
Bip, Bip~
Bip, Bip~
Bip, Bip~
Terdengar suara alarm yang membangunkan ku. Aku pun terbangun dari tidur lelap ku. Sejenak aku merenggangkan tubuh untuk memulai aktivitas hari ini. Hari ini adalah hari Minggu, di mana beberapa hari yang lalu si Dion meminta ku untuk menonton pertandingan sepak bolanya.
Waktu sekarang menunjukkan pukul 08.15 pagi, sedangkan pertandingan akan di mulai pada pukul 09.40 pagi. Aku pun segera bersiap - siap untuk pergi. Saat keluar dari rumah, udara yang menyejukkan datang menghampiri. Aku merasa hari ini adalah hari yang bagus.
Aku pun mulai menuju ke lapangan yang sudah di beritahukan sebelumnya. Lapangan tersebut hanya memakan waktu kurang lebih 20 menit saja jika di tempuh menggunakan kendaraan. Berhubung aku belum memiliki SIM maupun kendaraan pribadi, aku akan menggunakan Ojek Online.
Sesampainya di tempat parkir, tepatnya di sisi lain lapangan, terlihat cukup banyak remaja yang datang. Tak ku sangka lapangan yang akan di gunakan memiliki bangunan untuk kursi para penonton. Aku mengira hanya lapangan biasa dan tak memiliki kursi penonton. Aku pun segera menuju ke pintu masuk untuk membeli tiket.
Saat dalam perjalanan, terlihat ada seseorang yang melambai dari jauh. Aku pun menoleh ke sekitar untuk memastikan ke siapa orang itu sedang melambai. Saat aku akan kembali melihat orang yang sedang melambai itu, tiba - tiba orang itu sudah tidak ada di sana. Aku pun melanjutkan perjalanan, tapi tiba - tiba ada yang menepuk punggung ku dan dari sebelah kiri muncul wajah seseorang yang sangat ku kenali.
Dor~
"Kaget ?", ujar Hana dengan tawa kecilnya.
"Enggak tuh..", balas ku dengan sedikit candaan.
"Jahat..", saut Hana seketika memasang wajah cemberut.
"Iya.. iya, kaget kok..", ujar ku untuk menghiburnya.
"Ngomong - ngomong kenapa Hana ada di sini ?", tanya ku penasaran.
"Bukannya Luki ke sini karena udah tau ?", sautnya.
"Aku ke sini karena di ajak sahabat ku yang bakal bermain, cuma karena itu aja..", balas ku.
__ADS_1
"Begitu ya.. baiklah akan aku jelasin, jadi pertandingan ini di maksudkan untuk pembukaan pada pertandingan seluruh SMA di tingkat nasional mendatang sebagai bentuk solidaritas ke sesama sekolah di daerah ini, tidak hanya sekolahan kita, tapi semua sekolah yang ada di daerah ini juga melakukan hal yang sama.. nah sekolah yang akan kita hadapi ini udah pernah sampai ke tingkat nasional dan menempati 3 besar di negeri ini.. mereka mengundang kita untuk melakukan pertandingan persahabatan karena sekolah kita yang paling dekat dan kepala sekolahnya saling mengenal.. sewa gedungnya sendiri dilakukan oleh pihak lawan, tapi karena sekolah yang memakai, jadi sewanya tak begitu mahal.. nanti saat kamu masuk ke dalam, bakal ada media massa yang akan meliput.. sekarang di luar saja udah banyak murid - murid sekolah kita dan lawan yang datang untuk mendukung.. aku dan beberapa guru ada di sini untuk mengawasi.. begitulah..", jelas Hana dengan panjang lebar.
"Mau minum ?", ujar ku sambil menyuguhkan sebotol minuman.
"Ehem, makasih..", saut Hana tersipu malu.
"Di pintu masuk yang lain itu tempat sekolahan kita berkumpul, kalau mau bareng ayuk ke sana sama - sama..", sautnya lagi.
"Aku memisahkan diri aja, ..", ujar ku.
"Kalau gitu aku juga..", balas Hana.
"Hooiii.. Bu Hana ! Murid - murid udah pada bersiap untuk masuk ! Ayo kita masuk !", teriak salah satu guru dari jauh memanggil Hana.
"Sepertinya kamu udah di panggil..", ujar ku.
"Tapi aku ingin kita nonton berdua..", ungkap Hana dengan wajah murung.
"Baiklah kalau gitu lain kali kita pergi berdua bersama, jadi sekarang berhentilah murung dan tersenyumlah..", ujar ku sembari mencubit kedua pipinya.
"Iya, janji..", balas ku sembari mengusap kepalanya.
Hana pun kembali tersenyum dan beranjak pergi menuju ke sisi lain pintu masuk bersama murid - murid dan guru untuk masuk bersama. Kemudian aku melanjutkan perjalanan, terlihat di kejauhan ada Dion yang sedang kebingungan. Aku yang penasaran pun datang menghampirinya.
"Yo, Dion..", sapa ku.
"Wohh Luki, tak ku sangka kau benar - benar datang..", saut Dion.
"Dari jauh aku ngeliat kau seperti sedang kebingungan, kenapa ?" , tanya ku penasaran.
"Salah satu pemain kami ada yang belum datang, udah ku coba hubungi berkali - kali tapi tak tersambung.. padahal pertadingan akan segera di mulai sebentar lagi..", jelas Dion.
__ADS_1
"Memangnya tak ada pemain pengganti ?", ujar ku.
"Enggak ada, dia satu - satunya pemain yang enggak bisa di gantikan pada posisinya.. kalau dia enggak datang, pemain lain enggak ada yang bisa buat menggantikannya..", ungkap Dion.
"Begitu ya.. padahal aku udah capek - capek datang ke sini, kalau pertadingan di batalkan maka akan jadi sia - sia..", ujar ku.
"Itu benar.. hmmm, tunggu sebentar..", ujar Dion sambil melirik ku.
"Kenapa kau tiba - tiba melirik ku seperti itu ?", ujar ku merasakan suatu keanehan.
Tiba - tiba Dion meraih tangan ku dan menariknya sekuat tenaga dengan cepat. Aku hanya bisa mengikutinya. Dion membawa ku ke sebuah pintu masuk yang berbeda dengan pintu masuk lainnya. Kami berdua pun berjalan di sebuah lorong dan sampai di depan sebuah pintu. Dion pun segera membuka pintu tersebut.
"Aku kembali !!", teriaknya.
Dion pun membawa ku masuk ke dalam. Ternyata ruangan itu adalah tempat para pemain berkumpul. Saat aku melihat sekeliling, aku menemukan seseorang yang ku kenal berada di antaranya.
"Lu.. Luki ?!!", saut orang itu yang ku kenal bernama Kak Na.
"Kak Na ? Kok dia ada di sini ?!", gumam ku dalam hati terkejut melihatnya.
"Eh ? Kalian berdua udah saling kenal ? Syukurlah aku tak perlu lagi untuk memperkenalkan kau dengan manager klub sepak bola kami..", ujar Dion.
"Kak Na manager klub sepak bola ?!", kejut ku.
"Kau memanggilnya Kak Na ? Wow.. sejak kapan kalian udah seakrab itu ? Dia Nana Cintya yang pernah di sebut sama Kak Liliana waktu itu dan yang mencari ku saat aku sedang kabur untuk beristirahat..", ujar Dion.
"Oh ya Kak Nana, si Luki ini sahabat ku..", sambung Dion.
"Kak Na itu Nana Cintya, pantas aja aku seperti mengenal nama Cintya saat Mira memperkenalkan dirinya.. jadi Nana Cintya dan Mira Cintya adalah adik kakak.. waktu itu aku memang belum mengenali wajah Nana Cintya karena melihatnya hanya dari kejauhan.. aku benar - benar enggak menyangka..", gumam ku dalam hati yang sedang memahami situasi ini.
"Jadi, kenapa si Luki kamu bawa ke sini Dion ?", tanya Kak Na.
__ADS_1
"Tentu saja, untuk menggantikan salah satu pemain kita yang tidak datang..", ujar Dion.
"Eh, ini bercandakan ?", saut ku dengan sangat terkejut.