Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 4: Alstromeria


__ADS_3

“Apa?! Meminta Riri Hanamizuki jadi anggota pasukan keamanan?”


“Ya…jadwal magangnya hanya 2 jam di kelas sihir bunga, setelah itu dia pasti akan keluyuran. Aku ingin memberikannya kegiatan dengan bergabung dengan pasukan keamanan.”


“Tidak, Nona Carnation! Sebagai ketua aku tak bisa mengizinkan!”


“Aku juga tidak mau, Nona Carnation.”


Serentak Typha dan Alstromeria menolak mentah-mentah saat Carnation berniat memasukan Riri kedalam pasukan keamanan.


“Sudah kuduga kalian pasti tidak mau.”


“Sudah jelas! Orang bodoh dan mesum seperti dia mana bisa jadi pasukan keamanan?!”


Carnation tertawa. “Kau dengar dari mana kalau Riri-kun mesum? Seingatku dia anak baik-baik…”


“Semua lelaki kan memang mesum Nona Carnation!!”


“Alstro-san, tolong kecilkan suaramu.”


Typha menyenggol lengan Alstro karena dia berbicara terlalu keras. Begitu menyadarinya Alstro langsung menunduk.


“M-maaf Nona Carnation, aku hanya—”


“Besok aku akan memberi tahu Riri tentang pasukan keamanan. Kalian berdua bersiaplah untuk menyambutnya. Mengerti?”


Muka Alstromeria memerah menahan jengkel, sedangkan Typha tetap tenang dan hanya mengangguk.


“Dimengerti, Nona Carnation.”


***


“Hoaaamm~”


Aku benar-benar bosan. Gak ada hal yang menarik selama aku mengajar di akademi itu, dan lagi setiap hari ditatap dengan tatapan membunuh seperti itu siapa yang tidak bosan?


Tetapi aku masih penasaran. Oreanda dan gadis yang namanya Foxglove kemarin itu. Mereka berdua mencariku. Apa tujuan mereka? Apa mereka berencana memecah kembali perang antar ras waktu 5 tahun yang—


DEGH


Aku memegang kepalaku. Rasanya sakit saat aku mengingat perang mengerikan itu.


Perang yang membuatku jadi sebatang kara seperti ini. Hanya Carnation-senpai satu-satunya yang menemaniku selama ini walaupun kami berbeda ras.


Tidak mungkin. Aku tak ingin perang mengerikan itu pecah kembali dan ribuan orang tak bersalah akan berjatuhan menjadi korban lagi.


Tidak.


Itu mengerikan. Ingatan yang ingin kubuang jauh-jauh.


Makanya kulangkahkan kakiku mengikuti arah angin. Hingga sampai kesini.


Takkan kubiarkan lagi.


“Roh pedangku…belum bangkit juga ya…”


Aku mengangkat telapak tanganku ke langit. Membiarkan cahaya matahari menembus sela-sela jariku.


Roh pedang. Atau roh bunga.


Mereka akan berbentuk seperti apa?


Kenapa hanya aku yang—?


“Riri-sensei!”


“Whoaaa kau mengagetkanku!”


Aku terlunjak saat ada yang meneriaki namaku, ternyata itu si cewek galak dan sahabatnya Elder.


“Selamat pagi, sensei.”


“Ahh, pagi juga. Apa yang kalian lakukan pagi-pagi begini dan kenapa ada disini?”


Wajah si galak atau Amaryliss memandangku tidak suka. Anak itu sampai kapan mau memandangku begitu?


“S-sensei sendiri apa yang kau lakukan disini? Apa tak ada hal lain yang bisa kau lakukan seperti mempelajari sihir bunga baru untuk diajarkan pada kami!?”


Aku terkekeh mendengar semprotan si galak. Memang benar selama ini aku baru mengajarkan beberapa sihir pertahanan yang mudah, dan aku menekankan mereka untuk mengembangkan sihir pertahanan Lilac.


“Oh ya…kurasa aku bisa mengajarkan sihir baru pada kalian siang nanti.”


“Benarkah sensei!?”


Elder terlihat bersemangat, dan si galak wajahnya memerah.


“Kurasa aku bisa menyesuaikannya sedikit dengan pemikiran kalian yang masih dangkal”


“Sensei! Tega sekali berkata seperti itu pada muridmu sendiri!”


Si galak langsung sewot sambil menggembungkan pipinya marah.


“Ahh si galak, tak perlu marah, karena kau memang masih memiliki pemikiran yang dangkal.”


Aku mengacungkan buku ‘benih yang tak pernah ada’ dihadapannya, tepatnya itu adalah buku yang waktu itu dijatuhkannya saat pertama kali bertemu denganku.


“Ah! Buku itu!”


“Mulai hari ini, aku takkan mengizinkan kalian membaca buku seperti ini. Masih banyak buku yang lebih baik dari ini.”


Aku memberikan buku itu pada si galak dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Ya. Masih banyak buku yang lebih baik daripada itu.


***


Membawa masuk Riri hanamizuki kedalam pasukan keamanan?


Mau bagaimanapun, perintah Nona Carnation memang tak bisa ditolak, tetapi kenapa harus dia? Apa yang direncanakan Nona Carnation sebenarnya membawa orang aneh seperti dia ke akademi ini?


Dan lagi, dia terlihat tidak bisa diandalkan.


“Kau kenapa, Alstro-san?”


“Aku masih tidak ingin menerima keputusan Nona Carnation memasukkan Riri Hanamizuki ke dalam pasukan keamanan!”


“Aku juga gak mau.”


“Kalau begitu ayo kita protes sekali lagi padanya, Typha-chan!”


Gadis bertubuh lebih pendek itu menggeleng cepat.


“Kenapa?!”


“Aku memang tidak mau, tetapi aku juga penasaran dengannya.”


“Eeh?!”


“Hm, itu orangnya kan?”


Aku menghentikan langkahku dan cepat-cepat menarik Typha menjauhi jendela. Jendela perpustakaan.


Benar, anak laki-laki itu, maksudku guru aneh itu ada disana. Jadi dia benar-benar seorang guru? Sedang apa dia di perpustakaan?


“Alstro-san, kenapa sembunyi?”


“Ssstt!”


***


“Baiklah, pelajari sihir ini dengan baik, mengerti?”


“Sensei! Apa kau tak ingin mengajari kami sihir penyerangan sama sekali!?”


Amaryliss lagi-lagi protes, ini sudah yang ke-10 kalinya dia protes pada Riri yang hanya terus mengajarkan beberapa sihir pertahanan selain sihir Lilac.


“Hei cewek galak, ini sudah yang ke-10 kalinya kau protes.”


Cerca Riri dengan senyum dipaksakan. Amaryliss membalasnya dengan muka ditekuk.


“Kalau sihir pertahanan seperti itu aku sudah menguasainya! Semua pelajaran sihir pertahanan yang kau berikan sudah pernah kupelajari, Riri sensei!”


“Sudah cukup Amary-chan…”


Riri mengerlingkan matanya pada Elder untuk tetap tenang.


“Kalau kau memang sudah pernah mempelajarinya, lalu kenapa kau tidak berbagi pada kami?”


Kata-kata Iris membuat Amaryliss mengalihkan perhatian padanya.


“I-itu…”


“Iris-san benar! Padahal kau sendiri tahu hanya Riri-sensei saja yang terus mengajarkan sihir pertahanan, kalau kau memang punya banyak pengetahuan, kenapa tidak kau bagikan pada kami? Dasar pelit!”

__ADS_1


Beberapa siswi lainnya ikut-ikutan menyudutkan Amaryliss, hingga membuatnya tak bisa berkata-kata.


“I-Itu!!”


“Amary-chan tidak ada maksud untuk pelit berbagi dengan kalian!”


Elder mencoba menengahi.


“Kalau begitu? Apa yang dia harapkan dengan mengikuti kelas sihir bunga ini kalau pelit berbagi? Kau mau mendapatkan benih itu sendirian? Dasar egois!”


“Sen--”


Saat Iris mengalihkan perhatiannya pada Riri, pria berambut perak itu malah tidur di mejanya.


“SENSEIII!!!”


“Aahahaha…pertengkaran para gadis selalu menarik. Aku jadi membayangkan kalian berubah jadi penyihir cilik, saling berseteru dengan pakaian yang imut-imut. Aahhh imut banget…”


“DASAR MESUM!!!!”


Spontan Amaryliss berteriak dengan muka memerah, lalu dia berlari dari kelas. Riri harus rela mendapat tatapan yang lebih mengerikan dibanding tatapan membunuh dari semua muridnya.


***


“Apa yang sedang dilakukan Riri Hanamizuki di perpustakaan?”


“Karena dia seorang guru, Alstro-san.”


“Sst!!”


Aku ingin tahu, seberapa banyak buku yang ada di perpustakaan akademi ini tentang benih itu?


“Perang tiada akhir, benih yang tak tertandingi, masa setelah perseteruan antar ras, sejarah—”


Riri tertuju pada sebuah buku yang berjudul ‘sejarah benih yang tak pernah terjadi’ lalu membukanya.


“Perang antar ras pertama untuk memperebutkan benih terjadi saat nenek moyang seluruh ras di dunia ini menyaksikan sebuah mimpi. Mimpi yang diprediksikan akan menjadi nyata. Semua orang saat itu percaya padanya karena dia satu-satunya pemimpin agung yang telah dipercaya oleh seluruh ras manusia di dunia ini.”


“Dia berkata akan ada suatu benih yang dapat mengubah dunia, yang dapat memekarkan seluruh ras didunia ini. Tanpa perang, tanpa kejahatan, semuanya hidup dalam damai. Benih itulah yang ia lihat dalam mimpinya. Dalam mimpinya dia melihat suatu kerajaan bunga yang beragam, berwarna, indah, tanpa ada satupun rumput liar disekitarnya. Hanya kerajaan bunga dengan beragam ras yang berbeda-beda menjadi satu.”


“Masing-masing ras memiliki roh bunga yang telah diwariskan secara turun temurun sebagai penerang jalan mereka, sebagai petarung dan pelindung mereka yang sudah tercatat di prasasti suci yang berbunyi ‘roh bunga, menjadi roh pedang nan agung. Setia pada tuannya, setia pada keluarganya, setia pada keinginan seluruh umat manusia. Roh abadi, tak terkalahkan, takkan mudah dijatuhkan, itulah roh bunga’.”


Riri menghentikan bacanya sejenak saat membaca kata ‘roh bunga’. Dia teringat bahwa roh bunga miliknya belum bangkit hingga 20 tahun ini.


“Jika semua ras memang memiliki roh bunga…lalu kenapa aku…?”


Riri menatap telapak tangannya. Lalu melanjutkan membaca bukunya.


“Roh bunga adalah roh pedang, berbentuk manusia, namun bukanlah manusia asli. Dia tetaplah hanya sebuah roh untuk melindungi tuannya dari ancaman bahaya demi mendapatkan kedamaian dengan mendapatkan benih. Dia akan bertarung melawan roh bunga lain demi mencapai tujuan tuannya.”


Riri menghentikan lagi bacanya.


“Jadi roh bunga…memang memiliki bentuk manusia…”


Riri mengingat roh bunga milik Iris tempo hari. Roh bunga milik Iris berwujud gadis cantik berambut biru berkilauan. Namun sayangnya Iris belum bisa mengendalikan roh bunga miliknya itu sepenuhnya.


“Roh bunga tak bisa langsung dikendalikan oleh tuannya. Dia harus terikat dengan sebuah sumpah melalui sebilah pedang yang akan muncul jika sudah saatnya. Selain itu perlu keahlian agar roh pedang bersedia menuruti perintah tuannya. Jadi roh pedang memang bukan hanya muncul begitu saja dan jadi pelayan tuannya.”


Lalu kapan roh pedangku akan muncul?


Riri menutup buku sejarah itu dan mengembalikannya lagi ke rak buku. Dia menghela napas dan menatap lagi telapak tangannya.


“Roh pedang…benih…perang antar ras…benar-benar mimpi buruk…”


Setelahnya dia pergi keluar dengan membawa salah satu buku dari rak perpustakaan.


Alstro yang sedari tadi bersembunyi akhirnya menampakan diri setelah Riri menghilang di belokan koridor.


“Buku apa yang dia baca? Kupikir semua laki-laki itu memang…bodoh.”


“Tapi dia tidak terlihat mesum, Alstro-san.”


“Aku tak bilang mesum, Typha!”


Alstro menggenggam gagang pedangnya dipinggangnya.


“Kurasa aku ingin menantangnya bertarung sebelum bergabung dengan pasukan keamanan kita.”


***


“Hoo…Foxglove dan Oreanda benar-benar tak bisa diandalkan ya?”


“Jika Tuan marah karena masih belum bisa membawa Riri hanamizuki kesini, kitalah juga yang kena!”


“Mereka berdua menghilang dalam dimensi yang dibuat oleh orang itu, apa mereka takkan kembali?”


“Aku gak peduli dengan mereka.”


Seorang pria berambut pirang berdiri dari kursinya dengan kasar. Menarik pedang yang ada di pinggangnya dengan amarah.


“Dasar para wanita memang tak bisa diandalkan! Itulah sebabnya organisasi kita takkan pernah bisa membawa Riri Hanamizuki kesini!”


“Tenangkan dirimu, Acacia.”


“Berisik pak tua! Kaulah yang harusnya diam!”


DAAKK!!


Pertengkaran terhenti saat seorang pria berambut merah bangkit dan memancarkan tatapan tajam yang mengerikan.


“Berhenti bicara atau kugorok lehermu, bodoh.”


Suasana hening kembali.


“Jadi siapa diantara kita yang akan mengamuk?”


“Aku saja.”


Pria berambut merah itu belum beranjak dari tempatnya. Dengan posisi yang masih berdiri dan pancaran sinar mata yang membuat seisi ruangan menjadi dingin.


“Warna putih itu mudah dinodai. Hanya saja kita perlu mencari cara yang tepat untuk membuat noda itu abadi.”


***


Apa sih yang sudah kukatakan?! Gara-gara Riri Hanamizuki, kata-kata yang tak ingin kukeluarkan jadi keluar semua!


Habis sudah hidupku di kelas sihir bunga. Takkan ada lagi yang mau menatapku.


Sama seperti waktu itu.


Saat aku diasingkan dari keluarga kerajaanku. Dari rasku. Padahal aku…


“Bodoh…bodoh...”


Buru-buru kuusap airmataku yang hampir menetes. Kedatangan orang itu ke akademi ini benar-benar membawa sial. Semua laki-laki memang pembawa sial.


“Kata-kata…yang tak ingin kuucapkan…”


Aku sudah lama memendam semua itu sejak lama. Sejak aku masuk akademi ini. Karena itulah aku termasuk siswi terpintar di kelas sihir bunga. Semua nilaiku tak pernah kurang dari standar.


Tetapi dengan semua keberhasilan itu, aku merasakan sesuatu yang sulit kugambarkan.


“Mulai hari ini, aku takkan mengizinkan kalian membaca buku seperti ini. Masih banyak buku yang lebih baik dari ini”


Aku menatap buku itu, ‘benih yang tak pernah ada’. Kata-kata Riri Hanamizuki kembali terbayang di benakku.


Sebegitu bencinyakah dia dengan benih? Apa yang membuatnya benci hingga seperti itu?


“Ketemu.”


Aku terkejut mendengar suara selain aku.


“R-Riri- sensei!”


Aku kembali memandang marah pada laki-laki itu. Wajahnya yang menyebalkan itu benar-benar membuat moodku makin buruk.


“Haah…anak-anak kelas sihir bunga itu memang suka keluar kelas ya? Waktu itu Iris, lalu sekarang kau. Untunglah kau baik-baik saja.”


“Apa maksudmu dengan--?”


Laki-laki itu duduk disebelahku. Dia membawa sebuah buku dan memperlihatkannya padaku.


“Aku sudah membaca ini dan sekarang aku sudah mengerti.”


“K-kenapa kau harus jadi seorang guru kalau kau ini bodoh sih!?”


“Maksudku mengerti disini bukan isinya.”


Riri-sensei berdiri dari tempatnya dan maju beberapa langkah. Saat itu langit masih terlihat cerah. Dia menatap ke atas.


“Hei cewek galak.”

__ADS_1


“Apa!?”


“Kau lihat burung itu, bebas kan?”


Dilangit memang ada beberapa burung merpati yang berterbangan dengan bebasnya.


“Memangnya aku gak punya mata?!”


“Aah memang cewek galak…”


Riri-sensei memperlihatkan wajah memelasnya yang menurutku menyebalkan. Dia mau apa sih mendatangiku saat aku sedang ingin sendirian!?


“Aku pergi saja!”


Sesaat aku akan beranjak dari tempat dudukku, raut wajah Riri-sensei sudah berubah, raut wajah dengan tatapan mata yang serius.


“Kenapa memandangku seperti itu!?”


“Apa yang kau ucapkan dikelas tadi tidak salah.”


“…?”


“Wajar kan…jika memiliki sifat yang pelit ilmu. Karena manusia pada dasarnya memang serakah.”


“…”


“Tetapi hanya disaat-saat tertentu saja kau bisa menyimpan ilmu yang kau punya dan enggan berbagi dengan orang lain.”


“Apa yang mau kau coba katakan, sensei?”


Angin sepoi-sepoi yang berhembus kala itu menggoyangkan rambutku. Terasa berbeda saat melihat rambut panjang di dahi Riri-sensei yang ikut terhembus angin secara perlahan.


Ah tidak, apa yang kupikirkan sih!?


“Seperti benih yang kalian sebut-sebut itu. Hanya tahu sejarah dan asal usulnya tanpa tahu seperti apa bentuknya, jasa apa yang telah dia berikan pada banyak orang. Sama sepertimu yang pelit ilmu. Kau pasti punya alasan kenapa menyembunyikannya. Jadi, dalam hal tertentu, terkadang kita memang harus pelit akan ilmu agar tidak membuat orang lain menjadi serakah.”


Aku tak bisa berkata-kata. Kalimat yang dilontarkan Riri Hanamizuki seolah mengunci mulutku.


“Agar membuat orang lain tidak malas untuk mencari tahu.”


Riri Hanamizuki berjalan melewatiku.


“Kembalilah ke kelas, urusan teman-temanmu biar aku yang urus, masih ada sisa 1 jam lagi sebelum jam makan siang~”


Aku membalikkan pandanganku, menatap punggung Riri-sensei yang perlahan semakin menjauh.


Ternyata didunia ini…ada laki-laki seperti dia.


***


“T-terima kasih, Riri-sensei…”


“Kau tahan juga temenan sama cewek galak begitu, Elder-chan…”


Gadis berambut pirang yang memberiku sekaleng jus tertawa kecil.


“Sebenarnya…dulu Amary-chan tidak begitu kok…dia jadi begitu semenjak…uh…semenjak kedatanganmu…sensei…”


“Begitu ya…”


Raut wajahku jadi suram. Ternyata datang kesini benar-benar membawa sial.


“T-tidak apa-apa kok sensei! Justru aku berterima kasih padamu karena bisa membuat Amary-chan seperti itu!”


“Kenapa?”


“Amary-chan adalah siswi terpintar di kelas sihir bunga… dia hanya menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, aku khawatir kalau dia takkan memiliki waktu untuk sekedar berlibur atau rehat sejenak dari belajarnya…”


Aku mengangguk-angguk. Kebanyakan belajar memang gak baik.


“Kalau kau sendiri, Elder-chan? Bagaimana pendapatmu mengenai benih?”


“Um…aku tak memiliki keinginan khusus…aku hanya ingin selalu bersama Amary-chan untuk membantunya…”


“Benarkah? Jadi kau tidak terlalu memprioritaskan untuk mendapatkannya?”


“Asalkan Amary-chan bisa mendapatkan benih itu…maka aku juga akan ikut senang mendengarnya…”


“Kalian sangat dekat ya?”


“Aku…aku banyak berhutang budi pada Amary-chan sebelum dia diusir dari kerajaannya…”


“Eh--”


“Riri Hanamizuki, ketemu kau.”


Tiba-tiba seorang gadis yang membawa sebilah pedang ditangan kanannya dan seorang gadis lainnya dibelakangnya menghampiriku.


“Kau cewek yang waktu itu menebas bahuku kan?”


Wajah gadis itu memerah. “L-lupakan saja! Aku pasti akan membuatmu menyesal masuk kesini!”


Aku meneguk habis jus yang dibelikan Elder lalu berdiri berhadapan dengan gadis itu.


“Menyesal? Hei nona kecil…sejak awal aku memang gak pernah mau masuk kesini tahu—”


Pandanganku tertuju pada gadis yang berada dibelakangnya. Kalau tidak salah dia yang hampir menusuk punggungku dengan pedang kecilnya.


“Mata perakmu itu takkan kulupakan.”


“Maafkan atas sikapku waktu itu, Riri-san.”


“Typha! Untuk apa kau minta maaf padanya!?”


“Tolong jelaskan maksud kita mencari Riri-san, Alstro-san.”


“D-diamlah dulu!”


Aku hanya melihat mereka dengan tatapan bingung.


“Riri Hanamizuki. Aku..aku menantangmu duel!”


Hening.


“HEEEE!? DUEELLLL!!!??”


“Kenapa kau berteriak begitu Riri Hanamizuki? Takut ya?”


Ah sial, harga diriku langsung terluka karena cewek ini.


“Aku gak takut.”


Bohong sih.


“Riri-san, sebenarnya kami kesini untuk memberitahumu kalau Nona Carnation memintamu bergabung dengan pasukan keamanan akademi Hanatarou ini untuk mengisi waktu senggangmu agar tidak keluyuran kemana-mana.”


“Typha! Jangan dulu dikasih tahu!!”


“Apa? Apa katamu tadi?”


Pasukan keamanan akademi ini? Itu sama aja bunuh diri! Dasar bodoh!


“Orang aneh itu menyebutku sering keluyuran ya… begitu?”


Kedua mataku berapi-api. Wanita itu benar-benar berbuat seenaknya padaku sampai-sampai ingin membunuhku dengan memasukkanku ke pasukan keamanan akademi. Ini seperti penjahat yang baru saja kabur dari sel!


“Beraninya menyebut Nona Carnation orang aneh! Hei Riri Hanamizuki! Kutantang kau duel! Jika aku menang maka kau tak boleh menginjakkan kakimu lagi disini!”


“Lalu kalau aku yang menang?”


“AKULAH YANG AKAN MENANG!! HEAAAAHHH!!!”


Dengan serangan langsung gadis itu yang kurasa tadi kudengar namanya Alstro, berlari dengan pedang di tangan kanannya.


“W-woi tunggu dulu dong!”


TAPP!!


Lagi-lagi sama seperti aku pertama bertarung dengannya, kuhentikan pedangnya dengan kedua tangan.


“Jangan sembrono begitu dong!”


“Terserah aku kan!? Lepaskan tanganmu dari pedangku!”


Ujung pedang gadis itu masih kudekap dengan kedua telapak tanganku, dan dia mulai berontak.


“Kubilang tunggu dulu!”


Pemberontakannya membuat sarung tangan yang kupakai dikedua tanganku tergores dan pedangnya berhasil lolos dari tanganku.


“HEAAAAHH!!”

__ADS_1


__ADS_2