nama ku itu adalah Kak Na. Seketika itu Kak Na pun melihat sekitar dan menemukan ku. Segera Kak Na langsung menuju ke tempat ku dengan raut wajah yang terlihat senang, berbeda saat dengan Kak Liliana tadi yang memasang raut wajah cemas.


Sesampainya di hadapan ku, tiba - tiba dia menggenggam salah satu tangan ku. Seisi kelas pun terkejut termasuk aku, Putri dan juga Kak Liliana. Teman - teman sekelas ku pun mulai berbisik satu sama lain. Terutama untuk siswanya, mereka terlihat kesal atau lebih tepatnya iri. Saat di tatapi dengan tajam oleh mata mereka, aku merasa ingin senang ketika sedang di kerumuni oleh ketiga wanita yang cantik ini tetapi tidak bisa.

__ADS_1


"Nanti kita ada latihan sepulang sekolah..", ujar Kak Na.


"Eh ? Apa maksudnya ?", tanya ku kebingungan.


"Kamu kan sekarang bagian dari Klub Sepak Bola..", ujar Kak Na.


"Si Luki itu anggota Klub Memasak !", saut Kak Liliana.


"Eh ? Bukankah kamu Liliana ya ? Tapi dia sudah jelas jadi bagian dari anggota Klub Sepak Bola kok..", balas Kak Na pada Kak Liliana.


"Luki sendiri sudah mengatakan pada ku kalau dia tidak bergabung dengan Klub Sepak Bola..", ujar Kak Liliana.


"Di koran sekolah sudah tertera kalau si Luki itu bagian dari anggota Klub Sepak Bola !", saut Kak Na.


Klub Memasak !~


Klub Sepak Bola !~


Klub Memasak !~


Klub Sepak Bola !~


Sejenak Kak Na dan Kak Liliana berdebat mengenai aku yang berada di klub mana. Terlihat seisi kelas benar - benar melihat ke arah kami.


"Apa itu pertengkaran sepasang kekasih ?", bisik - bisik.


"Enaknya jadi rebutan para kakak kelas..", bisik - bisik.


"Rasanya aku lebih ganteng dari pada dia, tapi kenapa dia yang jadi rebutan ?", bisik - bisik.


Seketika itu Putri pun berdiri dan pergi ke sisi ku. Lalu tiba - tiba Putri mencubit bagian perut ku.


"Enak ya di rebutin..", bisik Putri yang masih mencubit bagian perut ku.


"Sakitnya !", gumam ku dalam hati.


"Untuk kakak sekalian.. kenapa tidak memastikannya sekali lagi dari perkataan Luki secara langsung untuk menyelesaikan perdebatan ini ?", ujar Putri sembari melepaskan cubitannya.

__ADS_1


"Itu benar, jadi bagaimana Luki ?!", saut Kak Na dan Kak Liliana secara bersamaan.


"Ugh.. kenapa jadi begini ? Memangnya apa sebenarnya isi dari pemberitaan koran sekolah itu ?!!", gumam ku dalam hati yang benar - benar kebingungan di buatnya.


__ADS_2