
“Dengan munculnya bunga abadi Raflesia Arnoldi, mari kita junjung kepemimpinan Raja kita! Beri penghormatan penuh pada beliau atas dedikasinya melindungi kita semua! Hidup Yang Mulia Raja!”
Sorak sorai para pasukan tempur yang menyerukan nama rajanya. Kelopak bunga raksasa yang muncul di langit. Tidak memiliki wangi yang sedap, tetapi entah kenapa semua orang menyukainya. Karena dari dalam bunga itu muncul sesosok raja yang tersenyum ke arah mereka semua.
“Rakyatku, bunga ini akan menjauhkan kita semua dari marabahaya. UNTUK SELAMANYA!”
“HIDUP RAJA! HIDUP!”
Seorang gadis kecil yang melihat pemandangan ini hanya terpana. Sosok raja yang berada dilangit. Tersenyum pada semua orang.
“Apa beliau…melihatku?”
“Hah!?”
Mimpi.
Ya, itu mimpi. Mimpi dari kehidupan masa laluku.
Jika aku melihat bunga itu lagi darimanapun, yang kubayangkan adalah sosoknya. Sosok raja agung yang memikul beban berat rakyatnya, tetapi kenapa dia masih bisa tersenyum seperti itu?
Apakah dia juga tersenyum padaku? Tersenyum dari lubuk hatinya?
“Amary-chan~ ayo kita sarapan bersama~”
Suara Elder yang memanggilku membuatku menyadarinya lagi. Ya. Jalani saja kehidupanmu yang saat ini. Bukan terus-terusan melihat masa lalu.
“Amary-chan, apa kau tahu? Orang yang waktu itu kau teriaki ‘mesum’ itu akan menjadi guru magang di kelas kita.”
Sontak aku terkejut. “A-apa!? Yang benar saja!?”
“Tetapi... kenapa kau menyebutnya mesum, Amary-chan?”
“P-pokoknya jangan bahas itu! Itu memalukan!”
Aku tahu Elder-chan pasti penasaran. Tetapi kalau kuingat-ingat lagi kejadian itu, sungguh memalukan.
“Ayo kita bolos saja pelajaran hari ini!”
“Hee? Kenapa?”
“Kalau orang itu yang jadi pengajarnya, aku gak mau!”
“Tetapi pelajaran kita sekarang yang paling penting…yaitu sihir bunga…bukankah kau bilang kau ingin mempelajari lebih banyak lagi tentang sihir bunga?”
“I-iya sih…tapi orang itu benar-benar enggak keliatan kalau dia itu guru!”
Elder tertawa pelan. “Siapa tahu…walaupun kau mengatainya mesum, tetapi sebenarnya dia pintar…”
“Tak mungkin! Aku yakin itu!”
“Oh iya, bukumu yang berjudul ‘benih yang tak pernah ada’ hari ini dibawa? Aku ingin meminjamnya.”
Buku itu. Benar juga. Orang itu pasti!!
***
“Semuanya kenalkan, dia akan menjadi guru magang kalian di pelajaran sihir bunga untuk sementara.”
Aku benar-benar disini. Berdiri dihadapan semua gadis-gadis yang merupakan siswa di kelas sihir bunga. Parah. Banget.
“Aku Riri Hanamizuki, mohon kerja samanya.”
Aku menyapa mereka dengan cuek. Dan ketika kulihat disekeliling. Aih. Gadis itu ada disini. Kuharap dia tak meneriakiku ‘mesum’ disini.
“Sensei! Memangnya Taiyou-sensei kemana?”
“Dia sedang ada tugas di tempat lain, jadi mulai saat ini Riri-sensei yang akan menggantikannya. Baiklah selamat belajar.”
Sepertinya yang mengenalkanku disini adalah wali kelas ini. Setelahnya dia pergi dan aku masih berdiri didepan kelas. Aku bagaikan ditatap anak harimau yang sedang menakut-nakuti seorang pemburu yang ingin menangkapnya.
“Menghapus idealisme?”
“Ya. Mereka semua terkena idealism yang menganggap semua laki-laki jahat dimata mereka. Kalau terus seperti ini, akademi Hanatarou akan kekurangan siswa. Sudah sejak 10 tahun terakhir akademi ini tak pernah lagi memiliki siswa laki-laki.”
“Memangnya apa yang terjadi?”
Aku menunggu penjelasan Carnation-senpai. Orang aneh ini sedang menatapku serius. Tak biasanya.
“Ada seorang siswa laki-laki, yang kehilangan kendali dan menjadi pembunuh berantai. Pembunuhan yang dilakukannya pun tanpa ia sadari. Begitu sadar, dia sama sekali tak mengingat jika dia membunuh seseorang. Kejadian 10 tahun lalu itulah yang parah.”
Aku tercekat. “Pasti ada alasan kenapa dia jadi seperti itu.”
Carnation-senpai mengangguk . “Ya, pengaruh sihir hitam. Dengan membunuh, dia akan menghisap kekuatan roh bunga yang ada, dan menjadikannya pemilik roh bunga terkuat.”
“Tujuan apa yang dilakukan orang bodoh begitu?”
“Tentu saja untuk mendapatkan benih.”
Itu masuk akal. Semua orang pasti melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan benih. Padahal mereka semua tak pernah tahu, seperti apa benih itu sebenarnya. Tak pernah ada seorangpun yang tahu.
Tetapi kenapa mereka ingin mendapatkan benda yang bahkan tak tahu apa bentuknya? Dan kenapa aku juga sangat berniat sekali ingin mendapatkannya?
“Lalu selanjutnya?”
“Sejauh ini memang tak pernah ada yang berhasil mendapatkan benih tersebut. Hanya menyisakan perang yang sia-sia dan korban tak berdosa untuk mendapatkan sesuatu yang bahkan kita tak tahu seperti apa bentuknya. Riri-kun, menurut persepsimu sendiri, kenapa semua orang ingin mendapatkan benih hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkannya?"
Aku tak bisa menjawabnya. Karena aku sendiri juga menginginkannya.
“Bagaimana denganmu?”
“Aih kenapa kau malah membalik pertanyaanku?”
“Orang bodoh takkan langsung menjawabnya.”
“Riri-kun kau memang bodoh.”
Aku tertawa. “Lalu apa yang harus kulakukan disini? Kuberi tahu satu kali lagi ya. AKU GAK ADA NIAT JADI GURU! Sekalipun kau memaksaku untuk mengubah idealisme mereka!”
Carnation-senpai mengangkat tangan kirinya. Mengarahkan jari telunjuknya ke bibirku.
“Karena aku lebih menyukai orang yang bodoh namun peduli dibandingkan orang yang cerdas tapi egois. Salah satunya kau, Riri-kun.”
“Hah?”
“Murid-murid disini belum mengerti sepenuhnya kenapa mereka menjadi murid disini. Aku ingin kau memperhatikan mereka semua hingga mereka menemukan jalannya. Tujuan sesungguhnya dari jalan kehidupannya. Tanpa perlu takut lagi untuk mencintai laki-laki. Tak hanya untuk memprioritaskan benih yang bahkan kita belum tahu seperti apa bentuknya. Sejauh ini kita hanya melihat dalam sejarah bahwa benih mampu membuat kita berkembang jadi apa saja, dan bersifat mutlak.”
“Jadi kau ingin aku mengubah jalan pandang mereka? Kau sangat aneh.”
Carnation-senpai duduk kembali di kursinya. “Singkatnya begitu.”
“Mengubah jalur hidup seseorang tak semudah membalikan telapak tangan!”
“Jangan bandingkan dengan telapak tangan.”
Carnation-senpai tersenyum aneh. Senyum anehnya itu membuatku agak bergidik ngeri.
“Murid-murid disini seperti selembar kertas yang terisi penuh, dan tak mau membalik halaman selanjutnya, tugasmu adalah membuat mereka membuka halaman selanjutnya. Begitulah intinya.”
Aku masih diam. Lalu membalikkan badanku.
“Dengan cara itu roh bungaku akan bangun?”
“Entahlah…mungkin ya atau tidak.”
“Hmh...”
Aku memegang bahuku yang tadi tergores oleh gadis berseragam itu. Aku menyunggingkan senyumku.
“Jadi…aku harus menjadi tukang kebun yang harus membuat bunga liarnya menjadi cantik? Itu lebih seperti pemburu yang ingin menjinakkan harimau yang diburunya. Tahu!”
Begitulah. Saat ini aku ada dihadapan para harimau itu.
“Oi sensei! Sudah 15 menit kau terdiam!”
Astaga, si rambut pink itu lagi. Dia sungguh tidak sopan. Tadi dia memanggilku sensei, lalu belakangnya memanggilku ‘kau’.
Aku menghela napas berat. Aku gak punya bakat bohong. Sebaiknya aku beritahu saja pada mereka, dan lagi mereka masih melihatku dengan tatapan jahat.
“Baiklah, aku beri tahu kalian satu hal. Pertama. Aku gak ada niat jadi guru. Aku kemari karena suatu tugas aneh yang harus kukerjakan.”
Semua gadis-gadis itu terkejut dan memandangku makin jahat.
__ADS_1
“Lalu kenapa kau datang kesini?!”
Si rambut pink benar-benar terlihat gak suka melihat wajahku. Disampingnya ada gadis berambut pirang yang berusaha menenangkannya.
Aku melipatkan kedua tanganku. “Aku kemari hanya karena ingin menjinakkan harimau yang hendak aku buru.”
“KYAAAA!!!”
Beberapa gadis-gadis itu berteriak ketakutan. Sepertinya perumpamaanku gak cocok buat mereka.
“H-hei tunggu tunggu, bukan begitu maksudku! Aku hanya—”
“Kau benar-benar orang aneh yang mencurigakan…!!”
Gadis berambut pink itu sudah memegang pedang. Roh bunganya berwarna pink yang indah. Itu pasti roh bunga ras Amaryliss.
“MATI SAJA KAU MESUUUUMMMM!!!!!”
Yah, aku benar-benar sial disini.
BWOOSSHH!!!!
Sebelum sebilah pedang menebasku untuk yang kedua kalinya, aku mengeluarkan sihir pertahanan. Sihir kepingan bunga Dandelion hingga membuat waktu seketika melambat.
“Haah, untunglah aku masih ingat sihir Dandelion ini.”
Aku menarik pedang yang dipegang cewek galak itu. Kuhilangkan sihirku dan waktunya kembali.
“Apa yang kau lakukan pada pedangku!?”
Aku masih menggenggam pedang gadis itu. Bentuknya memang indah. Bilahnya berwarna perak kemerahan. Ukiran bunga Amaryliss terpampang di bagian depannya. Jadi seperti inilah bentuk roh bunga yang telah bangkit?
“Hei nona kecil. Pedangmu sangat indah.”
Raut wajah gadis itu berubah. Wajahnya yang tadi garang dengan niat membunuh berubah menjadi bersemu merah.
Aku melihat ke sekeliling. Ya ampun, parah banget. Mereka semua mengeluarkan semua roh pedangnya. Kecuali gadis berambut pirang yang tadi kulihat duduk disamping si rambut pink. Dia malah memandangku khawatir.
Aku menghela napas kembali.
Kukembalikan pedang indah di tanganku ke si cewek galak. Lalu aku berdiri tegap dihadapan semua harimau ini.
“Kalian tahu, semua roh bunga kalian sangat cantik.”
“Mau menggoda kami ya, orang mesum!?”
Gadis galak bermata hijau itu hendak menyerangku lagi. Aku mengangkat tangan kiriku. Gadis itu langsung menghentikan serangannya.
“Apa kalian sudah paham betul, kenapa roh bunga bangkit dan menjadi senjata kalian? Apa tujuan kalian membangkitkan roh bunga itu?”
Seisi kelas hening seketika. Hanya terdengar suara ‘kling’ ‘klang’ besi dan baja dari senjata gadis-gadis ini.
“Karena benih?”
“Tentu saja karena benih! Kami harus menjadi lebih kuat demi mendapatkan benih itu! Benih yang dapat melakukan segalanya!”
Si rambut pink berteriak didekatku dengan posisi masih menyiapkan kuda-kuda. Sayangnya pergerakannya kuhentikan total dengan sihir bunga Bluebellku.
“Kalian sungguh sangat lucu ya? Kenapa memperebutkan sesuatu yang bahkan tak tahu apa itu? Itu sungguh bertentangan dengan apa yang sebenarnya kalian impikan.”
Aku tertawa. Seisi kelas itu masih memandangku jahat. Kecuali gadis berambut pirang itu.
Kuubah pandanganku menjadi serius. Sambil terus menahan sihir Bluebell yang kusebarkan diseluruh ruang kelas ini agar mereka semua tak menyerangku.
“Dengar. Aku memang tak punya niat jadi guru. Jadi kuberi kalian satu nasihat. Kejarlah apa yang pasti, bukan mengejar sesuatu yang sudah jelas TAK PERNAH ADA SEPERTI BENIH ITU! Roh bunga ada untuk membantu menggapai impian kalian! Bukan mengejar benda tidak jelas SEPERTI BENIH ITU! Apa kalian tak merasakannya? Itu sama saja seperti ingin menangkap angin yang bahkan tak bisa dilihat!”
Raut wajah gadis-gadis itu mulai berubah. Kurasakan getaran dari roh pedang yang mereka pegang meregang.
Apa yang kukatakan?
Apa itu hanya gertakan?
Kata-kataku tadi, menusuk juga tepat didadaku.
Apa yang kupikirkan?!
Aku menoleh ke arah gadis galak itu didekatku. Raut wajahnya juga berubah.
“Hanya orang bodoh saja…yang mengejar sesuatu yang bahkan tak jelas asal usulnya darimana…”
“…”
Aku melangkah keluar ruang kelas itu. Suasananya pun sudah bukanlah sebuah hutan yang sedang dikelilingi harimau lagi. Karena pemburunya telah melarikan diri.
***
Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa dia bisa menahan pergerakanku tadi?
“Kau tidak apa-apa Amary-chan?”
Bahkan seisi kelas juga terlihat bingung. Apa kata-kata dari orang aneh itu menusuk tepat di hati mereka?
“Elder-chan…apakah…”
“Dia guru yang tepat.”
Suara Iris memecah keheningan.
“Apa maksumu Iris-chan?!”
“Aku penasaran kenapa ada orang seperti dia yang mau saja menjadi guru disini. Kurasa dia belum tahu seperti apa mengerikannya akademi ini BAGI PARA LAKI-LAKI.”
Tetapi kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Dia bilang benih itu tak pernah ada? Apa maksudnya?
“Hei apa kau percaya apa yang tadi dikatakannya?”
“Mana mungkin kutelan mentah-mentah!”
“Kita harus mengusirnya dari sini!”
“Merusak pemandangan saja!”
Beberapa diantara mereka terlihat membenci orang aneh itu. Tentu saja aku juga membencinya, kejadian waktu itu takkan pernah aku lupakan!
“Roh bungamu cantik ya.”
Tetapi ada apa dengan raut wajahnya waktu dia melihat roh bungaku? Kenapa dia tampak begitu takjub?
Ah. Dia kan payah! Pasti belum pernah melihat roh bunga secantik ini.
“Kita harus bagaimana? Pelajaran sihir bunga kita—”
“Berarti hari ini kita bebas kan? Yahuu!! Ayo kita ke kantin!”
Beberapa murid malah berlarian keluar. Kenapa jadi begini?! Padahal pelajaran sihir bunga ini adalah pelajaran yang paling kunantikan!
“Amary-chan, apa kau merasakannya?”
“Apa?”
“Riri-sensei tadi memakai sihir Bluebell yang cukup kuat. Beliau menahan pergerakan kita semua disini agar tak menyerangnya.”
Aku tercekat. Benar juga, semua orang dikelas ini bisa saja menyerangnya. Tetapi mereka hanya memegang roh bunganya saja tanpa berniat menyerang. Bahkan setelah orang aneh itu bicara, raut wajah mereka juga jadi berubah.
“Apa jangan-jangan dia pengguna sihir hitam!? Orang itu benar-benar mencurigakan!”
“T-tunggu Amary-chan...”
“Apalagi? Akan kucari orang itu dan akan kulenyapkan dia dari sini! Aku takkan pernah sudi diajari olehnya!”
“Aku sejak tadi memperhatikannya. Dia tak memiliki niat jahat sama sekali…hanya orang biasa.”
“Kenapa kau seyakin itu, Elder-chan?”
“Karena aku melihat tatapan teduh dibalik cahaya matanya.”
Aku terkejut. Tatapan teduh? Bagaimana bisa?
“Elder-chan, sihir pendeteksi auramu itu tidak error kan?”
Elder-chan menggeleng. “Karena itulah sejak awal melihatnya aku merasa dia seseorang yang bisa diandalkan.”
__ADS_1
Sejauh ini penglihatan Elder-chan memang belum pernah salah. Tetapi aku tetap tak yakin jika itu tentang laki-laki yang sembarangan menyebutkan warna celana dalamku. Mesum!!
“Aku akan mencarinya dan akan kubuktikan penilaianmu, Elder-chan!”
***
“Sial…kenapa sihir seperti itu kugunakan untuk menjinakkan harimau?”
Riri berada di atap gedung akademi Hanatarou. Berbaring. Sihir Bluebell yang tadi ia gunakan memang menguras banyak mana.
Dia masih mengingat apa yang tadi diucapkannya.
Kenapa aku merasa tertusuk juga? Dan kenapa aku mengatakan itu?
Memangnya akan berpengaruh begitu saja pada gadis-gadis itu?
“Untuk apa mengejar sesuatu yang tidak ada?!”
Riri meremas dadanya.
“Aku benar-benar sangat sial ada disini.”
Aku hanya menahan pergerakan mereka dengan sihir Bluebell. Namun setelah mendengar kata-kataku tadi raut wajah mereka berubah. Apa itu benar-benar berpengaruh?
Riri bangkit setelah satu jam berbaring disana. Sekarang pukul 10 pagi. Dan dia mulai lapar.
“Entah kenapa tubuhku ingin membimbing mereka keluar dari kandang—”
“Ketemu juga, Riri Hanamizuki.”
Riri terkejut mendengar suara selain dirinya. Suara itu berasal dari atas. Seorang gadis berpakaian serba hitam. Tersenyum jahat padanya.
“Kau…!? Oreanda?!”
“Ketemu juga kau. Apa yang sedang kau lakukan disini?”
Gadis itu berdiri dihadapan Riri. Mereka berjarak sekitar 2 meter. Riri mengepalkan tangannya.
“Apa maumu datang kesini?”
“Tentu saja menjemputmu sayangku~”
“Apa!?”
“Ah…aku lupa…kau masih belum mengingatnya ya…perang antar ras yang terjadi 5 tahun lalu itu.”
Riri hanya diam. Memandang jengkel pada gadis berpakaian hitam itu.
“Kutanya sekali lagi mau apa kau datang kesini?”
Gadis itu memandang sekeliling. “Kau sendiri, kenapa berada ditempat sampah seperti ini?”
“Bukan urusanmu.”
“Kalau begitu keberadaanku kesini juga bukan urusanmu!”
Dengan cepat Oreanda melancarkan serangan kejut pada Riri yang membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Roh bunga yang dipegang Oreanda adalah sebilah tombak. Tampilannya memang cantik, namun diseluruh bagiannya adalah racun mematikan. Hanya pemiliknya saja yang bisa mengendalikannya.
“Jadi kedatanganmu kesini mengajak ribut denganku?”
“Sampai kau bersedia untuk ikut denganku.”
“Cih.”
Riri yang tak memiliki roh pedang hanya bisa mengeluarkan sihir pertahanan. Dikala Oreanda menyerangnya bertubi-tubi, Riri hanya menahannya dengan kemampuan beladirinya.
“Aah~ membosankan sekali kau tak punya roh pedang Riri-kun~ kalau begini terus kau akan kubunuh lo.”
“Berani sekali merendahkanku hanya karena aku bertangan kosong.”
“Kalau begini terus, kupanggil saja teman-temanku, gimana?”
Dari tanah muncul serpihan bunga putih. Namun aku tahu itu apa. Sihir Hemlock. Jika serpihan itu terhisap sedikit saja, racunnya bisa membuatku sesak napas.
Gadis itu memang ahli dalam menciptakan berbagai bunga beracun.
“Kau serius mau membunuhku ya?”
Oreanda menggeleng. “Aku hanya ingin membawamu dengan cara halus. Mana mungkin kubunuh Riri kesayanganku~”
“Heh. Datang ke tempat ini benar-benar membawa sial.”
Aku memperkuat sihir pertahananku. Yakni sihir Dandelion yang bisa memperlambat waktu. Serpihan bunga Hemlock itu sangat kecil. Aku tak bisa langsung menghindarinya, jadi aku hanya membuat pergerakannya melambat sehingga aku bisa melihat kemana arahnya.
“Riri-kun, percuma saja kau terus memperkuat sihir Dandelionmu, kau hanya membuang-buang manamu percuma.”
Gadis itu menyeringai jahat. Tetapi seringaian paling menakutkan hanya dari Carnation-senpai.
“Kau benar-benar gadis jahat sampai kapanpun juga—”
“Ah! Ketemu juga kau orang aneh!”
Tiba-tiba saja seorang gadis muncul dari balik pintu membawa roh pedang cantiknya Amaryliss.
“Kau! Kenapa datang kesini!?”
Riri yang terkejut melihat kehadiran Amaryliss tak bisa berbuat banyak. Dia benar-benar tak bisa bebas bergerak melihat serpihan sihir Hemlock tepat berada didepan wajahnya.
“R-Riri-sensei…?”
“Cepat pergi dari sana bodoh!”
“Jadi begitu ya, Riri-kun. Kau datang kesini karena sudah ada gadis lain?”
Cih, kata-kata si Oreanda membuat firasatku jelek.
“MATI SAJA KAU SANA!!!! JANGAN REBUT RIRI-KUN DARIKU!!!”
Oreanda berteriak hingga sihir pertahanan Dandelion pun lepas sepenuhnya. Sihir Hemlock menyebar dengan luas ke segala arah.
“Sialan, hei kau! Jangan libatkan seisi akademi ini jika punya urusan denganku!”
Sihir Hemlock yang berbentuk serpihan kecil itu memang sangat berkemungkinan menyebar kemana-mana. Melihat Oreanda yang sudah mengamuk itu akan membuatku kerepotan.
“Aktifkan sihir Bluebell!! Lindungi seluruh akademi ini dari Hemlock!!”
Riri merentangkan tangan kanannya, muncullah rantai cantik berwarna biru yang menyebar ke segala arah. Namun hanya sesaat lalu menghilang.
“Untuk sementara saja. Hei kau cewek galak! Ngapain kesini hah?!”
Amaryliss tak menjawab. Dia malah melihat kearah Oreanda yang memandangnya jahat.
“AKAN. KUBUNUH. KAU. DASAR. ******!!”
“HENTIKAN!!”
Riri menahan serangan tombak Oreanda lagi dengan kedua tangannya. Dia menatap tajam ke arahnya.
“R-Riri-sense—”
“Cepat lari sana!”
Namun Amaryliss masih terdiam ditempatnya. Dia menyiapkan kuda-kudanya. Memegang erat roh pedangnya.
“Apa yang akan kau lakukan?!”
“Wahai roh bunga yang agung. Perlihatkanlah seluruh kekuatanmu. Hapuskan semua yang mengganggumu. Lenyapkanlah semua yang memiliki niat jahat dihadapanmu. Menarilah roh pedang Amaryliss!!!”
Roh bunga Amaryliss bersinar menyilaukan. Dia menghisap semua sihir Hemlock milik Oreanda hingga wanita itu mulai kewalahan karena kekuatannya ikut terhisap.
“SIAL!!”
Namun Oreanda tak mau kalah. Dia melawan sihir itu dengan roh pedangnya.
“Dasar keras kepala!”
Saat dia lengah, Riri mendorong tubuh Oreanda hingga terjatuh. Dia merebut tombak Oreanda dan melemparkannya hingga terhisap oleh kekuatan roh pedang Amaryliss.
“AKAN KUBALAS KAU!!!!”
BWOOSHHHH
__ADS_1
***