Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Prolog


__ADS_3

Padang rumput. Sejauh mata memandang.


Satu pohon beringin yang sudah tumbuh ratusan tahun lamanya, berdaun rimbun dan lebat.


Disisi kanan terdapat padang bunga. Bunga dengan berbagai warna cantik berwarna-warni.


Banyak yang mengatakan kalau melihat sesuatu yang berwarna warni, akan membuat hatimu yang sedang gundah menjadi lebih baik.


Bagaimana denganmu? Apakah pernyataan itu berpengaruh padamu?


“Bunga Lily lagi?”


“Tidak, kali ini bunga Camellia, dengan warna yang sama.”


Kupetik satu bunga putih berkelopak banyak dari padang bunga itu. Kusentuh dengan lembut kelopaknya. Kurasakan aroma dari serbuk sarinya yang menggelitik hidungku.


“Tidak banyak orang akan beranggapan kalau bunga itu kuat. Bunga itu kuatnya tergantung musimnya. Seperti bunga Sakura. Ada masanya bunga itu akan gugur dan ada masanya bunga itu akan bermekaran.”


“Akan kuubah sudut pandang itu.”


“Percaya diri sekali.”


“Tentu sajalah, kalau seseorang tidak memiliki kepercayaan diri, dia akan terus lemah selamanya.”


“Sungguh beruntung kau mengenalku, jadi aku bisa memberimu nasihat.”


“Nasihat?”


“Kepercayaan diri itu bagai tanah yang menjadi penopang bunga. Jika kau terus menyirami tanah itu dengan air jernih semangatmu, maka tanah itu akan tumbuh subur. Dirimu sendiri sebagai bunganya semakin lama akan terus semakin berkembang. Jika air dari semangatmu itu hilang, itu sama saja tanah kepercayaan dirimu sedang kena kemarau, dan kau layu.”


“Nasihat macam apa itu?”


Aku menertawakan wajahnya yang terlihat kesal setelah mendengar nasihatku. Dia merangkul tubuhku.


“Sekarang, bagaimana denganmu? Kulihat kau juga sama sekali tidak ada perkembangannya. Tinggimu tetap sejajar dengan bahuku.”


“Cerewet.”


Kali ini dia yang menertawakanku.


“Riri-kun, pergilah cari seorang gadis, yang sama cantiknya dengan bunga camellia yang kau pegang itu.”


“Tidak, prioritasku sekarang bukan hanya seorang bunga cantik.”


“Huh?”


Langit biru dengan awan putih berarak dilangit. Angin sepoi-sepoi seolah membuat padang rumput bernyanyi.


“Tetapi aku ingin membuat…bunga-bunga itu juga, menyanyi dengan hati mereka.”


“Kau memang Riri Hanamizuki, seorang pria yang ingin menemukan arti dan mengapa Tuhan menciptakan bunga yang begitu indahnya di dunia ini.”


***


Apa tujuanmu hidup didunia ini?


Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh diri sendiri.


Aku masih berjalan mengikuti arah angin. Aku sendiri pun belum menentukan tujuan hidupku yang sebenarnya. Semenjak ‘itu’ terjadi.


Perang antar ras.


Dan aku adalah ras dari Lilium. Perang untuk memperebutkan benih yang akan membuat siapapun yang mendapatkannya akan hidup abadi. Tidak akan bisa dilukai, tidak akan bisa ditentang, dan tidak akan bisa ditinggalkan. Dia akan berkuasa.


Apakah itu bisa disebut sebagai prinsip dalam kehidupan? Kurasa tidak buruk juga. Karena aku sendiri menginginkan benih itu. Tetapi apa yang akan kulakukan setelah mendapatkannya?


Kelompok saja tidak punya.


Rasku termasuk salah satu ras kuat dari ke-5 ras langka di muka bumi ini. Lily adalah bunga indah, namun jika kau hanya melihat dari luar saja, kau takkan pernah tahu.


Bunga Lily sangat mematikan.


Tetapi setelah perang antar ras yang ke-3 kalinya 5 tahun yang lalu, masih belum ada satupun yang mendapatkan benih itu. Malah korban tak bersalah yang terus berjatuhan. Termasuk 80% dari rasku.


Tak ada satupun yang tau seperti apa bentuk dari benih itu.


Aku pun tak bisa terus mengikuti arah angin. Angin sangat keras, mereka bisa membawamu kemana saja. Termasuk ditempatku berpijak sekarang.


“Sialan…sudah kubilang aku tak mau lagi mengikuti arah angin. Aku akan mencoba mengikuti arah cahaya matahari saja lain kali.”


Sebuah akademi pedang. Ya, itulah tempatku berpijak sekarang.


“Riri-kun bodoh! Mau sampai kapan kau membuat bungamu tertidur? Cepat atau lambat kau harus membangunkan bungamu!”


Kata-kata wanita itu sungguh menyebalkan, dia mengataiku bodoh. Tapi kurasa aku harus mengakuinya.


Aku menghela napas berat. Kata-kata wanita yang kuanggap seperti seorang kakak itu berdengung lagi ditelingaku.


“Membangunkan bungaku ya…sudah berapa kalipun ku siram air tetap saja begitu--”


“Kau juga harus bangkitkan pedangmu yang sudah puluhan tahun tertidur.”


Pedang, ya, kini aku berumur 23 tahun, setiap ras akan mendapatkan satu roh bunga yang akan menjadi pendampingnya untuk mendapatkan benih. Tetapi itu tak hanya sekedar bunga, namun terdapat roh pedang tertidur didalamnya, ketika roh itu bangun, ia akan menjadi tangan kananmu dan akan menjadi pelayanmu untuk mendapatkan benih itu.


Entah kenapa di usiaku yang sekarang aku masih belum bisa membangunkan bungaku.


“Riri-kun, dengarkan aku. Kau itu memang bodoh, tetapi sebenarnya kau jenius, hanya saja kau tak bisa mengungkapnya, karena itu jadilah pengajar magang di akademi berpedang Hanatarou agar kau menyadari betapa jeniusnya kau.”


“Haha, kau pasti bercanda.”


“Aku serius tahu! Kalau aku biarkan kau keluyuran tanpa tujuan, benih itu juga takkan mau menampakkan diri! Bukannya kau juga menginginkan benih itu?!”


Memang aku juga menginginkannya, tetapi aku punya caraku sendiri untuk mendapatkannya.


Sayangnya hatiku tak bisa menolak permintaan wanita itu.


“Anggap saja…ini sebagai balas budimu atas apa yang sudah kulakukan padamu untuk merawat Riri kecil hingga sejauh ini.”


Saat ini dia menjadi kepala sekolah di akademi Hanatarou. Aku tak mengerti kenapa orang aneh seperti dia bisa diangkat jadi kepala sekolah. Umurnya masih muda pula.


“Kalaupun pengajar magang, apa yang bisa kuajarkan--”


“HYAAA!!!”


GUBRAKKK


***


“Nona Carnation?! Apa Anda sedang bercanda?! Menerima seorang pengajar magang? Sebegitukah kekuatan akademi ini berkurangnya?”


Seorang gadis berambut merah marun menatap tajam pada seorang murid berseragam resmi dihadapannya. Seketika murid perempuan yang berada di depannya agak tercekat melihatnya.


“Kau mau menentangku, Alstro-kun? Kau ingin tahu kenapa aku menempatkan seorang pengajar magang disini?”


Gadis itu tak menjawab.


“Karena kebanyakan murid di akademi ini belum menemukan prinsip sesungguhnya dalam hidup. Untuk apa mereka masuk akademi ini? Apa yang ingin mereka perjuangkan? Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Apa cita-cita mereka sesungguhnya? Mereka semua hanya menginginkan kekuatan semata tanpa tujuan dan impian yang bisa dimengerti secara logika. Mereka masih menahannya dan tak bisa mengungkapkannya. Sekalipun telah diajari oleh pengajar ahli sekalipun, mereka belum menemukan jalan mereka untuk masa depan. Dan pengajar magang yang ku rekomendasikan di akademi Hanatarou ini sangat berbakat. Dan aku yakin dia akan menjawab pertanyaan itu.”


“Ngomong-ngomong sebentar lagi dia tiba. Bersiap-siaplah ya”


“Apa…dia sehebat itu…? Berasal darimana…dia?”


Carnation hanya tersenyum.

__ADS_1


“Takkan seru kalau kuberi tahu~”


***


“S-sakit......”


“Hei gadis kecil. rokmu”


Dihari pertamanya masuk ke gerbang utama akademi Hanatarou, seorang gadis menabrak Riri hingga terjatuh. Dan yang memalukan adalah, rok gadis itu tersibak keatas.


“KYAAA!!!!”


Gadis itu berteriak dan langsung bangkit dari jatuhnya. Memegang roknya erat-erat.


“D-dasar mesum mesum mesum mesum!!”


“Apa? Bukannya kau yang tadi menabrakku? Dan ngomong-ngomong tadi celana dalammu berwarna--”


“DIAAAMMMM DASAR MESUM MESUM MESUM MESUM!!!”


Teriakan gadis itu membuat orang-orang disekitarnya memperhatikannya. Dan kebanyakan dari mereka adalah gadis-gadis yang menatap jahat ke arah Riri.


“Sial, masa hari pertamaku datang kesini langsung ditatapi begitu?”


Gadis yang tadi menabraknya masih berada didepannya. Memandang Riri marah.


“Dengerin dulu dong kalau orang ngomong…tadi aku mau bilang kalau--”


“DASAR MESUUUUUMMM!!!!”


PLAKKK!!


Dengan sukses telapak tangan merah membekas di pipi Riri, dan gadis itu pergi begitu saja. Orang-orang disekitarnya memandangi Riri dengan tatapan jijik.


“Sakit… apa-apaan sih... berani sekali memukulku--”


Perhatian Riri tertuju pada sebuah buku yang ada disampingnya. Buku berjudul ‘benih yang tak mungkin ada’.


“Buku milik gadis itu huh? Apa yang dia lakukan dengan buku seperti ini?”


***


“Menyebalkan menyebalkan menyebalkan!! Kenapa ada orang asing masuk ke akademi?!”


“Amaryliss-chan!”


Gadis berambut pink itu menoleh ketika ada yang memanggil namanya. Suara itu berasal dari seorang gadis berambut pirang.


“Apa sih Elder-chan?!”


“Hee kenapa marah begitu? Buku itu mana? Bukankah kita akan mempelajari buku itu di jam pelajaran berikutnya?”


“E-EHH!??”


Amaryliss baru ingat kalau buku itu terjatuh sebelumnya.


“Kenapa, Amary-chan?”


“Anu— kurasa aku lupa membawanya.”


“Hee? Tak biasanya Amary-chan lupa.”


“Bukunya pasti terjatuh waktu aku menabrak orang aneh tadi”


Gadis bermata hijau itu bergumam sendiri.


“Ah Amary-chan, apa kau sudah tahu kita akan kedatangan pengajar magang?”


“Benarkah?”


“Hee? Apa dia akan mengajar di kelas kita?”


“Entahlah, tetapi jika benar dia sehebat itu, banyak yang ingin kutanyakan padanya mengenai sihir bunga.”


***


“Hmh, akademi ini besar juga. Dan ada dimana ruang kepala sekolahnya? Maksudku ruangan si aneh itu.”


Riri berjalan-jalan di sekitar koridor akademi Hanatarou. Akademi bergaya Inggris klasik itu memang kelewat besar. Sebuah bangunan yang telah berdiri selama 2 abad. Masih tampak kokoh tanpa sedikit pun cacat disekitarnya. Hanya beberapa bagian warna catnya yang sudah agak pudar.


“HEI! SIAPA KAU?!”


Langkah Riri terhenti ketika seorang gadis berpakaian seragam yang tampaknya seperti seragam keamanan menghadangnya didepan. Dia memegang pedangnya dihadapannya dengan kedua tangan.


“Aah...kali ini apa lagi...”


Gadis itu terkejut. “Kenapa tak menjawab? Kau ini siapa?!”


“Ah, sepertinya kau anggota suatu pasukan khusus disini ya? Boleh aku tahu dimana ruangan kepala sekolah? Aku ini--”


“Kau bahkan ingin menemui Nona Carnation?! Seorang pria aneh yang tiba-tiba memasuki akademi ini ingin menemui kepala sekolah?! Kau ini penyusup ya!?”


“H-he? Penyusup? Ya ampun nona kecil, tega sekali mengatai--”


“AHHH!! ORANG MESUM WAKTU ITU!!”


Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari belakangnya.


“Amaryliss-san? Kau bilang dia orang mesum?”


Muka Amaryliss berubah merah.


“P-pokoknya dia mesum! Dia…pokoknya mesum!”


“H-hei dengarkan dulu penjelasanku--”


“KAU INI BENAR-BENAR PENYUSUP YA!!!”


Gadis berseragam lengkap itu sontak saja langsung berlari untuk menghunuskan pedangnya ke arah Riri yang tak sempat membuka mulut.


“Kenapa aku sial banget sih--”


TAPP


Riri berhasil menahan ujung pedang yang menyerangnya. Ujung pedang itu berhenti tepat didepan hidungnya. Riri nyengir.


“Wah, kemampuan berpedangmu lumayan juga, nona kecil?”


“A-apa katamu!? Jangan seenaknya bicara! Aku adalah Alstromeria, ketua pasukan keamanan pelindung akademi Hanatarou!”


“UWAA!”


Gadis itu kehilangan keseimbangan ketika berusaha melepaskan cengkraman tangan Riri, dan Riri menangkap tubuhnya begitu saja.


“Sudah kubilang kan? Padahal pedangmu itu cantik lo, nona kecil.”


“M-menyingkir dari tubuhku!”


Dengan kasar Alstromeria melepaskan diri dari cengkraman Riri, walau raut wajahnya sedikit memerah.


“Aih nona kecil, tolong dengarkan dulu penjelasanku! Aku ingin menemui kepala sekolah dan--”


“Tak ada lagi kata penjelasan bagi laki-laki! Mereka hanya ancaman bagi kami! HYAAAHHH!!”

__ADS_1


Riri mulai panik karena gadis didepannya itu sepertinya serius ingin melawannya.


JRASSSHH!!


“A-apa?”


Riri memang berhasil menghindari serangan membabi buta itu, namun sayang bahu kanannya tergores. Pertarungan mereka terhenti. Riri menjatuhkan lututnya ke tanah.


Alstromeria agak tergagap ketika melihat darah di bahu Riri. Namun ia berusaha mengubah raut wajahnya dan menenangkan diri. Lalu mengarahkan ujung pedangnya ke hadapan Riri.


“Menyerahlah penyusup, kau takkan bisa menyerang akademi kami lag--”


“Sakit tahu, nona kecil”


Betapa terkejutnya Alstromeria, ketika Riri menatapnya dan dia malah tersenyum lebar.


“Sepertinya ini akan jadi akademi luar biasa ya, karena banyaknya gadis-gadis yang bagaikan harimau liar disini.”


“A-apa katamu!?”


Alstromeria siap menyerang lagi, tetapi Riri mengangkat tangan kanannya.


“Nona kecil, terserah kalau kau mau menyerangku, tapi aku tak punya alasan untuk melawanmu.”


Alstromeria terdiam.


“Alstro! Apa yang kau lakukan!? Cepat usir orang mesum itu dari sini!”


Riri mengarahkan pandangannya pada gadis berambut pink yang bersikeras mengatainya mesum.


“Hei kau rambut pink, berhentilah mengataiku mesum. Sakit tahu....”


Amaryliss terkejut melihat tatapan bosan Riri. Riri bangkit setelah sejenak berlutut di rumput itu. Dia berjalan dengan santai.


“T-tunggu dulu penyusup!”


Riri terhenti. “Kau bilang tadi tak ada penjelasan bagi laki-laki ya. Memangnya apa yang pernah dilakukan para laki-laki disini?”


Alstromeria tak menjawab.


“Tunggu. Tak ada penjelasan bagi laki-laki. Dan aku ini laki-laki.”


Hening.


“J-JANGAN BILANG KALAU DI AKADEMI INI HANYA AKU SAJA SATU-SATUNYA LAKI-LAKI YANG ADA DISINI?!”


Riri membuat wajah panik tak karuan. Membuat orang disekitarnya melihatnya dengan tatapan aneh.


“Gak mungkin, ini mimpi ini mimpi ini mimpi ini mimpi!!”


“Hei penyusup! Mau pergi kemana kau?!”


Alstromeria meneriaki Riri yang melanjutkan jalannya dengan masih bertingkah panik sendiri. Riri terhenti.


“Akan…akan kutanya langsung pada orang aneh itu kenapa dia menjadikanku pengajar magang disini!”


Setelah itu Riri melanjutkan langkahnya. Berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki kesal.


“Hei nona kecil, kau tetap tak mau memberitahuku dimana ruang kepala sekolah? Kalau tetap tidak mau biar kujelajahi seluruh sekolah ini!”


“Tunggu. Pengajar magang, j-jadi kau orangnya?! Kau pengajar magang yang disebutkan Nona Carnation?!”


Riri menoleh ke arah Alstromeria yang meneriakinya geram.


“Oh, orang aneh itu sudah memberitahu tentangku?”


Alstromeria tampak sangat terkejut. “Orang aneh sepertimu…adalah pengajar magang di akademi ini…?”


Riri memanyunkan bibirnya. “Terserahlah kalian mau memanggilku apa. Aku benar-benar sial berada disini!”


Setelahnya Riri benar-benar pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Alstromeria masih belum beranjak dari tempatnya.


“Dia…yang akan jadi pengajar magang…?”


“TAKKAN KUMAAFKAN!!”


***


Sial banget. Hari pertama ditabrak cewek, diserang cewek, dan hampir ditebas cewek. Apa tujuan orang aneh itu membuatku masuk kesini sih?


Aku menghentak-hentakkan kakiku kesal. Tak peduli gadis-gadis disekitarku memandangku aneh. Kalau aku sampai di ruangan orang aneh itu, akan kucekik dia sampai mengatakan semuanya.


“Ruang kepala sekolah. Pasti yang ini, hei--”


Sebelum aku membuka pintu, terasa sesuatu yang tajam menusuk punggungku hingga aku berhenti bergerak. Aku menggerakkan leherku sedikit untuk melihat siapa yang berani menusuk punggung mulusku ini. Belum lagi bahuku juga sudah terluka.


“Sekarang apa lag--”


“Siapa kau? Ada tujuan apa menemui Nona Carnation?”


Kali ini gadis yang memiliki warna mata perak. Memandangiku jahat.


“Mau mendengar penjelasanku dan takkan menyerangku tiba-tiba?”


Tanyaku langsung. Gadis itu tak menjawab. Aku menunggunya.


“UWAAA!!”


Tiba-tiba saja pintu didepanku terbuka dan aku kehilangan keseimbanganku karena tubuhku menempel didepan pintu hingga akhirnya sukses terjatuh.


“Ah, Riri-kun? Kau sudah sampai ya? Dan ada tujuan apa kesini Typha-san?”


“Orang ini ingin mencoba masuk ke ruangan Anda, jadi saya pikir dia penyusup yang mungkin mencoba membunuh Anda.”


Aku bangkit berdiri. Apa mukaku sebegitunya mirip orang jahat?


“Ah kalau orang ini tak mungkin melakukan itu. Terima kasih atas kewaspadaanmu Typha-san, kau boleh pergi.”


“Baik, Nona Carnation.”


Gadis itu pun pergi begitu saja. Raut wajah yang dingin tak berekspresi.


“AHH! AKHIRNYA KUTEMUKAN JUGA! AKU INGIN KAU--”


Tiba-tiba wanita didepanku menaruh telunjuknya ke mulutnya menandai aku untuk diam. Tetapi aku masih memasang wajah kesal.


“Tak usah berteriak begitu Riri-kun, aku tahu kalau kau senang—“


“Senang apanya sih?! Apa sebenarnya tujuanmu membawaku kesini?! Aku gak ada niat jadi guru, tahu! Kau lihat ini? Aku hampir saja ditebas oleh harimau kecil yang baru menemui pemburunya!”


Orang aneh itu malah tertawa.


“Ahahaha! Bahkan kau sudah hampir mati padahal baru masuk kesini? Kau benar-benar hebat sekali Riri-kun~”


“Senpai!!”


“Baiklah baik, aku sudah tahu kau akan bersikap seperti ini. Dan lagi, di hari pertamamu kau mendapat perlakuan tak menyenangkan ya? Ahahahaha!”


Mendengar suara tawa nistanya membuatku ingin benar-benar mencekiknya.


“Aku sengaja tak memberi tahumu rincian jelasnya agar kau merasakan dulu seperti apa akademi Hanatarou itu sebenarnya. Sejauh ini kau mulai paham?”


“Gadis berseragam yang menyerangku mengatakan kalau dia takkan membiarkan para laki-laki menghancurkan akademi Hanatarou lagi. Dan dia bilang tak ada penjelasan bagi para laki-laki. Bukannya itu idealisme yang parah? Apa yang sebenarnya terjadi?”

__ADS_1


Wanita yang kupanggil senpai dan memiliki posisi sebagai kepala sekolah akademi Hanatarou itu duduk dikursinya. Dia menutup semua tirai jendelanya. Aku hanya menatapnya heran.


“Riri-kun. Aku ingin kau menghapus idealisme itu dari otak mereka semua.”


__ADS_2