
“Malam semakin larut, aku akan mengantar kalian pulang.”
Carnation berdiri dan meregangkan sedikit tubuhnya. Tetapi ke-5 anak gadis itu masih duduk ditempatnya dengan menundukkan kepala.
“Hei hei, apa kalian masih merasa sedih sampai tak bisa beranjak begitu?”
“Nona Carnation! B-biarkan saya berada disini untuk menjaga kastil ini! Saya khawatir kalau ada salah satu anggota dari organisasi Kuroi Uta itu menyerang lagi!”
“Ijinkan saya juga!”
“S-saya juga!”
“Saya juga!”
“Aku pasti selalu ingin disisi Riri-san—”
“Besok kalian masih harus mengikuti pelajaran disekolah, aku juga melarang kalian bermalam di rumah seorang pria. Sudah ada Camelyum di sisi Riri, dan aku juga akan meninggalkan roh bungaku Dianthus disini, jadi kalian tak perlu khawatir!”
“Tapi…”
“Pokoknya tidak akan kuijinkan! Daripada itu aku punya ide yang lebih bagus daripada bermalam disini! Ayo kita pulang dan lakukan besok!”
Pada akhirnya mereka ber-6 keluar dari kastil Riri, walaupun 5 diantaranya masih terlihat tidak rela.
“Hei Dianthus, kau dengar aku?”
“Hoaaam…kenapa lagi Nona? Tugasku sudah selesai membantu memulihkan aliran mana Camelyum dan si Master bodoh itu…”
Dianthus muncul dibelakang Carnation dengan mode tidur alias hanya mengenakan kaus polos dan celana pendek serta topi tidur. Saat dia menyadari didepannya ada 5 gadis yang memandanginya, dia langsung kaget bukan main dan segera menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Carnation.
“W-whooaaa! Nona!! Kenapa memanggilku saat aku sedang mode begini sih!?”
“Kau tetaplah disini. Camelyum dan Riri masih belum bisa bergerak bebas. Maka aku menugaskanmu mengawal keadaan disini dan laporkan segalanya yang terjadi padaku.”
“EEEHHHH………………….???? Nona—”
“Ini perintah, Dianthus.”
“Haah…iya iya deh…”
“Roh bungamu sangat imut, Nona Carnation...”
Kata Iris sedikit tertawa. Dianthus yang mendengarnya langsung lenyap begitu saja.
“Hahaha, lupakan saja dia, ayo kita pulang. Aku juga harus memperkuat segel di kastil ini lagi agar mereka tak bisa melihatnya.”
“Anu…Nona Carnation…”
“Ya?”
“…Mengenai turnamen sihir itu…bisakah kami mengulangi…upacara penyerahan tropi pemenang turnamen… saat Riri-sensei sudah sehat kembali…?”
Carnation tak langsung menjawabnya. Dia hampir melupakan turnamen sihir itu karena kejadian tak terduga ini. Untuk pertama kali dan satu-satunya, kelas E berhasil menjadi juara.
“Saat itu…aku sangat ingin Riri-sensei menyerahkan tropi pemenang pada kami semua…tetapi…”
“Ya, ya! Kalian tentu bisa mengulanginya, kalian adalah sang juara! Kalian berhak melakukannya! Aku akan memberitahunya saat kondisinya sudah pulih!”
“Terima kasih banyak, Nona Carnation!”
Amaryliss langsung membungkuk hormat sedalam-dalamnya, diikuti Elder, Iris, Alstromeria serta Typha.
“Benar juga…upacara penyerahan tropi pemenang turnamen sihir itu memang saat yang paling mendebarkan…apalagi kalian pertama kalinya sebagai kelas E menjadi juara…maafkan aku karena aku melupakan ini dan terlalu banyak memikirkan anak nakal itu…”
“Tidak apa, Nona Carnation…sudah sewajarnya bukan jika seorang ibu memikirkan putranya?”
“Yah…ayo, kita pulang…”
...****************...
Dimana ini? Apa aku berhasil masuk kedalamnya?
Tempat yang kupijak ini seperti lorong. Tak begitu sempit dan tak begitu luas. Tak begitu gelap dan tak begitu terang.
“Apa jangan-jangan…ini didalam hati Riri…?”
Di lorong ini aku melihat beberapa pintu di sisi kanan dan kirinya dengan warna yang berbeda-beda. Di sebelah kanan berwarna cerah, di sebelah kiri berwarna gelap, namun warnanya berselang-seling.
Aku berdiri didepan salah satu pintunya, berwarna biru langit yang cerah, tertulis ‘kebahagiaan’ yang indah didepan pintunya.
“Kebahagiaan…? Apa ini…perasaan bahagia Riri…?”
Dengan pelan aku membuka kenop pintunya, dan cahaya menyilaukan langsung menyambutku. Pemandangan pertama yang kulihat adalah…sebuah panti asuhan. Disana banyak anak-anak bermain dengan riang gembira. Selanjutnya…terlihat seperti kubu pasukan kerajaan, mereka sedang berlatih dengan tekun. Mereka juga terlihat kompak. Lalu aku melihat beberapa orang gadis dengan pakaian warna warni. Sepertinya itu karakter manga, Riri memang menyukai manga Mahou Shoujo.
“Riri yang bahagia memang polos—”
“AWW!! Ah! Maaf!”
Tiba-tiba aku ditubruk seseorang, dan ternyata dia adalah…
“T-tidak, tidak apa-apa…”
“Oh! Kau Camelyum kan? Selamat datang di dunia bahagia Riri Hanamizuki!”
Ya, itu Masterku Riri, tapi dia terlihat masih sangat muda, sepertinya masih berumur belasan tahun. Dia mengenakan pakaian yang sangat formal, seperti pakaian dari kerajaan.
“Um…kau…Riri…?”
“Oh ya, benar! Aku masih berumur 17 tahun sekarang!”
Itu memang dia…rambut peraknya yang menjadi ciri khasnya masih sangat pendek. Kalau dibandingkan…berarti ini kehidupannya sekitar 6-7 tahun yang lalu. Benar juga…Riri dulu pernah menjadi pemimpin sekaligus pembina pasukan prajurit kerajaan termuda saat usia 17…apa dia senang melakukannya sampai ada dibagian dunia bahagianya?
“Kau sudah dengar cerita dari Carnation-nee kan…kalau dulu aku pernah menjadi pemimpin pasukan kerajaan, aku sangat senang melakukannya pada saat itu! Disamping itu, anak-anak di panti asuhan juga sangat menyukaiku! Tak hanya itu, aku selalu menanti manga Mahou Shoujo Eriri-chan yang rilis tiap minggu, setiap chapternya pasti selalu bikin penasaran!”
Aku tersenyum mendengar ceritanya. Walau usianya 17 tahun, dia sudah mengalami banyak hal yang tak semua anak akan mengalaminya, contohnya menjadi pemimpin pasukan kerajaan dan menjadi guru di panti asuhan.
“Tapi akhir-akhir ini…aku kesulitan membuka pintu itu dan membuat diriku diluar sana bahagia…”
“Eh?”
Riri yang masih berumur 17 tahun ini tiba-tiba menundukkan kepalanya sambil menghela napas.
“Pintu…itu?”
“Iya, pintu yang tadi kau buka itu, biasanya aku selalu dengan mudah membukanya dan memberikan kebahagiaan pada diriku yang asli disana… tapi akhir-akhir ini setiap aku mau membukanya, aku malah kesetrum, pasti aku yang diluar sana sedang galau berat…”
__ADS_1
Aku terkejut mendengar penjelasannya. Apa yang Riri muda ini katakan memang ada benarnya. Karena aku sendiri juga merasakannya. Walau dia tersenyum dan terlihat baik-baik saja, aku tahu kalau ada yang membuatnya kepikiran. Tapi aku tidak yakin apa yang membuatnya terus kepikiran.
“Apa kau datang kesini untuk mengatasinya, Camelyum?”
“I-iya, begitulah…aku sedang memperkuat ikatan hati diantara kita, Riri. Karena sejauh ini…ikatan kita tidak sekuat para Master lain.”
“Maaf ya…Came-chan…”
“T-tidak, kenapa kau minta maaf?”
“Mungkin…karena ketidakmampuanku memanggil roh bunga pada masanya…ikatan yang kumiliki denganmu tidak sekuat Master lain pada umumnya…”
“Tidak, itu bukan salahmu. Siapapun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, aku yakin ada makna tersendiri dibalik semua ini. Riri, aku akan membuat pintu itu mudah untuk dibuka kembali, sehingga kau bisa berikan kebahagiaan untuk Riri yang asli diluar sana!”
Riri muda tersenyum senang, dia memegang erat kedua tanganku.
“Tolong ya! Diriku yang asli pasti akan sangat senang! Aku mengandalkanmu Came-chan!”
Setelah melambai pada Riri muda, aku keluar dari pintu ‘kebahagiaan’ itu. Aku memang merasakan sedikit aliran setrum di kenopnya.
“Apa hati para Master lain juga memiliki bentuk seperti ini…?”
Aku berjalan ke pintu berikutnya di sebelah kiri. Tertulis ‘kemarahan’ disana. Aku ragu untuk membukanya. Sejauh ini Riri tak pernah terlihat marah, kecuali saat sedang bertempur.
“Tetapi aku harus tahu semuanya, akan kubuka!”
Dengan cepat kuputar kenopnya, dan ketika pintunya terbuka, hanya ada ruangan gelap yang tidak begitu luas, dengan penerangannya yang hanya menggunakan lilin dan obor.
“Rasa amarah Riri…tapi apa yang bisa kulihat disini…?”
Aku melangkah masuk kedalamnya, di ruangan yang minim penerangan ini aku tak begitu melihat hal-hal yang aneh. Riri bukanlah tipe pria pemarah, seperti yang diceritakan Carnation-san. Namun tetap saja, semua manusia sebaik apapun pasti memiliki rasa amarah di hatinya.
Langkahku berhenti ketika melihat sebuah lukisan raksasa didepan mataku. Lebih tepatnya, lukisan Kuroi Uta yang tersobek-sobek.
“Jika itu Kuroi Uta…Riri memang selalu dengan emosi yang tinggi saat bertempur melawan mereka—”
“JADI ITU KAU?! YANG TELAH MEMBUAT AMARAHKU MEMUNCAK!?”
Aku terlunjak saat mendengar suara teriakan yang penuh amarah, aku mengenal suaranya. Itu pasti Riri versi ‘kemarahan’.
“T-tenanglah Riri…a-aku Camelyum…”
Saat kuarahkan pedang cahayaku ke arah sumber suara, itu memang Masterku Riri, Riri versi kemarahan. Di rambut peraknya ada banyak uban hitam, kedua alisnya juga mengerut ke bawah, dia menggeretakkan giginya sedang marah. Walaupun aku pernah melihat Riri marah, dia tak seburuk ini.
“Sialan, Camelyum?! Dasar, kukira orang itu! Kalau dia yang muncul, akan kucabik-cabik dia sampai hancur!”
Bahkan Riri yang ini sampai memanggilku sialan, Riri yang asli biasa memanggilku “Came-chan”. Riri yang marah memang menakutkan. Sebisa mungkin takkan kubuat dia marah. Aku juga akan memberitahu murid-muridnya.
“Dia…siapa maksudmu…?”
“Tentu saja orang yang terus-terusan menyerangku! Kuroi Uta yang bodoh! Dan siapa lagi itu si Tuan Agung?! Kalau kutemukan, akan kucabik-cabik dia sampai berkeping-keping, sampai bermolekul-molekul!”
Rasa amarah Riri kebanyakan karena organisasi Kuroi Uta…apa ada hal lain yang akan membuatnya sangat marah selain itu?
“Um..Master…apa ada hal lain yang akan membuat emosimu terpancing…?”
Dengan pelan aku bertanya, Riri versi amarah ini menurutku menyeramkan.
“Kalau kau cari disemua sudut ruangan ini, kau pasti tahu! Sudahlah, aku mau tidur lagi!”
“B-baiklah…”
“Riri memang jarang memperlihatkan kemarahannya…tapi jika ruangan ini berisi segala hal tentang apa yang akan membuat amarahnya meninggi…maka aku akan mencari tahu…”
Minimnya penerangan cukup membuatku kesulitan, walaupun aku sudah menggunakan cahaya pada pedangku. Rasa amarah itu memang sulit diberi cahaya.
“Uh…? K-kenapa…?”
Aku menemukan satu bingkai foto yang berukuran sedang. Itu foto Riri yang masih mengenakan pakaian pasukan kerajaan, tetapi fotonya tersobek-sobek seperti halnya lukisan Kuroi Uta.
“Kenapa…kau menyobek-nyobek foto dirimu sendiri…?”
“Hei, apa kau bisa membayangkan? Ketika dirimu yang dulu hebat sekarang bukan apa-apa lagi? Tentu saja aku marah pada diriku sendiri!”
Riri versi amarah muncul lagi dibalik kegelapan. Dahi dan alisnya berkerut marah. Dia merebut bingkai fotonya yang ada ditanganku lalu membantingnya dan menginjaknya.
“Dasar bodoh! Karena kau, aku bukan apa-apa lagi! Riri Hanamizuki memang bodoh!”
“Master!”
Aku menghentikannya yang masih menginjak-injak fotonya sendiri dengan amarah. Aku menahan tangannya.
“Hentikan itu, Master…kau masih belum terlambat…”
“Masih belum terlambat apa!? Gara-gara kebodohanku, semuanya tewas! Semuanya lenyap! Aku sudah bukan apa-apa lagi! Bagaimana bisa aku tidak menyalahkan diriku sendiri!? Riri Hanamizuki, kau manusia terbodoh yang pernah ada!”
Riri berteriak-teriak dengan nada tinggi, dengan segera aku memeluk tubuhnya.
“Tidak Master…jangan menyalahkan diri sendiri…aku disini untuk meredakan amarahmu…aku akan membuat ruangan ini lebih terang dari sekarang…kau tunggulah aku hingga saat itu tiba…kau tidak sendirian…Master…”
Detak jantungnya yang cepat karena amarah dapat kurasakan saat aku memeluknya. Perlahan, debarannya kembali normal. Aku melihat wajahnya. Dia tak menangis, tetapi matanya berkaca-kaca.
“Kuserahkan padamu ya, Camelyum.”
Aku pun keluar dari pintu ‘kemarahan’ itu. Amarahnya sedikit mereda saat aku mengucapkan janjiku padanya. Aku disini untuk meredakan amarahmu.
Lalu aku berjalan ke pintu berikutnya, pintu itu berwarna abu-abu dan tulisan ‘kesedihan’ terukir didepannya. Namun saat aku menyentuh kenopnya, pintunya sudah terbuka.
“Perasaan sedih Riri…apa sampai sejauh ini…?”
Dengan pelan aku masuk ke dalamnya. Pemandangan pertama yang kulihat di mataku adalah tebing-tebing curam dan tajam. Serta langitnya juga mendung bahkan terdengar gemuruh petir. Sedikit hujan. Ketika aku melihat tebing-tebing curam itu lebih jauh lagi, banyak mayat bergeletakan di tanah dengan berlumuran darah. Beberapa diantara sekian banyaknya mayat itu adalah anak-anak.
“J-jangan-jangan…”
“TIDAK! LEPASKAN AKU!! AKU HARUS MENYELAMATKAN MEREKA!!”
“TIDAK RIRI! KAU TIDAK BISA! KAU SUDAH TIDAK BISA LAGI!!”
“LEPASKAAAANNN!!!!”
Itu Riri…disana juga ada Carnation-san yang masih sangat muda…sepertinya ini medan perang perebutan benih saat Riri masih pemimpin pasukan kerajaan.
Carnation-san menahan Riri melaju ke baris depan di medan perang walau Riri berontak. Musuh merebut banyak anak-anak dengan paksa. Tentu saja Riri tak bisa membiarkan semua itu. Dia sangat mencintai anak-anak.
“BERHENTILAH BERONTAK RIRI! KAU TIDAK PUNYA ROH BUNGA DAN KAU
__ADS_1
SUDAH TERLUKA PARAH!”
DHOORR! DHOORR!
SLASSH SLASSH!
Di medan perang seperti ini… Riri tak mampu mengeluarkan roh bunganya…serta dia juga kehilangan seluruh kemampuannya karena luka yang pernah diceritakan Carnation-san…seperti apa luka itu sebenarnya hingga membuat semua kemampuannya hilang?
“TIDAK AKAN KUBIARKAN…TIDAK AKAN KUBIARKAN KALIAN MEMBUNUH ANAK-ANAK TIDAK BERDOSA ITU!!!!”
“RIRI TIDAK!!!”
SLAASSHH!!
Aku tak bisa berlari dari tempatku ketika melihat tragedi mengerikan yang terjadi didepanku.
Tubuh Riri tersayat pedang hingga terluka parah. Bersamaan dengan itu, anak-anak yang dibawa paksa oleh musuh semuanya dibunuh. Riri yang sekarat karena luka melihat semua itu.
“TIDAK….TIDAK…TIDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!”
Aku membalikkan tubuhku dari pemandangan mengerikan itu. Siapa yang tidak sakit melihatnya? Orang yang dicintai harus mati dengan tragis didepan mata kepala sendiri?
Aku menekan tanganku di dada. Itu sebabnya ‘Riri kemarahan’ merasa bersalah pada dirinya sendiri karena ketidakmampuannya menyelamatkan anak-anak yang seharusnya ia mampu selamatkan. Saat itu dia benar-benar kehilangan kemampuannya.
“Sejak saat itu aku sudah kehilangan segalanya.”
Aku mengangkat wajahku ketika mendengar suara didepanku. Itu Riri, tetapi dia…penuh luka. Raut wajahnya pun begitu gelap. Rambut peraknya ternodai merah darah.
“Karena ketidakmampuanku…aku tak bisa menyelamatkan anak-anak yang seharusnya masih memiliki masa depan…kenapa bukan aku saja yang tewas!? Kenapa malah mereka!?”
Dibawah langit yang hujan ini, aku tahu kalau Riri didepanku ini menangis. Aku tak bisa membuka mulutku untuk membalas kata-katanya.
“Bukankah…manusia tak boleh…dikalahkan oleh dirinya sendiri…? Bukankah…itu sikap…seorang pecundang…? Kenapa…kenapa aku begitu lemah…? Kalau…aku kalah oleh diriku sendiri…aku takkan pernah bisa mengalahkan siapa-siapa!”
Riri menjatuhkan kedua lututnya ke tanah dan tangan kanannya meninju tanah dengan keras.
“Kalau saja…aku tak selemah ini…aku pasti…bisa memanggilmu saat itu juga…Camelyum…kenapa aku yang tak bisa apa-apa ini…masih saja diberi kehidupan…?”
“Tidak, Master!”
Aku langsung berlutut dan memeluknya. Aku bisa melihat lebih dekat noda darah yang mengering di rambut peraknya. Dengan pelan aku mencoba menghilangkannya dengan tanganku yang mengusap pelan helai rambutnya.
“Sekarang kau sudah mampu memanggilku, Master…jangan pernah ada penyesalan lagi…”
“Ini sudah terlambat! Kalau saja aku mampu memanggilmu saat itu—”
“Tidak, Master aku mohon, tidak ada kata terlambat selagi kau masih memiliki napas, Master…”
“Camelyum…”
“Di saat ini pun kau masih mampu melindungi banyak anak-anak dengan kemampuan yang kau miliki sekarang…kau masih bisa memberi mereka masa depan…”
“Aku…sudah tidak bisa lagi…”
“Tidak! Kau masih bisa! Bahkan kau terus datang ke akademi Hanatarou kan walaupun seisi sekolah itu melihatmu dengan tatapan tidak suka?”
“Aku…”
“Riri-sensei?”
“Sensei?”
“Riri-sensei!”
“Sensei!”
“Riri-san?”
Aku berbalik dan melihat ke-5 gadis dari akademi Hanatarou yang belakang ini selalu berada di sisi Riri. Amaryliss, Elder, Iris, Alstromeria dan Typha.
“Aku…”
“Master…tidak ada kata terlambat…kau masih bisa berjuang di masa sekarang demi masa depan…”
Aku tak yakin kalau kata-kataku dapat membuatnya takkan semakin terpuruk ke masa lalu yang kulihat ini…Siapapun takkan bisa memahami sepenuhnya kesedihan seseorang jika belum pernah mengalaminya. Yang bisa kulakukan hanyalah menjadi tempatnya untuk bersandar.
“Semua orang sudah memandangku dengan sebelah mata…karena kelemahanku…”
“Kami sudah tahu semuanya, sensei...”
“Sensei tetaplah guru kami yang membuat kami jadi juara!”
“Kami tak pernah membandingkan kehidupan masa lalu sensei dengan sekarang”
“Riri-sensei tetaplah Riri-sensei!"
“Riri-san tetaplah Riri-san yang aku sukai.”
Raut wajah Riri sedikit berubah ketika melihat ke-5 muridnya yang tersenyum padanya. Kurasa memang seperti inilah hubungan guru dan murid yang sebenarnya. Yaitu saling mempercayai.
Setelahnya bayangan ke-5 muridnya pun hilang. Langit yang tadinya hujan deras mulai sedikit mereda.
“Belakangan ini…’kebahagiaan’ selalu menghalangi pintu itu saat aku hendak keluar…mungkin diriku diluar sana memang sedang bersedih, tapi kebahagiaan dengan paksa menghalangiku keluar…aku memang seperti itu…”
Aku tak bisa sepenuhnya merasakan kalau Masterku sedang bersedih karena dia selalu tersenyum.
“M-maafkan aku…Riri…aku tak bisa merasakan dengan jelas kalau kau sedang bersedih…”
Riri bangkit dan menatap langit. Dia sedikit menyunggingkan senyumnya.
“Sejak dulu aku memang tidak ingin siapapun melihatku bersedih, aku kan harus menjadi panutan bagi anak-anak diluar sana, maka aku tak boleh menangis!”
Tetap saja walaupun begitu…seseorang tak bisa terus-terusan menahan emosinya seperti itu.
“Master…jika kau…jika kau ingin membuka pintu itu…lakukan saja…”
“Eh apa?”
“Siapapun…baik itu pria ataupun wanita…tak bisa terus-terusan menahan emosinya seperti ini…kalau kau ingin menangis…menangislah tidak apa-apa…kau punya tempat untuk bersandar…kau tidak sendirian lagi…Master…”
Riri membalas genggaman tanganku, dia kembali tersenyum.
“Itu…cukup sulit…karena aku sudah terbiasa melakukannya. Sebisa mungkin aku akan menahan untuk tidak membuka pintu ini demi diriku diluar sana, nah Camelyum, aku merasa sangat senang kau bisa bertemu denganku disini. Masih ada pintu yang harus kau buka disana.”
Tiba-tiba saja aku sudah berada diluar pintu ‘kesedihan’. Pintunya terkunci rapat.
__ADS_1
Satu lagi pintu yang harus kubuka. Warnanya lebih terang dari pintu yang lainnya. Bertuliskan ‘cinta’.
“Cinta…ya…”