
Ketika kubuka pintunya, ini terasa lebih terang daripada pintu ‘kebahagiaan’.
“Wah Camelyum! Selamat datang!”
Riri yang kutemui kali ini berwujud dirinya yang sekarang. Tetapi tak ada pemandangan khusus yang kulihat dibalik pintu ‘cinta’ ini. Isinya mirip dengan ‘pintu kebahagiaan’.
ApaRiri belum pernah merasakan cinta sebelumnya…?
“Kau benar-benar…sangat mencintai anak-anak ya…”
“Yap betul! Hingga saat ini pun aku masih menyukai mereka…walaupun isinya hanya anak perempuan…”
“Master…apa ada hal lain lagi yang sangat kau cintai…?”
“Huh? Memangnya apalagi? Aku kan memang mencintai anak-anak!”
“Bukan itu maksudku…maksudku adalah…keluarga atau…pasangan hidupmu kelak…”
Riri tak langsung menjawabnya. Dia mengetuk-ngetuk dagunya.
“Keluarga ya…entah, aku tak yakin.”
“Apa?”
“Sejak aku lahir, aku tak pernah sekalipun melihat keluargaku. Aku tak tahu siapa ibuku, ayahku, ataupun saudara-saudaraku, satu-satunya keluargaku hanya Carnation-nee saja, dan tentu saja aku sangat mencintainya sebagai satu-satunya kakak perempuanku!”
“Uh…kau tidak melihatnya sebagai wanita?”
“Wanita? Bukankah Carnation-nee memang wanita?”
Aku tersenyum pahit. Sepertinya…Masterku ini memang belum pernah mencintai seseorang. Dia begitu kuat.
“Riri…maksudku orang yang benar-benar mencintaimu tak hanya sebagai keluarga saja…tetapi dia ingin terus mendampingimu hingga akhir hayatmu, dengan perasaan cinta yang tulus seperti halnya kau mencintai anak-anak…”
“Apa orang seperti itu akan ada suatu saat nanti untukku?”
“Didunia ini tidak ada yang mustahil bukan?”
Kali ini Riri yang tersenyum pahit. “Terakhir kali aku membuka pintu itu hanyalah saat diriku disana masih mengajar anak-anak di panti asuhan…setelah itu aku tak pernah bisa membukanya lagi. Saat aku mau membukanya pun, pasti kesetrum, seperti halnya pintu kebahagiaan. Makanya didalam sini tak ada hal khusus yang bisa kau lihat, Camelyum…”
Apakah pintu cinta ini juga terhalangi sesuatu…?
“Master, aku yakin…akan ada seseorang yang spesial dalam hidupmu, dan membuatmu semakin bersyukur karena kau masih bisa hidup hingga detik ini…aku yakin itu!”
“Terima kasih…Came-chan…”
Riri menepuk tangannya pada rambutku. Lagi-lagi perasaan berdebar ini kurasakan.
“Aku akan berusaha membuka pintu itu untuk diriku diluar sana, Came-chan!”
Ketika aku menutup pintu cinta, aku juga merasakan setrum, bahkan lebih kuat dari pintu kebahagiaan. Hati Riri memang sulit dibuka.
“Kurasa semua pintu sudah kulewati…”
Tampaknya bagian gelap disana adalah ujung lorong ini karena tak ada lagi cahaya. Tetapi…apa aku sudah benar-benar melewati semua pintu hatinya?
“Ada apa… di ujung lorong ini…?”
Aku mengarahkan pedang cahayaku ke lorong gelap didepanku. Tak ada pintu lagi disana. Apa memang sudah benar-benar tak ada lagi?
“Mungkin…sudah tidak ada la—”
“Ya…kau tidak perlu melangkah lebih jauh lagi…Camelyum…”
DEGH!
Suaranya berasal dari ujung lorong. Tetapi nadanya yang serak terdengar menakutkan…apa sebenarnya yang ada di ujung Lorong itu…?
“Karena kau akan menyesal jika terus melangkah sampai ujung…khukhukhu…”
Tidak mungkin.
Suaranya…mirip dengan…dark Riri.
“Tidak mungkin…tidak mungkin…tidak mungkin…tidak mungkin…tidak mungkin…”
Sambil terus meracau, kakiku tak bisa berhenti memasuki semakin dalam ujung lorong yang gelap ini. Langkahku langsung terhenti ketika sesuatu menyetrum kakiku.
“Tidak…mungkin…”
__ADS_1
Bahkan pedang cahayaku tak cukup untuk menerangi ujung lorong yang begitu gelap ini. Terdapat pintu raksasa di ujung Lorong ini yang diselimuti dengan lumut-lumut hitam.
“Ternyata…masih ada pintu…disini—”
“Kau tidak perlu tahu lebih jauh lagi, sayang~”
DEGH!
Suara itu terdengar lagi. Tiba-tiba didepan pintu raksasa muncul sesosok hitam. Aku tak bisa melihat wajahnya karena pedang cahayaku benar-benar tak cukup menerangi ujung lorong yang sangat gelap ini. Yang terlihat hanyalah seringaian senyumnya yang menakutkan.
“T-tidak mungkin…k-kenapa…dia ada disini…?”
“Sampai terbata-bata begitu, kau takut ya? Tiruanku?”
Lagi-lagi aku mendengar suara yang lain, kali ini suara wanita, tetapi lebih serak, dan dia mengataiku tiruannya?
“Tidak mungkin! K-kalian ini sebenarnya apa!?”
“Semakin sedikit kau tahu, maka semakin baik. Khukhukhu~”
“KAU DARK RIRI KAN!? APA YANG KAU LAKUKAN PADA MASTERKU!? KAU YANG MEMBUATNYA MENJADI LIAR TEMPO HARI KAN!?”
Tanpa sadar aku berteriak walaupun tak bisa melihat wajahnya.
“Sayangnya kami tak bisa menjawab sekarang, sampai jumpa lain waktu, tiruanku—”
Tiba-tiba pintu raksasa yang gelap itu semakin menjauh dariku hingga lenyap, aku tak mampu mengejarnya.
“Tidak tidak! Banyak yang harus kukatakan padamu! Tidaaaaakkk!!!”
Pintu terakhir itu tidak lain adalah…’kebencian’.
***
“Amary-chan, bersemangatlah…”
“Entahlah…Elder…semalam aku tak bisa tidur…”
“Apa kau terlalu memikirkan Riri-sensei?”
“T-tidak! B-bukannya aku tak memikirkannya…”
Elder terlihat khawatir melihat Amaryliss yang berjalan dengan lesu.
“Bahkan sebelum pulang dari tempatnya kemarin pun…kita tidak sempat melihat keadaannya…kau pasti terus kepikiran kan, Amary-chan?”
“B-bukan gitu kok! Hanya…”
Elder sedikit tertawa. “Kau benar-benar suka padanya ya…Amary-chan…”
“S-siapa bilang!?”
“Oh, rupanya kalian sedang membicarakan Riri-sensei?”
“Selamat pagi Iris-chan!”
Saat Amaryliss saling memandang dengan Iris, mereka berdua langsung saling membuang muka.
“Eh…kalian masih saja bertengkar…?”
“Walaupun kita sudah menang di turnamen sihir, aku tetaplah yang paling banyak berjuang daripada kau tahu, dasar si dada besar!”
“Apa?! Kita berjuang bersama-sama tahu dasar cewek galak!”
“Berisik ah!”
“Kau yang berisik!”
“Wah wah, lihat itu, bukankah mereka si juara baru turnamen sihir? Tetapi tidak terlihat seperti juara ya?”
Beberapa siswi kelas A melihat Amaryliss, Elder, dan Iris dengan tatapan sinis.
“Tentu saja mereka bukan juara, gurunya saja monster, iya kan?”
“Eh? Benarkah?”
“Tentu saja, saat kejadian stadium meledak kemarin itu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, rupanya si guru dari kelas 1-E yang menjadi penyebab ledakan mengerikan itu! tidak salah lagi!”
“Ehh?? Gossip besar nih…”
__ADS_1
“Nama kelas E pun akan semakin jatuh, iya kan?”
Seolah sengaja berkata dengan suara keras di dekat Amaryliss, Elder dan Iris, mereka berlalu.
“Hei kalian yang sok pintar! Berhenti disitu!”
Namun dengan sigap Amaryliss berani menghentikan langkah mereka, dan salah satunya menoleh dengan malas.
“Apa? Mau membalas ucapan kami tadi pada kalian? Kuberi tahu ya, guru kalian monster itu fakta, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri saat si monster itu membuat awan hitam di langit!”
“Sudah kubilang kalau semua pria didunia ini tak ada yang bisa dipercaya? Kenapa kalian dengan bodohnya menerima monster seperti dia menjadi guru? Apa kalian memang sudah kelewat bodoh?”
Amaryliss mengepalkan tangannya ketika siswi kelas A terus meracau meremehkan tanpa rasa takut sama sekali.
“A-Amary-chan…sudahlah biarkan mereka…”
“Kalian juara turnamen sihir tapi tidak melakukan upacara penyerahan tropi? Hahaha! Juara jadi-jadian itu namanya! Hahahaha!”
“Akan kami rebut loh tropi kalian itu, hahaha!”
“BERISIK! DASAR SOMBONG!”
Tiba-tiba saja Iris berteriak dengan kesal ke arah anak-anak kelas A yang terus mengejeknya.
“Ohh, kalian terpancing ya? Kelas E memang pecundang sejati, iya kan? ahahaha!”
“Berisik! Lebih baik bodoh daripada sok pintar dan sombong! Sudahlah Amaryliss, Elder, ayo pergi!”
Iris menarik lengan Amaryliss dan Elder menjauh dari anak-anak kelas A yang masih saja menertawakan mereka.
“Apaan sih tarik-tarik?! Tadi baru mau aku hajar mereka!”
“Kalau kau lakukan itu, Riri-sensei akan semakin buruk dimata mereka.”
“Iris-chan benar, Amary-chan…kalau memang benar dia melihat dark Riri kemarin…ini akan semakin memperburuk situasinya…dia pasti akan dengan mudah menyebarkan berita itu pada anak-anak kelas lain…kau tahu sendiri kan takkan ada yang berani melawan anak-anak kelas A…?”
Dengan pelan, Amaryliss menundukkan kepalanya, dia menggenggam ujung roknya pelan.
“Apa yang harus kita lakukan? Apa perlu kita memberitahu Nona Carnation kalau ada saksi mata yang melihat kejadian kemarin? Tak adakah yang bisa kita lakukan untuk Riri-sensei?”
Elder mengangguk pelan mendengar pernyataan Iris. Dia melirik ke arah jendela, disana bisa terlihat bekas stadium terbakar.
“Aku juga tidak tahu…sebaiknya ayo kita temui Nona Carnation…”
***
“Bagaimana perkembangannya sejauh ini?”
“Kami masih menggunakan sihir Epiphyllum untuk memperbaiki kerusakan ini…tapi membutuhkan waktu lama, Nona Carnation.”
“Begitu…aku akan mengirimkan beberapa orang kerajaan untuk membantu kalian, berjuanglah lebih keras lagi.”
“Baik, Nona Carnation.”
Carnation tengah memantau bangunan stadium yang rusak karena kebakaran tempo hari. Hampir seluruh bagian pasukan keamanan akademi Hanatarou melakukan sihir restore Epiphyllum untuk memperbaiki kerusakannya. Namun karena kerusakannya terlalu parah, membutuhkan waktu yang lama untuk memperbaikinya.
“Anu…Nona Carnation…”
“Ya, Alstro-san?”
“Bagaimana kondisi Riri-sama sejauh ini…?”
“Hm…Dianthus tak melaporkan apa-apa, aku yakin dia baik-baik saja.”
“Begitu…”
“Tapi untuk sementara, dia tak boleh datang kemari. Sebelum semuanya kembali seperti semula.”
“Berarti kami semua harus menutup rapat-rapat mengenai kejadian ini dari Riri-sama?”
“Aku tak yakin apakah Riri mengingat apa yang dia lakukan saat menjadi dark Riri atau tidak…namun hanya untuk berjaga-jaga saja, jangan sampai dia mengetahui tentang ini. Aku tak ingin dia mengingat trauma masa lalunya.”
“B-baik, Nona Carnation.”
“Oh ya, Alstro-san, saat usai pelajaran nanti, panggilkan Amaryliss, Elder, dan Iris ke kantorku, beserta kau dan Typha juga.”
“Ah i-iya, Nona Carnation, tapi..untuk apa…?”
“Tentu saja menghibur putraku!”
__ADS_1