
“Nona kecil, akan kuberi satu peringatan untukmu.”
“A-apa?”
“Apa yang kau korbankan? Untuk apa kau berkorban? Demi apa kau berkorban? Tujuan apa yang ingin kau capai dengan berkorban? Demi benih yang bahkan belum kau ketahui seperti apa rupanya?”
“C-cerewet! Yang jelas, benih bisa membuat semua orang menjadi kuat dan mewujudkan apapun yang diinginkan!”
Riri memiringkan sedikit kepalanya.
“Dengan itu, kau ingin melakukan pengorbanan? Atas dasar apa kau melakukannya?”
“Tentu saja demi kehormatan keluargaku!”
“Jangan bercanda.”
Iris terkejut. Nada bicara Riri berubah menakutkan.
“Kau sendiri tidak memiliki impian? Impian yang ingin kau wujudkan dengan hati nuranimu? Bukan atas kehendak keluargamu atau sejenisnya?”
“A-aku…”
“Apa semua orang berjuang keras demi mendapatkan sesuatu yang tidak tahu seperti apa rupanya seperti benih itu? Kurasa tidak.”
“Bagaimana dengan sensei sendiri?! Bukankah sensei juga menginginkannya?!”
Inilah pertanyaan yang kutunggu-tunggu. Aku masih belum menemukan jawaban yang tepat.
“Aku menginginkannya. Tetapi takkan kubiarkan korban tak berdosa terkena imbasnya.”
Iris hanya diam mendengar ucapan Riri.
“Tetapi impianku bukanlah mendapatkan benih itu. Aku yakin gadis seusiamu memiliki impian yang ingin diwujudkan, selain mendapatkan benih.”
“A-aku …”
“Jika kau memang ingin berkorban demi mendapatkan benih, maka berkorbanlah juga demi mewujudkan impian yang tersimpan dalam hati nuranimu. Jangan biarkan benih itu menghalanginya. Anggap saja bahwa impianmu adalah sebuah gelas yang belum terisi penuh. Benih hanya alat untuk mengisinya. Apa yang ingin kau isi kedalam gelas itu? Itulah mimpi dan cita-cita yang ingin kau wujudkan.”
Riri menghentikan dimensinya. Mereka berdua kembali ke kerumunan pasar kota Laurel. Roh pedang Iris juga menghilang.
“Aku akan mengajari kalian sihir pertahanan. Percuma saja bila kemampuan menyerangmu kuat tetapi tak bisa bertahan. Nona kecil, kuberitahu satu hal lagi.”
Iris tak berkata-kata.
“Kalau tadi aku serius. Aku bisa melelehkan roh pedangmu.”
***
“Kau berusaha dengan baik hari ini ya, Riri-kun.”
“Carnation-senpai.”
“Hmm?”
“Aku bersumpah…”
“Apa…?”
“Aku bersumpah akan mengubah seluruh idealisme mereka…”
Carnation tersenyum. “Kau sudah mulai paham dengan apa yang terjadi di akademi ini, Riri-kun?”
Riri menghela napas pendek. “Tidak juga, aku hanya muak melihat mereka terus membicarakan benih ini benih itu. Memangnya mereka gak punya cita-cita atau impian? Kenapa hanya terus membicarakan benda yang tak pasti keberadaannya?”
“Bukannya itu sama saja dengan membicarakan mimpi?”
“Maksudmu?”
“Ya, kalau sedang membicarakan mimpi, kita juga tak tahu apakah mimpi itu akan ada atau tidak. Benar kan?”
“Itu beda lagi! Walau tak terlihat, tetapi bisa dibayangkan! Sedangkan benih itu, sekalipun dibicarakan atau dibayangkan, tetap saja tak pernah tahu seperti apa bentuk pastinya!”
Carnation-senpai tersenyum. Tidak, itu seringaian anehnya yang selalu membuatku bergidik
.
“Kau pun sama saja Riri-kun, kau juga ingin mendapatkan benih dan belum mendapatkan jawaban untuk apa kau mencarinya. Pilihanku sungguh tepat membawaku ke akademi ini, untuk membuatmu sadar betapa naifnya dirimu."
Riri membalikkan badannya. Mengepalkan tangan kirinya.
“Sejauh ini aku memang naïf. Tapi takkan kubiarkan murid-muridku senaif aku.”
Riri melangkah pergi dari ruang kepala sekolah. Carnation yang melihat punggungnya sebelum hilang dibalik pintu tersenyum melegakan.
“Kau pasti akan mendapatkan jawabannya. Pasti. Riri-kun.”
***
“Sensei! Kau terlambat satu jam!”
“Maaf deh—apa kalian tak bisa membiarkanku makan siang dulu—”
“INI SUDAH LEWAT JAM MAKAN SIANG!”
Riri melihat angka di jam dinding, pukul 2 siang. Dan waktu makan siang memang sampai pukul 1.
“Oh iya ya, ehehehe....”
Riri hanya mengusap-usap dagunya sambil tersenyum polos.
“SENSEI!!”
“Baiklah kalau begitu, keluarkan kembali sihir pertahanan Lilac yang kuajarkan kemarin.”
“Kami sudah mengulang sihir itu hingga puluhan kali! Apa kau tak bisa mengajarkan sihir lain!?”
Teriakan protes Amaryliss hanya dibalas oleh senyum aneh Riri.
“Maaf ya~ hanya itu yang bisa kuajarkan.”
“APA!!!???”
Lantas saja semua siswi di kelas itu kembali menatap Riri dengan tatapan membunuh. Riri hanya tersenyum sambil membayangkan gadis-gadis itu akan memutilasinya. Terkecuali Elder dan…Iris.
Ketika semua siswi masih menatap jahat ke arah Riri, Iris pergi meninggalkan kelas begitu saja tanpa sepengetahuan siapapun. Dia pergi ke suatu tempat.
Untuk apa mengorbankan diri demi sesuatu yang tak jelas asal usulnya begitu?
“Perkataannya masih saja menyebalkan…!”
Iris menghentikan langkahnya.
Kalau tadi aku serius, aku bisa melelehkan roh pedangmu.
“Dia memang menyadarkanku tentang arti korban yang sesungguhnya. Tetapi akan kubuktikan jika benih memang ada.”
Iris pergi ke sebuah kelas kosong yang sudah tak terpakai di lantai terbawah. Dia membuat lingkaran sihir di tanah dan mulai merapal mantra.
“Wahai roh bunga Iris nan cantik, tunjukanlah dirimu, patuhlah padaku, mengabdilah padaku, jadilah pelayanku hingga tujuanku tercapai!”
Lingkaran sihir itu pun bercahaya menyilaukan, hingga tak lama kemudian muncul sesosok bertubuh manusia dari cahaya itu.
“Jadi…kau ya?”
“Eh?!”
Tiba-tiba dibelakang Iris muncul seorang gadis berambut merah menembakkan sesuatu ke arahnya.
TRANGG!!
Tembakan sihir itu berhasil ditangkis oleh seseorang didepan Iris.
“Nona Iris! Kau baik-baik saja?!”
Orang itu adalah roh pedang milik Iris, yang berbentuk manusia.
“Ternyata roh pedang Iris memang menarik, maukah kau mengizinkan aku menyentuhmu?”
Gadis berambut merah itu menyeringai jahat. Roh pedang Iris yang berwujud gadis berambut biru silver memandangnya tajam.
__ADS_1
“Nona Iris! Cepat gunakan aku dan lawan dia!”
Namun Iris tak menjawab.
“Nona Iris?”
“Kelihatannya tuanmu tak bisa menggunakan roh pedangnya ya? Lalu untuk apa kau muncul dihadapannya?”
“Berisik!”
Roh pedang Iris dan gadis berambut merah itu saling bertarung. Tembakan sihir yang terus menerus dilontarkannya hanya di tepis dengan pedang tanpa penyerangan.
“Nona Iris! Cepatlah gunakan aku dan lawan dia!”
Iris tetap tak menjawab. Dia hanya terpaku melihat pertarungan itu.
“Pemikiranmu masih sempit, gadis kecil.”
Kenapa kata-kata Riri-sensei terbayang lagi?
“Percuma saja jika roh pedangnya cantik tetapi tuannya tidak becus! Mati saja kau!”
“NONA IRIS!!”
KLANGG!!
Sekian mili lagi tembakan sihir dari gadis berambut merah itu hampir mengenai dahi Iris. Roh pedang Iris berhasil menangkisnya dengan tebasan yang tepat.
“Ya ampun…kau hanya bisa menangkis tanpa penyerangan, pertarungannya jadi enggak seru kan?”
Dibelakang gadis berambut merah itu muncul sesuatu seperti meriam raksasa berbentuk kelopak bunga berwarna gelap. Ditengahnya ada sebuah lubang yang memancarkan cahaya.
“Padahal niatku kesini untuk bersenang-senang, tak kusangka akan berakhir secepat ini. Nah selamat tinggal roh agung Iris~”
Roh pedang Iris takkan bisa bergerak jika Iris tak memerintahkannya menyerang.
“Nona Iris!”
Lubang yang berada di tengah meriam raksasa itu memancarkan cahaya yang semakin menyilaukan.
“Kau rela kalau tempat ini kuhancurkan hingga rata dengan tanah?”
Iris tetap diam. Tubuhnya bergetar.
“Kalau diam kuanggap jawabanmu IYA!”
TEK.
Tiba-tiba pergerakan cahaya di lubang meriam itu terhenti.
“A-apa?!”
“Kemarin si Oreanda, sekarang, kau ini siapa?”
“Ah Riri hanamizuki! Kutemukan juga kau!”
Getaran Iris terhenti ketika dia melihat sosok wajah Riri tak jauh darinya.
“S-sensei?”
“Mau kau apakan benda aneh itu?”
“Huh, aku datang kesini memang ingin mencarimu, tetapi sebelum itu kutemukan mainan yang menarik.”
Riri melirik ke belakang gadis berambut merah itu. Dia melihat sosok Iris dan juga roh pedangnya yang masih tak bisa berbuat apapun.
“Jadi roh pedang itu bisa berbentuk manusia ya? Aku baru tahu.”
“A-apa?! Datar sekali kau bicara begitu?!”
Gadis berambut merah itu menatap kesal ke arah Riri. “Apa yang kau lakukan pada meriam indahku?!”
“Oh itu meriam ya? Apa itu roh bungamu?”
“NADA BICARAMU SUNGGUH MENJENGKELKAN!”
Cahaya di lubang tengah meriam itu yang sempat terhenti mencoba untuk keluar lagi.
“Ledakan adalah sesuatu yang membuatku berdebar-debar, tak peduli apapun yang akan kuledakan!”
“Dasar orang aneh.”
Riri mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya dia sedang menahan sihir Lilac ke arah meriam itu. Riri sengaja mentransparankan bentuknya.
“Percuma saja kau menahannya! Kekuatan meriam ini sudah mencapai 1000x lipat maksimum!”
“Sialan...”
Riri juga menyadari kalau mananya sudah mencapai batasnya karena sihir Lilac yang dikeluarkannya. Dia melirik ke arah Iris yang masih diam ditempat.
“IRIS! CEPAT GUNAKAN ROH PEDANGMU DAN SERANG ORANG ANEH INI!”
Iris mengangkat kepalanya dan menatap wajah Riri yang meneriakinya walau dari jauh.
“Riri-sense—”
“Kalau kau takut maka kau takkan pernah siap!! Cepat lakukanlah apa yang bisa kau lakukan!!”
Iris masih terdiam.
“IRIS!!! KAU INGIN BERKORBAN DEMI MENCAPAI TUJUANMU KAN!? UNTUK ITULAH ROH PEDANGMU TERCIPTA UNTUK MELAKUKANNYA!!”
PERTT SLAASHHH
Cahaya dari meriam itu benar-benar telah membludak keluar. Sebelum meledakkan apa yang ada disekitarnya, Riri telah membuat segel sihir Bluebell sebesar mungkin disekitar tempat itu.
“Sempat…”
“Sihir semacam Bluebell takkan kuat lama melawan ledakan cahayaku!”
ZRAATTT!!
Tiba-tiba salah satu kelopak meriam itu tersayat oleh sebuah pedang.
“A-APA!?”
“Iris…”
Iris benar-benar melakukannya. Dia memegang sang pedang dengan kedua tangannya. Tatapannya pun sudah tak lagi bimbang.
“Ada apa dengan matamu itu? Kemana ketakutanmu tadi huh?”
Iris berdiri tegap dengan pedang didepannya.
“Kerja bagus, Iris. Sekarang menarilah dengan segenap hatimu!”
Melihat Riri yang tersenyum padanya membuat Iris sedikit gugup. Namun ketika memandang kembali gadis berambut merah itu, dia kembali serius.
“Kau bilang roh pedangku ini mainan…apa kau tak tahu seberapa lama perjuanganku demi mengalahkan ketakutanku memegang pedang?”
“Jadi kau memang Iris…semua rasmu menjadi korban perang antar ras 5 tahun yang lalu…dan hanya tinggal kau yang tersisa? Sungguh ironi.”
“Diam! Keberadaanku yang masih ada disini…adalah demi mendapatkan benih untuk membalas semua pengorbanan rasku!”
Iris menari lagi dengan pedangnya. Pergerakannya cepat, tetapi gadis berambut merah itu tak mau kalah. Dia juga membalasnya dengan tembakan sihir dari tangannya.
“Padahal tadi kau takut setengah mati, tetapi sekarang kau melawanku dengan serius?”
“Karena aku juga sudah percaya pada roh pedangku, dan juga kata-kata Riri-sensei.”
TRANGG!!
SYUTTSS!
“Roh pedangku ada untuk berjuang bersamaku melewati pengorbanan itu…maka aku pun tak boleh bimbang lagi! HYAAAAHHHH!!!!!”
Dengan kekuatan penuh, Iris bukanlah mengincar gadis berambut merah itu, tetapi meriam raksasa yang ada di punggungnya. Dia menyayat semua kelopaknya.
“APA YANG KAU LAKUKAN PADA BUNGA INDAHKU!!!??”
__ADS_1
“Saatnya pergi, Foxglove!”
Dibelakangnya Riri mengeluarkan sihir perpindahan dimensi, dan menyingkirkan Foxglove ke dimensi lain.
“RIRI HANAMIZUKI!! AKU PASTI AKAN KEMBALI UNTUK MEMBAWA KEMBALI MAINANKU!!”
Dimensi itu pun lenyap.
“Kau berhasil, Nona Iris!”
Iris tersenyum dihadapan pedangnya. Dia mengusap lembut bilahnya.
“Akhirnya…aku benar-benar bisa mengendalikanmu dengan kekuatanku sendiri…roh pedangku.”
“Kerja bagus, nona kecil.”
“R-Riri-sensei!?”
Iris bergegas menghampiri Riri sebelum tubuhnya tersungkur ke tanah.
“S-sensei!? K-kau baik-baik saja?!”
“Apa kau sudah mengerti sekarang, Iris? Tentang apa yang kukatakan sebelumnya?”
Mata Iris berkaca-kaca. “I-iya…aku sudah memahaminya lebih dalam…sensei…”
“Serta lain kali…jangan keluar kelas sendirian ya…”
“S-sensei!?”
***
“Setelah Oreanda, lalu Foxglove? Apa yang sebenarnya mereka inginkan?”
“Sejauh ini belum ada keterangan pasti mengenai tujuan mereka, Nona Carnation.
“Typha, Alstromeria, buat pasukan tambahan disekitar daerah yang sepi. Lakukan.”
“Dimengerti.”
Alstromeria dan Typha pun meninggalkan ruang kepala sekolah. Hanya tinggal tersisa Carnation seorang diri.
“Apa mereka hanya ingin menyingkirkan siapapun yang menghalangi demi mendapatkan benih? Tetapi kenapa hanya ke akademi ini?”
Carnation menggigit kukunya. Gelisah.
“Anak itu juga sudah 2 kali kehabisan mana. Dia sama sekali tak menceritakan apapun padaku setelah 2 minggu berada disini. Aih. Dia memang tipe seperti itu sejak dulu.”
“Aku gak ada niatan jadi guru, tapi aku ingin membimbing mereka.”
“Riri-kun, kau sungguh orang yang tepat.”
***
“Hancurkan semua yang menghalangi, musnahkan tanpa pandang bulu demi mencapai tujuan.”
“HOOOO!!!!!”
Pasukan berpedang diantara dua kubu saling beradu berbagai senjata yang mereka pegang dengan gagah. Pedang, anak panah, busur, tombak, golok, dan berbagai jenis pisau dengan mata yang berbeda-beda saling menumpahkan darah.
“Kau takkan bisa menang hanya dengan pasukan seperti itu.”
“Diamlah.”
Provokasi yang singkat namun membuat sang pemimpin menahan amarah. Wajahnya memerah padam tetapi tetap memasang raut setenang mungkin dan membiarkan pasukannya maju. Sang pemimpin hanya memastikan pergerakan musuh dari jarak tertentu dengan matanya.
“SUDAH KUBILANG KAU TAKKAN MENANG DENGAN PASUKAN SEPERTI ITU!!”
KLAANGG!!
Kedua pemimpin kubu saling menahan pedang mereka. Sempat panik namun kembali memasang wajah tenang.
“Kau memang selalu banyak bicara.”
Kedua kubu itu terdiri dari kubu berwarna hitam dan putih. dan pemimpin kedua kubu ini masih saling berhadapan.
“Kau takkan pernah bisa melihat keberadaan benih itu dimana.”
“Sok tahu sekali.”
KLAANGG!!
“Haah!!?”
Sialan. Lagi-lagi mimpi aneh. Akhir-akhir ini aku selalu mendapatkan mimpi tentang peperangan. Sebenarnya itu apa?
“Riri-kun?”
“Woaa!! S-senpai!?”
Aku hampir melompat dari tempatku ketika melihat wajah Carnation-senpai yang muncul dari balik tirai. Dia memasang wajah yang lain dari biasanya.
“Riri-kun, kau ini memang bodoh…”
“A-apa?”
Tiba-tiba Carnation-senpai memelukku erat sampai-sampai aku sesak, terlebih lagi belahan dadanya yang besar itu tepat mengenai wajahku.
“A-apa ini—s-senpai sesakk—”
“Kenapa kau tak pernah cerita apapun padaku? Kau sudah 2 minggu berada disini dan kupikir kau sudah bisa menyesuaikan diri jadinya kupikir kau baik-baik saja…tetapi kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah kehilangan banyak sekali mana bahkan sampai tidak berdaya begini?! Dasar bodoh!”
“T-tolong berhentilah dulu memelukku…”
“Ah maaf~”
Carnation-senpai melepaskan pelukannya dan hidungku sukses mimisan.
Jarang sekali orang aneh ini mengkhawatirkan aku sampai berwajah seperti itu.
“Tumben sekali kau seperti ini, senpai.”
“Tentu saja aku khawatir! Memangnya sejak kapan Riri Hanamizuki lemah begini?!”
Aku agak kaget mendengar seruannya.
Jadi aku ini…lemah?
“Lemah?”
“Apa kau lupa saat masih berada di negeri asalmu? Kau sangat ahli dalam berbagai jenis sihir pertahanan! Hingga sekarang sihir apa saja yang kau ajarkan pada siswi kelas sihir? Kudengar hanya sihir Lilac kan? Apa yang terjadi padamu sebenarnya?”
Jadi Carnation-senpai pun sudah menyadarinya ya.
Aku tak bisa menyangkalnya. Itu memang benar. Aku pun tak mengerti kenapa aku jadi lemah seperti ini.
“Kurasa tak mungkin hanya karena mengeluarkan sihir Bluebell sampai batasnya kau bisa kehabisan banyak mana. Seingatku sihir pertahanan Bluebell tidak sekuat itu. Apa kau—”
“Aku hanya membuatnya menjadi lebih kuat”
“Apa?”
Aku tersenyum singkat. “Karena saat ini aku lemah, hanya beberapa sihir pertahanan yang dapat kupertahankan dan kuperkuat, dan lagi roh pedangku pun tak muncul juga walau aku sudah menjadi pengajar disini. Mungkin aku takkan pernah bisa mengeluarkannya.”
“Tidak, Riri-kun, aku yakin roh pedangmu pasti akan bangkit. Aku percaya itu.”
“Terima kasih, aku hargai kata-kata positifmu itu.”
“Kau sudah 2 kali kehabisan mana. Sekarang bisakah kau mengatakan padaku secara lebih detail apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku beranjak dari tempatku. Ya, ini sudah yang ke-2 kalinya aku berada di ruang UKS akademi Hanatarou ini. Terakhir kali yang kuingat adalah aku menolong Iris. Benar juga dimana anak itu?
“Ngomong-ngomong dimana Iris?”
“Kau ini malah mengalihkan pembicaraan, cepat jelaskan dulu padaku!”
Aku berjalan ke arah pintu. “Seperti bukan kau saja sampai terlalu mendetail begitu, lihat, aku enggak apa-apa kan? Lagipula ini sudah saatnya jamku mengajar, sampai nanti~”
Kalau kubilang jika aku kehabisan mana aku akan tertidur seharian penuh, dia pasti akan marah.
__ADS_1
Carnation-senpai adalah sosok yang lebih dari seorang kakak bagiku. Dia seperti seorang kakak sekaligus ibu. Bagiku.