
“Hooam~”
Rasanya akhir-akhir ini keadaan akademi jadi lebih tenang. Gadis-gadis di akademi juga tidak melihatku dengan tatapan jahat lagi, malah mereka saat tak sengaja kupandangi, mereka menunduk hormat padaku layaknya seorang ‘guru’ sungguhan.
“Hm…ada yang aneh…”
“Ada apa, Master?”
“…Rasanya ada yang aneh disini…”
“Apa perlu aku mendampingimu?”
“Tidak jangan! Aku tak mau kelihatan mencolok...”
“Sungguh?”
“iya…tenang saja lah, Camelyum.”
Aku memang membuat Camelyum menjadi bentuk liontin yang kusembunyikan di leherku. Mengingat kalau hanya aku satu-satunya yang memiliki 2 jenis roh pedang, pasti menarik perhatian, dan juga aku tak ingin mereka yang berada di akademi ini berpikir yang aneh-aneh mengenai Camelyum.
“R-Riri sensei…”
“Oh?”
Ada 3 gadis yang bukan berasal dari kelasku mengajar. Mereka menatapku dengan malu-malu.
“Um…ada perlu apa—”
“Sensei! Tolong biarkan kami bergabung di kelas sihir bunga bersamamu!”
“Kami mohon!”
“Tolong ajari kami banyak ilmu tentang beladiri!”
“A-anu…”
“Tolonglah, sensei~”
“Kami mohon~~”
Eeh? Kok bisa begini sih?! Bukannya seluruh siswa akademi ini selalu melihatku dengan tatapan membunuh?! Kok jadi begini…!?
Baiklah. Aku harus tenang.
“Boleh saja.”
“Benarkah sensei!!?”
“Asalkan kalian tolong belikan roti yakisoba dulu untukku ya~ daah~”
“Sensei!!”
Kabur, aku harus kabur, kabur!
“UWAAH!”
Mendadak aku menabrak seseorang ketika sedang berbelok hingga kami berdua terpental bersamaan.
“S-Sakit........”
“M-maaf! Kau baik baik—”
“R-Riri-sensei?”
“Si galak?”
***
“Berharga.”
“Kenapa di dunia ini harus ada harga?”
“Apa bedanya dengan yang tidak berharga?”
“Sama sekali tidak ada bedanya.”
“Akan kubuat kau menyesal.”
“Maafkan saya mengganggu waktumu yang berharga, Tuanku.”
Sesosok manusia dengan rambut merah dan tubuh penuh luka. Pemandangan yang menjijikkan.
“Apa? Kau bilang waktuku itu berharga? Atas dasar apa kau berkata seperti itu?”
“Maafkan saya, Tuanku.”
Sungguh pemandangan yang menjijikkan di mataku.
“Kenapa kau kembali, Ixora?!”
“Karena saya akan selalu mengabdi pada Anda, Tuanku.”
“Huh? Apa aku berharga bagimu?”
“Sangat berharga, sangat! Tuanku.”
“Aku tak ada bedanya dengan debu berterbangan diluar sana.”
“Tidak! Tuan sangat berharga bagi saya! Hingga babak belur sekalipun, saya akan selalu membela Anda, Tuan!”
Apa itu yang disebut berharga? Mempertaruhkan nyawa?
“Jika memang itu definisi harga bagimu, kau akan kuampuni kali ini.”
“Terima kasih atas kemurahan hati Anda! Saya…saya pasti..saya pasti akan segera membawa beliau kemari!”
“Siapa maksudmu?”
“Sekali lagi terima kasih atas kemurahan hati Anda!”
Pria itu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku. Menjijikkan.
“Aku ingin mendengarnya dari kau, bocah. Apa itu harga dan kenapa harus ada harga?”
Aku menarik pedangku dan mengarahkannya ke langit.
***
“Haah~~”
“Kau baik-baik saja, Master?”
Keadaan akademi Hanatarou benar-benar jadi aneh. Tatapan membunuh seluruh siswi di seluruh akademi ini benar-benar menghilang dariku. Aku yang sudah terbiasa dengan tatapan jahat seluruh siswi di akademi ini jadi benar-benar merasa ada yang hilang.
“Apa aku perlu menghiburmu?”
“Jangan! Tetap disana, aku tak ingin kau terlihat mencolok.”
“Dimengerti.”
“Tapi…”
“Kenapa?”
“Kalau kau mau menghiburku…apa yang akan kau lakukan?”
Saat ini aku sedang berbaring di bawah pohon besar di taman akademi. Hanya memandangi awan putih yang berarak di langit. Jam mengajarku masih 2 jam lagi.
“Apapun perintahmu pasti kulakukan.”
“Bener nih?”
“Tentu saja, Anda adalah Masterku yang berharga.”
Pipiku agak memerah mendengar kata-kata Camelyum. Masternya yang berharga katanya? Walaupun Carnation-senpai adalah pengasuhku sejak kecil dan tidak aneh jika dia mengucapkan kata-kata sayang padaku, entah kenapa kata-kata dari Camelyum terasa berbeda.
“Uh…bukankah seharusnya seorang pemilik roh bunga harus melakukan perjanjian dengan roh bunganya itu sendiri agar bisa dikendalikan sepenuhnya?”
“Anda tak perlu melakukannya Master, karena aku sudah ditakdirkan untuk menjadi roh bungamu hingga tercapai tujuan untuk mendapatkan benih.”
Aku memandangi kalung berbentuk bunga Lily di leherku. Jadi memang untuk benih ya. Hingga saat ini pun aku masih belum mengetahui tujuanku mengejar benih.
“Camelyum, kau pernah menjadi Master orang lain sebelum aku kan?”
“Benar.”
“Siapa dia? Apa salah satu keluargaku?”
“Sayangnya ingatan roh bunga akan terhapus jika tujuan Masternya telah tercapai.”
“A-apa?”
“Apa Anda belum tahu, Master?”
“Kau sendiri tahu kan kalau roh bungaku baru bangkit di usiaku yang ke 23 tahun ini…”
“Maafkan aku, Master.”
“Loh kok minta maaf?”
“Karena keberadaanku lah, roh bungamu mengalami waktu yang lama untuk bangkit.”
“Keberadaanmu?”
“Ya, karena—”
“Riri Hanamizuki!”
Aku terlonjak kaget saat ada suara yang berteriak memanggilku, dengan terburu-buru aku menyembunyikan kalung Camelyum dibalik bajuku.
“A-apaan sih? Bikin kaget saja…”
Yang berteriak memanggil namaku dengan nada marah adalah…
“Alstro-san, jangan berteriak begitu, kalau tadi Riri-san sedang tidur bagaimana?”
“A-aku gak teriak kok Typha-chan!”
Rupanya mereka kedua orang yang nyaris membunuhku di hari pertama masuk ke akademi ini.
“Ada perlu apa sih? Ganggu semediku saja…”
__ADS_1
“Apa kubilang, Alstro-san.”
“Memangnya kau itu seorang pertapa pakai semedi segala?”
“Ada apa sih~”
Aku menunjukkan wajah malas dan kembali rebahan di rumput.
“D-dengarkan aku dong Riri Hanamizuki! Duel kita waktu itu belum selesai kan!?”
“Kenapa? Mau dilanjut? Aku gak mau—”
“Tidak, aku…aku mengaku kalah...”
Dengan segera aku terlonjak dan memandangi wajah Alstromeria yang memerah.
“Kok tiba-tiba?”
“P-pokoknya aku mengaku kalah! J-jadi…jadi kau tak perlu bergabung ke pasukan keamanan akademi Hanatarou—”
“Hmm tak apa, aku juga penasaran.”
“Eh?”
“Pasukan keamanan kedengarannya keren, kalau aku ikut denganmu melihat-lihat kesana tak apa-apa kan? Lagipula kata ‘keluyuran’ terus terngiang ditelingaku lo.”
***
Amaryliss hanya bergumam tak jelas sambil membaca mantra sihir dibukunya di perpustakaan akademi. Elder yang memperhatikannya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Amary-chan…kenapa kau terlihat uring-uringan begitu sih?”
“Tidak apa-apa kok, Elder-chan.”
“Bohong... Amary-chan belum pernah uring-uringan sampai seperti itu kecuali saat…Riri-sensei menabrakmu di hari pertama.”
Amaryliss berdiri dari tempatnya. Ia memandangi Elder dengan tatapan berkaca-kaca.
“A-Amary-chan?”
“Kurasa aku hanya bisa menceritakannya padamu, Elder-chan...”
“Huh?”
“Pagi ini Riri-sensei sudah kembali ke akademi.”
“Benarkah?! Apa Riri-sensei sudah sehat?”
“Kurasa begitu…”
Amaryliss meremas roknya. Bibirnya bergetar.
“Amary-chan?”
“Saat aku tak sengaja menabraknya di lorong tadi, entah kenapa aku jadi tak berani melihat wajahnya…wajah itu…wajah yang…sangat mirip dengan…orang itu…orang yang takkan pernah bisa kuraih…”
“J-jangan-jangan…”
“Tuan Raflesia…”
Tanpa sadar airmata menetes dari pelupuk mata Amaryliss.
“Seseorang yang takkan pernah bisa kuraih…hingga dia mengasingkan seluruh rasku…apakah cinta seperti itu…salah? Apakah jika aku menyukai Tuan Raflesia walaupun dia telah mengasingkan seluruh rasku…apakah aku…melakukan cinta terlarang?”
Elder memeluk Amaryliss erat.
“Kenapa dia…kenapa orang itu datang kesini? Kenapa harus dia? kenapa harus dia yang mirip dengan Tuan Raflesia?!”
Elder memeluk Amaryliss semakin erat. Perlahan dia pun membuka mulutnya.
“Walaupun Riri-sensei dan Tuan Raflesia memiliki wajah yang mirip…tetapi mereka berbeda. Riri-sensei seorang guru dan Tuan Raflesia seorang raja agung…jadi walaupun wajah mereka sama…hati mereka pasti tidak begitu…yakinlah itu Amary-chan…”
“Lagipula Riri-sensei dan Tuan Raflesia benar-benar berbeda, Riri-sensei orang yang menyenangkan walau terlihat ogah mengajar kita sebagai muridnya. Tetapi aku bisa melihat kalau dia adalah seorang guru yang bisa diandalkan.”
“Kata-katamu memang benar, Elder-chan…tapi…”
“Tapi?”
“Bukankah semua laki-laki itu memang punya sifat mesum sekalipun dia seorang guru?”
“Eh?”
“Waktu itu, saat aku ingin menjenguk Riri-sensei di rumah sakit, aku melihat seorang gadis berada diatas tempat tidur bersamanya! Tuh kan, walaupun dia seorang guru, tetap saja dia cuma laki-laki mesum!”
Elder tertawa. “Sepertinya Amary-chan ingin sekali mengomeli Riri-sensei ya? Berarti Amary-chan yang galak sudah kembali~”
“Ah Elder-chan! Kenapa kau juga mengataiku galak?!”
Elder menggeleng sambil menahan tawa.
“Maaf…kedatangan Riri-sensei ke akademi ini memang telah memberikan warna baru, benar kan?”
Amaryliss terhenti sejenak. Dia memandangi sebuah buku yang dulu pernah dijatuhkannya dan dipungut oleh Riri. ‘Benih yang tidak pernah ada’.
“Walau begitu…aku masih penasaran apa yang ingin dicapai oleh Riri-sensei dengan menjauhkan kita dari segala teori tentang benih dan ingin kita mengejar impian yang sesungguhnya.”
“Hanya Riri-sensei yang tahu jawabannya… ah tidak, kelihatannya Riri-sensei sendiri masih ragu.”
Elder menggeleng. “Tidak…sejauh ini aku merasa kalau Riri-sensei masih dipenuhi keraguan, saat dia bertarung dengan orang asing tempo hari juga begitu. Dia terlihat sedang… mencari sebuah jawaban yang bahkan tidak ada pertanyaannya.”
“R-rumit sekali…”
“Itulah…um…salah satu persamaannya dengan… Tuan Raflesia…”
“Seperti yang kau bilang tadi Elder-chan…kalau Riri-sensei dan Tuan Raflesia itu berbeda…”
“Jadi…kau sudah merasa lebih baik, Amary-chan? Hari ini Riri-sensei kan sudah kembali ke kelas setelah 3 hari di rumah sakit, jadi bagaimana kalau kita sedikit menyambutnya?”
“E-eh?! Menyambutnya bagaimana?”
“Pengumuman yang tadi disebarkan Alstromeria-san pasti bekerja, jadinya Riri-sensei tak perlu dipelototi dengan tatapan membunuh lagi kan?”
“M-mana mungkin mereka semua percaya begitu saja!”
“Sudahlah ayo kita pergi!”
***
“Ha-halo…aku Riri Hanamizuki…jadi…”
“Jadi dia orangnya?”
“Yang telah melindungi akademi kita?”
“Guru magang di kelas sihir bunga?”
“Apa benar dia memiliki kemampuan rahasia yang hebat?”
“Apa ilmu sihir bunganya sangat tinggi?”
Tatapan mata membunuh seluruh gadis-gadis di akademi ini benar-benar menghilang seluruhnya. Saat aku berada di hadapan anggota pasukan keamanan akademi Hanatarou, mereka menatapku dengan tatapan berbinar.
Astaga, apakah aku sedang bermimpi? Kalau memang mimpi tolong jangan bangunkan aku!
PLAK!
“Sakit…ini bukan mimpi ya…”
“Riri Hanamizuki! Apa yang kau lakukan? Menampar pipimu sendiri?”
“Setidaknya panggilah Riri-san dengan sebutan sensei, Alstro-san.”
“C-cerewet!”
“Huh? Bukankah Typha-chan juga tidak memanggilku sensei? Memangnya berapa umurmu?”
“Rahasia.”
“Hah?”
“Semuanya, dialah Riri Hanamizuki yang kuceritakan itu. Kalian bisa bertanya apapun tentangnya. Tak perlu takut padanya, dialah satu-satunya laki-laki yang akan selalu melindungi akademi kita.”
“Hebat!”
“Riri-sama!”
“Ajarkan kami sihir terhebatmu, Riri-sama!”
“Riri-sama!”
Enggak mungkin.
Carnation-senpai, aku akan mentraktirmu cake strawberry kesukaanmu, pasti!
***
“Jadi itu ya, harga yang kau anggap?”
“Apakah Tuan masih tidak akan keluar?”
“Tidak, sungguh membuang-buang waktu saja. Aku akan menanti kalian sampai tewas satu persatu.”
“Tidak Tuan! Kami… kami bersumpah…kami takkan membiarkan Tuan yang tewas mendahului kami!”
“Begitu, jadi aku sangat berharga untuk kalian semua?”
“Tentu saja Tuan!”
Percakapan usai setelah tirai hitam kembali tertutup, dan sosok itu menghilang. Sosok bayangan yang merupakan Tuan Agung.
Organisasi ‘Kuroi Uta’.
Siapapun yang menghalangi demi mencapai tujuan Tuan Agung, maka dia harus mati. Itulah prinsip Kuroi Uta.
“Pertama Oreanda, lalu Foxglove, dan sekarang Ixora, nasib baik kau masih bisa kembali ke tempat ini.”
“Sudah kubilang jangan remehkan Ixora yang agung ini. Hidupku telah kuserahkan sepenuhnya untuk Tuan Agung.”
“Lalu rencana apa selanjutnya yang akan kita lakukan?”
Dari 12 kursi yang berjejer di ruang pertemuan yang hanya ditemani oleh cahaya lilin, 2 dari 12 kursi itu telah kosong, yang berarti tinggal tersisa 10 orang lagi.
__ADS_1
“Pertarunganku dengan anak itu benar-benar sangat menarik. Dan yang paling menariknya adalah, perlahan aku sudah bisa menguasainya, kelemahan apa yang ia miliki, apa yang akan membuatnya tidak berdaya.”
“Dasar payah, kembali saja babak belur begitu.”
“Berisik kau Amaranthus! Aku ini kakakmu!”
“Pertengkaran tidak akan menghasilkan apa-apa.”
Salah seorang dari mereka yang duduk di 10 kursi itu berdiri. Seorang berbadan besar dan tegap, dengan warna mata emasnya yang tajam.
“Mau apa kau Daffodil?”
“Tentu saja kali ini giliranku kan? Tetapi aku takkan sembrono seperti kau, Ixora.”
“Apa katamu!?”
Daffodil mengangkat tongkatnya dan ujungnya tepat berada didahi Ixora.
“Awas…kau tahu efek tongkat ajaibku yang sempurna ini kan?”
“Tidak ada yang sesempurna Tuan Agung!”
“Ah ya…kau benar juga…tetapi kemampuan tongkat ini bisa menyamai kemampuan luar biasa milik Tuan Agung, penasaran?”
Ixora menenangkan dirinya dan kembali ke tempatnya sambil berdecih kesal.
“Nah begitu dong…itu baru namanya anak baik…khukhukhu.”
“Apa yang mau kau lakukan Daffodil?”
“Ah tenang saja, sebelum menghajarnya, aku ingin mengajaknya minum teh di kediamanku, sambil mengungkap ‘kelemahan’nya, bagaimana, ide bagus kan?”
***
“Kau tidak apa-apa, Master?”
“Tidak apa-apa apanya…aku ini emang lemah kalau latihan fisik…rasanya harga diriku benar-benar jatuh saat latihan fisik di pasukan keamanan tadi…baru latihan lari beberapa meter aku sudah kepayahan…”
“Itu memang payah.”
“Jangan mengejekku begitu—”
“Maaf—"
“SELAMAT!”
Begitu Riri masuk ke kelasnya, ia dikejutkan dengan suara terompet dan ucapan selamat dari seluruh penjuru kelasnya.
“A-apa ini? Siapa yang ulang tahun? Ulang tahunku itu masih 2 bu—”
“Riri-sensei! Jangan terlalu mendetail begitu dong~”
Iris yang berada didekatnya langsung menggamit lengan Riri yang masih kebingungan.
“Kami semua sangat bersyukur karena Riri-sensei sudah kembali ke kelas ini!”
Riri menoleh ke arah Elder yang membawakan cake besar ke arahnya. Dia juga sempat melihat Amaryliss dibelakangnya.
“A-anu—”
“Sensei! Apa benar yang dikatakan ketua pasukan keamanan Alstromeria?”
“Sensei telah melindungi akademi ini?! Bagaimana caranya?!”
“Berarti sensei bisa menyelesaikan kasus lama itu dong!”
“Ah leganya!”
Riri benar-benar kebingungan. Setelah tadi dikerubungi gadis-gadis dari pasukan keamanan, sekarang dia dikerubungi oleh murid-muridnya di kelas.
Riri menarik napas.
“Master, apa perlu kusingkirkan mereka dari hadapanmu?”
“T-tidak tidak! Jangan muncul—”
“Sensei? Kau bicara dengan siapa?”
“Ah tidak tidak! Ehem, pertama aku benar-benar berterima kasih pada kalian semua atas kejutan ini. Kalian tahu…sebagai guru magang yang masih pemula disini, menerima kehangatan seperti ini benar-benar suatu kebahagiaan besar bagiku…apalagi dengan gadis-gadis imut seperti kalian…hiks…”
“Aah!!! Tetap saja Riri-sensei itu mesum!!”
Suara teriakan dari Amaryliss membuat semua murid menoleh padanya. Lalu mereka menatap lagi kearah Riri.
Tetapi Riri tidak ada disana. Entah berapa detik yang dibutuhkan hingga dia sudah berada di depan Amaryliss.
“B-bisakah kau hentikan meneriakiku ‘mesum’? Ini merupakan suatu kebahagiaan bagiku dikelilingi gadis-gadis imut begini lo, sungguh—”
“B-bukannya semua laki-laki memang begitu?!”
Amaryliss menjawabnya dengan muka memerah. Melihat wajahnya yang menurut Riri ‘lucu’, tanpa sadar ia mengelus rambut Amaryliss.
“R-Riri sensei!!!?”
“Kalau kau bisa menemukan bukti kalau aku ini ‘mesum’, akan kuakui deh. Untuk kali ini tolong jangan teriaki aku begitu ya? Oke? Oke?”
Anehnya Amaryliss sama sekali tidak melawan saat Riri mengelus rambutnya.
“Riri-senseeeeeeiii!!”
“Tidak tidak! Ayo kita mulai pelajarannya!!”
***
“Oh Riri? Tumben sekali kau datang kemari?”
“Ini cake strawberry kesukaanmu!”
Riri datang ke ruang Carnation dengan wajah yang berbinar-binar. Melihat wajahnya itu, Carnation langsung mendekatinya.
“Jarang sekali kau berwajah begitu, apa yang terjadi?”
“Pokoknya aku sangat berterima kasih kau telah membawaku kesini, senpai! Bagai impian kecilku yang terwujud!”
“He? Apa itu?”
“Tentu saja dikelilingi gadis-gadis imut! Ah~ jadi teringat saat terakhir kali aku menonton anime Mahou Shoujo Eriri-chan, kenapa studio mereka gak buat season selanjutnya sih, aku kan jadi penasaran!?”
Carnation tertawa. “Pasti itu karena Alstromeria yang mengumumkan betapa hebatnya dirimu sebenarnya kan?”
“Ah iya, benar juga, aku datang kesini juga ingin menanyakan tentang itu, yang waktu itu kuminta darimu saat dirumah sakit.”
“Kau ingin membaca waktu?”
Riri mengangguk. “Saat aku terbangun, ingatanku benar-benar menghilang, yang kuingat hanya pria berambut merah yang disebut Ixora. Setelahnya aku tak ingat, bagaimana Camelyum ada ditanganku, dan bagaimana bisa aku memiliki 2 jenis roh bunga? Bukankah itu mustahil?”
Carnation merentangkan tangan kanannya ke arah pintu dan memberikan segel didepannya, menutup semua tirai dan mematikan lampu. Dia mengganti penerangannya dengan cahaya dari bunga yang ada dimejanya.
“S-senpai?”
“Ini memang kasus langka, Riri, untuk itu aku menyegel sementara ruangan ini agar tak ada yang mengganggu dari luar. Jadi kau bisa keluarkan Camelyum sekarang.”
“Aku sudah disini.”
Camelyum saat ini berdiri di samping Riri.
“Sejauh ini, kasus seseorang yang memiliki 2 roh bunga hanya ada 0.1% dari seluruh ras didunia ini. Untuk itu Riri, aku cukup mengerti hingga sejauh ini kenapa kau selalu terancam bahaya semenjak memasuki akademi ini.”
“Eh? Apa aku memang selalu terancam bahaya?”
“Master?!”
“Yah, wajar saja Riri-kun, kau memang kelewat santai dalam menghadapi sesuatu hingga tak menyadari kalau dirimu juga dalam bahaya. Aku suka Riri-kun yang seperti itu~”
“Senpai!”
“Ah maaf maaf, mengenai misteri 2 roh bunga, sampai saat ini aku juga masih belum menemukan jawabannya.”
“Begitu…”
“Tapi untuk permintaanmu yang pertama, kau ingin melihat apa yang terjadi, kau bisa bertanya pada Camelyum disini.”
“Came…lyum?”
“Maafkan aku, Master.”
Riri tersenyum pahit. “Sudahlah…kurasa aku tak perlu mengingatnya…saat ini aku hanya ingin tahu mengenai misteri tentangmu, Camelyum.”
“Master?”
“Oh ya satu lagi, Riri-kun.”
“Apa?”
“Apa kau pernah mendengar tentang organisasi Kuroi Uta?”
“Huh? Apa itu?”
“Kurasa memang belum saatnya ya…tidak Riri, belum saatnya aku memberi tahumu tentang itu sekarang. Kurasa lebih baik sekarang kau mengobrol santai saja dengan Camelyum tentang dirinya dan segalanya. Semenjak keluar dari rumah sakit kau belum memiliki waktu untuk istirahat kan?”
“Aku harus cari waktu yang pas untuk itu…”
“Hah? Waktu yang pas?”
“Yah…karena aku mau menyesuaikan diri dengan suasana baru ini.”
Carnation menyalakan kembali lampu ruangannya.
“Riri-kun…pokoknya kau harus menjaga diri ya…jangan melibatkan dirimu dalam bahaya…”
“...”
“Oh aku hampir lupa! Riri-kun ambillah!”
Carnation melemparkan seutas kunci ke arah Riri.
“Ini kunci apa?”
“Maaf ya karena kau datang kesini tanpa rumah. Aku sering melihatmu tidur di kursi taman lo, hihihi—”
“Huh jahat sekali, kenapa tidak sejak awal kau berikan aku rumah?!”
__ADS_1
“Maaf maaf! Cake darimu pasti kuhabiskan tak bersisa!”