
Di pagi berikutnya. Riri kembali ke akademi dengan riang gembira. Hingga beberapa siswi yang melihat wajah riangnya ikut tersenyum.
“Master, kau sedang senang?”
“Hehe, ada yang ingin aku ajarkan pada muridku hari ini. Mereka pasti terkejut!”
“Seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Kupikir kau akan kepikiran kata-kata orang bernama Daffodil itu.”
Selama ini Riri berbicara dengan kalung Camelyum melalui telepati, sehingga tak ada yang tahu kalau Riri sedang berbicara dengan seseorang.
“Selamat pagi murid-muridku! Hari yang indah—”
Suasana malah jadi aneh saat Riri masuk ke dalam kelasnya. Semua murid-muridnya tampak muram dengan kepala tertunduk.
“Ada apa ini? Kok wajah kalian ditekuk begitu kaya besi bengkok?”
“Sensei! Kau belum tahu apa-apa soal ini!”
“Hah?”
Riri menghampiri salah satu meja muridnya, dia melihat selebaran brosur yang bertuliskan “turnamen sihir antar kelas akademi Hanatarou, turnamen untuk memperebutkan gelar kelas terbaik dan akan mendapatkan piala emas.”
“Turnamen sihir, kayaknya seru nih.”
“Seru apanya sih? Kelas kami tak pernah lagi mengikuti turnamen itu karena selalu gagal! Padahal sudah diajari dengan berbagai guru terbaik!”
Seruan Amaryliss membuat Riri tertarik. Lalu menghampiri mejanya.
“Bahkan dengan adanya siswi pintar sepertimu juga kelas ini tidak pernah lulus?”
Amaryliss memalingkan wajahnya saat Riri memandangnya.
“Baiklah kalau begitu!”
Riri berlari ke depan kelas, mengambil sepotong kapur dan menulis sesuatu dengan ukuran yang besar di papan tulis hitamnya. Dia menulis “LATIHAN SIHIR KHUSUS UNTUK MEMENANGKAN TURNAMEN SIHIR”.
“Eh?! Sensei?!?”
“Latihan khusus seperti apa?”
“Percuma sensei, kelas kami tak pernah menang.”
Riri menaruh tangan kanannya di meja. Memandang seluruh isi kelas yang berisi 20 orang siswi yang menatapnya penuh pertanyaan.
“Lalu apa kalian tahu kenapa kalian selalu gagal?”
Hening sejenak.
“K-karena…”
Iris berdiri dari kursinya, masih dengan kepala yang menunduk.
“Karena kami tak bisa diajari…”
“Hmm, alasan yang cukup klise ya, untuk karakter seorang siswi seperti kalian.”
Sejumlah dari mereka agak tersentak mendengar jawaban Riri. Lalu Riri maju beberapa langkah dari mejanya dan melipat kedua tangannya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu, dan kalian harus jujur menjawabnya.”
Suasana kembali hening.
“Apa yang kalian rasakan setelah aku mengganggu kelas ini?”
Tak ada satupun murid yang langsung menjawab. Riri tetap pada posisinya menunggu. Lalu tak lama, seorang siswi mengangkat tangannya, dan dia adalah Elder.
“Ya, Elder?”
Mulanya Elder terlihat ragu-ragu untuk membuka mulutnya. Kemudian dia menarik napas dalam dan memberanikan diri.
“Sejak pertama Riri-sensei masuk ke kelas ini, aku selalu merasakan aura positif dari dalam tubuh Riri-sensei. Karena kemampuanku inilah aku yakin kalau Riri-sensei pasti akan mengubah seisi kelas ini. Memang awalnya Riri-sensei terlihat tidak tertarik dengan kami semua, tetapi aku bisa merasakan kalau sebenarnya Riri-sensei adalah orang yang sangat baik hati.”
Seisi kelas memandangi Elder hingga yang dipandanginya jadi salah tingkah.
“A-a-apa aku s-s-s-salah bicara…?!”
“Aku terharu dengan kata-katamu Elder-chan…”
Riri malah banjir air mata hingga Elder makin salah tingkah.
“I-itu hanya kata-kata saja… sensei sudah banyak merubah kami disini…”
“Terutama merubah cara pandang kami.”
Yang selanjutnya adalah Iris. Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan bicaranya.
“Riri-sensei…aku merasa menyesal saat menantangmu bertarung saat itu. Padahal aku sendiri tak bisa menggunakan roh bungaku dan melawanmu dengan sembrono. Aku terlalu meremehkanmu dengan cara pandangku yang hanya melihat sekilas saja. Riri-sensei, aku benar-benar berterima kasih padamu.”
Setelahnya Iris membungkukkan badannya memberi hormat. Riri yang melihatnya tersenyum.
“Yosh berarti sudah diputuskan ya! Sebelum itu…hm, karena ini adalah yang pertama kalinya bagiku, adakah yang mau menjelaskan tentang turnamen sihir ini?”
Seorang siswi mengangkat tangannya dengan ragu, hingga akhirnya dia pun menjelaskannya.
“Turnamen sihir antar kelas adalah acara yang diadakan setiap satu tahun sekali untuk merayakan kelulusan dari para senior yang telah menyelesaikan pendidikannya di akademi. Tujuan dari turnamen ini adalah untuk menguji skill masing-masing kelas sebelum naik ke tingkatan sihir yang lebih tinggi.”
“Turnamen sihir ini terdiri dari 3 babak. Pertama adalah uji ketangkasan. Masing-masing kelas dibagi menjadi beberapa tim untuk memecahkan suatu teka-teki tertentu dan mengumpulkan poin tertinggi. Kedua adalah uji kemampuan sihir. Masing-masing peserta menunjukkan kemampuan sihir terbaiknya yang dapat memukau para juri. Terakhir adalah babak duel satu lawan satu. Tim yang masih bertahan hingga akhir dialah yang menjadi pemenangnya.”
Riri mengangguk-angguk. “Hmm…jadi begitu…baiklah sudah diputuskan! Akan kubuat kalian menang dengan kelas khusus dariku!”
Dengan semangat membara, Riri mengangkat jari telunjuknya, menggerakkannya ke seluruh penjuru kelas.
“Itu mustahil, sensei...”
“Kami selalu gagal...”
“Walaupun diajari oleh guru sepertimu, sensei...”
“Hei! Gak akan ada yang tahu kalau gak dicoba! Lagipula latihan khusus dariku ini menyenangkan lo, dijamin kalian takkan bosan!”
“Huh?”
Semua siswi hanya saling bertatapan. Riri kembali ke dalam kelas setelah membawa suatu kotak aneh berukuran sedang.
“Nah, inilah pelajaran pertama, dan kalian pasti akan menyukainya!”
“Kotak aneh apa yang kau bawa itu?”
Pertanyaan dari Amaryliss membuat Riri tersenyum percaya diri.
“Ini adalah kotak yang aku modifikasikan sendiri, kotak istimewa milik Riri Hanamizuki yang tampan—”
“Lalu untuk apa kotak itu?”
“Teleport!”
Suasana hening.
“Riri-sensei, kau bilang apa tadi?”
“Yap, ini adalah kotak teleport!”
“Sensei! Teleport adalah sihir tingkat tinggi! Mana bisa kami yang masih kelas satu melakukannya!?”
Beberapa siswi tampak berdiri dan protes, protes yang tidak begitu yakin sebenarnya.
“Ckckck, kalian ini, dengerin dulu dong sampai aku selesai bicara…”
Riri membuka kotak berukuran sedang itu. Didalamnya kosong tak ada apapun. Hanya saja bentuk kotak itu memang aneh. Bukan berbentuk segi empat, melainkan segi 6.
“Ini adalah kotak istimewa yang kutemukan di gudang peralatan saat aku tak sengaja lewat kesana. Beberapa siswi disini bilang kotak ini bekas pentas drama beberapa tahun lalu yang sudah usang. Aku tertarik dengan bentuk segi 6 nya yang aneh. Makanya aku pungut deh—”
“Sensei! Cepat beritahu apa guna kotak itu!”
“Aish, sabar dong. Kotak ini telah kuberikan sihir. Kalian menganggap kalau sihir teleport itu sihir tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan oleh senior saja kan? Tapi kotak ini bisa menjadi perantara kalian untuk melakukannya.”
“Eh?”
“Perantara?”
“Kalian belum paham ya? Ternyata aku memang gak bakat mengajari orang—baiklah, begini, aku praktekan saja langsung! Perhatikan baik-baik ya—”
Namun tiba-tiba saja keseimbangan tubuh Riri goyah, dia hampir menjatuhkan kotak segi 6 itu yang ditaruhnya di atas meja.
“Sensei?!”
“Kau baik-baik saja?”
Riri menatap sekilas telapak tangannya yang agak bergetar, dan pandangannya yang sedikit berkunang-kunang.
“Master, kau tak apa-apa? Kau terlihat tidak sehat.”
“Ahahaha maaf ya! Kukira tadi ada nyamuk yang mau masuk ke kotak ini ternyata bukan! Ahaha!”
Melihat senyum lepas dari gurunya itu membuat seluruh siswi dikelasnya jadi ikut tertawa sekaligus kesal. Kesal yang beda kali ini.
“Master?”
“Tidak apa-apa, mungkin aku hanya kurang tidur.”
“Kau yakin?”
Riri dan Camelyum saling berbicara lewat telepati.
__ADS_1
“Baiklah perhatikan baik-baik kotak ini.”
Selang beberapa detik, tiba-tiba saja tubuh Riri menghilang! Lalu dia muncul dari dalam kotak segi 6 itu.
“Eh?! Kok bisa berpindah seperti itu?!”
“Kau tidak melakukan tipuan kan, sensei?!”
Riri sedikit tertawa. “Hei, walaupun perantaranya benda aneh seperti kotak ini, tetapi aku bukan pesulap! Aku hanya guru magang yang mendadak popular. Hoho~”
Lagi-lagi kepedean tingkat tinggi Riri membuat beberapa siswi mendengus.
“Baiklah kalian mau coba? Mudah lo—”
“Bagaimana cara melakukannya?”
“Oh iya ya, aku gak punya bakat mengajari, haduh—”
“SENSEI!!”
“Baik baik! Sebelumnya aku ingin ada satu orang yang memberi contoh. Bagaimana kalau kau saja, si galak?”
Riri menunjuk Amaryliss yang sedang serius memperhatikannya, lantas saja dia kaget.
“E-eh?! Kenapa aku?! Bukankah kau sendiri tak bisa mengajarinya?”
“Kau ikuti saja instruksiku, kau ingin membuat teman-temanmu percaya lagi sepenuhnya padamu kan?”
Amaryliss melihat sekeliling, beberapa siswi memang masih memandangnya sinis karena kejadian waktu itu, saat dia tak sengaja keceplosan tentang ilmu pelajaran sihirnya yang tidak dibagikannya ke teman-teman lain.
“B-baiklah…”
“Sekarang, kau bayangkan seluruh tubuhmu ada didalam kotak ini secara mendetail, sambil bergumam kata move.”
Riri mengetuk kotak segi-6 di sebelahnya sambil masih memandangi Amaryliss.
“Membayangkan tubuhku ada didalam kotak itu?”
“Seperti aku tadi yang tiba-tiba muncul di kotak ini.”
Amaryliss terlihat gugup. Baru pertama kali ini dia merasa segugup itu dalam hal pelajaran.
“Riri-sensei, aku—”
“Percaya diri aja! Cepat lakukan!”
Amaryliss menarik napasnya dan memejamkan mata. Mencoba berkonsentrasi.
“Mop—”
Hening.
Tubuh Amaryliss masih pada tempatnya.
“Loh?”
“Eh!?! D-dimana sarung tanganku?!”
Amaryliss menyadari kalau sarung tangan kanannya hilang.
“Kok jadi tiba-tiba ke sarung tangan?”
“Ckck, sayang sekali, konsentrasimu masih belum bagus, dan lagi tadi kau salah bergumam.”
Riri memasukkan tangan kanannya ke dalam kotak segi-6 itu dan mengangkat sebuah sarung tangan dari dalamnya.
“Ini punyamu kan?”
“Eh!?”
Sarung tangan yang dipegang Riri memang milik Amaryliss, karena warnanya yang berwarna pink dan bercorak bunga.
“Yang tadi kau katakan juga bukan move, tapi mop. Beda kata beda arti.”
Riri menulis dengan besar kata MOVE dipapan tulisnya.
“Seperti yang barusan kukatakan, latihan khusus pertama untuk memenangkan turnamen sihir adalah latihan teleport perantara ini. Jika kalian bisa menguasainya, kalian memiliki potensi untuk melakukan teleport dengan jarak yang lebih jauh. Bayangkan secara mendetail tubuh kalian berada di kotak ini, dengan konsentrasi penuh dan ucapkan kata move dengan benar. Ada lagi yang mau coba?”
Beberapa orang siswi berdiri. Riri menunjuk salah satu dari mereka, yaitu Iris.
“Bagaimana, Iris?”
“A-akan kucoba”
Gadis itu menutup matanya. Lalu mulutnya berucap move. Sayangnya konsentrasi Iris masih belum cukup. Hanya pita rambutnya saja yang berpindah ke kotak segi-6 itu.
“Ah…gagal…”
“Apa?! 2 hari!? Sensei! Turnamen sihir akan dimulai satu minggu lagi! Mana bisa kami punya waktu sesingkat itu untuk latihan?!”
“Tenang sajalah, jangan remehkan pelatihan khusus dariku ini.”
Tatapan Riri berubah meyakinkan.
“Pokoknya akan kubuat kalian semua menang dengan usaha kalian sendiri, tentunya dengan keyakinan yang kalian punya juga.”
“Sensei…kenapa kau begitu bersungguh-sungguh membuat kami menang dalam turnamen sihir itu?”
Pertanyaan dari Elder membuat seisi kelas menjadi hening kembali. Riri tersenyum singkat ke arah gadis berambut pirang itu.
“Yah…aku ini hanya guru magang yang kurang pengalaman, tetapi setidaknya, aku ingin berbagi ilmu yang kupunya walaupun sedikit, itu kan salah satu jenis kebaikan bagi sesama manusia. Terutama diantara guru dan murid. Ehehehe—”
Jawaban Riri hampir membuat seisi kelas tercengang. Kedatangan guru yang malas, bodoh, bahkan tak bisa mengajari merupakan suatu kebetulan yang mengubah kelas 1 sihir bunga ini.
“Riri-sensei, kedatanganmu kesini memang membuat kami berubah sedikit demi sedikit. Terima kasih banyak.”
Beberapa siswi juga ikut memberikan senyuman padanya. Riri mulai merasakan adanya semangat untuk menang.
“Jadi, ada yang mau coba lagi?”
...****************...
“M-Master?! Ada apa dengan matamu?!”
“Eh..yah..hhe…semalam aku begadang mencari sesuatu…”
Camelyum terkejut melihat lingkaran hitam dikedua mata Masternya. Dengan segera ia mengambil kompresan es dan diberikan pada Masternya itu.
“Kenapa tidak meminta bantuanku saja sih? Apa yang kau cari semalaman?”
“Metode selanjutnya dari latihan khusus untuk turnamen sihir yang akan diadakan 3 hari lagi. Babak pertama adalah uji ketangkasan memecahkan suatu teka-teki. Setiap kelas akan dibagi menjadi perwakilan 5 orang. Nah aku sedang mencari metode agar mereka bisa dengan tenang melewati ujian itu. Karena aku menganggap kerja sama antar sesama di kelasku itu masih kurang.”
“Jadi Master mau cari metode kerja sama yang mudah dipraktekan?”
“Sejenis itulah…ternyata jadi guru susah juga ya…”
“Kau tak perlu memaksakan diri begitu… lihatlah, ada rambut hitam di sela-sela rambut putihmu seperti aku.”
“Hah!?”
Riri buru-buru berlari ke kaca dan melihatnya, memang ada beberapa helai rambut hitam dikepalanya.
“Ahem, kalau orang pintar biasanya beruban alias rambut putih, maka orang tampan akan memiliki uban berwarna hitam. Itulah aku. Heheh—”
“Kepedeanmu itu harus diperbaiki sedikit, Master...”
“Yosh, aku akan mencoba metode yang sudah kupilih—”
Lagi-lagi keseimbangan tubuh Riri goyah dan Camelyum langsung menangkap tubuhnya sebelum Masternya itu tersungkur ke lantai.
“Master! Kau baik-baik saja?!”
“Eh… Mungkin aku memang kurang tidur ya…”
Camelyum membantunya kembali ke tempat tidur. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi.
“Jadwal mengajarmu kan pukul 10 pagi, kenapa terburu-buru?”
“Karena aku ingin uji coba dulu sebelum mempraktekkannya didepan mereka nanti…”
“Kau memang pekerja keras ya…Master...”
“Heh? Masa?”
“Walau terkadang kau mengabaikan keadaan tubuhmu sendiri…”
“Yah…um…”
“Kau juga tak ingin membuat murid-muridmu khawatir kan? Istirahat juga merupakan tugas seorang guru. Bukankah kau bilang ingin mengandalkan busterku?”
“Itu memang benar, dan lagi aku masih penasaran dengan petunjuk lain kasus 10 tahun lalu itu. Camelyum, bangunkan aku jam 9 nanti ya, kurasa aku memang kurang tidur.”
“Baiklah, Master.”
Riri kembali memejamkan matanya, walau sebenarnya ia tak biasa bangun siang. Entah kenapa kali ini tubuhnya terasa berat.
***
“TELAT TELATT!! CAME! PAKE SIHIR TELEPORTMU SEPERTI WAKTU ITU DONG!”
“Maaf Master, untuk saat ini tidak bisa, karena kau sedang tidak terancam bahaya.”
“HAH?! AKU KAN LAGI TERANCAM BAHAYA DIBUNUH CARNATION-SENPAI GARA-GARA TELAT!”
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa, Riri berlarian menuju akademi Hanatarou yang jaraknya masih beberapa puluh meter lagi.
“Kalau begitu Master bisa menaiki kereta agar lebih cepat.”
“Ah enggak enggak! Aku belum gajian tahu!”
Riri semakin mempercepat larinya hingga terdengar bunyi ‘bwussh’.
“Master! Hati-hatilah!”
“Ini salahmu sih kenapa aku gak dibangunin?! Kita telat setengah jam ini!”
“Kau terlihat lelah sekali, jadi aku tak tega membangunkanmu”
“Ahh sudahlah!”
Akhirnya Riri tiba di akademi tepat sebelum gerbang besarnya tertutup. Dia segera membungkuk meminta maaf pada penjaga gerbang yang juga seorang wanita (ingat, tak ada satupun pria di akademi itu kecuali Riri termasuk staff di akademi.)
“Untung saja masih sempat… hei Came, lain kali bangunkan aku lebih awal deh! Turnamen sihir sudah dekat, dan aku harus segera—”
Langkah Riri terhenti saat hendak masuk ke ruang kelasnya. Dia melihat semua muridnya bergumul didepan kotak istimewa miliknya. Mereka terlihat sedang mencoba sihir teleport yang kemarin diajarkannya.
“Move! Ahh gagal lagi!”
“Percuma saja! Ini sihir tingkat tinggi tahu!”
“Tapi Riri-sensei bilang ini latihan khusus untuk turnamen sihir nanti!”
“Kau lihat, bahkan si jenius Amaryliss saja tidak bisa melakukannya!”
“Pokoknya ayo coba lagi!”
Riri hanya mengintip dari balik kaca jendela kelasnya. Terkikik geli.
“Mereka benar-benar kesulitan ya…”
“Kau tidak ingin membantu mereka?”
“Yah… aku mau bantu kok… aku jadi kepikiran sesuatu setelah melihat mereka berjuang sampai segitunya.”
“Hm?”
“Ahh sudahlah! Ini susah banget! Aku nyerah!”
“Wah wah, kalian masih kesulitan ya?”
Akhirnya Riri membuka pintu ruang kelasnya dan menghampiri anak muridnya yang tampak putus asa.
“Itu karena sensei tidak mengajari teknik yang mudah kami kuasai!”
Riri menghela napas pendek. “Kan aku sudah bilang…aku ini gak ada bakat mengajari—”
“TERUS KENAPA SENSEI NGAJARIN SIHIR TELEPORT SEPERTI INI?!”
Riri hanya nyengir ketika beberapa muridnya terlihat kesal padanya.
“Iya iya deh… jadi sampai sekarang, belum ada yang bisa mempraktekkan sihir teleport ini?”
“Siswa sejenius Amaryliss saja enggak bisa! Apalagi kami yang hanya orang biasa-biasa saja!”
“Hmm…begitu …”
“A-anu…”
Seorang gadis berambut pirang mengacungkan tangannya dengan malu-malu.
“Ya? Elder?”
“S-sebenarnya aku bisa melakukannya….”
Riri terkejut. “Benarkah!? Perlihatkan dong perlihatkan!”
Sebelum Riri mendapatkan jawaban dari Elder, gadis itu sudah berada didalam kotak istimewa milik Riri. Dia benar-benar berhasil teleport.
“Woah keren banget! Elder-kun!”
Riri bertepuk tangan dan langsung saja wajah Elder memerah.
“Nah kalian lihat? Elder saja bisa melakukannya, jika dia bisa, maka kalian juga bisa—”
“Elder-chan! Bagaimana caramu melakukannya?!”
“Beritahu kami!”
“Kami juga ingin bisa!”
Langsung saja hampir semua siswi menghampiri Elder dan dengan sukses mengabaikan Riri dibelakang.
“A…aku dicuekin…”
“Sensei.”
“Huh?”
Terlihat Iris menyenggol-nyenggol lengan Riri dan memandangnya dengan malu-malu.
“Kenapa? Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Anu…sebenarnya roh bungaku yang waktu itu…”
“Kenapa?”
“Aku ingin sensei mengajarkan lebih banyak lagi untuk menguasainya…”
Amaryliss yang tidak sengaja melihat Iris dan Riri saling berbicara, melayangkan tatapan jengkel.
“Baiklah sensei…”
“Oke? Nah semuanya! Ada yang harus kuberitahu mengenai turnamen sihir babak pertama!”
Sayangnya semua siswi masih mengerubungi Elder dan tidak mendengarkan ucapan Riri.
“Haduh—”
“PERHATIAN SEMUANYA! RIRI-SAMA INGIN BERBICARA DENGAN KALIAN!”
Tiba-tiba terdengar seruan dari luar kelas hingga spontan membuat semuanya menoleh ke sumber suara.
“A-apa?”
“Apa yang dilakukan Alstromeria-san disana?”
Yang berseru memanglah Alstromeria, satu-satunya gadis yang menyebut Riri dengan panggilan ‘-sama’.
“Ah terima kasih ya Alstro-kun, aku terbantu sekali—”
“Seharusnya kalian semua lebih hormat didepan seorang guru! Apalagi jika itu adalah Riri-sama!”
Alstromeria masuk ke dalam kelas dan memandangi seluruh penjuru ruangan dengan tatapan kesal.
“O-oi, Alstromeria…”
“Riri-sama, jika membutuhkan bantuan lagi untuk ‘menjinakkan’ mereka, maka panggillah saja aku.”
“Me-menjinakkan?”
Riri jadi teringat saat pertama kali memasuki kelas ini. Riri sedikit tertawa mengingatnya.
“Sialan…aku jadi teringat masa lalu…”
“Sensei?”
“Ahem, baiklah, mumpung Alstromeria ada disini sebagai pasukan keamanan turnamen sihir—”
“Aku juga disini, Riri-san.”
“Woaa! T-Typha! Mentang-mentang badanmu kecil jadi suka muncul tiba-tiba begitu ah!”
“Maaf, Riri-san.”
Riri menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Semua yang ada disini adalah perempuan. Kok perasaanku agak aneh ya…
“Ahem, baiklah, aku memiliki informasi mengenai turnamen sihir babak pertama yang akan diadakan 3 hari lagi. Babak pertama adalah ujian labirin.”
Semua siswi saling bergumam sendiri hingga Riri melanjutkan kalimatnya.
“Carnation-senpai memberitahuku bahwa turnamen sihir di akademi ini akan selalu berbeda setiap tahun pelaksanaannya. Untuk tahun ini, turnamen babak pertama adalah ujian labirin. Akademi ini memiliki sebuah ruang dimensi sihir yang akan menjadi tempat pertama turnamen sihir tahun ini, yaitu labirin sihir. Masalahnya…”
Semua siswi menanti kelanjutan kalimat Riri sambil saling bergumam sendiri.
“Aku gak tahu persis seperti apa labirin itu.”
“Sensei!! Kalau gak tahu kenapa malah ngomong?!”
Amaryliss terlihat sewot, dan Riri hanya nyengir.
“Labirin itu—”
Dengan cepat Riri menepuk rambut Alstromeria hingga membuatnya berhenti membuka mulutnya.
“Baiklah, aku menemukan metode bagus untuk kalian yang sangat sulit bekerja sama. Maka buanglah jauh-jauh pemikiran kalian yang selalu pesimis itu dan ayo ikuti latihan khusus dari sensei kalian ini dan raihlah kemenangan!”
__ADS_1