
“A-apa yang terjadi disini?!”
“Ah Amary-chan! Kau tidak apa-apa?”
“Elder-chan? Apa yang dilakukan Riri-sensei dan Alstromeria?”
"Alstro-san menantangnya duel…”
“Hah? Riri-sensei kan tidak punya—?!”
“Jangan dihentikan, Amary-chan.”
Elder menahan tangan Amaryliss saat hendak berlari menghentikan duel itu.
“Kenapa!? Riri-sensei bisa—”
“Tidak apa-apa, aku percaya pada Riri-sensei.”
Riri benar-benar berduel dengan tangan kosong. Dia hanya mengandalkan ilmu beladirinya saja untuk menahan serangan bertubi-tubi dari pedang Alstro.
“Riri Hanamizuki! Cepat keluarkan roh bungamu!”
“Cerewet ah!”
“Kau akan kalah!”
Typha hanya menatap duel itu tak jauh dari mereka.
“Riri Hanamizuki, dia menarik.”
“HAAAAAA!!!”
TRANGG!!
Riri mengeluarkan sihir Bluebell, dan kali ini dia merubah bentuknya. Dia membuat sihir Bluebell yang dari bentuk asalnya sekumpulan bel kecil yang banyak menjadi sebilah tombak.
“Sialnya modifikasi ini takkan bertahan lama. Mana mau aku kalah dari cewek yang sembrono sepertimu!”
“Jangan pakai sihir!!”
“Ini bukan sihir!”
TRANGG!!
Alstro dan Riri saling berhadapan dengan pedang dan tombak yang beradu.
“Masuk ke pasukan keamanan sama saja dengan bunuh diri.”
“Masuknya kau kesini juga merubah segalanya!”
TRANGG!!!
Mereka saling terpental. Sihir tombak Bluebell Riri juga menghilang.
“Kau kalah, Riri Hanamizuki. Aku yang menang.”
Namun Alstro terkejut saat melihat raut wajah Riri yang lagi-lagi berubah.
“Wah…masuk ke akademi ini gak sial-sial juga…ternyata ada ya cewek sekuat dirimu.”
“Apa kau bilang?!”
“Aku ini memujimu lo, kenapa marah?”
Alstro agak kaget hingga tak sadar kalau kedua pipinya memerah.
“Baiklah karena kau begitu keras kepala, ayo kita lanjutkan saja duel ini sampai habis!”
“KYAAAAA!!!”
Perhatian mereka teralihkan ketika mendengar suara teriakan, suara yang berasal dari Elder dan Amaryliss.
“A-ada apa!?”
“Apa yang terjadi?!”
Tiba-tiba saja seluruh tempat yang mereka pijaki berubah. Tertutupi kabut hitam yang tebal.
“T-Typha!? R-Riri Hana--!?”
Begitu tersadar, Alstro sudah tak melihat Riri lagi dihadapan matanya.
“Sial, apalagi ini!?”
Disepanjang mata memandang hanya terlihat kabut hitam saja. Tak terlihat apapun. Riri mengeluarkan sihir cahaya di tangannya, namun belum beberapa detik sihir itu langsung mati.
“Apa-apaan ini? Kabut apa ini? Siapapun kau keluarlah!”
Tak ada jawaban. Kabut malah semakin menebal.
“Berbahaya, aku harus temukan mereka semua!”
SYATT!!
Benda tajam yang panjang menggores pinggul kanannya saat Riri mencoba berlari.
“Sial, menyerang dalam kabut seperti ini!?”
“Riri Hanamizuki, kau tak mau mengeluarkan roh pedangmu?”
“Siapa kau!? Cepat keluar!”
“Ayo kita bertarung secara jantan.”
“SIAPA ITU!?”
Sekuat apapun Riri berteriak, tetap tak ada sosok apapun yang muncul. Kedua matanya hanya terus mengawasi serangan yang akan datang mendadak lagi sambil memegangi pinggulnya yang luka.
“Kena kau!”
JRAAASSSH!!
Sebuah tombak melukai bahu Riri tanpa sepengetahuannya.
“S-siaalllll…dimana kau…!?"
“Masih tak mau keluar juga ya? Padahal sudah kulukai begitu.”
“ROH PEDANGKU TAKKAN KELUAR!DIMANA MURID-MURIDKU!? JANGAN PERNAH KAU SENTUH MEREKA SEUJUNG JARIPUN!”
“Maksudmu ini?”
Kabut hitam itu menipis, lalu memperlihatkan suatu benda panjang menyerupai kelopak bunga yang belum mekar. Kedua mata Riri terbelalak saat melihat Amaryliss, Elder, Alstro dan Typha terkurung dalam kelopak bunga berwarna merah legam.
“K-kau…apa yang kau lakukan pada mereka!?”
“Tenang sajalah, mereka gak mati kok.”
“KAAAUUU!!! KELUAR KAU SEKARANG!!”
“Aku akan keluar saat roh pedangmu juga muncul.”
Riri menggemeretakkan giginya marah. Dengan sembrono dia berlari sebelum kabut hitam kembali menebal.
“Dasar sembrono kau."
JRAASHH!!
Lagi-lagi serangan dadakan melukai bahu kiri Riri hingga dia tersungkur ke tanah.
“Ugh.......sial...... dimana kauuu.......”
“Bagaimana? Mau mengeluarkannya sekarang?”
Kabut hitam itu tetap tidak berubah. Riri membuka telapak tangan kanannya dan mengeluarkan sihir Bluebell lagi.
“Hoo…kau mau mempertahankan diri dari serangan dadakanku dengan Bluebell yang lemah begitu? Kau memang payah.”
“LEPASKAN MURID-MURIDKU!! MEREKA TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN SEMUA INI! KAU INGIN BERTARUNG DENGANKU KAN!?”
“Memang.”
Riri menghentikan larinya. Luka di kedua bahunya membuatnya tak bisa bergerak bebas.
“Tidak seru kalau gak ada sandera. Rasanya membosankan. Aku cukup terhibur melihat wajahmu yang putus asa begitu karena tak bisa menemukan jalan keluar dari kabut ciptaanku ini.”
Riri menggemeretakkan giginya geram.
“Kalau murid-murid cantikmu ini kubunuh salah satunya, bagaimana reaksimu ya?”
DEGH
Sihir pertahanan Bluebell Riri meluas, sehingga kabut hitam yang ada disekitarnya memudar, walau sedikit.
“Wow, tak kusangka sihir Bluebell bisa sekuat itu. Kenapa? Terusik ya?”
“Perlihatkan wajahmu, sialan.”
“Kau masih tidak mau mengeluarkan roh pedangmu?”
“Sudah kubilang takkan kukeluarkan.”
WUUSSHHHH
Serangan mendadak kembali muncul dengan bertubi-tubi. Tak hanya tombak, bahkan pedang dengan berbagai ukuran ikut menyerang secara brutal.
Sihir pertahanan Bluebell yang dipakai Riri tak bisa menahan seluruhnya, sehingga serangan dadakan senjata-senjata itu tetap melukai tubuhnya.
“Sialan…”
“Bagaimana serangan bertubi-tubi itu? Masih bersikeras?”
Kabut hitam itu sedikit memudar dan memperlihatkan sosok pria berambut merah legam. Dikanan dan kirinya dia menahan Alstro, Elder, Typha dan Amaryliss. Mereka semua terpejam dalam kelopak merah legam yang sama dengan warna rambut pemiliknya.
“K-kauuuu.....…”
Pria berambut merah itu merentangkan kedua tangannya dan bersiap mengeluarkan serangan bertubi-tubi lagi. Sihir Bluebell Riri juga telah mencapai batasnya hingga akhirnya menghilang.
“Jadi, mana yang kau pilih? Mati konyol atau bertarung denganku?”
Aku memang gagal.
Padahal aku sudah berniat untuk meluruskan jalan pikiran mereka.
“Benih itu enggak ada!”
Kalau aku gagal, untuk apa aku kesini?
“Baiklah kalau kau memang ingin mati konyol, aku akan membunuhmu perlahan!”
JRASSH JRASSHH JRASSHH!!
Serangan bertubi-tubi itu tak bisa dihindari. Hingga akhirnya Riri jatuh terkapar tanpa perlawanan.
“Ahh membosankan sekali.”
Pria berambut merah legam itu berjalan menghampiri Riri. Dia mengangkat wajah Riri, kedua matanya tidak menutup, hanya menatap kosong.
“Huh? Rupanya kau kuat juga karena tidak mati ya?”
__ADS_1
Kubunuh kau.
DEGH
“A-apa?!”
Senjata yang menembus tubuh Riri terlempar satu persatu, disekitar tubuhnya muncul cahaya yang menyerupai sihir Bluebell namun lebih kuat.
“Heheh…inilah yang kutunggu Riri Hanamizuki!”
Kubunuh kau.
Apa itu yang aku katakan?
Bunuh?
“Sensei!”
Siapa? Siapa yang memanggilku?
Dunia ini begitu berbeda bagiku sekarang. Aku mendapat panggilan ‘sensei’, padahal aku…tidak pantas menerimanya.
Sensei!
Aku ingin meluruskan impian mereka. Impian gadis-gadis seumuran mereka yang sesungguhnya. Bukan hanya untuk mendapatkan benih semata.
Lalu untuk apa aku juga menginginkannya?
“Untuk membangkitkan kekuatanku.”
Kekuatanku? Tidak. Aku bukan siapa-siapa. Tak punya kemampuan apa-apa.
Benih itu, saat kutemukan, akan kuhancurkan.
...***************...
Seorang pria berbadan tegap dengan mahkota emas dikepalanya terkejut begitu menolehkan pandangannya ke belakangnya.
Seluruh pasukannya tewas. Bahkan dia sendiri tak menyadari ada 2 bilah pedang yang menembus tubuhnya.
“Kau kalah. Menyerahlah.”
Pria itu menoleh lagi ke sumber suara lainnya. Seorang pria lain dengan mahkota dikepalanya berdiri dihadapannya. yang sama-sama penuh luka.
“Heh…kau sendiri…sudah babak belur begitu…”
Mereka berdua saling berhadapan. Hanya ditemani hembusan angin dingin yang menusuk kulit. Disertai aroma darah dan kematian dimana-mana.
“Sia-sia saja melanjutkan peperangan ini. Kau lihat itu? Semua pasukanmu mati konyol demi benih yang bahkan tidak tahu seperti apa wujudnya itu!”
Mereka berdua hanya bertumpu pada sebilah pedang karena sudah tak mampu lagi berdiri dengan kedua kakinya.
“Kau sendiri juga begitu…”
“Kau sangat menyedihkan.”
***
“YAA!! BEGITU!! BAGUS!! KELUARKAN SEMUANYA RIRI HANAMIZUKI!! AYO KITA MENARI SAMPAI KAKI TERPUTUS!!”
“Wahai roh pedang nan agung, engkaulah pelayanku, engkaulah abdiku, engkaulah tangan kanan dan kiriku. Layanilah aku. Buatlah aku mencapai tujuanku. Luruskanlah jalanku, singkirkanlah segala yang menghalanginya. Lindungilah apa yang harus kulindungi, bersihkanlah hati yang kotor dengan kesucianmu!!!”
BWOOOSSHHHH
Di hadapan Riri, muncul 2 bilah pedang. Pedang hitam dan putih. Riri menggenggam kedua gagangnya. Riri berlari menuju pria berambut merah itu yang telah menantinya.
“YAA!! BAGUS RIRI HANAMIZUKI!! INILAH YANG KUTUNGGU!!”
Namun arah lari Riri bukanlah mengarah pada pria itu, melainkan ke arah murid-muridnya yang disandera di kelopak bunga. Dia membebaskan mereka ber-4 dengan sekali tebasan hingga berhasil lolos. Setelahnya Riri membuat sihir Lilac disekeliling mereka, lalu berlari lagi menuju si pria berambut merah tadi.
“Ho…sempat sempatnya kau menolong mereka, padahal aku bunuh saja tadi mereka semua.”
“HEAAAAAAHHHHH!!!!!!”
Dengan sekuat tenaga Riri beradu pedang dengan pria berambut merah itu. Orang itu malah tersenyum senang.
“Sudah lama…sudah lama…SUDAH LAMA TAK KURASAKAN SENSASI INI!”
Pedang hitam Riri, terselubung kelopak bunga Camellia disekitarnya, membuat udara disekitarnya dingin, dan pedang putihnya, pedang Lilium terselubung cahaya yang menyilaukan. Namun tampaknya pria berambut merah itu sama sekali tidak gentar.
“PEDANG IXORA INI TIDAK SELEMAH YANG KAU KIRA!!”
Pria itu mengeluarkan seluruh mananya hingga membuat seluruh tubuhnya beserta pedangnya terselubungi cahaya merah. Diatas kepalanya muncul ratusan tombak yang bersiap menyerang kapan saja.
“Heh…roh bunga Ixora memiliki kelopak yang berjumlah banyak, dan kelopak itu akan menggores dan menumpahkan seluruh isi perutmu Riri Hanamizuki!!”
“Camellia, Lilyum.”
“?!”
Kedua pedang Riri mengeluarkan jumlah mana yang tak kalah banyak dengan si merah itu, malah lebih banyak darinya.
“Kekuatan macam apa itu?!”
“CAMELYUM BASSSUUTTTOOOOOOO!!!!!!!!!”
DHOOOMMM!!!!!!
***
“Bohong...”
Aku merasakan getaran dikulitku. Riri Hanamizuki…dia…kenapa dia tak pernah mengatakan apapun sebelumnya mengenai kekuatannya yang dahsyat ini…?
Sensasi ini…mengingatkanku padanya…yang sudah tidak bisa kutemui lagi…
“Alstro-san…?”
Gadis kecil itu mengangguk. Dia juga ikut menyaksikan ledakan besar itu. Kabut hitam yang tadi terus menghalangi juga perlahan menghilang.
“Kakak…”
Ya, sosok itu, seorang kakak yang tewas demi aku.
Aku bahkan tak tahu apakah saat itu dia membenciku atau tidak. Karena senyum terakhir yang dia berikan padaku sebelum ajal menjemputnya.
“Alstro-san, Riri-san bukanlah kakak.”
“A-aku tahu…”
Aku menggigit bibirku, aura dingin yang menusuk kulit ini…benar-benar sama persis saat kakak bertarung dengan…orang itu.
“Riri-sensei!?”
“Jangan Amary-chan…jangan keluar dari sihir ini…”
“Tapi…tapi Riri-sensei!!”
Ledakan itu terhenti, namun kabut hitam masih menyelubung walau tak setebal sebelumnya.
“Kalau…aku melawan roh pedang sekuat itu…aku pasti sudah kalah sejak tadi…”
Aku menggenggam erat roh bungaku. Ya, roh bungaku tak ada apa-apanya dengan kekuatan roh bunga sedahsyat itu. Dia hanya terus menggunakan kemampuan bela dirinya saja untuk menahan seranganku saat berduel.
Tapi apa alasannya dia tak pernah mengeluarkan roh pedangnya? Padahal semua orang di akademi ini…selalu membawa roh pedangnya kemanapun.
Melihat semua ini, Riri Hanamizuki, dia berbeda dengan laki-laki yang menyerang akademi saat itu. Dia pengecualian, dia sama sekali bukan orang jahat.
“Ah, sihir Lilacnya lenyap.”
Kabut hitamnya juga lenyap. Apa ini semua sudah selesai?
“RIRI-SENSEI!!”
***
“Khukhukhukhu…tak kusangka, kau memiliki 2 jenis roh pedang…Riri…Hanamizuki…aku sangat beruntung…menjadi orang pertama yang melawan dua pedang itu!”
“Katakan apa tujuanmu datang kesini?”
Pria berambut merah itu terkapar, dan Riri mengarahkan salah satu ujung pedangnya tepat di depan dahi orang itu sehingga jika bergerak sedikit saja, maka ujung pedang Riri akan menggores dahinya.
“Jika saatnya tepat, kau akan tahu sendiri, khukhukhu......”
“...”
Ujung pedang Riri menggores sedikit dahi orang itu hingga setitik darah muncul darinya.
“Sebelum kita berpamitan, ingatlah namaku ini, Ixora yang agung, ingatlah nama itu dan kita akan berduel lagi!”
Pria bernama Ixora itu lenyap dalam dimensi. Kabut hitam juga lenyap sepenuhnya. Kembali disinari oleh cahaya matahari sore yang saat itu sudah memasuki senja.
Takkan lagi.
Perang yang takkan kubiarkan terulang lagi.
BRUUUK
***
“Jadi begitu…”
"…Nona Carnation...”
Alstro dan Typha saat itu menceritakan apa yang terjadi pada Carnation di ruangannya.
“Apa Anda…tidak keberatan…untuk menceritakan sedikit tentang…Riri Hanamizuki?”
Carnation memandang wajah Alstromeria yang berbeda dari biasanya, lalu tersenyum.
“Melihat sesuatu darinya ya?”
“Dia…dia mengingatkanku pada…kakak…”
“Aku juga tak banyak tahu mengenai anak itu… aku bahkan tak tahu kalau dia diincar.”
“Aku percaya pada Riri-san, Nona Carnation.”
Kata-kata Typha membuat Carnation menoleh padanya.
“Kau juga melihat sesuatu darinya Typha-chan?”
Typha mengangguk.
“Baiklah, tugas kalian sekarang adalah mengungkap siapa yang sedang berusaha mengincar Riri. Sebagai anggota pasukan keamanan akademi Hanatarou, tetap pertahankan profesionalitas kalian dalam bertugas. Mengerti?”
“Dimengerti, Nona Carnation.”
***
Tak ada lagi perang.
Sudah cukup.
Jangan ada korban lagi.
“Kau sendiri membuat pasukanmu berkorban kan? Raja macam apa kau ini?”
“Benih itu, harus kulenyapkan”
__ADS_1
“Uh…uwaah!!”
Mimpi…ya?
Mimpi yang benar-benar aneh.
Kenapa ada raja dalam mimpiku dan apa maksudnya itu?
“Uh…dimana ini…?”
Aku menyadari kalau aku berada di…eh?!
“Eh?! D-dimana ini?!”
Ini bukan UKS! Mana mungkin ruang UKS akademi Hanatarou segede kamar hotel begini?!
“S-sakit…”
Ini. Di rumah sakit. Benar.
Aku memegangi pinggulku. Seluruh tubuhku diperban. Apa aku terluka parah? Lebih tepatnya setengah ingatanku kabur setelah kejadian itu.
Aku melirik ke sebelah kananku. 2 bilah pedang. Berwarna hitam dan putih.
“Pedang itu…”
Aku ingat, roh pedangku telah bangkit, dan…
“Tunggu, aku…aku punya 2?! 2 roh pedang!? Kok bisa!?”
Sial. Ingatanku benar-benar menghilang setelahnya.
“Master?”
“Eh?”
Aku mendengar suara selain diriku. A-apa ada orang lain disini?
Aku melirik ke sebelah kiri. Ada tirai. Apa mungkin disitu ada orang?
“Bohong kan…”
Dengan gemetar, tangan kiriku mencoba meraih dan menyibak tirai itu.
“Aah!!”
Syukurlah, ternyata gak ada orang.
“Kupikir ada o—”
“Master, tolong jangan banyak bergerak dulu”
“Heeeehh!!!??”
Betapa kagetnya aku, seorang gadis cantik tiba-tiba muncul didepanku!!
“K-kau siapa!!!?”
“Aku roh pedangmu, Master.”
“K-kau?”
Gak mungkin, aku gak pernah membayangkan kalau roh pedangku secantik ini!
“K-kau pasti salah masuk kamar kan? Iya kan?”
“Tidak, aku sudah berada disini sejak Master masuk ruangan ini.”
Warna rambutnya yang hitam dengan kombinasi segaris demi garis warna perak. Warna matanya juga hitam legam namun terlihat menyejukkan. Wajahnya yang kecil serta gaun panjang yang dipakainya…terdapat simbol bunga Camellia dan Lily. Dia memang roh pedangku. Lagipula mana ada gadis lain yang…
“Tunggu. Kau sudah berada disini bersamaku kan? Apa kau tahu berapa lama aku tertidur?”
“3 hari.”
“A-apa?! Selama itu?!”
Gadis itu mengangguk pendek. Kenapa aku bisa tertidur hingga selama itu? Apakah luka yang kuderita terlalu parah?
“Maafkan aku, Master.”
“Eh?”
“Aku membuatmu mengeluarkan banyak mana hingga terkuras habis.”
Gadis itu membungkuk dihadapanku. Aku yang kehilangan ingatanku setelah mengeluarkan roh pedangku benar-benar tak tahu harus menjawab apa.
“...”
“Panggil aku Camelyum, Master.”
Camelyum?
Eh!!?? Berarti aku benar-benar memiliki 2 roh pedang!?
“T-Tunggu tunggu tunggu… kau…itu…”
“Master? Apa ada badanmu yang sakit? Perlu kuperiksa?”
“T-Tidak usah! Bukan itu maksudnya!”
“Kau yakin?”
Aku menarik napasku dan menatap gadis yang menyebut dirinya Camelyum itu walau masih salah tingkah. Apa dia benar-benar roh pedangku?
“Uh…begini…apa kau…tahu tentang…apa yang terjadi padaku?”
“Master menggunakanku untuk menghabisi Ixora.”
Ah, aku sedikit ingat, saat sedang berduel dengan Alstro, tiba-tiba semuanya jadi kabut gelap. Mengingatnya membuat kepalaku jadi terasa sakit.
“Master, kau baik-baik saja?”
Tiba-tiba Camelyum mendekatkan wajahnya tepat didepanku dan—
SRAAKKK
Aku mendengar suara pintu digeser lagi. Hening.
“Maaf sudah mengganggu—”
Pintunya tertutup lagi.
Tunggu, suara itu, suara itu!!
“C-Camelyum! Cepat kembali ke wujud pedang, cepat!!”
“Apa? Siapa mereka? Musuh?”
“Sudahlah cepat lakukan perintah Mastermu ini!!”
“Dimengerti.”
Setelahnya Camelyum benar-benar kembali ke wujud 2 pedang hitam dan putih. Aku berbaring ke arah kanan dan menutupi tubuhku dengan selimut.
“Ri…”
Tunggu, kali ini suaranya lain?
Dengan berani kubalikkan badanku dan—
“RIRI-KUN!! Syukurlah!"
“Wuaa senpai--”
Carnation-senpai, dia memelukku terlalu erat sampai-sampai belahan dadanya menekan wajahku lagi—
“Menjauhlah dari Master.”
***
Tiba-tiba saja Camelyum berdiri di tengah-tengah Riri dan Carnation dan memaksanya melepaskan pelukannya.
“Camelyum apa yang kau lakukan!?”
“Dia berbahaya, Master.”
Carnation memang “berbahaya” kalau sedang memeluk Riri.
“Apa yang lakukan?! Kau ini siapa?! Beraninya mengganggu pelukanku?! Ah Riri-kun, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih terasa sakit? Kau sungguh membuatku khawatir sampai-sampai lupa mengeringkan rambutku!!”
Riri agak nyengir saat melihat rambut Carnation yang memang berantakan.
“Maaf membuatmu cemas.”
“Sebelumnya siapa gadis yang bersamamu ini?! Beraninya dia menyentuhmu, Riri-kun ku yang berharga~!”
“Sebenarnya—”
“Master hanya milikku, wanita aneh.”
“Siapa yang kau sebut aneh!? Dasar penyusup!!”
“Kau berbahaya, sebaiknya segera menjauh dari Master.”
“Siapa kau menyebutnya Master?!"
Tiba-tiba saja terlihat petir kecil dari kedua dahi mereka. Riri yang melihatnya hanya menghela napas pelan.
“Anu…kalian berdua…”
“Riri-kun? Kau ingin makan sesuatu?”
“Apa yang kau perlukan, Master?”
Mereka berdua menyahutnya bersamaan. Riri nyengir dengan terpaksa, lalu dia melirik Camelyum.
“Camelyum, orang yang kau sebut aneh ini adalah kepala sekolah akademi Hanatarou, sekaligus penanggung jawabku selama aku menjadi guru magang disana. Senpai, walau kau menyebutnya penyusup, dia adalah roh pedangku.”
Hening sejenak.
“Riri-kun!!! Bagaimana bisa roh pedangmu cantik seperti ini hah!? Apa yang kau bayangkan saat dia muncul!!??”
“…Itu…”
“Master sangat sempurna saat memanggilku, jadi wajar saja jika aku cantik.”
“Apa katamu…!!?”
“TOLONG BERHENTI KALIAN BERDUA!”
Tanpa sadar Riri berteriak selama 5 detik, setelahnya dia kembali mengubah raut wajahnya menjadi biasa kembali.
“R-Riri—”
“Maaf aku sudah berteriak…tapi…”
“Maafkan atas kelancanganku, Master.”
“Maaf Riri-kun…jarang rasanya kau berteriak seperti tadi—“
__ADS_1
“Anu... bisakah aku… minta tolong?”