
Saat dalam perjalanan menuju ke Taman Kecil, jantungku berdegup lebih kencang. Rasa penasaran dan campur aduk meronta - ronta. Tak terbayang bahwa kami akan bertemu kembali, apalagi dia yang memulai untuk bertemu. Aku pikir hubungan kami benar - benar sudah berakhir.
Sesampainya di Taman Kecil, terlihat dia sedang duduk di kursi. Terpaan angin yang sepoi - sepoi membuat rambutnya melambai - lambai seakan memanggilku. Kemudian aku segera mendekat, dia pun sadar dengan kedatanganku. Dia melihatku sambil tersenyum, tetapi aku abaikan dan langsung duduk.
"Apakah kamu marah ?", tanya Putri tiba - tiba.
"Soal apa ?", jawabku dengan wajah datar.
"Tuhkan, sepertinya kamu marah..", balasnya.
"Aku engga marah, lagi pula untuk apa aku marah.. bukankah kita tidak memiliki hubungan apa - apa..", balasku.
"Apakah hanya ini yang ingin kamu bicarakan ? Jika tidak ada lagi, aku pergi..", lanjutku lagi.
"Tunggu ! Aku.. aku ingin minta maaf..!!!", teriaknya dengan keras.
Aku pun terkejut oleh perkataannya tersebut. Kemudian aku melihat wajahnya, tak ku sangka dia sedang menitikkan air mata.
"Kenapa kamu menangis ?", tanyaku sambil mengusap air matanya.
"Hiks.. hiks.. Kamu pasti marahkan saat kita SMP dulu soal aku mengatakan hal yang jahat sama kamu.. hiks.. hiks..", jelasnya.
"Saat itu kamu mengatakan bahwa kamu menyukai ku, tapi aku malah mengatakan hal yang jahat.. hiks.. hiks.. Aku juga sebenarnya engga mau mengatakan hal seperti itu kepada mu ! Huwahh..", jelasnya lagi sambil menangis.
"Maksud kamu apa ? Kenapa tiba - tiba kamu jadi menangis sekencang ini.. orang lain bisa melihatnya..", balasku sambil menenangkannya.
"Biarin.. huwahh..", lanjutnya.
"Ehhhh..", balasku.
"Bisa jelaskan lebih detail maksud kamu soal ngga mau mengatakan hal seperti itu apa ?", lanjutku.
"Saat itu sepulang sekolah, aku melihat mu dan ingin menghampiri mu.. Tapi aku melihat sekelompok siswa mulai mengerumuni mu dan kalian pergi bersama.. Perasaan ku enggak enak, jadi aku memutuskan untuk mengikuti kalian diam - diam.. Saat udah sampai di tempat, siswa - siswa itu memperdebatkan soal kamu jangan dekat - dekat lagi denganku.. Lalu kalian mulai saling pukul, kamu di hajar habis - habisan oleh mereka.. ku dengar lagi jika kamu masih dekat - dekat denganku, mereka akan menghajarmu lagi.. hiks.. hiks..", jelasnya.
Aku benar - benar terkejut dan tidak tahu bahwa dia ada saat kejadian itu.
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya dengan kamu tidak ingin mengatakan hal itu ?", tanyaku kebingungan.
"Apakah kamu bodoh ?!!", teriaknya dengan kesal.
"Ehhh..?", sautku masih kebingungan.
"Setelah kejadian itu, aku enggak mau ngelihat kamu terluka lagi.. Saat kamu mengatakan ingin menemui ku, aku takut kamu akan terluka lagi.. Lalu kamu mengatakan bahwa kamu menyukai ku ! Saat itu aku benar - benar sangat senang !!", jelasnya.
"Jadi maksud kamu itu..", sautku mulai memahami kejadian itu.
"Iya.. tapi aku malah mengatakan hal yang sebaliknya karena takut kalau kita dekat kamu akan terluka lagi.. saat itu benar - benar merupakan kekecewaan terbesar dalam hidupku.. aku benar - benar minta maaf.. hiks.. hiks..", jelasnya.
Sejenak aku terdiam, hal yang membuat ku trauma selama ini hilang seketika. Aku pun mengusap air matanya, ternyata dia memanglah orang yang sangat baik.
"Terima kasih udah mau melindungiku saat itu..", jawabku sambil tersenyum.
"Apakah kamu memaafkanku ?", tanyanya sembari menatapku.
"Iya, tentu saja.. jadi berhentilah menangis..", jawabku.
"Iya.. lalu saat kebakaran yang menimpa keluarga mu, aku benar - benar sedih, aku berkali - kali ingin datang menjenguk mu langsung di Rumah Sakit, tapi aku selalu terhenti di luar Rumah Sakit, karena aku takut menemui mu setelah mengatakan hal jahat itu..", ungkapnya.
Akhirnya terjawab sudah tentang kejadian masa SMP ku. Aku tidak menyangka dia menjauh untuk melindungiku. Seandainya dulu aku lebih kuat, mungkin kami tidak akan berpisah karena hal seperti itu. Kemudian keheningan pun terjadi, semilir angin yang berhembus dengan lembut mengibas rambutnya. Dia terlihat sangat manis setelah menangis.
Hari sudah mulai beranjak sore, aku pun bersiap - siap untuk segera pulang. Terlihat dia pun juga bersiap untuk pulang.
"Kalau gitu aku pergi dulu..", ujarnya beranjak pergi.
"Oh iya, salam buat pacar mu..!", sautku.
Tiba - tiba dia berhenti dan menoleh kepadaku. Dia pun mengatakan hal yang dulu membuatku penasaran saat SMP setelah kami di kelas 2.
"Pacar ? Sesaat setelah kejadian kamu menyatakan perasaan mu kepada ku, aku engga pernah memiliki pacar sama sekali sampai sekarang..", ungkapnya sambil tersenyum dan bergegas pergi.
Aku pun kembali terkejut, rumor tentang dia yang sudah memiliki seorang pacar saat SMP ternyata hanya sekedar rumor belaka.
__ADS_1
Aku pun bergegas pergi, karena pembicaraan tadi aku sepertinya akan membeli makanan bungkus. Terlalu banyak jawaban yang ku terima dan cukup lelah untuk memasak makanan nanti malam.
Selepas membeli makanan, aku melihat bu guru cantik itu sedang berdiam di bawah pohon seperti sedang menunggu seseorang. Saat aku mulai mendekat, dia melihat ku dengan wajah malu - malu. Aku pun menyapa dan melewatinya, tetapi dia tiba - tiba meraih tanganku.
"Bisakah kita berjalan bersama ?", ajaknya sembari menatapku dengan wajah memerah.
"Ah.. tentu..", jawabku sedikit terkejut.
Dia pun melepaskan tanganku dan kami pun berjalan bersama. Masih cukup waktu untuk sampai ke rumah kami masing - masing.
"Anu..", panggilnya.
"Iya ?", jawabku.
"Soal di jam istirahat yang kita bicarakan tadi.. mengenai laki - laki yang semalam datang itu, sebenarnya dia adalah sua..", ungkapnya belum selesai.
"Ah benar juga ya, ibu kan sudah di usia menikah.. jadi dia bukan kekasih melainkan sudah suami ibu..", sautku memotong pembicaraannya.
"Bukan..!!", teriaknya dengan wajah kesal.
"Biarkan orang selesai berbicara dulu, jangan seenaknya memotong pembicaraan.. itu bisa membuat kesalahpahaman seperti ini..!", tegasnya dengan kesal.
"Ba.. baiklah..", jawabku.
"Laki - laki yang semalam itu adalah suami kakak sepupu ku.. dia membawa serangkai bunga titipan dari kakak ku.. jelas ?!", ungkapnya dengan jelas.
"Ah.. iya jelas..", balasku.
Di saat itu hatiku merasa lega karena tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Oh iya.. 1 hal lagi.. bisakah saat kita sedang mengobrol berdua dan berada di luar sekolah tidak perlu menggunakan bahasa yang formal ? Kamu bisa memanggil namaku..", ujarnya sambil malu - malu.
"Eh, kenapa ?", tanyaku kebingungan.
"Bukankah kamu saat itu pernah menyatakan bahwa ingin menjadikan ku pacar mu ? ", jawabnya.
__ADS_1
"Gekkk.. lalu ?", tanyaku lagi sambil menelan air liur.
"Itu.. itu pertama kalinya aku di tembak seorang laki - laki.. aku terlalu malu dan pergi begitu saja.. jadi sekarang aku ingin mengatakan jawabanku.. karena ini adalah pertama kalinya, jadi aku ingin kita mengenal lebih dekat.. tidak hanya kamu yang menyukai ku, aku pun juga ingin menyukai mu.. sampai saat itu tiba, bisakah kamu menyatakannya lagi padaku ?", jawabnya sambil tersenyum dengan manis.