Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 12: Lylium (III)


__ADS_3

“Apakah dia korban selamat dari keluarga Lilyum?”


“Aku belum meninjau secara menyeluruh, kuserahkan anak ini padamu ya, rawat dia sampai pulih.”


“Baik.”


“Tung…gu…”


Ketika aku hendak bergegas, aku merasakan ujung bajuku tertahan. Anak itu, dia memegangnya dengan lemah, dia bersusah payah menatapku.


“Nak, kau aman disini, tenanglah. Kau takkan mengalami hal mengerikan itu lagi, mulai hari ini kau akan tinggal disini bersama kami, jadi tenang saja, ya?”


Aku mengelus lembut rambut peraknya hingga akhirnya anak itu kembali memejamkan matanya.


“Terima…kasih…ka…kak…”


Aku terdiam. Menatap anak itu dengan tatapan iba. Semua anak-anak korban perang memang memberikan respon yang berbeda-beda ketika tahu mereka diselamatkan. Ada yang senang, bersyukur, atau justru sebaliknya, mereka tak ingin diselamatkan.


Tetapi anak berambut perak ini…


Aku melihat sesuatu darinya…yang berbeda dari anak-anak lain dari biasanya.


Waktu terus berlalu. 8 tahun kemudian, anak-anak yatim piatu yang kurawat telah beranjak dewasa. Banyak keluarga baru yang ingin mengadopsi mereka. Ada yang masih satu ras, ada juga yang berbeda ras. Aku menyerahkan keputusan pada anak-anak itu, apakah mereka ingin diadopsi atau tidak. Namun kurasa hal itu tidak berlaku pada pemuda berambut perak yang kini telah berusia 16 tahun.


“Kau yakin tak mau diadopsi, Riri-kun? Kau bisa menemukan banyak hal-hal baru jika menerimanya.”


Pemuda itu hanya menggeleng dengan percaya diri. “Aku lebih senang disini, lagipula Carnation-nee juga kan sudah kuanggap sebagai ibu!”


Aku hanya menghela napas pasrah. Anak itu melihatku terlalu berlebihan begitu. Ya. Anak itu adalah bocah berambut perak yang kuselamatkan dari ras Lilyum. Bocah yang dengan susah payah mengucapkan terima kasih dan memanggilku nee-san.


Dia juga terlihat berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia sangat akrab dengan anak-anak, kepribadiannya yang menyenangkan dan ramah. Juga, dia sangat mudah diajari seni beladiri. Keinginannya untuk mahir dalam berbagai bidang sangat kuat. Seakan-akan dia lupa bahwa dirinya adalah korban perang.


Tibalah saatnya. Saat aku resmi mengangkat Riri sebagai pemimpin pasukan garis depan kerajaan. Tentu saja aku tak sembarangan memilihnya. Aku tak begitu mempedulikan para anggota yang tidak setuju karena mengangkat orang luar sebagai anggota pasukan kerajaan.


“Carnation-san, apa keputusanmu tidak salah mengangkat anak itu sebagai pemimpin pasukan kerajaan di usianya yang masih belia? Apalagi dia tak punya relasi apapun dalam kerajaan—”


“Jangan sembarangan bicara! Tentu saja dia punya relasi dalam kerajaan! Dia anakku!”


Aku sedikit terbawa emosi jika ada anggota pasukan kerajaan menyinggung soal Riri. Aku melihat potensi pada anak itu. Bagiku yang belum pernah memiliki seorang putra, ini adalah pengalaman pertamaku memilikinya.


Walaupun aku menganggapnya sebagai seorang anak, Riri tetap dengan santai memanggilku nee-san. Dia memang bilang kalau menganggapku sebagai ibunya, tetapi kurasa aku juga lebih nyaman jika dia memanggilku nee-san.


“Apa Yang Mulia Raja sudah menyetujui keputusanmu itu? Bukankah kau tahu sendiri, jika anak itu memiliki satu kelemahan terbesar?”


“Dia tak memiliki roh bunga. Ya aku tahu.”


Benar, alaminya, kami dapat membangkitkan roh bunga sesuai ras masing-masing di usia 10 tahun sebagai partner untuk berperang memperebutkan benih. Hampir semua anak asuhku yang dulu juga sudah mampu membangkitkannya. Namun tidak bagi Riri. Sekeras apapun dia mencoba membangkitkannya dengan sihir pemanggil, beragam jenis ritual dan lainnya, dia masih tak mampu memanggilnya. Kelainan seperti ini memang sangat langka. Hanya terjadi sekitar 0.1%nya saja di dunia. Bahkan aku juga tak mengerti penyebabnya.


“Tetapi dia memiliki kelebihan dalam seni berpedang, menembak, dan membidik. Melebihi kalian semua. Bukankah kalian juga masih kalah beradu pedang dengannya?”


Ya,itulah kelebihan yang kusukai darinya. Walaupun tidak dapat membangkitkan roh bunganya, dia tak putus asa. Karena kekurangannya itulah dia mengasah kemampuannya berpedang, menembak, dan membidik dengan sempurna. Kemampuan yang kurasa mustahil bagi anak seumurannya.


Ini adalah saatnya bagi Riri melakukan tugasnya sebagai pemimpin pasukan kerajaan. Walau pada awalnya masih banyak yang tidak menyukainya, perlahan mereka mulai menerimanya. Walau masih sangat muda, Riri begitu memahami sistem penyerangan jumlah banyak. Aku bahkan sampai kagum melihat kemampuannya. Darimana dia bisa tahu banyak begitu?


“Aku hanya tahu dari buku kok, aku sudah banyak membacanya selama 5 tahun ini. Aku sangat tertarik bergabung dalam pasukan penyerangan garis depan seperti ini sejak dulu.”


Aku memang tidak salah mengistimewakannya. Berkat kemampuan dan kecerdasannya itu, lambat laun semua anggota pasukan pun menerimanya. Bahkan Yang Mulia Raja yang pada awalnya ragu pun jadi memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Riri setelah melihat keberhasilannya memimpin pasukan ketika berperang dengan para pemberontak untuk memperebutkan benih.


Namun tragedi itu membuat dunianya berubah.


Ketika muncul kabar beredar dimana-mana, bahwa pertanda benih muncul telah terlihat. Dimana tanda itu berawal dari pusaka suci yang dimiliki setiap ras bercahaya secara bersamaan. Pusaka itulah yang menandakan benih akan muncul lagi. Walaupun semua orang tidak mengetahui seperti apa rupa benih itu, tetapi mereka berambisi untuk mendapatkannya. Itulah kejanggalan dari perang demi memperebutkan benda yang tidak terlihat itu.


“Riri-kun, kau siap untuk kembali bertarung di garis depan?”


“Ya, perang konyol ini harus diakhiri. Setelah aku berhasil mendapatkan benih, akan kubuat permintaan itu, melenyapkan perang di dunia ini. Pasti!”


Riri paling membenci keberadaan benih. Tetapi entah kenapa dia juga ingin mendapatkannya. Untuk alasan itulah dia berperang. Aku sendiri pun belum memahami apa yang sebenarnya diinginkannya. Aku hanya bisa percaya padanya.


“Riri-kun, kau harus kembali membawa kemenangan walaupun kau tak memiliki roh bunga sekalipun”

__ADS_1


“Percayalah padaku, Carnation-nee.”


Sejujurnya aku merasa sedikit bersalah, kenapa mempercayakan tanggung jawab sebesar ini pada anak yang bahkan belum 17 tahun. Tetapi dia begitu teguh dan percaya diri. Aku tak tega menodainya.


Sayangnya, saat itu aku benar-benar menyesal memberikan beban berat itu padanya.


“C-Carnation-san! Riri-san…Riri-san dia!!”


Perang perebutan benih yang ke-3 kalinya ini jauh lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya. Ke-5 ras terkuat sekalipun kesulitan memenangkan perang yang tiada ujungnya ini. Hingga cahaya pusaka sihir tanda munculnya benih pun lenyap, yang artinya benih kembali menghilang.


Perang akan terus berkobar jika tanda pusaka sihir pada masing-masing ras terus menyala, dan nyala pusaka sihir itu akan semakin terang jika sang benih telah memilih orang yang tepat menjadi pemiliknya. Oleh karena itulah kejamnya perang ini menyebabkan semua ras saling membunuh, berlomba untuk mendapatkan posisi sebagai pemilik benih.


Sungguh perang yang sangat konyol.


Perang perebutan benih ke-3 pun berakhir setelah hampir selama setahun lamanya saling berseteru. Riri mendapatkan luka paling parah diantara semua pasukan kerajaan kami. Hingga dia koma selama lebih dari 3 bulan.


Sambil menjaganya, aku terus merasa was-was. Apakah pusaka sihir akan menyala lagi? Apakah benih yang brengsek itu akan muncul lagi dan memunculkan perang lagi?


Dan…apakah Riri bisa pulih?


“Carnation-san, kami telah mengidentifikasi berasal darimana pasukan misterius itu. Sepertinya mereka adalah sebuah perkumpulan, bernama Kuroi Uta.”


Di perang ke-3, memang ada suatu perkumpulan misterius yang menyerang dengan lebih brutal dan mengerikan. Dari data mereka berjumlah 12 orang. Mereka membunuh lebih kejam. Salah satu dari merekalah, yang telah melukai Riri hingga seperti ini.


“Kuroi Uta..? Apakah… apakah mereka masih ada disini?! Apakah mereka sudah tertangkap?! Dimana mereka sekarang?!”


“T-tenanglah dulu Carnation-san…menurut penyelidikan, mereka organisasi pembunuh bayaran yang tak pernah menetap di satu tempat. Saat ini kami masih belum menemukan petunjuk dimana keberadaan mereka.”


Sejak ditemukan organisasi Kuroi Uta, kami jadi fokus mencari keberadaan mereka. Begitu juga denganku yang terus memantau keadaan Riri yang tidak kunjung bangun.


Suatu keajaiban hingga pada akhirnya dia pulih seperti Riri yang biasanya. Sayangnya, tidak sepenuhnya.


Dia tiba-tiba kehilangan kemampuannya berpedang, membidik, ataupun menembak. Padahal diantara seluruh pasukan penyerangan, dia yang paling ahli dalam usia termuda. Mungkinkah dia mengalami trauma hingga melupakan seluruh kemampuan luar biasanya itu?


Hingga suatu ketika dia berkata padaku.


“Carnation-nee, kehidupanku sebagai seorang pemimpin sudah usai. Walaupun begitu, keinginanku untuk menghancurkan benih masih tetap ada. Agar bunga-bunga kembali tersenyum. Agar Tuhan tidak sia-sia menciptakan berbagai keindahan dalam bunga. Tanpa ada lagi peperangan. Aku muak dengan kata perang.”


Setelah itu aku membebaskannya melakukan apapun yang dia inginkan. Sungguh diluar dugaanku. Kupikir dia akan pergi ke suatu tempat. Riri hanya pergi ke panti asuhan yatim piatu tempatnya dulu dibesarkan dan mengajarkan beragam jenis sihir bunga pada anak-anak. Dia juga berkata akan menjadi pengasuh tetap disana hingga anak-anak itu tumbuh besar.


Apa aku telah menularkan naluriku yang menyukai anak-anak padanya? Apakah itu suatu kesalahan hingga dia tak bisa meneruskan hidupnya menjadi seorang petarung di garis depan?


“Carnation-nee, aku tak tahu bagaimana caraku membalas budi padamu. Kalau kau tak menyelamatkanku saat itu, kurasa aku hanya tinggal menanti ajalku. Aku tak ingin anak-anak mengalami hal yang sama denganku. Itulah mengapa, aku menyukai mereka. Pengalamanku sebagai petarung kurasa sudah cukup. Aku pasti akan menghancurkan benih itu dimanapun berada. Takkan kubiarkan perang ke-4 terjadi.”


Walaupun anggota pasukan kerajaan yang pernah Riri pimpin tidak rela melepaskannya, namun Yang Mulia Raja dengan lapang dada melepasnya. Beliau mengatakan, Riri masih memiliki hak untuk menjelajahi dunia ini selain menjadi seorang pemimpin pasukan kerajaan. Apalagi Riri masih sangat muda.


“Riri-kun, kau itu jenius, kau juga sangat terampil, hanya ada suatu hal saja yang membuat roh bungamu tak kunjung bangkit. Jika sudah saatnya untuk bangkit, maka kau akan semakin kuat! Aku yakin itu!”


Ketika aku berkata begitu padanya, Riri hanya tersenyum membalasnya. Dia terlihat menyembunyikan sesuatu dibalik senyumnya itu.


Setelah beberapa tahun lamanya mengabdi di panti asuhan sebagai mentor sihir bunga, Riri agak aneh. Dia selalu banyak melamun. Saat mengajar pun terkadang dia tak fokus. Kurasa, dia membutuhkan suasana baru.


Di usianya yang sudah menuju kepala dua itu, kurasa hukum alam bagi seorang manusia mulai muncul. Dia membutuhkan seorang pendamping hidup. Lebih tepatnya seorang gadis.


Di panti asuhan itu, dia memang tidak sendirian saat mengajar sihir bunga pada anak-anak. Ada satu orang pemuda yang seumuran dengannya. Yang membedakan hanya tinggi badan mereka. Riri terlihat lebih pendek darinya. Kuperhatikan, mereka cukup akrab dan sering mengobrol. Namun kali ini dia sendirian, karena temannya itu dipindah tugaskan ke tempat lain.


Selama itu juga, aku diberi tugas oleh kerajaan untuk menjadi kepala sekolah di sebuah akademi pedang, akademi Hanatarou. Akademi itu sedang tersandung masalah. Dulunya akademi itu untuk semua kalangan, tetapi sekarang hanya menerima siswi perempuan saja. Sebuah tragedi membuat akademi itu melarang menerima siswa laki-laki. Tak hanya siswa saja, semua staff guru, penjaga sekolah, petugas kebersihan dan lain-lainnya, semuanya harus perempuan. Akademi itu bagaikan ‘anti’ pada laki-laki semenjak tragedi itu. Aku ditugaskan untuk menyelidiki misteri dibalik tragedi aneh itu. Hingga sekarang pun aku masih belum bisa menemukan titik terangnya.


Apakah sudah saatnya bagiku memberikan keputusan untuk Riri? Dia bagus saat mengajar. Aku yakin dia cocok menjadi guru disana.


Tetapi masalahnya, dia lelaki. Apakah tidak akan apa-apa?


Mulanya aku ragu untuk mengirimnya kesana. Tetapi aku tak bisa membiarkan dia terlalu lama disini. Dia benar-benar membutuhkan suasana baru.


Namun, sebelum aku memberitahunya, Riri datang padaku dan menceritakan hal yang membuatku terlonjak.


“Carnation-nee…kurasa aku tak cocok mengajar sihir bunga lagi…aku yang dulunya hapal lebih dari 100 rapalan sihir bunga, sekarang tidak. Hampir semuanya aku lupa. Hanya beberapa saja yang kuingat. Tubuhku tak bisa membawaku membaca kembali buku-buku dan kembali menghapal serta mempraktekkannya. Seolah, berdiam di panti asuhan ini terlalu lama, akan membuatku semakin melupakannya.”


Oh Tuhan…apa yang terjadi pada anakku ini? Kutukan apa yang dia dapat hingga menjadi seperti ini?

__ADS_1


Riri bercerita padaku dengan wajah yang ditekuk. Terlihat putus asa. Tetapi aku masih merasakan keinginannya untuk menghancurkan benih walaupun sedikit.


Aku menghela napas panjang. Aku lalu merangkulnya erat.


“Tak perlu melakukan apa yang tak bisa kau lakukan, Riri-kun...”


Aku merasakan punggungnya bergetar. Selama ini aku hanya selalu melihat Riri tersenyum bahagia dan mudah berbaur dengan anak-anak dengan wajah yang gembira. Sekuat apapun seorang lelaki, jika dia menangis, pasti ada sesuatu yang membuatnya sangat terluka. Dia pasti merasa terluka karena semua kemampuannya hilang. Dia merasa telah dikalahkan oleh dirinya sendiri. Bukankah kita yang harus mengalahkan, bukan dikalahkan?


Lalu apakah keputusanku untuk mengirimnya menjadi guru di akademi Hanatarou akan baik-baik saja?


“Kalau begitu, Riri-kun, kau harus mengikuti arah angin! Angin begitu luas dan berada dimanapun, kau harus mengikutinya untuk menjalani kembali hidupmu yang lebih baru! Sudah kubilang kau jenius bukan? Perlahan pasti roh bungamu akan bangkit! Aku yakin!”


Aku masih melihat potensinya sebagai pengajar walaupun hanya sedikit. Oleh karena itu, sudah kuputuskan mengirimnya ke akademi pedang itu. Untuk memulihkan kembali kemampuannya. Hanya itu satu-satunya jalan, dengan mengikuti arah angin sekeras apapun. Aku percaya, karena dia adalah anakku.


***


“Aku tidak begitu menyesal telah mengirimnya kesini, dan lagi, dia sudah memilikimu. Hanya saja itu yang kukhawatirkan, kemampuan sihirnya yang semakin menurun. Untuk itulah, Camelyum-san, kumohon lindungi Mastermu sebaik mungkin, karena dia juga adalah anakku.”


“Dengan kisah yang kau ceritakan ini, aku semakin memahami seperti apa sebenarnya Masterku dulu dan sekarang. Kami memang sudah terhubung dengan ikatan batin, tetapi aku tak bisa membaca dengan jelas, apa yang ada didalam hatinya. Jika murid-muridnya mengetahui semua ini—”


“Tidak! Riri-kun memintaku tidak perlu menceritakan tentang siapa dirinya yang dulu. Dia hanya ingin dilihat sebagai Riri-kun yang sekarang, bukan di masa lalu.”


Jam menunjukkan pukul 9 malam lewat. Teh di teko yang disiapkan Camelyum pun tinggal menyisakan ampasnya saja. Carnation beranjak dari tempatnya.


“Aku harus memikirkan kata-kata yang tepat bagi anak-anak didik Riri-kun bahwa dia takkan bisa hadir besok di hari pertama turnamen sihir. Camelyum-san, tolong jaga dia sampai pulih ya? Aku pamit dulu—”


“Dimengerti, wanita aneh.”


“Berhentilah memanggilku wanita aneh! Dasar kau ini!”


Carnation pun lenyap dengan sihir teleport. Tinggal menyisakan Camelyum yang masih berdiri terdiam.


Dia melirik ke arah pintu kamar Riri yang sedikit terbuka. Tanpa sadar air mata menitik dari pelupuk matanya.


“Riri…aku bersumpah…akan melindungimu dengan seluruh kekuatanku…aku bersumpah!”


***


“…Master…?”


“Pagi, Came-chan! Nih, telur goreng kesukaanmu sudah siap!”


Camelyum tak bisa berhenti menatap Masternya yang tengah memasak didapur seperti biasanya.


“M-Master? K-kau sudah tidak apa-apa? Bukankah kau—”


“Aku gak mungkin absen karena hari ini kan hari pertama turnamen sihir! Kalau aku absen, pasti mereka membunuhku nanti, ahahaha!”


Tidak mungkin, ini Riri yang biasanya? Dia tampak sehat-sehat saja walaupun uban hitam dirambutnya bertambah—Tidak, dia pasti belum sepenuhnya pulih!


“Master, tapi—”


“Sst, cepat makanlah, kau juga sudah mulai terbiasa memanggil namaku kan? Jadi gak usah panggil Master deh, rasanya kaku sekali.”


Camelyum memalingkan wajahnya. Dia sendiri tak menyadari ketika menyebut nama Riri saat itu.


“Kalau gak mau aku habisin nih!”


Riri hendak menyomot telur goreng dari piring Camelyum sambil menggigit sepotong roti panggang dimulutnya, tetapi Camelyum menghentikannya.


“A-aku harus memastikan…k-kalau kau sudah benar-benar pulih, Master…”


“Ckck sudah kubilang aku tidak apa-apa! Kelebihanku adalah aku selalu dalam kondisi baik di hari yang penting! Ayo bergegas sebelum pertandingannya dimulai!”


Camelyum memakan telur gorengnya dan menyeruput segelas coklat panas. Dia terus memperhatikan Riri yang terlihat sibuk mempersiapkan diri.


Dia masih mengingat beberapa potongan kisah yang diceritakan Carnation semalam.


“Dia sebenarnya sangat jenius, namun semenjak luka parah yang diterimanya, dia kehilangan semua kemampuannya. Bagaikan sebuah kutukan yang menimpanya hingga membuatnya merasa dikalahkan oleh dirinya sendiri.”

__ADS_1


“B-baiklah, Master...”


__ADS_2