Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 11: Lylium (II)


__ADS_3

“Sampai jumpa besok di latihan khusus Riri berikutnya!”


Semua kelas kosong tepat pukul 5 sore. Riri melambai ke arah Alstromeria dan Typha yang paling terakhir pulang.


“Metode yang kuajarkan lumayan melelahkan juga.”


“Itu karena Master mengajari mereka tanpa ampun.”


Setelah disekitarnya tidak ada orang, Camelyum muncul dengan bentuk manusianya. Dia memakai dress putih dengan pita hitam di dadanya.


Riri mengusap lehernya. “Yah, aku juga gak mau mereka putus asa terus. Setelah mendengar cerita kalau mereka selalu kalah setiap ada turnamen sihir walau sudah diajari oleh guru terbaik, aku jadi ingin tahu, kenapa mereka gak bisa diajari.”


Camelyum memandang sesaat wajah Riri yang terlihat lelah.


“Master, kau juga perlu berbenah diri. Kau kacau sekali.”


Riri mengusap pipinya dengan punggung tangannya. “Haha, kau benar, tapi ada yang harus kulakukan sebelum pulang.”


“Mengamati kasus itu lagi?”


Riri tersenyum singkat. “Tidak, aku mau menundanya dulu, aku akan pergi ke perpustakaan lagi sembari mencari informasi mengenai benih.”


“Kau yakin, Master? Kau sudah terlihat lelah seperti ini...”


“Selain ada yang ingin kuselidiki. Organisasi Kuroi Uta.”


Riri melangkah kembali ke dalam gedung akademi diikuti oleh Camelyum disebelah kanannya.


“Organisasi itu diduga yang menyebabkan insiden di akademi ini 10 tahun yang lalu. Aku ingin tahu lebih jauh lagi, dan juga, mereka menyerang terus menerus semenjak aku pindah kesini. Apa mereka itu punya tujuan tertentu?”


Riri membuka segel di pintu perpustakaan yang sudah terkunci dengan sihirnya.


“Aku khawatir itu karena…”


Riri memasuki ruangan perpustakaan dan menuju rak buku-buku sejarah.


“Master?”


“Ah tidak, mungkin itu hanya kebetulan.”


Camelyum hanya mengedip-ngedipkan matanya mendengar Riri berbicara sendiri. Dia melihat Masternya itu membaca buku ‘benih yang tidak pernah ada’.


“Came-chan.”


“Ya?”


“Apa kau percaya, benih itu ada?”


“Aku percaya. Karena aku ini roh bunga yang membutuhkan benih untuk tetap hidup.”


Riri menoleh ke arah Camelyum. “Memang benar jika bunga takkan bisa tumbuh tanpa benih. Karena itulah asal mula tumbuhnya bunga—”


Tiba-tiba Riri menghentikan kata-katanya. Terdiam membatu.


“Master?”


“Benih adalah asal mula dari bunga atau tumbuhan. Camelyum, kurasa aku sedikit memahami sesuatu soal semua kebingungan ini!”


“Master?”


“Sudah kutemukan metode berikutnya untuk turnamen sihir itu! Camelyum, terima kasih banyak!”


“Master, tapi—”


“Ayo! Karena masih ada waktu, kita mulai menyelidiki lagi!”


Riri membuka file kasus akademi Hanatarou 10 tahun lalu yang selalu dia sembunyikan dibalik coatnya. Dia membuka halaman lain, sebuah foto atap sekolah.


“Atap sekolah? Maksudnya atap gedung ini?”


“Bukankah Alstromeria pernah mengatakan kalau atap akademi ini selalu ditutup? Kaulah orang pertama yang melanggar aturan itu.”


Riri nyengir. “Aku suka melihat dari tempat yang tinggi sih…hm…disini dikatakan, sebelum ledakan di ruang laboratorium itu terjadi, ada kepulan asap aneh berasal dari atap akademi. Tetapi tidak ada yang tahu asal dari kepulan asap itu, karena saat diselidiki, tidak ada benda apapun yang terbakar, hingga sekarang pun enggak kedeteksi. Hmm… aku jadi penasaran, menurutmu apa?”


Camelyum berpikir sejenak. “Apa mungkin itu suatu sihir bunga?”


“Bisa jadi, baiklah ayo kita coba ke atap dan selidiki!”


“Tunggu, Master! Bagaimana dengan turnamen sihir itu? Kau harus punya waktu untuk istirahat!”


“Sebentar sajalah!”


Riri menarik tangan Camelyum menuju atap akademi. Gadis berambut perak itu tak bisa lagi menolak ajakan Masternya.


Entah kenapa, saat dia menggenggam tanganku, aku sama sekali tak ingin melepaskannya. Walau dia itu sangat keras kepala, entah kenapa aku tak ingin melawannya.


***


“Hmm, disekitar sini kan?”


Riri dan Camelyum berada di atap akademi. Camelyum melihat ke arah langit. Bintang mulai bermunculan karena matahari telah sepenuhnya terbenam.


“Disini menyebutkan, tidak ada bekas terbakar sama sekali. Kira-kira sihir seperti apa yang membuat kepulan asap misterius ini ya…”


“Master, aku merasakan ada aliran sihir disini.”


“Eh benarkah?”


Riri menghampiri Camelyum yang berdiri di sisi pagar pembatas. Disana terdapat sebuah tong air tua yang sudah tak terpakai.


“Kau bercanda? Didalam tong air tua ini?”


“Tidak, bukan disitu, tapi di bawahnya.”


“Hah? Mana bisa aku mengangkatnya…”


“Gunakan perintahmu pada Camelia hitam, Master. Untuk mengangkat tong ini.”


“Hah?!”


Riri agak kaget walaupun pada akhirnya mengangguk. Lalu mulai merapalkan mantra.


“Wahai Camellia hitam nan cantik dan indah, kabulkanlah permintaan Mastermu, buatlah benda ini ringan untuk diangkat!”


Seketika kelopak-kelopak hitam muncul dan menyelubungi tong tua itu dan benar saja, tong itu terangkat dari tempatnya hingga membuat Riri takjub.


“K-keren banget!”


“Itu hanya sihir sederhana, Master...”


“Kau sendiri tahu kan kalau aku ini gak ahli pake sihir bunga! Ini semua berkatmu!”


Camelyum terkikik geli melihat wajah Riri yang berbinar-binar karena takjubnya. Setelah itu mereka kembali mengalihkan pandangannya setelah berhasil memindahkan tong tua dari tempatnya.


“Perasaanku benar kan...”


“Wah, tanda sihir apa ini? Aku belum pernah melihatnya.”


Benar saja, di tanah bekas berpijaknya tong tua tadi terdapat tanda sihir yang tertutupi lumut-lumut hijau dan noda kerak air.


“Euw, rasanya menjijikkan jika harus menyingkirkan lumut-lumut itu.”


“Gunakan saja sihir Lily putihmu, Master.”


“Eh? Gimana caranya?”


“Bukankah saat kau memindahkan tong itu kau bisa merapalkan sihir Camellia hitam?”


“Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba sudah tahu begitu saja rapalannya…”


Riri pun memejamkan mata dan merapal kembali mantra.


“Dengan kesucian dari warna putih bersihmu, Lily putih, kabulkanlah permintaan Mastermu ini. Jernihkanlah kembali apapun yang mengotori warna putihmu!”


Beberapa helai kelopak bunga Lily muncul dan benar saja, noda lumut hijau dan kerak air itu pun telah bersih hingga tanda sihir disana pun mulai tergambar jelas.


“Camelyum, aku bersyukur kau menjadi roh bungaku!”


“E-eh?”


Camelyum sedikit salah tingkah ketika Riri memegang kedua tangannya sambil menunjukkan cengirannya.


“Jadi tanda sihir apa i—”


JRAKK!!


“MASTER!!”


Tinggal beberapa senti lagi sebuah anak panah hampir menembus telapak tangan Riri yang tadinya hendak memeriksa tanda sihir itu.


“A-anak panah?”


“Master! Itu anak panah sihir!”

__ADS_1


BWUSSHHH


Tiba-tiba anak panah itu mengeluarkan api yang mengelilingi tanda sihir ditengahnya.


“Apa anak panah itu roh bunga?”


“Pasti Masternya ada disekitar sini, Master, mundurlah!”


“Kalau anak panah…berarti dia seorang petarung jarak jauh dengan roh bunga anak panah. Tetapi apa dia musuh? Apalagi ini?”


Riri memperhatikan sekeliling. Mencoba menebak darimana anak panah itu diluncurkan.


“Camelyum! Awas!!”


Spontan Riri mendorong Camelyum ketika sebuah anak panah melesat hampir melukainya. Sayangnya anak panah itu sukses melukai lengan Riri.


“Master! Apa yang kau lakukan?!”


“Uh yah…”


“Hahh… makanya jangan coba-coba sentuh mahakarya yang sudah susah susah kubuat dong…”


Sesosok manusia muncul dari tanda sihir aneh itu. Lebih tepatnya dari tengah-tengah kobaran api.


“Siapa kau?!”


Ketika sosok itu menunjukkannya, dia terlihat seperti anak kecil bertubuh pendek. Setara dengan pinggul Riri. Dia membawa anak panah beserta pelontarnya di tangan kiri dan kanannya.


“Wah, kau ini Riri Hanamizuki yang sedang ramai dibicarakan kakak kakakku ya…hmm… apa benar kau sehebat itu? Apa hanya karena kau memiliki 2 jenis roh bunga, kau bisa disebut hebat? Menghindari anak panahku saja enggak bisa~”


“B-berisik! Kau ini apa hah?!”


“Aku hanya anak kecil yang sedang bereksperimen...”


Bocah itu memperlihatkan tanda mawar hitam dilengannya, dan angka 8 diatasnya.


“K-Kuroi Uta?!”


“Wah jadi kau sudah tau tentang kami ya? Kalau begitu kau tak bisa kubiarkan hidup!!”


Anak itu melesat cepat ke arah Riri, dengan sigap Camelyum langsung mengeluarkan kedua pedangnya dihadapan Riri.


“Ups, kau salah sasaran!”


Namun secepat kilat anak itu sudah melayang diudara dan bersiap meluncurkan anak panahnya lagi.


“Kena kau!”


“Sial dia cepat sekali!”


TAKK TAKK!!


Anak panah itu berhasil ditepis setelah Camelyum bergerak cepat mengarahkan tebasan pedangnya ke udara.


“Ah sialan, padahal tinggal sedikit lagi tubuh Riri Hanamizuki bisa terbelah dua~”


“A-apa katamu!? Camelyum! Berubahlah jadi pedang dan aku akan memberi pelajaran padanya!”


Camelyum langsung berubah menjadi cahaya dan menuju ke arah tangan Riri membentuk 2 buah pedang.


“Sini kau bocah! Beraninya meremehkanku sejauh itu!!”


“Kau kalah cepat lagi, kakak~”


Tanpa sepengetahuan Riri, anak kecil itu sudah berada dibelakangnya, dan meluncurkan anak panahnya.


“Sial!!”


Kali ini Riri berhasil menghindari anak panah itu, hanya beberapa helai rambutnya yang terpotong.


“Hei sialan! Beraninya menyentuh rambut perak berharga milikku! Awas kau ya! Turun kau sini!!”


Anak kecil itu masih berada di udara. Melihat Riri dengan tatapan aneh.


“Kau memperlakukanku seperti anak kecil ya? Hmm, rasakan akibatnya karena meremehkanku terlalu jauh!”


Tiba-tiba dari tanda sihir yang dikelilingi api itu, muncul monster berbentuk naga api yang siap menyerang kapan saja dengan semburan apinya.


“Jangan-jangan kau ini…?!”


Dengan terburu-buru, Riri segera merapalkan mantra pembuat dimensi. Sehingga takkan ada orang luar yang melihat pertarungannya, serta dia ingin meminimalisir kerusakan di atap akademi itu.


“Oh, pindah dimensi ya? Idemu cerdik juga.”


“Kau, apa maumu datang kesini?”


“Apa kau tidak ingin tahu namaku, kakak?”


“Masa bodoh dengan nama musuh Berhentilah memanggilku kakak!”


Anak itu tersenyum. “Kau yakin? Mengingat nama musuh itu penting lo. Agar pertarungan yang kau alami semakin berkesan.”


“Apa?!”


“Contohnya, setelah aku mengetahui namamu, aku semakin bersemangat untuk membelahmu jadi 2 lo. Khukhukhu.”


“Kau ini…apa?!”


...****************...


Anak kecil itu memandangku dengan tatapan aneh. Lagi-lagi Kuroi Uta menggangguku. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?


“Ya ampun, untung saja aku ingat! Maaf ya kakak~! Aku tak bisa membunuhmu sekarang!”


“Apa?”


“Tapi, cukup membuatmu pingsan saja hingga aku bisa dengan mudah mempersembahkanmu pada beliau! Setuju kan?”


“Hah?!”


SYATS!


Timingnya tepat, aku menepis serangan anak panah dari bocah itu dengan pedang hitamku. Belum lagi monster api dibelakangnya terus menyemburkan api menyerangku. Benar-benar merepotkan.


“Kenapa? Kewalahan ya?”


“Berisik!”


Melalui pedang putihku, aku mengalirkan sihir Bluebell dan mengejar pergerakan gesit anak itu, lalu secara bersamaan aku aktifkan sihir Dandelion untuk memperlambat gerakan monster api miliknya.


“Master! Apa yang kau rencanakan?”


“Pergerakan bocah itu gesit sekali, terlalu merepotkan!”


Sihir rantai Bluebellku kesulitan mengejarnya. Pergerakan anak itu sangat cepat dan dia juga terus menerus menembakkan anak panahnya padaku.


“Sial, sepertinya aku harus menggunakan buster secara bersamaan ke arah mereka berdua.”


“Apa?! Master! Itu terlalu beresiko! Jika kau gagal memakainya, kau takkan bisa menggunakannya untuk kedua kali!”


Aku hanya tersenyum pahit. Benar, buster andalanku hanya bisa dipakai satu kali, itupun jika manaku mencukupi.


“Kakak~ kalau tidak cepat menyerang, bisa mati beneran lo~”


Sihir Dandelion yang membuat pergerakan si monster api telah mencapai batasnya. Lalu anak itu menghentikan gerakannya dan menaiki monster api yang menyerupai naga raksasa dan bersiap menyerangku lagi.


“Kutembak ya?”


Anak itu bersiap membidikkan kembali anak panahnya, kali ini lebih besar dengan bantuan sihir api dari monster naganya.


“Sialan! Aku gak punya ide mengalahkannya!”


“Master! Sementara gunakanlah Camellia hitam untuk mengulur waktu dan menahan serangannya!”


“B-baiklah! Wahai Camellia hitam! Perlihatkanlah keindahanmu!!”


BWOOSHH


Dengan cepat ratusan kelopak bunga hitam muncul membentuk dinding dan menahan serangan anak itu. Sialan, serangan apinya cukup kuat juga.


“Kau sudah punya ide? Aku gak bisa terlalu lama menahan dinding ini”


“Master, kita memang perlu mengalahkan dulu monster naga itu. Monster itulah yang terus memberikan asupan mana pada anak itu sehingga dia akan sulit dikalahkan”


“Bagaimana caranya?”


“Gunakan kemampuan dual swordsmu, Master. Itulah salah satu kelebihanmu memiliki aku.”


“Dual swords…”


“Ya, kita akan teleport dan langsung menyerang monster itu secara bertubi-tubi dengan serangan dual swords Camelyum. Lupakan anak itu sejenak. Hanya fokus menyerang monster itu dulu!”


“Tetapi bagaimana jika dia menembakkan anak panahnya padaku saat aku menyerang monster naga itu?”

__ADS_1


“Tenang saja, Master, sebisa mungkin, aku akan membuat segel penghalang menyelubungi tubuhmu. Walaupun sebentar, ayo manfaatkan waktu yang ada sebisa mungkin!”


Aku benar-benar bersyukur memiliki Camelyum sebagai partnerku.


Dual swords. Ya. Aku pernah memimpikannya.


Kisah tentang 2 orang raja yang saling beradu pedang. Hitam dan putih.


Kemampuan pedang itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Kemampuan 2 pedangnya. Bertarung dengan 2 pedangnya. Tanpa ampun.


“Kakak~ mau sampai kapan bersembunyinya? Aku kasian lo melihat dinding bunga yang cantik itu jadi hangus karena apiku.”


“Baiklah, dalam hitungan ke-3, dinding itu hancur. Kita akan langsung teleport—”


“Satu, dua, tiga.”


Dinding bunga Camellia hitam itu pun benar-benar lenyap setelah semburan naga apinya terus membesar.


“Wah, sudah hangus terbakar api ya? Aduh aku terlalu berlebihan ya…kalau Tuan Agung memarahiku—”


“DUAL SWORDS SKILL!! CAMELYUM SWORDS!!!!”


“APA!?”


Riri benar-benar teleport tepat di depan monster naga api itu, dan dia menyerang secara bertubi-tubi dengan kedua pedangnya.


“Sihir teleport ya! Lancang sekali!!”


Anak itu kembali membidik anak panah pada Riri, diikuti serangan monster naga api yang terus melawan, namun Riri tidak mempedulikannya. Dia terus menyerang naga api tanpa henti hingga pergerakannya melambat.


“Sialan!! Naga apiku yang gagah, jangan berhenti! Terus saja serang dia sampai hangus!! Dasar sial!!”


Saat anak kecil itu melemparkan serangan anak panahnya pada Riri, anak panahnya meleset. Terlihat cahaya putih menyelubungi tubuh Riri.


“Apa!?”


“TEBASAN KE-5! KE-6! KE-7! KE-8! KE-9!”


“Sialan sialan sialan!! Akan kugunakan senjata pamung—”


Anak itu langsung terhenti saat Riri tiba dihadapannya dengan tatapan penuh nafsu.


“TEBASAN KE-10!!!!!!”


Namun Riri tak menyerang anak itu, dia mengarahkan tebasannya tepat ke tengah-tengah kepala si naga api hingga sukses terbelah 2.


“A-APA?!”


Naga api itu mulai kehilangan keseimbangan setelah kepalanya terbelah hingga akhirnya ambruk di tanah dan lenyap.


“Naga apiku yang gagah! Kau…sialan!!”


“Serangan terakhir.”


“M-Master?!”


“CAMELYUM BASUTTO!!!!!”


BWOOOOSSHHH!!


Tanpa menunggu, kedua pedang Riri mengeluarkan ledakan dahsyat yang mengarah padanya.


“Ingatlah namaku Azalea, hingga kau menyesal telah mengalahkanku—”


“Hah?!”


Dimensi yang dibuat Riri menghilang. Begitu juga dengan bocah pengendali naga api itu. Menyisakan Riri seorang diri dibawah langit malam yang semakin gelap.


“Dia menyebut namanya…Azale…a…”


“Master! Apa yang kau lakukan!?”


Tepat sebelum tubuh Riri ambruk ke tanah, Camelyum kembali ke wujud manusianya dan menahan tubuh sang Masternya yang terkulai lemah.


“Came... aku bersyukur kau adalah partnerku…”


“B-bodoh! Apa yang kau lakukan ini terlalu berlebihan! Kau tidak bilang dulu ingin menggunakan buster!”


“Aku pasti…membunuh Azalea itu ya…”


“Azalea?”


“Anak itu menyebutkan namanya…saat kutembakkan Camelyum buster…”


Camelyum merasakan ada yang aneh dari Masternya. Roh bunga dan Masternya saling terhubung dalam ikatan batin, dan Camelyum melihat sesuatu dari dalam hati Masternya, ‘ini tidak seperti Riri yang kukenal’.


“Riri payah! Besok hari pertama turnamen sihir murid-muridmu kan!? Kenapa kau gunakan bustermu?! Kau tahu sendiri kan kau akan tertidur selama 3 hari kalau menggunakannya!?”


“Hei, Came, terima kasih sudah membantuku. Aku tak tahu bagaimana mengalahkannya jika kau bukan partnerku.”


“Master! kau dengar aku kan?! Riri?! Riri!!?


Berkesan ya. Apa dengan bertarung, itu membuatku bersemangat?


***


“Lagi-lagi Riri diserang?”


“Kemampuan sihirnya masih sangat lemah. Master terlalu memaksakan diri. Karena mengeluarkan buster pamungkas dari 2 pedangnya dengan mana yang sangat sedikit, kemungkinan dia takkan bangun sampai 3 hari ke depan. Seperti waktu itu.”


“Camelyum-san, aku benar-benar bersyukur kau adalah roh bunganya.”


“Master berkali-kali bilang begitu padaku, sekarang kau juga, wanita aneh. Aku memang sudah ditakdirkan menjadi roh bunga Riri Hanamizuki. Jadi itu sudah tidak aneh lagi.”


Carnation hanya merengut sambil menutup pintu kamar Riri. Ya, saat ini dia berada di rumah Riri, tepatnya kastil Riri.


“Apa Kuroi Uta yang menyerang kalian?”


“Ya, mawar hitam dan angka 8. Itu memang Kuroi Uta. Tetapi aku masih merasakan mana dari bocah bernama Azalea itu. Aku yakin dia masih hidup, padahal Master sudah menyerangnya dengan buster.”


“Azalea?”


“Dia peringkat ke-8. Lawan yang tidak mudah, tetapi aku masih belum bisa menangkapnya, apa tujuan organisasi itu terus mengincar Master?”


“Sebenarnya, dulu Riri tidak selemah ini. Dia kuat, disukai anak-anak, salah satu pemimpin pasukan kerajaan termuda sepanjang sejarah.”


“Lalu apa yang membuat dia jadi seperti ini?”


“Mungkin… saat dia mendapat luka parah ketika perang itu”


“Luka?”


***


Peperangan.


Sistem negara yang belum stabil, sehingga perang masih kerap terjadi dimana-mana. Bukan perang biasa, melainkan memperebutkan benih.


Aku dikirim ke daerah pelosok dari kerajaan. Posisiku yang seorang tangan kanan pasukan kerajaan ini memang mengharuskanku untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi di seluruh wilayah kerajaan.


“Carnation-san! Laporan terbaru tentang perang antar ras! Hampir 80% ras Lilyum sudah gugur!”


“Ras Lily… salah satu dari 5 ras terkuat ya… baiklah, aku akan meninjau kesana dulu. Tolong beritahu pada atasan.”


“Baik!”


Perang antar ras. Perang itu tentu ada alasannya. Ya, untuk memperebutkan benih yang konon katanya dapat mengabulkan permintaan apapun, mewujudkan keinginan apapun yang mustahil.


“Sensei mau pergi kemana? Lama tidak?”


“Ayo ceritakan dongeng lagi pada kami sensei~”


Aku tersenyum melihat rengekan anak-anak polos yang memegangi bajuku. Selain sebagai tangan kanan pasukan kerajaan, aku juga menjadi salah satu pengasuh di panti asuhan anak-anak korban perang. Perang antar ras ini memang banyak menyisakan luka, terutama pada anak-anak polos ini. Mereka pasti mengalami trauma berat setelah melihat banyaknya api dan pertarungan, dan yang lebih penting, mereka kehilangan keluarganya.


“Sensei ingin mencari teman baru untuk kalian, agar disini semakin ramai! Jadi tunggu ya? Sensei akan pulang membawa banyak hadiah!”


Anak-anak itu terlihat bersorak kegirangan. Lalu mereka melambai padaku mengucapkan selamat tinggal. Ya, anak-anak itu masih memiliki impian dan masa depan. Hingga naluriku tetap kuat ingin menjaga mereka hingga besar nanti.


Tibalah aku, didepan pintu masuk keluarga ras Lilyum. Bangunan-bangunan yang hancur dan terbakar, masih terdapat api-api yang tidak begitu besar disana. Aku mengepalkan tanganku. Sebagai anggota pasukan kerajaan, memang tidak aneh melihat kehancuran seperti ini. Tetapi yang ini… entah kenapa hatiku terasa sangat sakit melihatnya.


“Jika hampir 80%nya gugur…apakah 20% nya lagi masih selamat?”


Kakiku menginjak sesuatu hingga langkahku terhenti. Betapa kagetnya aku ketika melihatnya.


“Ya Tuhan, seorang anak!”


Aku buru-buru menyingkirkan tumpukan reruntuhan kayu yang menimpanya. Aku memeriksa denyut nadi di tangannya, dia hidup...


“Bertahanlah nak!”


Aku menarik perlahan tubuhnya dan membaringkannya di pangkuanku. Sepertinya anak ini berusia 7 tahun. Kubersihkan sisa-sisa debu di rambut peraknya. Aku memeriksa lagi denyut nadi di lehernya. Masih bernapas walaupun lemah.


“Tenanglah nak, kau masih bisa hidup, bertahanlah!”

__ADS_1


__ADS_2