Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 7: Camelyum


__ADS_3

“Amary-chan, apa kau sudah siap untuk turnamen sihir bunga antar akademi bulan depan nanti?”


Tatapan Amaryliss tak beralih dari buku yang dibacanya. Malah, dia melamun.


“Amary-chan?”


Elder mengibas-ibaskan tangannya didepan Amaryliss hingga membuatnya langsung terkejut.


“I-Iya?”


“Kau baik-baik saja Amary-chan?”


“Baik-baik saja kok! Memangnya kenapa?”


“Akhir-akhir ini kau melamun terus sih…”


Amaryliss menutup buku yang dibacanya. Dia menyentuh rambut atasnya.


“Elder-chan.”


“Ya?”


“Saat Riri-sensei mengelus kepalaku, wajahnya yang berdekatan dengan wajahku benar-benar terus mengingatkanku padanya, pada Tuan Raflessia…aku benar-benar tak bisa menyangkalnya. Padahal Tuan Raflessia yang asli, tak pernah memunculkan wajah didepanku hingga sedekat itu.”


“Amary-chan...?”


“Aku tahu mereka memang bukan orang yang sama, tapi…”


“Amary—”


“Elder-chan, apa kau tahu dimana rumah Riri-sensei?”


“Eh?! Kok tiba-tiba menanyakan itu? Jangan-jangan—”


“Jangan berpikiran yang tidak-tidak ah!”


Wajah Amaryliss memerah hebat hingga membuat Elder tersenyum-senyum.


“Pasti Amary-chan ingin memberikan hadiah untuk Riri-sensei saat tidak jadi menjenguknya di rumah sakit kan?”


“Elder-chan! Pelankan suaramu!”


“Jadi begitu ya?”


Iris menghampiri Amaryliss dan Elder sambil melipatkan kedua tangannya didada.


“Kenapa, Iris-san?”


“Umm…ajak aku juga…kalau mau pergi ke rumah Riri-sensei…”


“Eh?”


“Ngapain sih ikut-ikutan segala!? Ini urusa—”


Spontan Amaryliss menutup mulutnya. Wajahnya kembali memerah.


“Apa-apaan sih nada melarangmu itu, memangnya kenapa kalau tidak boleh?”


“Uh…tenang dulu Iris-san…lagipula kita kan memang tidak tahu rumah Riri-sensei ada dimana…”


“Seingatku dia tak punya rumah.”


Dari luar jendela Alstromeria dan Typha yang sedang berjalan terhenti saat melihat Iris, Elder, dan Amaryliss yang sedang membicarakan Riri.


“Ah benar juga…waktu itu kami malah pernah melihatnya berada di kursi taman.”


“Eh!? Jadi maksudmu Riri-sensei tidur di luar sana yang dingin tanpa selembar selimut satupun?!”


“M-mana kutahu…”


“Benar juga, selama Riri-sensei datang ke akademi ini, beliau tak pernah bercerita dimana rumahnya, kalau begitu ayo kita buntuti Riri-sensei dan cari tahu dimana rumahnya!”


Elder mengangkat kedua tangannya semangat dengan mata berbinar-binar.


“B-bukannya aku gak mau ikut ya! T-tapi aku ada patrol—”


“Alstromeria-san pasti ikut~”


Tanpa sepengetahuan pemiliknya, Typha yang bertubuh paling pendek dari mereka mengangkat tangan kanan Alstro hingga membuatnya langsung salah tingkah.


“T-Typha! Kau in—”


“Aku juga mau ikut karena penasaran~”


Lanjut Typha dengan raut wajah imutnya.


“Nah ayo Amary-chan!”


“Bu-bukannya aku tak mau tahu rumahnya tapi—”


“Iris-san? Apa yang kau lakukan?”


“Tentu saja merajut selimut dengan segenap cinta untuk Riri-sensei!”


“E-eh…”


“S-segenap cinta?!”


Mendengar itu Amaryliss langsung sewot, lalu tiba-tiba dia sibuk melakukan sesuatu.


“Awas saja aku takkan kalah!”


“Anu, kalau mau membuntuti Riri-san, sebaiknya cepat, dia sudah keluar dari gerbang sekolah.”


“EHHH!!??”


***


“Master.”


“Kenapa?”


“Ada 5 orang gadis sedang membuntutimu.”


Spontan Riri agak kaget. “L-lima orang? Kok?”


“Mereka sejak tadi membuntutimu, Master, apa perlu aku keluar dan menyingkirkan mereka?”


“Jangan! Aku gak mau menarik perhatian!”


“Tapi aku meragukan keselamatanmu, jika mereka tidak disingkirkan.”


Riri menarik napas, lalu dia berusaha bersikap sebiasa mungkin.


“Master?”


“Kelihatan tidak, siapa yang membuntutiku?”


“Agak kurang jelas melihatnya, tapi…”


“Tapi…?”


“Riri-sensei bicara dengan siapa sih?”


“Ssst jangan berisik! Nanti ketahuan!”


Tepatnya 5 gadis itu adalah Amaryliss, Elder, Typha, Alstromeria dan juga Iris. Penampilan mereka memang mencurigakan dengan baju serba panjang dengan kacamata dan topi.


“Padahal aku mau membeli manga Eriri-chan yang terbaru…gawat kalau ketahuan orang lain dari akademi—”


Riri jadi membatin sendiri. Sedangkan kalungnya tak henti-hentinya bergetar didadanya. Kalungnya yang tak lain adalah Camelyum.


“Kau ini kenapa sih Came? Jangan bergetar terus—“


“Aku tak bisa membiarkan Master dibuntuti dengan orang aneh seperti itu—”


“Ssst! Pokoknya diam saja dan bersikap seperti biasa!”


“Dimengerti.”


Tetapi setelahnya, Riri menghilang dalam cahaya hingga ke-5 gadis yang membuntutinya jadi terkejut.


“EEHH!? R-RIRI SENSEI HILANG!!?”


“Apa Riri-sensei menghilang dengan sihir?”


“Sejak kapan Riri-sensei punya kemampuan sihir seperti itu?”


“Riri-san memang tidak bisa ditebak.”


“Dia itu ya! Kalau memang punya kemampuan sihir yang tinggi kenapa terus mengajari kita sihir pertahanan terus?”

__ADS_1


“Sudahlah menyerah saja, Riri-sensei pasti tahu kalau kita sedang membuntutinya—”


“Tidak! Tidak ada kata menyerah didalam kamus Iris! Aku sudah susah payah membuatkan selimut yang penuh cinta ini untuknya, mana mungkin menyerah?!”


“Segenap cinta apaan sih—”


“Apa? Kau iri karena tidak bisa menjahit kan?”


“Cerewet!”


“Hei kalian jangan bertengkar—”


“Alstro-san?”


Alstro melangkah pergi meninggalkan mereka dan melepaskan semua penyamarannya.


“Ayo kita pulang saja. Mungkin Riri-sensei memang sedang tidak ingin diganggu. Kita tanya langsung saja besok di sekolah mengenai rumahnya.”


Setelahnya Typha mengikutinya. Hanya tinggal Iris, Elder, dan Amaryliss.


“Mungkin kata-kata Alstromeria-san ada benarnya juga.”


“Besok akan kutanya langsung padanya, bagaimana bisa dia memiliki sihir teleport seperti itu!”


...****************...


“S-Sakit…”


“Kau baik-baik saja, Master?”


“Loh, ini dimana?!”


Begitu membuka mataku, aku hanya melihat pepohonan disekelilingku. Langit biru terlihat lebih tinggi dari yang selama ini kulihat di akademi.


“Tepatnya ini jalan menuju rumah yang diberikan oleh wanita aneh itu, Master.”


Tanpa kusadari, tubuh Camelyum berada diatasku, otomatis wajah kami menjadi saling berdekatan.


“M-maaf! Master!”


Dengan terburu-buru Camelyum menyingkir dariku, pipinya merona merah namun gurat wajahnya tetap tidak berubah.


“Ah—tunggu, kau bilang ini jalan menuju rumahku? Bagaimana kau bisa tahu?”


“Wanita aneh itu belum memberitahu mengenai letak rumahmu kan, Master?”


Bahkan Camelyum juga memanggil Carnation-senpai dengan sebutan wanita aneh…


“Ah, benar juga ya, saat aku menerima kunci, aku langsung pergi begitu saja saking senangnya sampai lupa menanyakan alamatnya.”


“Itulah salah satu kemampuanku.”


“Kemampuanmu?”


Camelyum berdiri membelakangiku dan menunjuk ke arah utara.


“Kemampuanku adalah dapat mengetahui apa yang lupa diberitahu oleh seseorang kepadamu atau sebaliknya, Master.”


“Eh!!? Jadi kau tahu mengenai alamat rumahku karena Carnation-senpai lupa memberitahuku?”


“Secara teknis seperti itu. Aku juga bisa tahu informasi yang ingin kau beritahukan padaku sebelum kau menanyakannya.”


“Seperti mind reader?”


“Tidak. Kemampuan mind reader berarti dapat membaca keseluruhan pemikiran seseorang jauh sebelum orang itu mengatakannya secara lisan. Kemampuanku lebih seperti question reader.”


“Uh…aku gak paham.”


Riri membuat wajah datar hingga membuat Camelyum geleng-geleng kepala.


“Tak apa Master, sebaiknya kita cari rumahmu dulu sebelum penguntit tadi tahu kalau Anda ada disini.”


“Anu—”


“Kenapa, Master?”


“Panggil Riri saja.”


“Huh?”


“Rasanya panggilan Master itu terlalu formal deh, lagipula aku sudah biasa dipanggil Riri.”


Riri memberikan seringaian lucu dimulutnya hingga membuat gigi-giginya terlihat. Tanpa tahu kalau Camelyum tersenyum melihatnya.


“Jadi panggil Riri saja ya?”


“Baik, Master.”


“Riri saja!”


“Maaf, Master.”


“Riri saja!!”


“Oh-”


Setelah beberapa menit berjalan, Camelyum berhenti mendadak didepanku.


“Inilah rumahmu, Master.”


“EEHHH?!!! BOHONG!!”


Gimana aku gak kaget, yang berdiri dihadapanku dan Camelyum bukanlah rumah. Tetapi sebuah kastil!!


“Bohong—”


“Kenapa, Master?”


“Wanita aneh itu keterlaluan…masa memberiku rumah seperti ini…atau maksudnya dia itu menyuruhku menumpang hidup disini? Benar-benar kejam….”


“Kastil ini kosong, Master.”


“K-kosong?”


“Ada namamu juga disini.”


Aku berlari mendekati Camelyum dan benar saja, disebelah kanan pintu raksasa dari kastil itu, tertulis dengan jelas ‘Hanamizuki’ yang terbuat dari lempengan emas.


“Bohong…ini…ini emas kan?”


Camelyum menjawabnya dengan anggukan.


“Hanamizuki ini pasti bukan aku, kau pasti salah jalan—”


“Tidak, instingku tidak pernah salah.”


“Eee—?”


“Lihat taman itu, bunga Lily dan Camellia.”


Camelyum benar, dihalaman depannya ada taman yang luas, didominasi oleh tanaman bunga Lily dan Camellia dengan aneka warna, namun lebih banyak yang berwarna putih.


“Indah sekali…”


Perhatianku tertuju pada bunga Camellia putih. Benar. Carnation-senpai paling tahu kalau aku paling menyukai bunga Camellia.


“Berarti…kastil raksasa ini benar-benar rumahku…?”


Sekalipun dia wanita aneh, aku sudah terlalu banyak berhutang budi padanya. Aku belum bisa melakukan sesuatu yang layak untuk membalasnya.


“Tak perlu khawatir, Master. Aku akan tetap melindungimu sekalipun didalam kastil sebesar ini.”


Aku tersenyum ke arah Camelyum. Terima kasih, Carnation-senpai, dengan begini aku bisa berdua dengan Camelyum tanpa gangguan.


***


“A-apa ini semua, Master?”


“Terlalu banyak bahan makanan yang jarang kujumpai di tempat asalku dulu! Jadi membuatku penasaran ingin memasak dengan bahan-bahan itu!”


Camelyum terlihat takjub melihat banyaknya makanan yang berada di atas meja. Walau dari luarnya kastil, tetapi didalamnya tetap memakai jenis rumah bergaya Jepang asli. Hanya ukurannya lebih besar.


“Anda yakin menghabiskan semuanya?”


“Huh? Kau tidak mau makan, Came?”


“Roh bunga sepertiku sebenarnya tidak butuh makan.”


“Eeh? B-begitu ya…”


“Karena Master yang membuatnya, pasti akan kumakan.”

__ADS_1


Camelyum duduk disalah satu sisi meja, disamping kanan Riri.


“Aku baru tahu kalau roh bunga tidak perlu makan…”


Camelyum tersenyum singkat. “Master memang belum banyak tahu ya…”


“Ah, panggil Riri aja cukup—”


“Maaf, Master. Aku masih belum terbiasa.”


Riri hanya menghela napas pasrah. “Yah kalau begitu, jika ini tak bisa habis sekarang, akan kubawa besok ke sekolah untuk murid-muridku.”


“Murid?”


Sambil memberikan semangkuk nasi pada Camelyum, Riri mengangguk.


“Yeah, kau sudah tahu kan kalau aku ini guru magang di akademi Hanatarou, pada mulanya aku gak mau jadi guru disitu, karena memang gak ada niat.”


Camelyum masih memegang mangkuk nasinya, dia bingung ingin memilih lauk yang mana. (karena kebiasaan Riri sedang kumat alias terlalu banyak memasak)


“Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya aku menerima juga posisiku, dan lagi saat ini aku jadi populer tiba-tiba. Sebenarnya itu juga berkat kau, Came-chan.”


Akhirnya Camelyum mengambil sepotong karagee dan sup.


“Came-chan?”


“Camelyum terlalu panjang sih, tidak apa-apa kan?”


“Jika Master yang melakukan, tidak masalah.”


Sambil memakan nasinya, Riri melanjutkan ceritanya.


“Awalnya aku kaget karena di akademi itu gak ada satupun laki-laki. Termasuk guru, petugas di sekolah dan sebagainya. Alhasil hanya aku satu-satunya laki-laki disana.”


“I-itu berbahaya kan?! Bagaimana kalau mereka semua menyakitimu?! Gadis itu lebih mengerikan kebanding laki-laki!”


Secara spontan Camelyum mengangkat sedikit badannya menatap Riri dengan tatapan khawatir.


“Ahaha…tenang saja Came-chan, lagipula aku sudah beberapa kali hampir dibunuh oleh mereka disana—”


“Sudah kubilang kan, itu berbahaya, Master!”


Riri hanya nyengir. “Tak perlu khawatir…buktinya sekarang aku malah jadi populer disana, dengan cara yang aku sendiri bahkan enggak tahu bagaimana.”


Camelyum mengembalikan posisi duduknya. Dia memberikan mangkuk nasinya yang sudah kosong.


“Tambah lagi.”


“Ah baiklah…”


Riri memberikan lagi semangkuk nasi penuh pada Camelyum dan kembali memakannya.


“Meskipun kau tidak perlu makan, tetapi nafsu makanmu banyak juga ya—”


“Aku tak mungkin mengabaikan masakan seenak ini, Master.”


Riri agak terkejut. “Oh…begitu ya…jadi kau suka dengan masakanku…”


“Apapun yang Master buat, aku pasti suka.”


Riri tersenyum. “Kalau begitu sekalian saja ya, banyak yang ingin kukatakan dan kutanyakan.”


“Apa itu?”


Riri menaruh mangkuk nasinya yang sudah kosong.


“Roh bunga ada…untuk membantu Masternya mencapai tujuan kan?”


“Ya, untuk itulah aku ada.”


“Apa kau sudah tahu apa yang kuinginkan?”


Camelyum menaruh mangkuk nasinya yang masih tersisa sedikit, menatap lurus ke arah Riri.


“Aku masih belum melihatnya dengan jelas keinginanmu, Master. Tetapi dengan adanya aku yang sudah bangkit ini, berarti seharusnya keinginanmu sudah jelas.”


“Ya…seharusnya begitu kan…? Alasan kenapa roh bungaku baru bangkit diusiaku sekarang, pasti didasari dan dipengaruhi oleh keinginanku, begitu?”


“Singkatnya begitu, roh bunga akan bangkit jika Masternya benar-benar membutuhkannya dan keinginannya telah terpatri dalam lubuk hatinya.”


Riri tersenyum membalasnya. “Aku melihat murid-muridku di akademi yang membangkitkan roh bunganya lebih dulu dariku, hanya sekilas mata memandang, keinginan mereka kuat dan jelas. Walau aku tidak yakin apa itu benar-benar keinginan mereka.”


“Maksudmu, Master?”


“Ini mengenai benih.”


Jam menunjukkan pukul 8 lewat. Suara hewan malam juga semakin bising. Apalagi dengan lokasi kastil Riri yang berada di tengah hutan.


“Apakah…roh bunga ada…hanya untuk menggapai benih?”


“…”


“Begitukah, Came?”


“Benih bagi roh bunga sama seperti benih sungguhan. Roh bunga membutuhkan benih untuk kembali ke habitatnya semula. Seperti aku, roh bunga Camellia dan Lilyum, maka benih akan kudapatkan untuk kembali ke habitatku semula. Seperti benih sungguhan yang dibutuhkan untuk menyuburkan bunga dan berbagai jenis tanaman lainnya.”


“Kalau benih itu tidak berhasil didapatkan?”


“Maka roh bunga itu akan menghilang dan takkan pernah kembali.”


Riri sedikit menundukkan kepalanya. Maka janganlah memberikan perasaan pada ‘bukan manusia’ kalau kau tidak ingin terluka.


“Bukan seperti itu…”


“Master?”


“Aku…memang menginginkan benih yang dapat mengabulkan apapun…tetapi aku sendiri tidak tahu apa yang kuinginkan, walau keinginan untuk mendapatkan benih itu telah ada didalam hatiku.”


Camelyum agak terkejut, lalu setelahnya tersenyum singkat.


“Maka dari itulah aku ada. Maka dari itulah Master memiliki 2 jenis roh bunga sepertiku.”


“Apa?”


“Master menginginkan benih, tetapi tidak tahu apa yang akan dilakukan setelahnya. Aku bangkit bukan karena keinginanmu untuk segera mendapatkan benih, tetapi menemanimu hingga keinginanmu yang sebenarnya muncul.”


Riri takjub mendengar jawaban Camelyum, dia menyunggingkan senyumnya.


“Yah, ini memang belum jelas sih, tapi pertama, aku hanya ingin murid-muridku mengejar impian mereka yang sesungguhnya, bukan hanya untuk mengejar benih semata! Itu salah satunya!”


“Apa itu keinginanmu yang sebenarnya?”


“Tidak tentu saja bukan! Itu keinginanku sebagai seorang guru yang membimbing murid-muridnya!”


“Begitu…”


“Kalau begitu..Came-chan…bimbinglah aku untuk menemukan keinginanku yang sebenarnya setelah mendapatkan benih itu…sebagai roh bungaku.”


“Tentu saja, Master. Untuk itulah aku bangkit.”


“Tetapi Came…”


“Kenapa?”


“Entah kenapa aku benci…”


“Benci?”


“Aku benci jika semua orang hanya berambisi untuk mendapatkan benih…seperti gak punya hal lain untuk dicapai saja….termasuk…aku.”


"..."


“Makanya aku gak tahu apa-apa…tentang benih. Seperti apa bentuknya, bagaimana cara mendapatkannya, dan lainnya. Baru-baru ini aku membaca sejarah mengenai benih itu. Aku tak mengerti, kenapa orang-orang di dunia ini percaya saja dengan kekuatan yang dihasilkan dari benih setelah berhasil mendapatkannya.”


“Secara ilmu ini memang sulit dimengerti, Master.”


“Untuk itulah aku…”


“Hingga detik ini pun tak pernah ada yang tahu seperti apa wujud dari sang benih itu berasal. Hanya dampaknya saja yang terasa.”


“Ya…rasku…Lilyum…yang habis tak bersisa setelah berperang memperebutkan benih…”


“Salah satunya…membekas luka yang dalam…”


Riri semakin kuat mengepalkan tangannya. Melihat itu, Camelyum mengulurkan tangan kanannya dan mengusap lembut tangan Riri.


“Persaingan untuk mendapatkan benih kali ini, akan kupastikan tidak timbul korban tak berdosa lagi, Master.”


Seakan mengetahui apa yang sedang dirasakannya, Riri memandangi wajah Camelyum yang tersenyum padanya.


“Terima kasih… Came-chan.”

__ADS_1


Mulut Riri rasanya masih ingin berucap, tetapi entah pilar apa yang menahannya untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.


__ADS_2