Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!

Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!
Bab 13. Malam Yang Panjang


__ADS_3

Sesampainya di dalam rumah, aku tak menyangka benar - benar membawa Putri. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 malam. Tas milik Putri ku letakkan di meja ruang tamu dan kemudian aku pun menuntun Putri ke depan pintu kamar mandi serta menyuruhnya untuk mandi terlebih dahulu dengan air hangat. Putri pun masuk ke dalam kamar mandi. Aku yang masih basah kuyup pergi menuju ke kamar ku. Segera aku mengambil handuk tersebut, sialnya aku hanya memiliki satu buah handuk di karenakan aku tak berpikir akan ada yang menginap ke rumah ku.


Aku pun mengalah dan akan memberikannya kepada Putri beserta beberapa pakaian ku untuk di gunakannya. Sementara itu, aku terlebih dahulu melepas pakaian ku yang basah tersebut ke keranjang dan tak memutuskan untuk mandi berhubung aku hanya memiliki handuk satu - satunya yang nanti akan dia gunakan. Saat aku memeriksa lemari pakaian ku, terlihat semua pakaian ku cukup besar untuk dia gunakan. Aku pun mencarikan pakaian yang sekiranya cukup hangat. Setelah mengganti pakaian ku dan mendapatkan beberapa pakaian untuknya, aku pun segera membawakannya.


Sesampainya di depan pintu kamar mandi, aku pun meletakkan handuk dan pakaian gantinya.


"Putri.. handuk dan pakaian ganti aku letakkan di gantungan dekat pintu.. lalu pakaian mu yang basah bisa kamu keringkan di mesin cuci di sini..", ujarku.


"Baiklah..", balas Putri dari balik pintu kamar mandi.


"Ngomong - ngomong, ini adalah handuk ku satu - satunya yang biasa aku pakai sehari - hari.. apakah enggak apa - apa ?", tanyaku untuk memastikan dia mau atau tidak memakainya.


"Benarkah ? Kalau begitu enggak masalah..", jawabnya tanpa ada kendala.


Aku menanyakannya terlebih dahulu seperti itu karena setahu ku banyak wanita yang enggan menggunakan barang milik laki - laki, apalagi itu berupa handuk. Tentu pengecualian bagi pasangan yang sudah menikah. Sedangkan kami berdua belum ada hubungan apa - apa. Tapi berhubung dia tidak masalah, aku turut lega.


Aku pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman panas untuknya. Saat akan membuatkan minuman panas untuknya, aku teringat saat SMP dulu dia pernah berkata kalau tidak suka dengan minuman yang panas - panas. Tetapi berhubung dia sedang mandi, jika minumannya ku buatkan bersuhu hangat maka saat dia selesai mandi minumannya akan dingin. Akhirnya ku putuskan membuat minumannya bersuhu panas.


Aku pun mencari bahan minuman yang pas untuk cuaca seperti ini. Saat ku cari aku menemukan susu coklat bubuk yang pernah sempat aku beli. Setelah selesai membuatkan coklat panas untuknya, aku pun membawanya ke ruang tamu. Sambil menunggu dia selesai, aku menyalakan televisi. Saat sedang asik - asiknya menonton, tiba - tiba mataku di tutup oleh kedua telapak tangan dari belakang.


"Aku udah selesai..", ujar Putri.


"Benarkah ? Lalu kenapa mataku di tutup ?", tanyaku kebingungan.


"Janji dulu !", tegasnya.

__ADS_1


"Janji soal apa ?", tanyaku lagi.


"Jangan ketawa..", jelasnya.


"Memangnya apa yang harus di tertawakan ?", tanyaku masih kebingungan.


"Pokoknya jangan ketawa !", tegasnya.


"Iya.. iya aku enggak ketawa..", jawabku.


Setelah itu Putri pun perlahan melepaskan kedua telapak tangannya dari mataku. Saat dia sudah melepaskan kedua telapak tangannya, aku pun berbalik untuk melihatnya.


"Puffttt ! Hahaha..", tawaku tak sanggup melihat apa yang ada di hadapanku.


"Kan.. kenapa malah ketawa ?!!", ujar Putri dengan kesal.


Putri pun kesal dan memasang wajah cemberut. Kemudian aku segera meminta maaf dan menyuruhnya untuk duduk di sofa. Walaupun masih terlihat kesal, dia tetap mau menurut. Aku pun menyuguhkan minuman coklat yang tadi ku buat. Dengan wajah yang masih cemberut, dia meminum minuman itu. Seketika wajahnya mulai kembali ceria. Aku pun senang melihatnya menikmati minuman tersebut.


Setelah melihatnya sudah kembali ceria, aku pun berniat mengajaknya untuk mengobrol. Namun sayang, saat aku akan mulai mengajaknya mengobrol tiba - tiba terdengar suara gemuruh dari perut Putri. Terlihat wajahnya mulai memerah menahan malu. Seketika Putri kembali kesal dan memalingkan wajahnya dari ku. Aku yang melihat tingkahnya hanya bisa menggaruk kepalaku.


"Yosh.. kalau begitu aku akan memasakkan sesuatu buat kita makan malam ini..", ujarku sembari pergi menuju ke dapur.


Saat akan pergi menuju ke dapur, aku sempat menoleh ke arah Putri dan terlihat wajahnya kembali memerah. Melihatnya seperti itu membuat ku senyum - senyum sendiri. Sejenak aku berpikir kalau dia bisa bersikap manis seperti itu.


Sesampainya di dapur, aku pun memeriksa bahan - bahan makanan yang tersedia. Melihat waktu yang sudah hampir tengah malam, aku memutuskan untuk membuat makanan yang ringan - ringan saja. Jika terlalu banyak karbohidrat, maka tidak baik untuk kesehatan saat di makan pada waktu sebelum tidur.

__ADS_1


Kemudian aku pun mulai memasak. Terdengar dari bunyi gemuruh perut Putri, aku yakin kalau dia belum makan sama sekali dari waktu kami akan bertemu. Hari ini dia benar - benar mengalami hari yang berat. Terlebih lagi dia malah menginap di rumah seorang laki - laki.


"Ah benar.. apakah dia sudah memberitahukan bahwa dia akan menginap malam ini pada orang tuanya ya.. kalau begitu nanti akan ku tanyakan..", gumamku dalam hati.


Aku pun kembali melanjutkan memasak. Tak berapa lama kemudian aku pun hampir menyelesaikan masakan ku. Tiba - tiba aku menyadari dari balik dinding muncul Putri sedang mengintip.


"Apa ada yang bisa aku bantu ?", ungkapnya.


"Sebentar lagi selesai kok..", ujarku sambil menuangkan makanan tersebut ke piring.


"Begitu ya..", jawabnya sembari terlihat kecewa.


"Sepertinya dia sangat ingin membantu ku..", gumamku dalam hati.


"Kalau begitu, bisakah kamu membawakan kedua piring makanan ini ke meja depan ?", ujarku dengan tersenyum.


"Tentu..", jawabnya dengan senang.


Putri pun kemudian membawa makanan itu ke meja dan aku membawa minumannya. Saat membawa makanan tersebut, dia sudah tidak terlihat kesal lagi. Aku yang melihatnya pun senang. Sesampainya di ruang tamu, kami meletakkan makanan dan minuman tersebut di meja. Kami pun segera duduk dan mulai berdo'a. Setelah berdo'a, kami pun menyantap makanan tersebut.


"Emmmm.. ini sangat enak..", ujar Putri memakannya dengan lahap.


"Syukurlah kalau kamu menikmatinya..", sautku dengan senang melihatnya yang sedang makan dengan lahapnya.


"Jangan terlalu melihatku !", ujarnya sambil memalingkan tubuhnya ke sisi lain.

__ADS_1


Aku pun sedikit tertawa melihatnya. Kami pun memakan makanan tersebut sambil menonton televisi. Terlihat dia masih saja memalingkan tubuhnya agar aku tak dapat melihatnya saat sedang makan. Setelah dia menghabiskan makanannya, dia kembali memalingkan tubuhnya seperti semula. Aku pun juga telah menghabiskan makananku. Kami berdua benar - benar menikmati makanan tersebut sampai tak bersisa.


__ADS_2