
Kali ini mereka datang secara bersamaan. Lini pertahanan kami kembali dengan mudah di lewati. Menggiring bola tanpa melakukan kesalahan apapun. Ya, mereka melakukannya tanpa kesalahan dan itu adalah kelemahan mereka karena pergerakan menjadi sangat mudah untuk di baca.
"Kita saksikan, kali ini kedua penyerang maju secara bersamaan ! Apakah mereka memiliki sebuah strategi untuk membobol gawang tersebut ?! Mereka semakin dekat, namun si kiper masih berdiam ! Jarak sudah hampir mendekati goal box ! Apakah yang akan terjadi ?!", ujar komentator pertandingan.
"Tunggu sebentar lagi.. tunggu sebentar lagi..", gumam ku dalam hati.
"Dia terus saja berlari menggiring bola ke hadapan si kiper !", ujar komentator pertandingan.
"Sial ! Hanya ada dua kemungkinan.. kalau aku maju untuk menghadangnya, kemungkinan pertama bolanya akan di oper ke sisi lain.. tapi kalau aku berdiam diri saja, dengan jarak sedekat itu dengan goal box kemungkinan kedua dia akan melesatkan tembakan yang begitu cepat.. aku harus bagaimana ? Atau jangan - jangan ?!", gumam ku dalam hati.
Aku pun memutuskan untuk tetap berdiam diri sampai detik - detik terakhir saat dia akan melakukan sebuah pergerakan. Aku memikirkan kedua kemungkinan itu benar - benar sangat merugikan bagi ku.
"Jadi ku putuskan untuk mempertaruhkannya pada kemungkinan ketiga !", gumam ku dalam hati yang tak sanggup menahan wajah senang.
Dia pun benar - benar mendekati ku. Segera aku melangkah maju untuk mengincar bola yang berada tepat di kedua kakinya. Seketika itu tiba - tiba dia melakukan sebuah skill yang pernah ku tonton di sebuah tayangan metube, mengapit bola dengan kedua kaki lalu mengangkatnya dan skill itu bernama flick up. Bola pun terangkat ke atas untuk melewati ku.
"Tapi bo'ong !!", gumam ku dalam hati yang tak jadi melangkah maju dan menghentakkan salah satu kaki tumpuan ku untuk menjangkau bola yang berada tepat di atas ku.
"Tak tertipu !!! Sebuah flick up yang di gagalkan ! Si kiper itu benar - benar hebat ! Lagi, lagi dan lagi bola berhasil di tangkap !", ujar komentator pertandingan.
"Aku memang belum pernah bermain sepak bola sebelumnya, tapi bukan berarti aku tidak tahu tentang sepak bola !", gumam ku dalam hati sembari melemparkan bola ke rekan setim ku.
Penonton pun bersorak dengan riuh melihat jalannya pertandingan. Penguasaan bola silih berganti. Waktu demi waktu terlewati. Tembakan demi tembakan berhasil ku tangkap. Stamina para pemain mulai kehabisan. Sampai pada di penghujung waktu pertandingan.
Priiitt, Priiitt~
Priiiiiiiiiit~
Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan pun terdengar. Semua penonton kembali bersorak. Tidak ada yang menyangka bahwa score akhir pertandingan adalah 0:0 tanpa satu pun gol. Kedua tim mulai saling berjabat tangan. Saat itu pula aku benar - benar sudah kehabisan stamina untuk berdiri. Kemudian kedua penyerang andalan tim lawan mendekati ku. Aku pun berusaha untuk berdiri.
"Tidak perlu berdiri..", ujar salah satu dari mereka.
Mereka berdua pun berdiri di sisi kanan dan kiri ku. Kemudian menyangga ku untuk berdiri. Lalu mereka menghadapkan diri ke para penonton dengan melambai. Seketika itu para penonton bersorak dengan riuh.
"Nama ku Bima..", ujar salah satu dari mereka berdua yang berada di sisi kanan ku.
"Sedangkan nama ku Yoga..", saut satunya.
"Bolehkah kami mengetahui nama mu ?", tanya Bima.
"Tentu.. nama ku adalah Luki..", jawab ku.
"Kami benar - benar kesulitan mencoba mencetak gol dari gawang mu..", ujar Bima dengan tawanya.
__ADS_1
"Benar, kami sudah melakukan berbagai cara dengan baik tanpa sedikit pun kesalahan..", ujar Yoga.
"Justru bukankah itu kelemahannya ?", saut ku.
"Eh.. jadi apa maksudnya ?", saut mereka berdua.
"Karena kalian melakukannya tanpa kesalahan sedikit pun, makanya aku dapat membaca pergerakan kalian dengan sempurna.. itu mudah bukan ?", ungkap ku.
"Hanya karena itu ?!", saut Bima.
"Hahahaha..", tawa Yoga.
"Orang biasa tidak akan mungkin dapat membacanya semudah itu..", ungkap Bima.
"Apa mereka memuji ku ?", gumam ku dalam hati.
"Baiklah, lain kali kami pasti akan mencetak gol dari gawang mu di pertandingan resmi..", ujar Yoga.
"Soal itu sayang sekali, karena aku..", ujar ku belum sempat menyelesaikan perkataan.
"Oii !!", teriak Dion yang menuju ke arah kami.
"Sepertinya rekan setim mu pada kemari, kalau begitu kami pergi dulu.. kami benar - benar menikmati pertandingan persahabatan ini dengan pemain hebat seperti mu.. sampai jumpa..", ujar Bima dan mereka berdua pun beranjak pergi.
"Apa yang kalian bicarakan ?", tanya Dion.
"Cuma perkenalan diri..", jawab ku.
"Ngomong - ngomong..", ujar Dion sambil menitikkan air mata.
"Oi apa - apaan ni kau sampai mengeluarkan air mata segala ?", kejut ku.
"Kau benar - benar melakukannya !! Padahal awalnya kami tak berharap banyak pada mu, kau yang belum pernah bermain sepak bola sama sekali sebelumnya bisa apa coba kan ? Kau membuktikan perkataan mu dengan tidak memberikan satu pun gol pada mereka.. Tapi kami malah tak memberikan satu pun gol untuk mu !", ujar Dion.
"Ugh sialan, kau mau memuji ku atau meledek ku ?!", gumam ku dalam hati.
"Sudahlah, anggap saja ini langkah pertama untuk menuju ke tingkat nasional..", ujar ku.
Mereka pun berkumpul mengelilingi ku dan mengangkat ku sambil bersorak - sorak. Padahal hasil dari pertandingan ini tidak menang dan juga tidak kalah. Namun membuat satu langkah untuk mencapai sebuah tujuan. Kemudian mereka menggiring ku ke sisi luar lapangan. Setelah itu mereka membawa ku ke hadapan Kak Na dan pergi menjauh begitu saja.
"Mereka sengaja ya ?!", gumam ku dalam hati dengan kesal.
"Makasih buat kerja kerasnya..", ujar Kak Na sembari mengusap - usap kepala ku.
__ADS_1
Pikiran ku yang tadinya kelelahan menjadi lebih rileks karena usapan lembut dari tangan Kak Na.
"Apakah aku tadi terlihat keren ?", tanya ku.
"Sangat keren..", jawabnya.
Aku pun seketika tersenyum. Kemudian kami mulai membereskan perlengkapan. Setelah itu aku dan para rekan lainnya kembali menuju ke ruang ganti. Kami pun berganti pakaian. Beberapa saat kemudian kami beranjak pergi keluar. Terlihat banyak murid yang menonton berkumpul di depan pintu. Mereka menyoraki kami dan bertepuk tangan.
Sejenak kami berkumpul untuk mendengarkan penjelasan dari guru pengawas. Saat para guru berbaris di depan, tak terlihat Hana yang turut serta. Setelah selesai dan semua murid dan guru sudah bubar, aku pun berkeliling untuk mencari Hana. Setelah beberapa lama aku pun tak menemukannya. Akhirnya aku pergi ke sebuah bangku beratapkan pohon yang rindang di sisi lain area.
Aku pun duduk sejenak menikmati semilir angin yang sepoi - sepoi. Tiba - tiba mata ku di tutup oleh kedua telapak tangan dari belakang.
"Coba tebak siapa ?", ujarnya.
"Tentu saja, Hana..", saut ku yang mengetahui suaranya.
Walaupun dia sudah ketahuan, tetapi dia tidak mau melepaskan kedua telapak tangannya. Lalu tiba - tiba dia mendekap kepala ku.
"Ha.. Hana ?", saut ku.
"Sebentar saja..", jawabnya.
Dia pun sejenak mendekap kepala ku. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskannya. Kemudian dia duduk di sebelah ku.
"Kenapa tadi tiba - tiba mendekap ku ?", tanya ku penasaran.
"Entahlah.. saat aku melihat kamu dengan salah satu siswi yang mengusap - usap kepala mu tadi, aku merasa sedikit kesal dan pergi mencari udara segar di sekitar sini..", ujarnya.
"Hmm, apa dia udah mulai merasakan cemburu ?", gumam ku dalam hati.
"Oh iya, bukannya kamu bilang tadi bakal menonton ? Kenapa tiba - tiba ikut bermain ?!", tanya Hana.
"Ah soal itu.. bagaimana kalau kita pulang, akan ku ceritakan di jalan..", ujar ku.
"Baiklah..", sautnya.
"Ngomong - ngomong, apakah aku saat bermain tadi terlihat keren ?", tanya ku.
"Enggak tau, aku sibuk mengawasi para murid..", ujarnya.
"Ehhh ?!!", saut ku dengan kecewa.
Kami pun beranjak pergi. Selama dalam perjalanan pulang, aku menceritakan penyebab kenapa aku turut ikut serta dalam pertandingan.
__ADS_1