Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 16: Arti Yang Tersirat Dibaliknya


__ADS_3

“Sensei~ kita mau pergi kemana sih? Ini sudah sangat jauhhh dari kota Laurel!”


“Apa kita mau mendaki saja tanpa tujuan? Melelahkan sekalii~”


“Sst! Jangan ngeluh terus dong kalau gak mau gagal di babak kedua besok!”


“Apa hubungannya jalan-jalan ini dengan tes sihir bunga sih—”


“Nah, sudah sampai.”


Amaryliss, Iris, dan Elder menghentikan langkahnya dibelakang Riri. Mereka tiba didepan sebuah pedesaan. Yang uniknya desa itu memiliki 4 wilayah dari utara, selatan, barat dan timur disertai pembatas yang menghalanginya. Letaknya berada dibukit-bukit, dengan hamparan kebun bunga yang beragam jenisnya.


“Woah, apakah ini pedesaan?”


“Yah, ayo masuk dan berbaur dengan mereka.”


“Eh!?”


Wilayah pertama yang mereka kunjungi adalah desa wilayah barat. Ladang bunga luas yang terdapat beragam jenis bunga berwarna warni sungguh menyejukkan mata. Yang menarik perhatian mereka adalah bunga anggrek hitam.


“Baru pertama kali aku melihat anggrek hitam, anggrek jenis apa ini?”


“Itu anggrek langka di wilayah barat kami, takkan ada wilayah manapun yang bisa mengembangkan bunga secantik ini selain wilayah barat!”


Yang menjawab pertanyaan Iris bukanlah Riri, tetapi seorang pria tua yang tiba-tiba muncul dengan tatapan galak. Dari penampilannya kelihatannya dia petani daerah itu karena pakaiannya yang sederhana dan ditangan kanannya dia membawa semprotan air serta sekantung pupuk di tangan kirinya.


“Ah selamat siang tuan! Kami hanya melihat-lihat saja kok!”


Kata Riri memberi salam hormat pada pria tua itu. Namun dengan ketusnya dia menepis uluran tangan Riri.


“Melihat penampilan kalian, pasti kalian dari kota Laurel dibawah sana kan? Untuk apa orang besar seperti kalian datang ke desa seperti ini?”


“K-kami hanya—”


“Kami hanya melakukan perjalanan studi biasa untuk meneliti beragam bunga yang tidak ada di kota Laurel, tuan. Jika Anda mengizinkan, bolehkah kami tahu lebih banyak lagi mengenai jenis-jenis bunga disini?”


Sebelum Amaryliss menjawabnya, Riri keburu memotong kata-katanya. Dia berkata pada pria tua itu dengan nada bicara yang tenang dan dewasa layaknya ‘guru sungguhan’.


“Heh, aku tak pernah bisa percaya lagi pada orang-orang kota Laurel! Aku sudah berkali-kali kecolongan karena memberitahu informasi bunga langka wilayah barat ini pada orang asing! Ujung-ujungnya, bunga-bunga langka kami habis dilahap mereka!”


“Apa Anda menganggap kami juga orang seperti itu?”


Petani itu memandang Riri yang tersenyum padanya dengan tatapan garang. “Wilayah utara, barat, dan selatan disana juga sama saja seperti kalian! Karena itulah aku tak pernah sudi mengizinkan orang asing masuk kesini!”


“Sensei, sudahlah ayo kita pergi…”


“Apa yang membuat Anda bisa percaya kalau kami hanyalah pengunjung biasa?”


Pertanyaan Riri langsung membungkam petani tua itu. Lalu setelahnya dia menjawab.


“Kita buktikan lewat duel roh bunga! Jika aku menang, pergilah dari desa ini!”


“Kalau aku yang menang?”


Petani itu tak langsung menjawab. Namun setelahnya dia menjawab dengan nada kesal.


“Kalian boleh mengambil beberapa sampel bunga langkaku! Heh, tapi aku yakin, murid-murid pemula seperti kalian tidak akan bisa mengalahkan aku yang sudah banyak pengalaman!”


Riri hanya tersenyum paksa sekaligus kesal.


Ternyata didunia ini ada pria tua yang menyebalkan seperti dia…


“S-sensei? B-bagaimana ini?”


“Hm? Oh, Elder, kau lawan dia ya? Jadi kita bisa teruskan perjalanan kita.”


“EEEH!!? KOK AKU SIH!!?”


Riri hanya memberikan cengirannya dan mendorong Elder yang sedikit takut ketika petani tua itu memandangnya garang.


“G-gimana dong…?”


“Sensei! Kenapa malah Elder yang turun tangan padahal kau yang menyebabkan semua ini!? Gunakan saja roh bungamu dan lawan dia!”


Sewot Amaryliss. Riri hanya membalasnya dengan cengiran.


“Hmm, kurasa Elder bisa kok melawan dia dengan sekali serang.”


“Hah?”


Elder dan petani tua itu saling berhadapan, dia mengeluarkan roh bunganya berupa perisai. Sedangkan Elder masih belum mengeluarkan roh bunganya.


“S-sensei… g-gimana ini…?”


“Lawan saja dengan santai.



Elder menelan ludahnya, lalu mengeluarkan roh bunganya berupa pedang tipis dan ramping berwarna putih. Lalu menutup kedua matanya berkonsentrasi.


“Menarilah dengan segenap kemampuanmu, Sambucus nigra!”


Seketika Elder membuat gerakan lambat dengan pedangnya. Seolah sedang menari diatas panggung yang membuat penontonnya terpana.


“HAAA!!”


Dari ujung pedangnya, muncul ratusan kelopak bunga kecil berwarna-warni namun indah. Bagaikan butiran hujan yang turun dari langit, bukannya menepis, petani tua itu justru begitu menikmati keindahannya.


“Ini…sungguh…sungguh menakjubkan…pemandangan seperti ini…”


Petani tua itu melenyapkan perisainya dan menikmati dunianya dalam kelopak kelopak bunga yang Elder ciptakan dari pedang Sambucus nigranya.


“Tuh kan, apa kubilang, Elder pasti bisa mengalahkannya dalam satu serangan.”


“B-bagaimana sensei bisa seyakin itu…?”


Riri menaruh kedua telapak tangannya dibelakang kepalanya dan menjawab pertanyaan Iris.


“Yah, aku gak yakin kok, hehehe~”


“Eh!?”


“Nona kecil, terima kasih telah memberikan pemandangan seindah ini padaku! Aku…bagaikan kembali ke masa mudaku dulu! Terima kasih banyak nona!”


Petani tua itu menyalami Elder dengan raut wajah sumringah, Elder hanya tersenyum kaku membalasnya.


“Dimana wajah garangnya yang tadi?”


“Orang-orang tua memang aneh…”


Setelah berbincang dan memperlihatkan koleksi bunga langkanya, Riri dan ke-3 muridnya pun berpamitan.


“Terima kasih banyak atas waktumu, tuan, tetapi sebelum pergi, bolehkah saya menanyakan sesuatu?”

__ADS_1


“Ya, apa itu?”


Riri memandang pembatas-pembatas yang memisahkan ke-4 wilayah desa. Jaraknya sebenarnya tidak begitu berjauhan, tetapi kenapa harus pakai pembatas?


“Apakah desa ini sudah terbagi dalam 4 wilayah dan dikelilingi pembatas seperti itu sejak lama?”


Sang petani menghela napas pendeknya sejenak lalu menjawab.


“Sebenarnya dulu kami satu desa dan tidak dibatasi wilayah seperti itu, namun semenjak orang itu menyebarkan rumor mengenai benih, kami menjadi terpisah-pisah, kami menginginkan bunga langka yang dapat menghasilkan uang, dan menambah kemakmuran desa kami, sayangnya kami semua berbeda pendapat, semuanya ingin mendapatkan benih, kami tidak dapat lagi mencapai kesepakatan bersama hingga akhirnya desa kami terpecah menjadi 4 wilayah seperti ini. Sudah banyak cara yang coba dilakukan agar desa kami bisa bersatu kembali, tetapi kebanyakan warga disini masih mempercayai keberadaan benih yang dapat mengabulkan segalanya.”


“Apa Anda sendiri tidak mempercayai keberadaannya?”


“Haah…aku sendiri tak yakin harus percaya apa tidak. Tetapi aku tetap khawatir jika pusaka sihir kami menyala dan pertanda benih akan muncul lagi. Belakangan ini pusaka sihir kami terus berkedip. Sehingga aku terus melakukan persiapan.”


“Terima kasih atas waktunya, tuan, kami permisi dulu.”


Setelah berpamitan, Riri dan ke-3 muridnya menjauh dari wilayah barat. Mereka menyusuri wilayah utara, timur, dan selatan juga. Tak berbeda dengan wilayah barat, wilayah lainnya juga memiliki kasus yang sama. Hingga tengah hari menyambut, mereka semua keluar dari desa itu dan meneruskan jalannya.


“Kalian cukup paham dengan yang terjadi tadi?”


Ke-3 muridnya tidak menyahut pertanyaan Riri. Mereka kelihatannya masih cukup bingung memahaminya.


“Semuanya karena kesalahpahaman hingga semuanya terpecah belah. Namun satu yang menjadi patokan mereka. Yaitu ‘ada hal yang ingin kulindungi’”


“Hal yang…ingin kulindungi…?”


Riri menoleh ke belakang dimana murid-muridnya berjalan mengikutinya. Bibirnya menyunggingkan senyum.


“Contohnya petani tua tadi. Kurasa dia memiliki pengalaman hidup dimasa muda yang menyenangkan saat melihat sihir Elder. Dibalik wajahnya yang garang begitu, dia masih ingin melihat desanya kembali damai seperti dulu.”


“Aku…masih belum bisa memahaminya, Riri-sensei...”


Kata Iris menundukkan wajahnya. Riri menepuk pelan rambut birunya.


“Tidak apa, ada saatnya kalian akan memahami semua ini, maka sebelum memahaminya, aku ingin kalian melihatnya dulu dengan mata kepala sendiri.”


“Sensei, yang masih tidak kupahami adalah, apa hubungannya ini semua dengan tes babak kedua besok!?”


Amaryliss masih saja sewot dan Riri hanya menggaruk lehernya.


“Susah juga sih jelasinnya, kalian tahu kan aku gak punya bakat nga—”


“Selanjutnya kita mau pergi kemana lagi?”


***


Suasana kembali hening setelah Amaryliss mengutarakan jawabannya.


“Heh! Jawaban berbelit belit begitu sulit dimengerti tahu! Dasar payah!”


Seru peserta kelas 1A yang percaya diri dengan jawaban mereka. Amaryliss tak menanggapi tatapan tajam dari lawannya. Kedua matanya masih tertuju pada dewan juri.


“Bagaimana, dengan jawabanku, dewan juri? Ini semua hasil keputusan sulit diskusi kami.”


Dewan juri kelihatannya sulit memberikan keputusan. Mereka masih saling berunding.


Beberapa menit setelahnya, salah satu dewan juri yakni alumni dari kelas 3 berdiri dan membuka mulutnya.


“Setelah kami putuskan, maka jawaban yang tepat adalah…”


Suasana kembali diselimuti rasa tegang. Amaryllis, Elder, dan Iris menahan napasnya.


“Jawaban dari kelas E adalah yang paling tepat.”


“WOAAHH!!!”


“APA?! ITU GAK MUNGKIN! HEI DEWAN JURI! JELASKAN KENAPA JAWABAN KAMI DARI KELAS 1-A HARUS KALAH DARI JAWABAN MEMBINGUNGKAN KELAS 1-E ITU!!?”


Peserta dari kelas 1-A yang tidak terima mendobrak meja dan menatap jahat pada dewan juri. Salah seorang staff guru dari meja juri berdiri menenangkan suasana.


“Kalian tidak tuli dan mendengar jawaban dari kelas 1-E tadi bukan?”


Peserta kelas 1-A hanya diam.


“Pada mulanya Amaryliss-kun menjawab dengan bahasa berbelit dan sulit dimengerti. Tetapi setelah terus melanjutkannya, jawaban paling tepat atas kisah fiksi terakhir ini memang jawaban mereka, dari kelas 1-E.”


“KENAPA!?”


“Jawaban kalian mengatakan, kalian akan membuktikan tuduhan palsu itu dan mengungkapkan identitas sebagai pengamat pemerintahan, sehingga mereka tidak bisa seenaknya memberi tuduhan pembunuhan. Jika mereka menentang, kalian akan menggunakan sihir Epiphyllum, yaitu sihir pengembali waktu dan menghapus ingatan mereka. Apa kau pikir, hidup bisa berjalan semudah itu?”


“A-apa katamu…?”


Staff guru itu keluar dari meja juri dan berdiri dihadapan semua peserta.


“Kami memang memberikan kisah fiksi, namun jawabannya tetap harus masuk akal. Mendengar jawaban dari kelas 1A, itu hanyalah jawaban dari orang yang imajinasinya hanya sebesar kerikil. Walaupun kelas kalian adalah peringkat tertinggi, kalian masih perlu banyak belajar.”


Peserta kelas 1-A tidak lagi menyanggah. Hanya diam.


“Untuk kelas 1-E, aku mengapresiasi kemajuan kalian dalam turnamen sihir tahun ini. Jawaban kalian lebih masuk akal dan dapat langsung kami pahami. ‘Kami akan terus menyelidiki siapa yang dengan beraninya memberikan tuduhan pembunuhan warga lokal pada orang luar desa yang bahkan tak tahu apa-apa. Jika orang-orang dari ke-4 kubu itu tetap kukuh memberi kami hukuman, kami masih punya hak untuk melawan karena kami sesungguhnya tidak bersalah. Maka jalan yang kami pilih adalah terlibat langsung dengan mereka. Melihat seperti apa hidup mereka, mencari bukti kuat bahwa kami tidak bersalah dan menemukan pelaku aslinya hingga tertangkap. Dengan kata lain, kami memilih jalan bertarung, walaupun tidak akan mudah. Jika masih ada cara, akan kami satukan ke-4 kubu itu untuk menemukan pelakunya. Karena posisi kami adalah seorang pengamat pemerintahan’. Jawaban yang benar-benar memuaskan!”


“Dengan begini yang berhasil lolos ke babak final adalah kelas 1-E! berikan mereka tepuk tangan meriah!”


Suasana yang hening kembali riuh dengan tepukan tangan dan sorak sorai setelah Carnation memberikan aba-aba penuh semangat.


“Hidup kelas 1E! mereka bukan kelas rendahan lagi!”


“Beri sorakan pada kelas 1E!!”


Melihat pemandangan ini, Amaryliss, Elder dan Iris hanya terpana. Memang, sejauh ini kelas E tidak pernah mengikuti turnamen sihir karena kegagalan yang tiada henti.


Namun kali ini adalah turnamen sihir yang tak boleh dilewatkan.


“Cubit aku, aku pasti bermimpi—aww!”


“Sudah kucubit—”


“A-apa yang kau lakukan sih, Amaryliss!?”


“Gak panggil ‘galak’ lagi nih?”


Iris sedikit mendengus. “K-kali ini aku setuju dengan kata-katamu…kali ini saja lo!”


Amaryliss hanya tersenyum sebal. Pandangannya tertuju pada peserta kelas 1-A yang tadi meremehkannya.


“Kalian akan menepati janji kan? Kalian akan malu mengangkat kepala diseluruh akademi ini karena kalah dari kelas E seperti kami.”


“Kau…!”


“Babak final duel roh bunga satu lawan satu akan dilaksanakan besok, maka berlatihlah sebaik mungkin dan sampai jumpa lagi! Berikan sekali lagi sorakan untuk kelas 1-E!!”


Suara teriakan semangat dari Carnation di menara atas benar-benar membuat suasana stadium lebih hidup dan semakin riuh walaupun babak kedua telah usai.


“Babak final besok ya…jika hanya kita yang lulus berarti…”

__ADS_1


“Yap, kalian bertiga akan duel satu lawan satu. Takkan ada yang tahu siapa yang duel duluan, persiapkan diri kalian.”


Kata salah satu dewan juri sebelum meninggalkan mejanya. Hanya tinggal menyisakan peserta kelas 1-E dan 1-A yang masih di arena turnamen.


“Kau…mantan tuan putri…awas saja kau akan kubalas!”


Kelas 1-A pun meninggalkan arena dengan perasaan kesal dan marah. Tentu saja, kelas tingkat tinggi dikalahkah kelas rendah, sama saja seperti orang yang tidak berilmu lebih ‘bijak’ dari orang yang berilmu bukan?


“Leganya…ayo kita juga keluar dari sini—”


“Elder-chan? Kenapa?”


Elder masih berada ditempatnya saat Amaryliss dan Iris melangkah kedepannya.


“Kenapa…Riri-sensei tidak menghampiri kita seperti di babak pertama kemarin?”


“Aah dia pasti ketiduran dirumahnya dan tidak datang! Kemarin saja dia terlambat datang kan? Tenanglah Elder-chan, untuk apa mengkhawatirkan orang yang payah seperti dia?”


“Hei! Kenapa berkata seperti itu tentang Riri-sensei?! Dasar gak sopan!”


“S-sudahlah Iris-chan…a-ayo kita pergi ke café dan makan kue untuk melepas penat! Nanti ayo kita tanyakan ke Nona Carnation ya…mengenai dimana rumah Riri-sensei…pasti beliau tahu sesuatu…”


Tanpa suara, Amaryliss dan Iris mengangguk, dengan raut wajah yang berbeda.


***


Apa itu?


Serpihan berkilauan apa itu?


Benih?


Tidak, pasti bukan, tak ada yang tahu seperti apa bentuknya.


Tetapi hatiku mengatakan kalau itu adalah benih.


Bagaimana aku tahu? Siapa yang memberi tahuku?


Benih…akan kudapatkan…


Tetapi apa yang kuinginkan setelahnya? Apa yang kuinginkan? Apa…? Apa…?


Raihlah…raihlah serpihan itu dan tangkap…!


“Tak perlu susah-susah menangkap benda sekecil pasir itu”


“Siapa yang berani menghalangi—!?”


Tidak. Ini bohong.


Serpihan benihnya lenyap.


Apa yang terjadi…?!


“Seorang raja cukup menyaksikan saja, tak perlu turun tangan”


Napasku berhenti ketika melihat seseorang didepanku.


Tidak mungkin.


“S-siapa kau…?”


“Dengan melihatnya saja kau sudah tahu kan?”


Tatapan mata yang tajam, namun penuh kebencian didalamnya.


Senyuman yang juga setajam pisau.


Apa maksudnya semua ini…!?


***


“Master! Master tenanglah! Master!”


“Ca…Came…ly…um…?”


“Tenangkan dirimu Master…”


Aku mengatur napasku yang tersengal-sengal. Tubuhku terasa berat untuk bangun, aku hanya bisa melihat Camelyum yang memandangku penuh rasa khawatir.


“Maaf …aku sudah lebih tenang sekarang…”


Camelyum menggenggam erat tanganku, kedua alisnya masih berkerut saat memandangku.


“Kau tahu betapa aku sangat mengkhawatirkanmu… aku sudah menduganya kalau kondisi tubuhmu sedang tidak sehat sejak uban hitam itu terus muncul dirambut perakmu…”


Aku menghela napas berat. “Kurasa…aku memang sedang banyak pikiran…”


“Apa yang membuatmu terlalu banyak berpikir? Kau kan bisa menceritakan semua masalahmu padaku! Atau bahkan pada murid-muridmu kan? Atau Carnation-san juga tidak masalah kan? Aku tidak bisa tenang karena kau tidak memperlihatkan tanda akan bangun sejak kemarin hingga hari ini! Aku tak bisa meninggalkanmu barang satu langkah pun karena suhu tubuhmu yang tidak kunjung naik! Bagaimana bisa aku tidak khawatir!?”


Ah…roh bungaku ini malah lebih terlihat seperti gadis normal dibandingkan partner bertarung…


“Maaf ya, Came-chan, dan terima kasih.”


Aku memberikan senyumku padanya dan menaruh tangan kananku diatas tangannya yang menggenggam tangan kiriku. Raut wajahnya berubah sedikit. Dia tersenyum.


“…Master…karena kondisimu yang sekarang, dengan terpaksa kau melewatkan babak kedua yang sudah selesai tadi siang… pasti murid-muridmu penasaran kau pergi kemana.”


“Tidak masalah, aku tidak memberikan apa-apa pada mereka. Aku sepenuhnya percaya pada kemampuan mereka.”


“Tapi…Master…haruskah…aku memberitahu mereka mengenai kondisimu saat ini pada murid-muridmu? Babak finalnya besok, sore tadi Carnation-san sempat kemari dan memeriksa keadaanmu, dia bilang kau harus istirahat total hingga manamu penuh kembali seperti sedia kala. Dia bertanya apa yang kau lakukan hingga kau menjadi seperti ini, dan aku menjawab apa adanya, ‘Master kelelahan’.”


Aku memandang wajah Camelyum selama beberapa detik, lalu menatap langit-langit. Sungguh, entah kenapa tubuhku begitu berat walaupun aku ingin bangun. Apakah ini sisa luka saat melawan bocah bernama Azalea itu?


“Babak final itu…mereka sampai disana…?”


“Ya, ke-3 muridmu, Amaryliss, Iris, dan Elder, mereka akan duel di final besok. Aku yakin mereka pasti berharap kau datang melihat mereka bertarung.”


“Mereka berjuang dengan baik. Padahal aku tidak mengajarkan apa-apa pada mereka.”


“Apa menurutmu…kemampuanmu sebagai seorang pengajar jenius mulai kembali sedikit demi sedikit?”


Aku tidak langsung menjawab. Bagaimana bisa kejeniusanku kembali begitu saja seperti mengedipkan mata?


“Bukan aku yang berubah, mereka yang berubah. Aku hanya menjadi arah angin mereka. Kurasa ada benarnya aku mengikuti saran dari Carnation-nee. Mengikuti arah angin.”


Haruskah aku memberitahu Riri kalau Azalea menyerang lagi kemarin? Dan kuberitahukan mengenai Hana no Uta?


“Maste—”


Camelyum memutus kata-katanya ketika memandang kembali wajah Riri, kedua kelopak matanya kembali menutup di wajah pucatnya. Napas pendek sedikit terdengar dari mulutnya. Camelyum bisa melihat dengan jelas kalau Masternya itu tidak bernapas normal seperti biasanya.


“Aku yakin…pasti Riri ingin melihat final duel murid-muridnya…tapi…”

__ADS_1


Apa yang membuat aliran mana Riri terus menurun sedrastis ini…apa aku harus berkonsultasi lagi dengan Carnation-san tanpa sepengetahuan Riri? Lalu memberitahu pada murid-muridnya mengenai kondisinya saat ini? Pikirkan pikirkan…!


“Riri, maafkan aku untuk kali ini saja, aku harus memberitahu orang yang paling tahu kondisimu. Demi kebaikanmu.”


__ADS_2