
Hari Senin pun tiba, aku mengikuti upacara bendera di sekolah seperti biasa. Tapi hari ini ada hal yang berbeda, Putri tak masuk ke sekolah hari ini di karenakan sakit. Aku pun berencana akan menjenguknya selepas pulang sekolah nanti. Tak lama kemudian upacara berakhir dan kami kembali ke kelas masing - masing.
Pelajaran pertama pun di mulai seperti biasa. Setelah guru menjelaskan panjang lebar, bunyi tanda berakhirnya jam pelajaran pun terdengar. Waktu memasuki jam istirahat pertama, aku pergi ke Klub Memasak untuk memberikan formulir anggota. Saat sampai, aku tak melihat Kak Liliana berada di dalam ruangan. Aku pun pergi ke kantin untuk membeli makanan. Setelah selesai, aku kembali menuju ke ruang kelas.
Saat hampir sampai, terlihat di pintu ruang kelas ku terdapat banyak murid berkumpul terutama para siswa. Aku pun menerobos masuk dari kumpulan - kumpulan murid tersebut. Setelah menerobos, aku terkejut melihat Kak Liliana sedang duduk di kursi ku. Aku pun segera menghampirinya.
"Kak Liliana ? Kenapa kamu ada di sini ?", tanya ku kebingungan.
"Aku sedang menunggu mu..", jawab Kak Liliana sembari berdiri.
"Oh oke, lalu ?", saut ku.
"Aku sudah nggak sanggup menahan perasaan ini..", ujar Kak Liliana sembari menggenggam kedua tangan ku dan menatap ku dengan dalam.
"Eh ?", saut ku sembari tertegun.
"Apa itu pernyataan cinta ?", bisik murid lain.
"Bukannya siswa itu orang yang menyatakan perasaannya pada seorang guru waktu itu ?", bisik murid lain.
Bisik~
Bisik~
Bisik~
"Ga.. gawat.. kenapa aku jadi pusat perhatian begini, jantung ku berdegup - degup.. lagi pula kenapa tiba - tiba dia mengatakan sudah tak bisa menahan perasaan, perasaan apa ?! Perkataannya terlalu ambigu !!", gumam ku dalam hati bersiap mendengarkan apa yang ingin Kak Liliana katakan.
"Ja..", sepatah kata dari Kak Liliana.
"Jadian lah dengan ku ?", gumam ku dalam hati.
"Jadian lah dengan ku ?", gumam ku dalam hati.
"Jadian lah dengan ku ?", gumam ku dalam hati, hanya kalimat itu yang sekarang ada di benak ku.
"Ja ?", sambung ku sudah tak sabar.
__ADS_1
"Ja.. jadi kapan kamu akan memberikan formulir anggotanya kepada ku ?", ujar Kak Liliana.
"Ahhh.. !!", sontak semua murid berkata.
"Ternyata bukan pernyataan cinta..", ujar murid lain.
"Ayo balik - balik..", ujar murid lain.
Semua murid yang berkumpul pun pergi. Aku dan Kak Liliana melanjutkan pembicaraan.
"Soal itu, aku tadi pergi ke ruang klub.. tapi Kak Liliana tidak ada..", ujar ku.
"Benarkah ? Aku tadi langsung pergi kemari.. dari kemarin aku selalu kepikiran apakah kamu tidak akan jadi bergabung ke klub.. itu membuat ku khawatir, jadi aku memutuskan untuk menemui mu.. soalnya hanya kamu yang membuat ku bisa mengobrol dengan nyaman..", ujar Kak Liliana dengan wajah yang sedikit memerah.
"Kalau begitu ini formulirnya..", ujar ku.
"Apakah kamu akan datang nanti ?", tanya Kak Liliana.
"Tentu..", jawab ku.
Bunyi tanda berakhirnya jam istirahat pun terdengar. Kak Liliana segera pamit untuk pergi. Terlihat wajahnya sangat senang. Kemudian jam pelajaran pun kembali berlangsung.
Setelah waktu yang telah di lewati, jam sekolah pun berakhir. Aku bergegas menuju ke ruang klub. Sesampainya di sana, terlihat Kak Liliana sedang menunggu ku. Saat dia melihat ku datang, entah kenapa dia sangat senang. Kak Liliana pun mulai menjelaskan apa yang harus di lakukan dengan terperinci.
Setelah menjelaskan semua kegiatan, kami pun mulai untuk membuat sebuah masakan bersama - sama. Aku membantunya mengambilkan bahan - bahan yang di perlukan olehnya. Tak lama kemudian makanan tersebut pun selesai.
"Sepertinya terlihat sangat enak..", ujar ku.
"Kalau begitu cobalah..", ujar Kak Liliana sembari mengambil sesendok makanan tersebut dan menyuguhkannya pada ku.
"Eh ?", saut ku terkejut.
"Ah benar juga ini masih panas..", ujar Kak Liliana sembari meniup sesendok makanan tersebut dan menyuguhkannya kembali pada ku.
Aku pun tertegun dan terlihat wajahnya sangat menantikan ku untuk melahapnya. Akhirnya aku melahapnya dengan sangat bahagia.
"Ini sangat enak..", ungkap ku.
__ADS_1
"Benarkah ? Kalau begitu giliran ku..", ujar Kak Liliana sembari mengambil sesendok makanan tersebut dan melahapnya.
"Ehh ?! Apa dia tidak sadar sendok itu tadi adalah bekas ku ? Dia sengaja atau sedang mempermainkan ku ? Tapi jika di lihat dari tingkahnya sepertinya dia tidak terlalu memikirkannya..", gumam ku dalam hati.
"Benar, ini enak.. ayo Luki lagi..", ujar Kak Liliana sembari menyuguhkannya lagi pada ku.
"Ehh yakin ?!", ujar ku.
"Memangnya ada masalah ?", ujarnya.
"Baiklah..", balas ku sembari melahapnya dengan bahagia.
Kami pun melakukannya seperti itu terus menerus hingga tersisa 1 sendok suapan. Sisa 1 sendok suapan tersebut pun di berikan pada ku. Saat aku akan mulai melahapnya, tiba - tiba Kak Liliana menjatuhkannya.
"Wah jatuh.. sayang sekali..", ujar ku.
Aku pun segera membereskannya, tetapi Kak Liliana tak merespon. Saat aku melihat ke arahnya, Kak Liliana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Bu.. bukankah tadi kita memakan dengan sendok yang sama ?", gumam Kak Liliana dengan wajah memerah.
"Itu benar..", balas ku.
"Akhirnya dia tersadar dari perbuatannya itu.. aku benar - benar tak habis pikir..", gumam ku dalam hati.
"Apa kamu senang ?", ujar Kak Liliana sembari menurunkan telapak tangan pada wajahnya dengan memperlihatkan bagian matanya yang menatap ku.
"Jika di tanya seperti itu, tentu saja jawabannya, aku bahagia..", tegas ku dengan jujur.
"Kamu terlalu jujur ! Aku jadi malu..", ujar Kak Liliana sembari berbalik dan beranjak pergi ke ruang ganti.
Kemudian aku hanya dapat menggaruk kepala dengan tingkahnya dan melanjutkan membersihkan perlengkapan memasak. Setelah aku selesai membereskan perlengkapan dapur, Kak Liliana pun keluar dari ruang ganti.
"Sekarang kamu sudah bisa pulang..", ujar Kak Liliana sembari bersiap untuk pulang.
"Baiklah.. kalau begitu aku pergi duluan..", ujar ku sembari beranjak pergi.
Waktu sudah menunjukkan sore hari, aku segera bergegas pergi untuk menjenguk Putri. Tak lupa di dalam perjalanan aku membeli beberapa cemilan untuknya. Walaupun aku sudah mengetahui di mana alamat rumahnya, aku masih harus menggunakan map pada hp ku agar tidak tersesat.
__ADS_1
Terlihat saat dalam perjalanan ada sebuah aliran sungai. Saat aku menanyakan alamat tersebut pada warga sekitar, rumahnya tak jauh dari aliran sungai ini. Aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Tak terasa waktu yang di perlukan untuk sampai ke alamat Putri ialah sekitar 45 menitan. Aku sejenak berpikir bahwa dia benar - benar wanita yang tangguh. Sesampainya di depan salah satu rumah yang sesuai dengan alamatnya, aku pun membunyikan bell rumahnya. Tak berapa lama kemudian, seseorang membuka pintu rumahnya.