
Tak berapa lama waktu berselang, Hana pun kembali dari dapur. Terlihat dia membawa sebaskom air hangat dan juga kain yang cukup tebal. Dia pun bergegas duduk di sebelah ku dan meletakkan baskom dan kain tersebut ke meja.
"Buat apa ini ?", tanya ku penasaran.
Hana tak merespon pertanyaan ku. Kemudian dia membilas kain tersebut ke dalam baskom. Setelah itu dia mendekat dan menempelkan kain tersebut ke wajah ku.
"Adududu.. !!", saut ku merasakan sakit pada wajah ku.
"Nah kan.. kenapa bisa lebam - lebam begini wajah mu ?", ujarnya dengan khawatir.
"Lebam ? Ah, semalam aku sedikit terlibat perkelahian..", ungkap ku.
"Apa yang terjadi setelah aku pergi ?", tanya Hana.
"Semalam aku menolong seseorang dari para pengganggu..", ujar ku.
"Benarkah ? Tapi lain kali lebih berhati - hatilah.. aku takut kamu kenapa - kenapa.. sekarang lihat lah wajah mu lebam seperti ini, membuatku khawatir saja..", ujarnya sembari mengusap wajah ku dengan kain hangat tadi.
"Baiklah.. makasih, maaf membuat mu khawatir..", ujar ku sembari tersenyum.
Setelah menyelesaikannya, Hana pun membereskannya dan kembali ke dapur. Aku sendiri tak menyadari bila efek lebamnya akan terlihat sekarang.
"Aku akan memasakkan sesuatu..", teriak Hana dari dapur.
"Ehh ?! Terakhir kali aku memakan makanan buatannya aku jatuh pingsan..", gumamku dalam hati.
Terdengar dari arah dapur Hana sedang bersenandung. Aku ingin bersembunyi tetapi sepertinya tidak bisa. Tak berapa lama Hana datang dengan membawa makanan yang tadi di buatnya. Kemudian dia meletakkan makanan tersebut ke meja, aku pun mulai pasrah.
"Silahkan menikmati !", ujarnya dengan senyuman yang sangat polos.
Terlihat makanan yang berada tepat di hadapan ku penampilannya kurang lebih hampir sama saat dia memasakkan ku untuk pertama kalinya. Aku pun tertegun dan bersiap untuk menyantapnya.
Aku pun mengambil sesendok makanan tersebut dan mulai melahapnya. Kemudian aku terdiam sejenak setelah mengunyah makanan itu.
"Hmm ? Ini.. ini lebih enak dari pada saat pertama kali kamu membuatkannya untuk ku..", ujar ku pada Hana.
__ADS_1
"Syukurlah.. aku sempat khawatir saat pertama kali membuatkan makanan untuk mu, kamu tiba - tiba jatuh pingsan.. jadi selama ini aku belajar cara memasak untuk mu, aku ingin melihat kamu menikmati makanan ku..", ungkap Hana.
"Ini enak kok, aku akan menghabiskannya.. makasih buat makanannya, aku sangat senang..", ujar ku.
Terlihat Hana pun senang melihat ku menikmati makanan buatannya. Aku pun menghabiskan makanan tersebut, walaupun penampilan dari makanan itu belum menjanjikan, tetapi rasanya terbilang enak.
Setelah selesai membereskan piring dan gelas tersebut, Hana segera pamit untuk pulang. Aku pun mengantarnya ke depan dan tak lupa berterima kasih padanya. Selagi hari Minggu, aku pun berniat membersihkan seisi rumah. Namun sepertinya sudah di bersihkan oleh Putri.
"Saat berada di sekolah nanti, aku benar - benar harus berterima kasih pada Putri..", gumam ku dalam hati.
Hari ini aku benar - benar tak ada rencana kegiatan untuk di lakukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.07 sore. Di karenakan aku sangat bosan, aku pun memutuskan untuk pergi jogging.
"30 menit lagi sepertinya waktu yang pas untuk pergi..", gumamku sembari bersiap - siap.
Setelah bersiap - siap dan waktu sudah lebih dari 30 menit, aku pun keluar dari dalam rumah. Tak di sangka aku melihat Hana juga keluar dari dalam rumahnya.
"Luki ? Mau pergi jogging juga ?", tanya Hana sembari mendekati ku.
"Iya benar..", jawab ku sembari mendekatinya juga.
"Kenapa kita bisa samaan ya..", ujar Hana sembari tertawa kecil.
"Ehh ?!", saut Hana terkejut dan wajahnya seketika memerah.
Saat Hana sudah berada tepat di hadapan ku, pandangan ku teralihkan dan terpesona melihat lekuk tubuhnya yang indah itu. Tanpa ku sadari pikiran ku mulai termakan oleh hawa nafsu, aku pun segera menampar wajah ku berkali - kali.
"Ehh Luki ?! Kenapa kamu menampar wajah mu sendiri ?", ujar Hana kebingungan.
"Enggak apa - apa, jangan di pikirkan.. ini hanyalah penebusan dosa buat ku.. haha..", balas ku sembari menahan sakit pada wajah ku yang masih lebam tersebut.
"Dosa ? Ya sudahlah.. ayo kita pemanasan terlebih dahulu..", ajak Hana.
"Tentu !", saut ku.
Kami pun memulai pemanasan dengan gerakan - gerakan ringan. Setelah selesai, kami pun beranjak pergi. Saat dalam perjalanan, terlihat di arah depan ada seorang anak kecil sedang menangis. Hana yang melihatnya bergegas mendekati anak tersebut. Aku pun segera ikut menyusulnya. Hana pun bertanya kepada anak kecil tersebut. Anak kecil tersebut kemudian menunjuk ke arah atas di mana terdapat sebuah balon yang tersangkut di ranting pohon. Di sekitar anak kecil tersebut tak terlihat orang tuanya.
__ADS_1
Hana pun mencoba menenangkan anak kecil tersebut. Kemudian Hana berdiri tepat di bawah balon tersebut. Setelah itu dia mengambil ancang - ancang dan mulai melompat. Tapi sangat di sayangkan, lompatannya sama sekali tak dapat menggapai balon tersebut.
"Puftt.. hahaha..", tawa ku tak sanggup melihatnya berkali - kali mencoba menggapai balon tersebut.
"Iiihhh.. jahat..", ujarnya sambil cemberut.
"Baiklah.. aku akan mengambilkannya, tapi pohon ini tidak bisa di panjat karena terdapat sarang semutnya..", ujar ku sembari melihat seisi pohon tersebut.
Aku pun mengambil jarak dan bersiap untuk melompat. Setelah jaraknya di rasa cukup, aku pun mulai melompat. Saat sudah mencapai ketinggian maksimal, aku pun tak dapat menggapainya. Terlihat Hana sedang menahan tawa melihat ku.
"Kalau gitu sepertinya kita akan memakai cara terakhir..", ujar Hana.
"Cara terakhir ?", tanya ku kebingungan.
"Yup.. seperti ini..", ujar Hana sembari membelakangi ku, kedua tangannya memegang pundak ku, menekan ku ke bawah untuk berposisi jongkok dan mulai duduk dengan menaiki pundak ku.
"Eh ? Ehhhh !!", ujar ku hanya bisa terkejut.
"Okey, Luki.. waktunya berdiri !", ujar Hana tidak sabaran.
"Baiklah..", saut ku mulai berdiri dan memegang pahanya.
"Kyah !", teriak Hana sembari menjambak rambut kepala ku dan menjepit kepala ku dengan kedua pahanya.
"Adudududu.. kenapa tiba - tiba menjambak rambut kepala ku ?", ujar ku menahan sakit.
"Tapi kalo di jepit oleh pahanya tidak masalah..", gumam ku dalam hati.
"Jangan sentuh paha ku, itu geli..", ungkapnya.
"Ah maaf..", ujar ku sembari melepas tangan ku dari pahanya dan menggantinya dengan memegang pergelangan kakinya.
Aku pun kembali melanjutkan dan berdiri tepat di bawah balon tersebut. Hana mencoba kembali untuk meraihnya. Akhirnya balon tersebut pun dapat di raih dan aku pun menurunkan Hana. Kemudian Hana memberikan balon tersebut kepada anak kecil itu. Anak kecil itu pun terlihat senang.
Hana kembali menanyakan di mana orang tuanya, lalu anak itu hanya menggelengkan kepalanya. Aku pun menanyakan dari mana anak itu berjalan dan dia memberitahu dari ujung jalan depan sana. Kami memutuskan untuk mengantarkannya. Saat dalam perjalanan terlihat dari kejauhan ada seorang wanita seperti sedang mencari sesuatu. Lalu anak tersebut menunjuk ke arah wanita itu, kami pun segera mengantarkannya ke sana. Akhirnya anak tersebut kembali bertemu dengan orang tuanya dan orang tuanya berterima kasih kepada kami. Setelah itu kami pun kembali menuju ke rumah dan hanya jogging dalam waktu yang sebentar di perjalanan pulang.
__ADS_1
"Tadi itu menyenangkan..", ujar Hana dengan tawa kecil.
"Syukurlah..", saut ku.