
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 malam, setelah selesai bersiap - siap aku pun keluar dari dalam rumah. Saat sudah berada di depan rumah, aku melihat kediaman milik Hana. Terlihat Hana belum keluar dari dalam rumahnya. Setelah menunggu 5 menitan, aku pun pergi menuju ke kediamannya bermaksud untuk menjemputnya.
Saat aku sudah berada di depan rumahnya dan ingin membunyikan bel rumahnya, tiba - tiba pintu rumahnya terbuka. Kemudian muncul seseorang keluar dari dalam rumahnya. Terlihat sosok yang sangat cantik seperti bidadari yang turun dari khayangan.
"Eh Luki ?!", sautnya sembari terkejut melihat ku yang berada tepat di depan pintu rumahnya.
"Ah maaf, aku bermaksud menjemputmu..", balasku sembari terpesona.
"Apa aku membuatmu menunggu lama ?", tanyanya.
"Ah tentu saja enggak.. waktunya tepat sesuai yang di janjikan, jadi jangan khawatir..", jawab ku sambil melihat jam di hp.
"Kenapa kamu melihat ku terus ? Ini membuatku sedikit malu..", ujarnya.
"Ah maaf, aku hanya terpesona..", jawabku sembari memalingkan wajahku.
"Apakah penampilanku aneh ?", tanyanya.
"Enggak kok, itu sangat cocok sekali.. kamu terlihat sangat cantik..", jawabku sambil tersenyum.
"Ehehe..", tawanya dengan begitu polos.
"Waktunya berangkat ?", ajakku.
"Tentu..", jawabnya dengan senang.
Kami pun berangkat, berhubung Pasar Malam yang di maksud tempatnya tak begitu jauh jadi kami berjalan kaki. Saat di dalam perjalanan, kami tak begitu banyak mengobrol. Berjalan bersamanya membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.
Sesampainya di depan pintu masuk, terlihat antrian yang cukup panjang untuk membeli tiket masuknya. Kami pun mengambil antrian tersebut dan ternyata hanya memakan waktu yang tak begitu lama di karenakan pelayanannya yang begitu cepat dan efektif. Saat akan membeli tiket masuknya, terlihat Hana sedang membuka isi tasnya.
"Tunggu.. biarkan aku aja yang bayar..", ujar ku.
"Tapi aku yang mengajak mu ke sini..", balasnya.
__ADS_1
"Enggak apa - apa, di saat seperti ini adalah peran seorang laki - laki.. biarkan seorang laki - laki ini melakukan tugasnya..", jelasku.
"Baiklah..", balasnya sambil sedikit tertawa sembari menutup kembali tasnya.
Setelah aku membayar tiketnya, kami pun segera masuk. Di dalam lokasi banyak sekali orang - orang seperti semut yang sedang berkumpul. Wajar saja, malam ini adalah malam minggu di mana pasangan - pasangan pergi keluar. Kami pun mulai berjalan di antara kerumunan orang - orang ini.
Saat aku menanyakan sesuatu pada Hana, dia tidak menjawab apa - apa. Aku pun melihat ke sebelah ku, dan ku sadari Hana tak ada di dekatku. Aku pun menoleh kebelakang, terlihat Hana cukup tertinggal sambil melambaikan tangannya seperti sedang tenggelam di dalam sebuah ombak. Aku pun bergegas kembali menyusulnya.
"Fiuh hampir saja, maaf meninggalkanmu..", ujarku.
"Ah enggak, aku yang salah karena enggak sanggup berdesakan..", ujarnya sembari merasa bersalah.
"Bagaimana kalau begini ? Sekarang kita enggak akan terpisah lagi..", balasku sembari menggenggam tangannya yang lembut itu.
"Eh.. ahh.. tentu..", balasnya dengan malu - malu.
"Kita kan berada di sini untuk bersenang - senang, jadi tersenyumlah..", balasku untuk mengembalikan suasana hatinya.
"Iya.. kamu benar..", jawabnya dengan wajah yang kembali ceria.
Terlihat banyak sekali wahana permainan dan toko yang menjual berbagai macam barang. Aku pun melihat - lihat mana yang akan di tuju dan ingin menanyakannya ke Hana. Akan tetapi, aku melihat Hana sedang melihat ke arah sesuatu. Kemudian aku pun melihat apa yang Hana sedang lihat. Yang sedang Hana lihat adalah sebuah boneka beruang berwarna putih di tempat permainan lempar bola ke kaleng yang di susun.
"Aku yakin dia menginginkannya..", gumamku dalam hati.
Kemudian aku mengajaknya ke tempat itu. Setelah sampai aku pun membayar bola untuk permainan itu.
"Eh.. kenapa kita ke sini ?", tanyanya.
"Bukannya kamu menginginkan boneka itu ?", jawabku.
"Aku cuma melihatnya aja kalau boneka itu sangat lucu..", ungkapnya.
"Berarti alasan seperti itu aj udah cukup buat ku mendapatkan boneka itu, kalau begitu perhatikan aku..", jelasku.
__ADS_1
"Ehh.. baiklah..", balasnya sembari menghela nafas.
"Hahaha.. nona, pacarmu benar - benar pasangan yang sangat baik..", saut si Penjual itu.
"Ehhh ?!", sautku kaget bersamaan dengan Hana.
Kata - kata si Penjual itu membuat kami malu - malu. Terlihat wajah Hana yang memerah membuatnya sangat manis. Ternyata di mata orang lain kami adalah sepasang kekasih, itu benar - benar membuatku senang dan juga gugup. Tetapi si Penjual itu seperti sedang merencanakan supaya aku gagal, terlihat dari senyum liciknya.
"Dasar si Paman ini, dia membuatku jadi gugup..", gumamku dalam hati.
Kemudian si Penjual itu memberikan ku 5 buah bola dan sudah menyiapkan 10 kaleng yang tersusun menjadi 4 tingkat. Aturannya adalah menjatuhkan semua kaleng - kaleng itu tanpa tersisa dengan 5 buah bola yang telah di berikan.
Aku pun bersiap dan mengambil posisi untuk melempar. Lemparan pertama, aku melemparnya dengan sekuat tenaga berharap kaleng - kaleng itu banyak yang berjatuhan.
Blup~
"Eh ?", sautku.
Bola pertama yang ku lempar tak mengenai satu pun kaleng - kaleng itu namun mengarah ke atas dan menuju ke terpal yang berada di belakangnya untuk menahan bola yang terlempar.
"Ahh, ini baru pemanasan, beneran !", jelasku pada Hana.
"Aduh abang ini, kemana kau melempar..", saut si Penjual itu sambil tertawa terbahak - bahak.
"Dasar Paman ini, liat saja nanti..", gumamku dalam hati dengan kesal.
"Emm tentu.. semangat !", saut Hana sambil menahan tawa.
Aku benar - benar malu dengan lemparan pertama ku. Tetapi di sisi lain, aku senang melihat Hana tertawa. Kemudian aku pun melanjutkan lemparan keduaku, kali ini aku akan sedikit menahan kekuatan lemparan ku dan benar saja aku berhasil mengenai titik tengah. Aku berhasil menjatuhkan 5 kaleng, terlihat Hana bertepuk tangan dan sangat senang.
Tersisa 5 kaleng dan 3 kesempatan melempar lagi. Aku kembali menurunkan kekuatan lemparan agar akurasinya meningkat pada lemparan ketiga ini. Aku pun mulai melemparnya dan tepat mengenai yang ku incar, menjatuhkan 2 kaleng. Aku mengambil nafas lagi karena sekarang tersisa 3 kaleng dan 2 kesempatan.
Pada lemparan ke empat, aku meningkatan sedikit kekuatanku agar ketiga kaleng itu langsung jatuh semua. Aku pun mulai melempar, tetapi sayang aku hanya berhasil menjatuhkan 2 kaleng saja. Sekarang benar - benar penentuannya, tersisa 1 kaleng dan 1 kesempatan. Kemudian aku mengambil nafas panjang, kali ini yang terpenting adalah ketepatan. Terlihat Hana memejamkan matanya dan mengharapkan lemparan terakhirku ini berhasil.
__ADS_1
"Boneka itu, aku ambil !!", teriakku sembari melemparkan bola terakhir itu.