Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 18: Hasil Akhir Yang Mengejutkan


__ADS_3

“Pertandingan final sudah berjalan lebih dari 20 menit! Sejauh ini para peserta masih bertarung dengan sengit! Namun tampaknya mereka mulai kelelahan! Bagaimana hasil akhir dari pertandingan ini dan siapa yang akan menjadi juara turnamen sihir tahun ini?!”


Alstromeria begitu semangat menjadi komentator menggantikan Carnation. Sedangkan Typha hanya memperhatikannya dari belakang.


“T-Typha-chan…”


“Ya, Alstro-san?”


“Entah kenapa ternyata menjadi komentator itu menyenangkan! Aku bisa berteriak-teriak sesukaku!”


Typha hanya manggut-manggut.


“Ngomong-ngomong, siapa yang Alstro-san dukung di turnamen kali ini? Pasti kelas A akan jadi juara lagi seperti tahun lalu.”


“Tentu saja kelas E yang akan menang! Turnamen ini akan menjadi yang pertama kalinya dalam sejarah akademi Hanatarou kalau kelas E bisa menjadi juaranya!”


“Bukankah kau selalu berada di sisi kelas A? Apa jangan-jangan karena…”


“Ssst! Sekali-kali boleh kan mendukung kelas lain?”


Raut wajah Typha langsung berubah curiga sambil menggerak-gerakkan telinga dan ekor kucingnya.


“A-apa?!”


“Tidak kok~”


Alstromeria mengambil mikrofonnya kembali dan berteriak.


“AYO MAJU KELAS 1-E!! JANGAN MAU KALAH SAMA KELAS 1-A!”


Mendengar teriakan komentator yang tak lain adalah Alstromeria, membuat peserta kelas 1-A mendelik sebal pada kelas 1-E.


“Siapa sih komentator diatas itu?! Bukan Nona Carnation kan!?”


“Kalau kau punya waktu untuk berkomentar, cepat kalahkan aku!”


Pedang pendek yang berbentuk mata pisau yang unik milik Amaryliss menyerang dengan cepat saat lawannya lengah. Dia mulai sedikit kewalahan.


“Aku tidak percaya…kelas rendahan seperti kalian bisa mengimbangi kemampuan kelas 1-A kami! Kau pasti akan kukalahkan!”


“Majulah, pedang cantikku Variegate-chan! Keluarkan keindahanmu!”


Dari ujung pedang Amaryliss, muncul kelopak kelopak bunga berwarna pink dengan jumlah banyak, mengepung lawannya.


“Serangan seperti ini tidak ada apa-apanya—”


“Kau takkan bisa lari dari bola cantikku itu, wahai anak kelas A yang begitu ‘pintar’.”


Amaryliss merasa puas saat berhasil mengurung lawannya didalam bola bunga ‘Amaryliss’ raksasa.


“Sialan! Kenapa kau bisa sekuat ini!? Padahal kelas E yang dulu selalu gagal dan terendah!”


Amaryliss masih bisa melihat wajah lawannya yang berada didalam bola bunga ‘Amaryliss’ berwarna pink muda.


“Kenapa? Kau penasaran? Atau kau ingin mengatai guru kami lagi?”


Begitu juga dengan Iris, dia berhasil menghentikan pergerakan lawannya dengan kelopak-kelopak bunga cantik ‘Iris’ berwarna biru. Tak hanya itu, Elder juga membuat lawannya tak berkutik saat pedang rampingnya menampilkan pesona yang indah dari hujan kelopak bunga berwarna-warni ‘Sambucus nigra’.


“Asal kau tahu, kami tak selalu bergantung pada Riri-sensei, dia itu sangat payah dalam mengajar.”


“Apa…?”


“Ya benar! Sejauh ini dia hanya mengajarkan sihir pertahanan saja pada kami, menjelang turnamen ini pun, dia sama sekali tak memberikan persiapan apa-apa pada kami!”


Tambah Iris dengan nada semangat. Sedangkan Elder hanya manggut manggut saja dengan semangat juga.


“Tetapi dia terus datang ke kelas kami dan tak pernah merasa lelah. Menurut pemikiran kami, dia memiliki cara tersendiri untuk mengajari kelas rendahan seperti kami. Hingga kami bisa menjadi seperti ini.”


Kata-kata dari Amaryliss membuat suasana menjadi hening.


“Dia juga memberikan nasihat berbelit-belit yang takkan pernah kulupakan! Untuk orang yang merasa pintar seperti kalian, dengarkan ini baik-baik!”


“Nasihat berbelit-belit?”


“'Wajar kan…jika memiliki sifat yang pelit ilmu. Karena manusia pada dasarnya memang serakah.'”


“'Tetapi hanya disaat-saat tertentu saja kau bisa menyimpan ilmu yang kau punya dan enggan berbagi dengan orang lain.'”


“'Seperti benih yang kalian sebut-sebut itu. Hanya tahu sejarah dan asal usulnya tanpa tahu seperti apa bentuknya, jasa apa yang telah dia berikan pada banyak orang. Sama sepertimu yang pelit ilmu. Kau pasti punya alasan kenapa menyembunyikannya. Jadi, dalam hal tertentu, terkadang kita memang harus pelit akan ilmu agar tidak membuat orang lain menjadi serakah. Agar membuat orang lain tidak malas untuk mencari tahu.'”


“Kalian yang sudah merasa terbaik dengan segalanya, enggan berbagi ilmu dengan orang-orang yang tingkat kelasnya lebih rendah dari kalian, itu karena kalian serakah kan!? Pada dasarnya orang yang merasa lebih pintar memang seperti itu!”


“Apa katamu!? Kau menyebutku serakah!? Dasar sombong!”


“Kaulah yang sombong! Tak ada yang melarangmu pelit dengan ilmu, tetapi baca suasana dong!”


Nada bicara Amaryliss jadi sedikit mirip dengan Riri.


“I-iya benar! Coba saja kau bayangkan jika kau terluka, hanya kau yang tahu cara menyembuhkannya tapi kau tak bisa melakukannya sendiri sedangkan hanya ada kami yang berada didekatmu? Kau ingin minta tolong pada siapa?!”


Tambah Elder tak mau kalah.


“Wah wah! Duel final ini berubah menjadi perdebatan para gadis! Apa pertarungan seperti ini diperbolehkan?!”


Seru Alstromeria dengan nada semangat, salah seorang staff guru langsung menjawabnya.


“Yah, tenang saja, selama tidak melanggar peraturan, mendengar perdebatan para gadis ini menyenangkan juga.”


Suasana arena turnamen hening sesaat. 3 pasangan yang sedang berduel masih berada diposisinya. Kelas 1-A belum melakukan serangan balasan pada kelas 1-E yang menahan pergerakannya.


“Kau pikir orang rendahan takkan bisa mengalahkan orang yang tingkatannya lebih tinggi? Kau sudah lihat buktinya kan sekarang?! Apa kemampuan kelas A yang menjadi juara turnamen sihir berturut-turut itu hanya segini?”


“Bukankah ini berarti, orang bodoh lebih bijak dari orang pintar?”


“Kalau hanya segini saja, kalian bisa kalah loh—”


Kata-kata dari Amaryliss, Elder, dan Iris membuat lawannya semakin panas.


“Kau…beraninya mengatai orang yang lebih pintar darimu sebagai orang bodoh!!”


“Wah wah, panas ya…? Kami saja tidak merasa kepanasan sekalipun kau terus mengumpat kami.”

__ADS_1


Kata Iris dengan nada yang tenang.


“Dasar cewek…dibandingkan pertarungan fisik, mereka memang lebih cocok bertarung adu mulut seperti itu…”


Gumam Riri menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Master, dibawah sana mereka sedang membicarakanmu tahu.”


“Huh? Hahah…paling-paling mereka malah membuatku keliatan buruk didepan anak-anak kelas A itu.”


“Tetapi aku tidak merasa begitu…”


Riri saling berkomunikasi dengan Camelyum sambil tetap memperhatikan pertandingan di arena.


“Mau bagaimanapun hasilnya, kelas A atau E yang menang, aku hanya ingin melihat akhir yang mengejutkan.”


“KALIAN AKAN KALAH DISINI! PASTI KALAH!”


“AYO MAJU ROH BUNGA VARIEGATA-KU! TUNJUKANLAH KEINDAHANMU!”


Seru Amaryliss dengan percaya diri, ratusan kelopak bunga ‘Amaryliss’ pun benar-benar menutupi pandangan lawan sehingga tak terlihat lagi.


“Rasakanlah keindahan bungaku lebih dalam lagi, dan pahamilah kata-kata yang kuucapkan padamu!”


“SERANG DIA NEOMARICA GRACILIS! BEKUKAN PERGERAKANNYA!”


Begitu juga dengan Iris yang menyerang lawannya dengan serangan ‘bunga Iris yang membeku’ hingga lawannya tak bisa melawan lagi.


“KELUARKAN KELIHAIANMU SAMBUCUS NIGRA!”


Tak mau kalah, Elder melancarkan serangan serbuk bunga dalam jumlah banyak seperti kabut, sehingga lawannya tak bisa melihat apa-apa lagi didepannya.


“Kelas A sudah tak bisa lagi melawan! Pemenang final turnamen sihir ini adalah yang pertama dalam sejarah! Kelas 1-E! berikan mereka tepuk tangan yang meriah!!”


“WOAAAH!!!”


“HIDUP KELAS 1-E!!”


“KALIAN HEBAT!!”


Suara gemuruh penonton yang bersorak dan memberikan tepukan tangan membuat suasana kembali ramai. Untuk pertama kalinya, kelas E menjadi pemenang dalam turnamen sihir yang diadakan selama setahun sekali. Momen yang sangat istimewa.


“Cubit aku, aku pasti bermimpi—aww!”


“Aahh lagi-lagi kau mengatakan itu—”


Iris mencubit pinggang Amaryliss yang terpana melihat tepukan riuh penonton.


“Sakiitt! Lagi-lagi kau yang mencubitku!”


“Ngomong-ngomong, seperti apa nasihat berbelit-belit yang kau bilang itu dari Riri-sensei? Beritahu aku!”


“Huh! Apa hakku memberitahumu, dada besar?!”


Elder tersenyum melihat Amaryliss dan Iris yang lagi-lagi bertengkar.


“Kalian berdua semakin dekat saja, Amary-chan, Iris-chan…”


Suasana semakin riuh, bagaimana tidak? Wali kelas 1-E adalah satu-satunya pria di akademi khusus perempuan ini.


“Jangan lupakan janji kita tadi ya?”


Riri mengerlingkan matanya pada siswi kelas 3 yang tadi membuat perjanjian aneh dengannya lalu beranjak pergi. Riri menuruni tangga untuk segera menghampiri ke-3 muridnya yang menunggunya. Bibirnya menyunggingkan senyum senang.


“Pasti mereka akan mengata-ngataiku, bukannya memberiku—”


Namun langkah Riri terhenti ketika memasuki lorong pintu keluar. Dia menjatuhkan lututnya lemas, terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah segar.


“M-Master?! Kenapa tiba-tiba…!?”


Seketika Camelyum muncul dengan wujud manusianya dan menahan tubuh Riri dengan kedua tangannya. Di lorong itu hanya ada dia dan Riri. Tinggal beberapa meter lagi menuju lorong pintu keluar.


“Master! Bertahanlah!!”


Riri tak menjawab. Dia terus terbatuk-batuk darah. Camelyum merasakan punggung Masternya bergetar hebat.


“M-Master…?”


“…Tubuhku…sangat…berat…”


DEGHH


“Ada beberapa titik di aliran mananya yang membeku.”


“Proses pembekuan es, kau bisa membayangkan itu kan?”


“Tidak…ini tidak boleh terjadi! Mas—”


BRUAAKK!!


“Dimana Riri hanamizuki? Kenapa dia lama sekali? Kau sudah memanggilnya untuk turun ke bawah kan?”


Amaryliss, Elder, dan Iris mulai khawatir karena gurunya itu tak kunjung muncul di lorong pintu keluar. Baru beberapa menit yang lalu mereka masih bisa melihat sosok Riri saat Alstromeria memanggil namanya untuk turun.


“Sudah kubilang kan? Dia itu datang dan pergi seenaknya saja—”


“Tidak…Amary-chan…aku bisa merasakan dia masih ada disini…”


“Benarkah?”


“Tetapi…ini…aura Riri-sensei…sangat berbeda dari biasanya…”


“Apa…?”


DHUAARRR!!!


Tiba-tiba ledakan besar muncul dari tengah-tengah lorong menuju pintu keluar hingga menyebabkan api berkobar dengan cepat, spontan suasana berubah menjadi kacau, para penonton dan staff guru berlarian menyelamatkan diri.


“Ledakan dari mana itu!?”


“Sabotase!?”

__ADS_1


“Cepat semuanya keluar lewat pintu darurat!”


Pasukan keamanan membantu mengevakuasi para siswi dan guru yang masih berada stadium, Alstromeria dan Typha berlari menghampiri Amaryliss, Elder, dan Iris.


“Alstro-san! Ledakan apa itu!?”


“Asalnya dari tengah-tengah lorong pintu keluar!”


“Ayo kita periksa!”


“Jangan! Itu berbahaya! Kalian lihat ledakan itu menyebabkan kobaran api yang besar kan?! Biar kami pasukan keamanan yang memeriksanya, kalian sang pemenang cepatlah segera keluar dari sini!”


Alstromeria mencegah Amaryliss, Iris, dan Elder yang ingin menghampiri sumber ledakan. Dia menyiapkan roh bunganya, begitu juga dengan Typha.


“Tapi…”


“Cepatlah! Kita masih belum tahu itu musuh atau bukan!”


Dari kepulan asap hitam itu, terlihat sesosok tubuh yang mirip manusia berjalan perlahan-lahan.


“Siapa kau!? Tunjukkan dirimu!”


Sosok itu semakin jelas, rambutnya berwarna hitam pekat, mengenakan jubah panjang ditubuhnya yang berlumuran darah. Dia memegang 2 pedang di kedua tangannya.


“K-kau…!?”


BRUAAAKKK!!!


...****************...


“Gladiolus-nee…sudah kalah ya hm?”


“Sudah kubilang wanita aneh itu tak bisa diandalkan, kenapa dia harus memiliki peringkat ke-4 sih? Aku yang lebih cocok untuk itu!”


“Berisik kau, Coelogyne, kau sendiri sejauh ini sudah melakukan apa demi Tuan Agung hah?”


“Apapun akan kulakukan! Memangnya kau yang kerjanya main catur saja? Dasar kurang kerjaan! Angka 12 benar-benar cocok untukmu, Caladium si rendah!”


“Memangnya kau sendiri yang punya angka 6 sehebat itu? Main catur saja masih kalah sama aku! Ahaha!”


“HENTIKAN PERTENGKARAN KEKANAK-KANAKAN KALIAN!”


Suara teriakan Ixora membuat mereka berdua langsung berhenti.


“Ah Ixora-nii! Lukamu sudah pulih kan? Coe-kun yang mulai duluan!”


“Apa katamu dasar bocah tengik!”


“Tumben kau emosi begitu melihat pertengkaran kucing dan tikus itu, Ixora. Bukannya kau sudah terbiasa?”


Ixora menoleh ke sumber suara lain yang memanggil namanya. Seorang pria berambut abu gelap sedang menikmati segelas wine di tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang sebuah korek api gas.


“Apa maumu Datura?!”


“Kau masih gusar ya karena dikalahkan Riri Hanamizuki sampai babak belur begitu?”


“Bukan urusanmu.”


“Kau harusnya bersyukur karena masih bisa kembali kemari, kau lihat itu kan? Sudah 4 kursi yang gugur demi Tuan Agung. Kau masih tetap setia padanya bukan? Tidak mungkin Ixora pemilik angka 9 ini gugur begitu saja oleh pemula seperti, Riri Hanamizuki.”


“Jangan sombong hanya karena kau memiliki nomor diatasku, Datura.”


“Hoo? Aku hanya 1 angka diatasmu lo, pemilik angka tertinggi tetaplah Tuan Agung kita. Tidak perlu ada rasa iri menyergap dadamu.”


“Berhentilah mempermainkanku!”


Ixora menarik kerah baju Datura, memandangnya marah.


“Hei hei, kucing dan tikus melihat kita, jangan berlebihan begitu.”


Kata Datura dengan tenangnya sambil melirik Coelogyne dan Caladium yang terkejut melihat apa yang dilakukan Ixora.


Menyadari itu Ixora langsung melepaskan cengkramannya. Raut wajahnya masih geram. Datura duduk di kursi ke-7 nya. Tetap menunjukan wajah yang tenang.


“Kali ini, kita semua para anggota organisasi Kuroi Uta harus merasakan apa yang dirasakan oleh Tuan Agung saat ini. Beliau sedang menikmati ‘hal berharga’ yang sangat dinantikannya selama puluhan tahun ini.”


“Eehhh?? Apa Riri-nii sudah tertangkap?”


“Kenapa kau memanggilnya -nii segala Caladium?!”


“Katanya Riri-nii seumur dengan Datura-nii kan?”


Datura hanya menanggapinya dengan sedikit tertawa. Dia menepuk kepala Caladium yang memandanginya.


“Kalau Riri Hanamizuki berhasil kubawa kemari, apa yang akan kalian lakukan?”


“Datura-nii berhasil membawanya?! Dimana dia!? Akan kurobek-robek kulitnya dan kujadikan pakaian bonekaku!”


“Akan kurebut ‘dalamnya’ untuk kujadikan teman bermain caturku!”


“Aih aih…kalian sangat jahat ya…kami bangga punya kalian…tapi, hanya Tuan Agung yang berhak menguasainya.”


Walau penampilan Coelogyne dan Caladium tampak seperti anak 10 tahun, mereka terkenal sadis. Coelogyne si peringkat ke 6 menggunakan roh bunganya untuk membuat orang-orang yang dibencinya terus tertimpa sial. Sedangkan Caladium si peringkat ke 12 dengan roh bunganya membunuh musuhnya dengan menggorok tenggorokannya tanpa ampun untuk mengoleksi pita suara musuhnya dan dijadikannya bidak catur.


“Yaah…sisakan untuk kami ya…sedikitttt saja…ya…?”


“Jangan bercanda, siapa yang berhasil membawa Riri Hanamizuki kemari? Apa itu peringkat ke 2 atau ke 3?! Atau jangan-jangan…?!”


Datura tak langsung menjawab pertanyaan Ixora. Dia menuangkan wine lagi kedalam gelasnya.


“Yah, tidak bisa disebut ‘tubuhnya’ yang sudah datang kemari. Hanya ‘sebagian’nya saja. Tuan Agung telah merasakan kenikmatan yang tiada henti itu karenanya.”


“Apa…!?”


“Si Daffodil itu, dia pasti selalu buat kejutan.”


“D-Daffodil katamu…?”


“Kau bisa mendengarnya kan? ******* dari mulut Tuan Agung saat tengah menikmatinya?”


Ixora mengalihkan pandangannya ke arah lukisan raksasa sang Tuan Agung, yang gelap karena lilin-lilin yang mulai meredup.

__ADS_1


“Apa mungkin dia…”


__ADS_2