Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!

Guruku Yang Cantik Itu, Tetanggaku ?!
Bab 19. Toko Kue (2)


__ADS_3

Keesokan harinya, aku pun mulai kembali beraktivitas seperti biasa. Pelajaran maupun kegiatan klub ku lalui dengan baik. Segera aku menuju ke Toko Kue untuk bersiap bekerja. Berhubung tempat ku bekerja di arah sebelum rumah, jadi aku langsung bekerja tanpa harus pulang terlebih dahulu. Tentu saja aku menyiapkan pakaian ganti. Sesampainya di tempat kerja, aku pun segera bersiap - siap.


"Selamat sore Bang Luki, awal juga datangnya..", ujar Mira sembari mendekati ku.


"Sore juga Mira.. soalnya udah enggak ada kegiatan lain, apalagi ini hari pertama abang bekerja jadi abang harus semangat.." balas ku.


"Oh iya, kamar mandinya di mana ? Abang mau ganti pakaian..", sambung ku lagi.


"Di sana..", jawab Mira sambil menunjuk tempatnya.


"Terus ini seragam toko buat Bang Luki pakai, apakah cukup ?", sambung Mira sambil memberikan seragamnya pada ku.


"Ukurannya coba abang lihat.. oke ini cukup kok buat abang pakai, jadi enggak perlu khawatir..", ujar ku sambil menerima seragam tersebut.


"Syukurlah kalau cukup..", balas Mira.


Aku pun pergi menuju ke arah yang di tunjuk sambil membawa pakaian ganti. Saat sampai terlihat pintu kamar mandi sedang terbuka dan segera aku masuk dengan perlahan. Namun saat aku masuk ke dalam, sedikit demi sedikit terlihat sesosok wanita berada tepat di hadapan ku tanpa mengenakan sehelai kain pun sedang membasuhi dirinya sendiri. Kami pun saling memandang, aku seketika terkejut dan terpaku sejenak melihatnya karena pertama kali melihat sosok seindah itu.


"Kkk.. kyaahhhhh !!!", teriak wanita itu sambil melemparkan gayung yang di pegangnya dengan sekuat tenaga tepat mengenai wajah ku.


"Huekk..", saut ku dengan spontan terkena lemparan itu, membuat ku hilang keseimbangan yang kemudian terjatuh dan kepala ku membentur sesuatu dengan cukup keras.


Akibat benturan itu, aku pun pingsan seketika. Tak lama kemudian aku pun tersadar dan perlahan membuka mata ku. Saat membuka mata, aku terkejut melihat wajah Mira tepat di atas wajah ku. Aku pun berkeinginan untuk segera bangun, namun kepala ku masih berdenyut.


"Jangan bergerak dulu..", ujar Mira sambil mengusap kepala ku dengan lembut.


"Baiklah..", balas ku.


Saat sedang memahami situasi yang terjadi, di situ aku sadar bahwa aku sedang terbaring di sofa dengan kepala ku berada di pangkuan Mira. Kepala ku yang tadinya berdenyut mulai kembali normal. Kemudian aku mulai melihat sekitar dan terlihat seorang wanita sedang duduk di sisi lain sofa dengan wajah cemberut.


"Apa liat - liat ?!", ujarnya sembari balik melihat ku.

__ADS_1


"Kakak, jangan gitu.. buruan minta maaf..", saut Mira.


"Kenapa kakak yang harus minta maaf ?! Kan dia yang salah..", balasnya sambil menunjuk ke arah ku.


"Itu karena kakak ceroboh, kebiasaan enggak menutup pintu kamar mandinya.. kan Mira udah beritahu bakal ada orang lain yang bekerja di sini..", tegas Mira membalasnya.


"Itu.. kamu kan enggak bilang kalau yang bekerja itu seorang laki - laki.. kakak tetap enggak mau minta maaf.. hmph !", saut wanita itu dengan kesal.


"Ya biasa kan pintu harusnya di tutup kalau ruangan sedang di pakai..", saut Mira.


"Kalau begitu ijinkan saya minta maaf atas kejadian tadi..", ujar ku.


"Hmph.. dari awal memang salah kamu, itu adalah hukuman karena udah mengintip..", balasnya sembari beranjak pergi.


"Uwahhh galaknya..", gumam ku dalam hati.


"Oh iya, kamu mau sampai kapan berbaring di pangkuannya Mira ?!", sambungnya dan akhirnya pergi.


"Ini adalah paradise !!", gumam ku dalam hati membalas perkataannya.


"Kalau begitu abang bakal bangun..", ujar ku.


"Apa udah enggak apa - apa ? Kalau belum, Bang Luki masih bisa..", ujar Mira.


"Enggak apa - apa kok, berkat Mira kepala abang udah mendingan..", ujar ku.


"Tentu saja, karena itu adalah salah satu paradisenya laki - laki yang sedang berada dalam pangkuannya, tingkat kenyamanannya sangat tinggi..", gumam ku lagi dalam hati.


"Syukurlah.. maaf ya atas kelakukan kakak Mira, dia waktu kecil enggak seperti itu, orangnya sangat lembut..", ungkap Mira.


"Enggak apa - apa kok.. jam kerja abang udah mau mulai, yuk kita bersiap - siap..", ujar ku.

__ADS_1


"Baiklah..", balas Mira.


Kami pun mempersiapkan apa yang di perlukan dan aku kembali mengganti pakaian yang sempat tertunda. Toko Kue ini sendiri buka mulai dari pagi hari, yang ku tahu ada satu orang lagi yang bekerja sebagai Kasir tiap pagi sampai siang. Oleh karena itu, bagi ku yang bekerja mulai dari sore tak berkesempatan untuk menyapanya. Wajar saja toko ini memerlukan cukup tenaga kerja karena peminat kue di daerah sini terbilang banyak. Terlepas dari semua itu, aku akan melakukan yang terbaik.


Saat aku sedang bekerja, aku tak melihat sama sekali wanita yang di panggil Kak Na oleh Mira. Kemudian aku pun di minta Mira pergi ke dapur untuk mengambil beberapa kue. Saat sampai aku sedikit terkejut melihat Kak Na sedang mendekorasi sebuah kue. Aku pun terdiam memperhatikannya, dia begitu sangat terampil.


"Apa lihat - lihat ?!", ujar Kak Na yang tersadar melihat ku.


"Uh, galaknya, semangat ku yang tadi langsung turun..", gumam ku dalam hati.


"Saya mau mengambil kue - kue untuk di pajang..", ujar ku.


"Itu.. cepatlah, jangan mengganggu saat orang sedang bekerja !", ujar Kak Na menunjuk ke arah kue - kue yang akan di pajang.


"Baiklah..", balas ku.


Aku pun membawa kue - kue tersebut. Aku selalu memperhatikan tiap detail kue yang ku bawa, betapa indah dan menarik untuk di lihat. Membuat daya tarik bagi para pembeli, dia benar - benar hebat. Setelah melewati banyak hal, jam kerja pun selesai dan aku bersiap - siap untuk pulang.


"Hati - hati Bang Luki, makasih atas pekerjaannya hari ini..", ujar Mira.


"Tentu, sampai jumpa besok Mira..", balas ku sembari beranjak pergi.


Keesokan harinya adalah hari kedua aku bekerja. Seperti kemarin, aku melayani para pembeli yang akan membayar dan mendapat kata yang keras dari Kak Na. Saat aku sedang terpuruk oleh kata - kata Kak Na, Mira lah yang selalu menyemangati ku.


"Dia benar - benar penyelamat ku di sini.. padahal mereka bersaudara, tetapi bagai Surga dan Neraka.. huhu..", gumam ku dalam hati.


Aku pun melanjutkan pekerjaan ku dengan rasa nyaman dan tidak nyaman, di sisi Mira aku merasakan kebahagiaan tapi di sisi Kak Na aku jadi bahan pelampiasan. Tak lama kemudian aku di minta kembali oleh Mira untuk mengambil kue - kue yang akan di pajang selanjutnya.


Saat sampai di dapur, terlihat Kak Na sedang berjinjit di sebuah kursi untuk mengambil barang yang berada di atas lemari yang cukup tinggi. Saat sudah meraih barang tersebut dan ingin menariknya, tiba - tiba Kak Na kehilangan keseimbangan yang membuat kakinya tergelincir. Aku yang melihatnya pun bergegas menuju ke arahnya.


"Awas !!", teriak ku.

__ADS_1


__ADS_2