Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!

Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!
Bab 7. Dilema


__ADS_3

".........tidak hanya kamu yang menyukai ku, aku pun juga ingin menyukai mu.. sampai saat itu tiba, bisakah kamu menyatakannya lagi padaku ?", jawabnya sambil tersenyum dengan manis.


Kalimat itu secara langsung membuat jantungku bedegup lebih cepat dan membuat ku terdiam sejenak. Saat ini, aku memulai langkah pertama ku untuk membuat kenangan masa muda yang selama ini ku inginkan.


"Luki.. ?", panggilnya sembari melambaikan telapak tangannya di depan wajahku.


"Ah..", sontak aku pun tersadar.


"Jadi, bisakah kamu memulainya dengan memanggil namaku ?", harapnya padaku.


"Sebenarnya.. aku belum tau nama mu.. hehe..", ungkapku sambil memalingkan wajah.


"Ehhh.. jadi kamu menyatakannya tanpa mengetahui siapa nama ku ?!", balasnya.


"Begitulah, maaf..", balasku.


"Dasar.. kalau begitu aku akan memperkenalkan diri.. namaku adalah Hana Yukina, kamu bisa memanggilku Hana.. Kakek ku keturunan orang Jepang, jadi jangan heran kalau namaku seperti ini..", sebutnya.


"Hana ya.. nama yang indah..", sautku.


"Ehh ?! Ahh makasih..", balasnya sambil malu - malu.


Hari sudah hampir gelap dan tak lama kemudian kami tiba di halaman depan rumah. Kami pun berpisah dan kembali ke rumah masing - masing. Aku bergegas mandi karena ada beberapa tugas sekolah yang akan segera di kumpulkan esok hari. Tak lupa aku mengisi tenaga yang hilang dengan memakan makanan yang ku beli.


Saat mengerjakan tugas, aku tidak dapat berkonsentrasi karena memikirkan banyak hal soal Putri dan Hana. Putri yang tersenyum sesaat sebelum pergi dan Hana yang mengatakan hal seperti menunggu dan menyuruh ku menyatakannya lagi dimana saat itu tiba.


"Aaahhh.. aku benar - benar tak dapat berkonsentrasi !!", gumamku.


Akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan melanjutkan tugasnya esok hari. Tentu saja sebelum waktu pengumpulannya akan ku selesaikan tepat waktu.


Keesokan harinya, disaat aku sedang bersiap - siap untuk berangkat ke sekolah. Tiba - tiba terdengar bunyi bel, aku pun segera keluar dan memeriksanya. Saat pintunya ku buka, tak kusangka Hana lah yang berada di depan.


"Pagi.. apakah kamu masih sedang bersiap - siap ? Aku ingin sekali berangkat bersama ke sekolah, kamu mau ?", ajaknya.

__ADS_1


"Ah, tentu saja aku mau, baiklah tunggu sebentar, aku akan segera selesai..", jawabku sambil bergegas.


Aku pun dengan cepat menyelesaikan perlengkapanku dan pergi keluar. Kami pun mulai berjalan bersama - sama. Terlintas di benakku bahwa seperti ini lah salah satu kenangan masa muda yang ku harapkan yaitu bisa berjalan bersama dengan seorang wanita.


"Um.. Hana ?", panggilku.


"Apa ?", jawabnya.


"Apakah tidak apa - apa jika kita di lihat murid lain ?", tanyaku.


"Kenapa tidak, lagian kita berjalan di arah yang sama.. jadi tidak ada yang aneh..", ungkapnya.


"Uwahh dia percaya diri sekali..", gumamku dalam hati.


"Baiklah kalau memang tidak akan terjadi apa - apa..", balasku.


Dalam perjalanan, kami mengobrol tentang banyak hal dan tertawa karenanya. Saat mengobrol dengannya, aku merasa sangat senang dan tidak ingin cepat berlalu. Tiba - tiba dia berjalan lebih cepat untuk membelakangiku. Kemudian dia berhenti dan berbalik hingga membuatku ikut terhenti.


"Luki.. bagaimana kalau malam minggu nanti kita pergi jalan berdua ?", ajaknya sembari membusungkan badan dan kepalanya tepat ke depan wajahku.


"Yey.. kalau begitu kita akan pergi ke Pasar Malam di daerah sini tepat pukul 18.40, oke ?", balasnya dengan gembira.


"Baiklah, oke..", sambungku sambil tersenyum melihatnya.


Dia pun melanjutkan langkah kakinya dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Saat akan hampir tiba di sekolah, terlihat dari kejauhan si Putri sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Entah kenapa aku terlihat sangat percaya diri bahwa si Putri sedang menungguku. Saat mulai mendekat, si Putri melihatku dan tiba - tiba arah pandangannya berpindah ke Hana. Setelah sampai di gerbang, aku dan Hana mulai berpisah tanpa mengatakan sepatah kata pun agar murid lain tidak berpikir yang macam - macam. Dan benar saja, si Putri menyapa ku.


"Kamu dan guru itu kenapa bisa berjalan bersama ?", tanyanya dengan nada sedikit kesal.


"Oh itu karena kami berada di jalur yang sama..", jawabku meyakinkannya.


"Apa benar kalian tidak memiliki suatu hubungan ?", tanyanya lagi.


"Iya benar..", jawabku seadanya.

__ADS_1


"Yasudah lupakan itu.. aku hanya ingin menyampaikan sesuatu..", ungkapnya.


"Apa itu ?", tanyaku penasaran.


"Malam minggu nanti, temani aku pergi jalan ke Pasar Malam di daerah sini, kita berkumpul di dekat gerbang tiket masuknya tepat pukul 19.20, mengerti ?", ajaknya.


"Eh, tapi.. malam itu aku ada rencana..", ujarku.


"Enggak ada tapi - tapi atau alasan lainnya, pokoknya titik !", tegasnya sembari pergi menuju ke kelas.


"Uwahhh, aku pikir dia adalah orang yang baik.. tapi sekarang dia bahkan tidak mau mendengar alasanku.. aku harus bagaimana ?! Gawat ! Ini benar - benar gawat !", gumamku dalam hati sembari panik.


Bunyi bel tanda mulainya pelajaran pun dimulai. Selama pelajaran berlangsung, aku sama sekali tidak bisa fokus. Di waktu jam istirahat pun, aku tidak selera makan. Kepalaku di buat bekerja keras untuk memikirkan jalan keluar yang akan aku hadapi nanti karena aku akan berjalan bersama 2 orang di tempat yang sama.


Di beberapa kesempatan aku berusaha mencoba berbicara dengan Putri, namun dia selalu mengabaikanku. Sampai akhirnya waktu jam sekolah pun berakhir dan aku belum mendapatkan jalan keluarnya. Aku pun memutuskan untuk pulang dan memikirkannya lagi selama perjalanan. Saat dalam perjalanan, terlihat Hana berjalan cukup jauh di depanku. Aku berpikir apakah aku akan membatalkannya saja dengan Hana, tetapi kami berdua sudah janjian lebih dahulu.


"Kenapa ?! Kenapa ini terjadi padaku ?!!", teriak ku dalam hati.


Lalu terdengar suara panggilan dari kejauhan, terlihat Hana sedang melambai ke arahku. Dia pun menunggu ku dari sana dan segera aku menyusulnya. Kami pun bersama - sama melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di depan rumah kami, Hana berdiri menghadapku dan sembari tersenyum.


"Luki.. malam minggu nanti, aku benar - benar menantikannya..", ungkapnya.


"Aku tau..", jawabku sambil mengelus kepalanya.


"Kalau begitu aku masuk ke rumah dulu, Daaa !", pamitnya.


"Daaa !", balasku.


Aku pun masuk ke dalam rumah dan membereskan pekerjaan rumah. Hidup sendiri seperti ini memang sangat tidak mudah. Segala hal yang mesti di lakukan adalah memasak, mencuci, membersihkan area rumah dan lain sebagainya. Terlebih rumah ini sangat besar yang hanya di tinggali oleh diriku seorang saja. Setelah melakukan apa yang harus dilakukan, aku pun segera beristirahat. Mataku mulai terlelap sembari memikirkan kata - kata Hana yang sangat menantikannya.


"Kenapa bisa aku terjepit di antara keinginan mereka berdua ya ?", tanya ku pada diri sendiri.

__ADS_1


Saat itu juga, aku memutuskan untuk mensukseskan acara jalan bersama milik kami. Bagaimana pun, akan ku kutemukan jalan keluarnya sebelum hari penentuannya tiba.


__ADS_2