
“T-tidak mungkin…”
“Kastil sebesar ini…dan Riri-sensei tinggal sendirian?”
Tentu saja ke-5 gadis yang mengikuti Carnation pergi ke rumah Riri pasti terkejut begitu melihat tampak luar dari ‘kastil’ super besar yang ada dihadapan mereka.
“Tapi bagaimana bisa ada kastil di tengah hutan seperti ini?”
“Aku yang membuatnya, khusus untuk Riri.”
Jawab Carnation seraya membuka gerbang raksasa didepannya. Begitu semuanya memasuki halaman kastil, mereka semua kagum dengan hamparan bunga yang sebagian besar berwarna putih, benar-benar sangat cocok dengan rambut perak Riri.
“Tapi kenapa di tengah hutan? Kenapa Anda tak membuatkan kastil seperti ini di kota Laurel saja agar semua orang tahu kalau ada orang sehebat Riri-sama di kota ini?”
Pernyataan dari Alstromeria membuat Carnation menyunggingkan sedikit senyumnya. Tangannya mendorong gagang pintu besar yang terbuat dari kayu jati berkualitas dengan ukiran bunga Lily di sisi kanan dan kirinya.
“Banyak yang harus kuceritakan mengenai anak nakal itu…serta beberapa hal lain yang sebenarnya sulit untuk kuceritakan pada generasi penerus seperti kalian…”
Begitu masuk ke bagian depan kastil, lagi-lagi ke-5 anak gadis itu terkejut, bayangkan, ketika pintunya terbuka, terdapat ruangan yang sangat luas seperti aula pertemuan! Di tengahnya ada 3 sofa berukuran minimalis dengan tv flat besar di dindingnya. Lalu di sisi kanannya terdapat rak besar dengan banyak buku-buku yang berantakan. Di sebelah kirinya terdapat lorong besar dan sebuah pintu diujung lorong tersebut, yang tak lain adalah kamar Riri.
Seperti warna bunga di halaman, kebanyakan semua interior dalamnya juga berwarna putih, dengan desain bergaya klasik-modern. Membuat siapapun yang melihatnya merasa takjub.
“Kenapa Riri-sensei…tinggal sendirian di kastil sebesar ini…?”
“Hei, bukankah dia bersama roh bunganya?”
“Ah benar! A-ada dimana Riri-sensei? Apa dia sudah tiba disini bersama roh bunganya?”
Blam.
Ke-5 anak gadis yang masih takjub melihat seluruh bagian kastil langsung menoleh bersamaan ketika mendengar suara pintu ditutup.
“Guru kalian ada disini, tapi untuk sekarang, aku mohon jangan melihatnya dulu, karena kalian tidak akan sanggup.”
“Eh?”
“Apa maksud anda, Nona Carnation…?”
Carnation mengajak ke-5 gadis itu duduk bersama di sofa. Dia menghela napas berat sejenak.
“Apa…sensei baik-baik saja…?”
“Ah, pokoknya kalian tak perlu khawatir dengan anak nakal itu, kalian sudah berusaha keras menolongnya kan?”
“Nona Carnation…”
“Ya?”
“Sangat banyak…yang ingin kuketahui tentang Riri-sensei…semuanya…aku ingin tahu semuanya…kedatangannya ke akademi Hanatarou…bukan suatu kebetulan kan?”
“Kami memang muridnya, tapi kami tak banyak tahu tentangnya, padahal Riri-sensei sudah berjuang mengajari kami hingga kami bisa menjadi juara di turnamen sihir tahun ini…walaupun apa yang dia ajarkan memang sulit untuk dipahami! Kalau kami mengetahui lebih banyak tentangnya…pasti kami pun..akan lebih mudah memahami apa yang diajarkannya.”
“Sejak awal aku selalu mempercayai kedatangan Riri-sensei ke kelas kami…walau pada awalnya dia terlihat payah dalam mengajar…tapi sejauh ini, aku selalu merasakan aura hangat di balik punggungnya…tak pernah sekalipun aku merasakan ada aura hitam pekat yang menyelubunginya…kecuali di hari ini saat Riri-sensei menjadi seperti itu…apa Nona Carnation mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi pada Riri-sensei…?”
Mendengar pernyataan Iris dan Elder, Carnation tak langsung menyahutnya. Dia menyeruput sedikit teh Camomile yang disiapkannya beberapa saat lalu.
“Saya juga mendengar, kalau Anda menyebut Riri-sama dengan sebutan putra…apa Anda memiliki hubungan darah dengannya…?”
Saat mendengar pertanyaan Alstromeria, Carnation menyimpan kembali cangkirnya, menelan sedikit ludahnya.
“Riri-san adalah orang yang baik, tapi ada yang tidak suka melihat dia menjadi orang baik, sehingga orang itu ingin membuat citra Riri-san jatuh. Orang macam apa yang ingin menyakiti Riri-san yang aku sukai?”
Ketika Typha berkata dengan tatapan mata polosnya, membuat Carnation tidak tahan dan langsung mengusap-usap gadis bertelinga kucing itu, kemudian memandang ke-5 anak gadis didepannya bersamaan.
“Anak-anak perempuan itu memang selalu ingin tahu banyak hal yang sebenarnya tidak menarik ya…yah, aku maklumi itu. Sejujurnya aku tak ingin generasi penerus seperti kalian mendengarkan apa yang pernah Riri alami di masa lalu. Dia juga melarangku untuk menceritakannya… tapi kalian adalah anak muridnya, dan kalian juga sudah percaya penuh padanya…maka aku tidak akan ragu lagi untuk percaya juga pada kalian…”
“Nona Carnation…”
“Sebelumnya, ambil ini.”
Dengan sihirnya, Carnation mengeluarkan 5 kelopak bunga berwarna putih, dan diberikannya pada ke-5 anak gadis dihadapannya.
“Kelopak bunga Lily?”
“Yap, nama guru kalian kan berasal dari nama bunga ini. Telanlah kelopak bunga itu bulat-bulat.”
“Eeehh!!?”
“A-apa kelopak ini ada racunnya…?”
Tanya Elder begitu saja, karena menurut ilmu sihir bunga yang dipelajari di akademi Hanatarou, jangan sampai tertipu dengan kecantikan bunga Lily, karena kelopak bunganya memiliki racun yang dapat membuat jantung berdebar tak beraturan hingga yang paling parah adalah, kematian.
“Tenang saja, bunga ini aku ambil dan kurawat dari tanah kelahiran Riri. Tidak ada racun padanya. Ini akan membantu kalian mengenal guru kalian itu lebih dalam lagi.”
Walau pada awalnya ragu, akhirnya mereka ber-5 menelan kelopak bunga itu bulat-bulat. Carnation menuangkan teh Camomilenya lagi ke cangkirnya.
“Amaryliss-san, kau benar, kedatangan Riri ke akademi Hanatarou bukan hanya sekedar kebetulan. Aku memang sengaja mengirimnya dan menjadikannya wali kelas kalian, kelas yang paling sulit diajari.”
“Tapi kenapa?!”
Sahut Amaryliss antusias. Dia mencengkram kedua telapak tangannya erat.
“Untuk…memberinya suasana baru…”
“Suasana…baru…?”
“Guru kalian itu…sudah hidup di masa perang terakhir perebutan benih, tepatnya 15 tahun yang lalu, di masa itu, mungkin kalian masih sangat kecil sehingga tak mengetahui kondisi sebenarnya pada saat itu.”
“M-masa…perang terakhir perebutan benih…?”
__ADS_1
“Sudah cukup baginya mengalami banyak luka, sehingga aku mengirimnya kesini untuk melupakan semua itu, dan menjalani hidupnya dengan tenang. Tapi… aku tidak memprediksi kejadian seperti ini akan terjadi, seolah ada yang ingin membuat citra Riri jatuh dihadapan banyak orang, seperti yang dikatakan Typha-chan tadi.”
Typha yang jarang menunjukkan ekspresi wajahnya, kali ini kedua alis matanya berkerut. Telinga kucing yang ada di kepalanya menyusut ke bawah, dan dia menekan telapak tangannya di dada.
“A-aku akan me-menyingkirkan orang yang ingin menjatuhkan R-Riri-san!”
Katanya dengan terbata-bata. Carnation menepuk rambutnya.
“Riri memang seorang lelaki yang kuat, sebatang kara pun dia mampu bertahan, dan walau seisi akademi Hanatarou membenci kedatangannya, dia tetap saja datang tak melarikan diri. Setangguh itulah dia, dalam perannya menjadi seorang guru.”
Iris menggigit bibirnya pelan. Dia teringat kembali saat Foxglove menyerangnya yang masih tak bisa mengendalikan roh bunganya. Dia menatap sekilas pedangnya yang ada di pangkuannya.
“Seperti apakah…luka yang dideritanya…? Apakah parah…? Apakah sulit disembuhkan…? Apakah luka itu masih ada hingga sekarang…?”
Tanya Iris dengan mata berkaca-kaca. Carnation menyentuh punggung tangan Iris sesaat.
“Riri melarangku menceritakan masa lalunya. Dia tak ingin generasi penerus di masa depan memiliki nasib yang sama dengannya. Dia hanya ingin dilihat sebagai Riri yang sekarang.”
“T-tapi…”
“Walau terlihat seperti itu, Riri sangat disukai anak-anak, ketika dia menjadi pengajar di panti asuhan dulu, hampir semua anak-anak selalu menanti kedatangannya. Riri sangat mudah berbaur dengan mereka. Aku senang saat melihat wajahnya gembira bersama anak-anak saat itu.”
“B-benarkah?!”
“Tapi kenapa kita…?”
“Ya…tapi itu hanya berjalan sekitar beberapa bulan saja… setelah mendapat luka yang parah, dia berubah, walau anak-anak masih menyukainya, tetapi dia kehilangan kemampuannya sebagai pengajar, sehingga dia merasa putus asa. Karena tak ingin membuatnya terpuruk, maka aku mengirimnya ke akademi ini untuk mencari dunia yang baru.”
“Jadi karena itu…Riri-sensei…selalu bilang tak punya bakat mengajar…?”
Carnation tersenyum pahit mendengar kata-kata Amaryliss. Kemudian melanjutkan.
“Kalau saja dia masih memiliki ‘semuanya’ saat kukirim kesini…pasti seisi akademi ini akan menghormatinya sebagai satu-satunya lelaki yang ada di lingkungan akademi Hanatarou…tapi yah…itu tidak mungkin terjadi—”
“Nona Carnation! Semuanya itu…apa maksudnya? Apa Riri-sama menjadi orang yang berbeda jika memiliki semuanya yang kau bilang itu?”
Carnation agak kaget ketika Alstromeria tiba-tiba memotong kata-katanya. Menyadari Carnation memandanginya, Alstromeria langsung menundukkan kepalanya.
“Maaf, Nona Carnation—”
“Riri…maaf ya, karena aku harus menceritakan semuanya pada ke-5 gadis ini…kalau nanti kau akan marah padaku, aku sudah siap menerima konsekuensinya…”
“Nona Carnation…?”
***
“H-harus berapa lama…a-aku seperti ini…?”
“Sampai kau bisa masuk lebih dalam dan melihat semuanya.”
“T-tapi…”
“T-tolong jangan mengatai bodoh pada Riri—”
“Iya iya, sekarang diamlah dan tenangkan dirimu.”
Dianthus membantu memulihkan Camelyum dan juga Riri dengan kemampuannya menganalisa aliran mana. Setelah aliran mana Riri yang terkontaminasi racun telah kembali seperti semula, Dianthus tengah mencari sisa-sisa racun yang berkemungkinan dapat tumbuh kembali jika tidak segera dimusnahkan. Dia mengeluarkan cahaya di kedua tangannya dan diarahkannya pada tubuh Riri, juga Camelyum.
“Diantara semuanya, kaulah yang paling bekerja keras menghancurkan racun yang membekukan aliran mana Riri, Camelyum. Aku rasa kaulah yang paling kelelahan.”
“T-tidak…tolong prioritaskan Masterku dulu…!”
“Haah…kenapa kau sama keras kepalanya dengan si bodoh ini sih?”
Camelyum mengalihkan pandangannya, melihat Riri disebelahnya yang masih belum membuka matanya. Dia semakin mengeratkan genggamannya di telapak tangan Riri. Posisinya dan Riri saat ini bersebelahan, Dianthus memintanya untuk terus menggenggam telapak tangan Riri hingga proses pemulihan selesai. Tentu saja ini kali pertama Camelyum berada di satu tempat tidur dengan Riri.
“Aku susah-susah melakukan ini karena permintaan Nonaku…kalau bukan karena dia, aku gak mau melakukan ini—”
“M-maaf…Dianthus-san…”
Dianthus agak kaget mendengar kata maaf dari Camelyum yang terlihat malu-malu. Melihat rona memerah dari pipi mulus gadis itu, Dianthus menghela napasnya sejenak.
“Haah…aku ini paling gak tahan melihat raut kecemasan dari seorang wanita…tenang sajalah Camelyum….aku hanya bercanda…”
Camelyum menggigit bibirnya pelan. Tiba-tiba saja jantungnya terasa berdegup kencang ketika melihat lagi ke arah wajah Masternya.
“Sudah sampai mana kau melihat ‘isi’ dari Mastermu?”
“A-aku belum…”
“Haah ya ampun! Aku memintamu berpegangan tangan dengan Mastermu bukan untuk bermesraan! Kau harus melihat ‘kedalam’nya lebih jauh lagi!”
“A-aku sejak tadi melakukannya! Tapi…ini sulit…”
“Huh? Apa jangan-jangan racun itu masih tersisa?”
“Aku sudah pernah bilang padamu bukan…hati Riri sangat sulit dibuka…walau diluar dia terlihat sangat periang seolah tak ada apapun yang mengganggunya…tapi didalamnya tidak begitu…didalamnya dia terlihat gelap dan menderita…”
“…Peranmu sebagai roh bunganya adalah mencegah Mastermu jatuh ke dalam kegelapan. Kau bisa lihat kan, hubungan yang kupunya dengan Nonaku? Serta anak-anak gadis itu dan roh bunganya?”
“A-aku…”
Dianthus menyikut agar Camelyum tak bicara lagi.
“Sekarang tenanglah dulu, lihat, Mastermu bereaksi.”
“R-Riri…!?”
Camelyum merasakan kalau jari-jari Riri bergerak di tangannya.
__ADS_1
“Proses pemulihannya akan selesai sebentar lagi, maka sebelum itu, aku masih penasaran bagaimana racun itu bisa menyerang Mastermu. Apa kau masih ingat apa yang terakhir dia lakukan? Atau siapa yang terakhir kali dia temui? Sudah berapa lama kondisi tubuhnya terlihat aneh?”
“I-itu…aku tidak yakin tapi…”
“Racun tidak mungkin masuk begitu saja tanpa ada tanda!”
“Kurasa…kondisinya sudah aneh…saat turnamen sihir di akademi Hanatarou akan dimulai…”
“Turnamen sihir?”
“Riri selalu berdalih kalau dia baik-baik saja, dia memang orang yang keras kepala seperti katamu.”
Dianthus menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau benar-benar cocok jadi roh bunganya”
Camelyum sedikit tersenyum mendengarnya.
“Apa Mastermu pernah terluka? Dia sudah berkali-kali bertarung dengan anggota Kuroi Uta kan?”
“Ya…tapi dia sangat tenang dan tidak gegabah, dia akan menggunakan aku jika sudah terdesak saja atau emosinya benar-benar memuncak…seperti saat melawan peringkat 5 Ixora, peringkat 4 Daffodil, dan terakhir…peringkat 8 Azalea…saat melawan peringkat 11 Oreanda dan peringkat 10 Foxglove, dia sama sekali tak mengeluarkan aku untuk membantunya.”
“Mastermu itu benar-benar nekat ya…orang yang dia lawan itu bukan manusia tapi tak menggunakanmu? Ya ampun…”
Camelyum hanya tersenyum singkat.
“Jadi…yang terakhir dia lawan adalah peringkat 8 Azalea…apakah dia menggunakan serangan tertentu dan mengenai Mastermu?”
“Tidak, kurasa bukan Azalea…akulah yang mengalahkan Azalea…Riri hanya mengalahkan senjatanya saja, naga api raksasa dengan menggunakanku. Namun setelah itu dia dengan sembrono mengeluarkan Camelyum buster sehingga membuat mananya kembali terkuras habis. Tetapi tak ada serangan berarti dari itu.”
Dianthus mengangguk-angguk. “Lalu bagaimana saat melawan Ixora?”
Camelyum tak langsung menjawabnya.
“Hei?”
“Ah…saat melawan Ixora itulah…aku muncul…dan langsung membuat Riri kehabisan mananya hingga tertidur selama 3 hari penuh…”
“Kau pertama kali muncul pada saat itu dan Mastermu langsung tumbang? Astaga…kalian berdua benar-benar pasangan teraneh yang pernah kutemui.”
Camelyum menelan sedikit ludahnya, ketika merasakan telapak tangan Riri bereaksi lagi.
“Jadi…mereka semua tidak membuat Mastermu terluka kecuali menghabiskan mana…hmmh…sulit juga menemukan penyebabnya—”
“Tunggu. Kurasa aku tahu sesuatu.”
Dianthus selesai memberikan cahaya pemulihan pada Camelyum dan Riri. Setelah berdiri selama lebih dari satu jam lamanya disana. Dia menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan lega.
“Haaahh….akhirnya selesai juga…apa yang mau kau katakan tadi?”
Dianthus duduk disebuah kursi kayu dengan ukiran unik di kedua pegangannya. Dia mengeluarkan secangkir teh melati di tangannya dengan sihir dan menyeruputnya perlahan. Camelyum pun mencoba bangkit perlahan dan tetap mempertahankan posisi tangan kanannya yang masih menggenggam tangan Riri.
“Ini mungkin saja… tapi…kurasa itu penyebabnya…”
“Apa itu? katakan!”
“Saat…peringkat ke-5 Daffodil melukainya 2 kali…”
“Huh?”
Dianthus menjentikkan jarinya dan cangkir teh melati yang kosong itu langsung lenyap. Dia menatap serius ke arah Camelyum.
“Dimana lukanya? Seperti apa lukanya? Apakah parah?”
Camelyum terkejut ketika langsung diberi pertanyaan bertubi-tubi.
“Ah maaf, aku merasa disitulah penyebabnya.”
“T-tidak apa…yang pertama, lengannya terkena serangan tombak Daffodil, namun salah satu muridnya, Elder, berhasil menyembuhkannya. Yang kedua kalinya, saat Riri lengah, tombak itu melukai betisnya, dan begitu aku ingin mengobatinya, luka itu sudah hilang. Riri bilang tiba-tiba saja luka itu sudah tidak sakit lagi.”
“Daffodil si peringkat ke-5 ya…kurasa aku pernah melihat dia di perang perebutan benih yang lalu…tapi entahlah…”
“Jika memang luka yang dibuat Daffodil penyebabnya…apa yang coba dia lakukan dengan meracuni Riri?”
“Ya…organisasi Kuroi Uta penuh misteri dan semakin hari semakin menjadi…saat melawan si peringkat ke-4 kemarin, Gladiolus itu saja sudah merepotkan. Bagaimana dengan peringkat diatasnya?”
“Aku akan menghancurkan mereka, dan melindungi Riri dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginannya.”
“Jadi, apa sudah saatnya bagi anak-anak itu mengetahui rahasia Mastermu?”
“Eh?”
Dianthus melipat kedua tangannya didada, lalu berdiri dari tempatnya.
“Yah, untuk hari ini cukup. Kau bilang Mastermu prioritasmu kan? Maka berusahalah lagi untuk masuk kedalam hatinya. Tetaplah berbaring di sisi Mastermu sampai dia membuka matanya lagi. Aku sudah menghilangkan sisa-sisa racun kecil yang ada di aliran mananya. Normalnya saat sadar nanti, dia takkan bisa terlalu banyak bergerak karena aliran mananya belum selancar pada keadaan normal. Maka kau sebagai roh bunganya, jangan pernah meninggalkan dia selangkah pun sampai pulih. Mengerti kan?”
Camelyum membetulkan posisi selimutnya yang miring. Dia menyandarkan punggungnya di dinding, sambil tetap mempertahankan posisi tangannya yang masih menggenggam tangan Riri.
“Dianthus-san…terima kasih banyak...”
Camelyum menundukkan kepalanya dengan sopan, hingga membuat Dianthus agak kaget.
“Uh…yah sudahlah! Aku mau tidur dulu, malam!”
Seketika Dianthus pun lenyap. Hanya tinggal menyisakan Camelyum dan Riri.
Tempat yang ditempati sekarang memang bukan kamar yang waktu itu terkena serangan Gladiolus tempo hari, tetapi kamar di lantai tertinggi di kastil Riri. Sehingga dia bisa melihat dengan jelas taburan bintang dari balik jendela kaca yang ada dilangit-langit.
“Riri…”
Tanpa disadari, Camelyum mencium bibir Masternya dengan lembut.
__ADS_1