Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 9: Daffodil (II)


__ADS_3

“Elder-chan!”


BUAGHHH


Tepat sebelum Daffodil menembus segel buatan Elder yang diselubungi sihir Bluebell Riri, dia terpental karena mendapat pukulan yang cukup keras diperutnya, Riri tepat waktu menghadangnya.


"Nyaris saja.”


“Sensei!?”


“Tetap perkuat segelmu, Elder. Kau merasakan aura orang itu?”


Elder mengangguk pelan. “D-dia berbahaya…”


Daffodil berdiri setelah mendapat tendangan telak dari kaki Riri. Dia mendecih dan menyeringai jahat.


“Rupanya kau sangat keras kepala ya…padahal aku sudah bersikap baik padamu.”


“Tidak ada ampun bagi siapapun yang melibatkan orang tidak bersalah hanya demi mencapai benih yang bahkan tak ada yang tahu seperti apa bentuknya!”


“Khukhukhu—”


“Apa yang kau tertawakan?!”


“Riri Riri Riri. Kau ini bukan anak kecil lagi kan? Apa kau pernah mendengar kalimat seperti ini: ‘ada sesuatu yang hanya bisa dilihat dengan pandangan tertentu.’ Nah seperti itulah benih yang kita cari-cari.”


"..."


“Bukankah kita semua ini sama, ingin mendapatkan benih? Ingin mencapai tujuan? Ingin mengabulkan segala permohonan? Kita tidak ada bedanya bukan?”


“…”


“Semua cara yang digunakan pun sama saja, cara brutal sekalipun demi mencapai apa yang diinginkan. Bukankah semua manusia itu sama?”


“…”


“Se-ra-kah. Aku benar kan? Termasuk kau!”


“Berisik...”


“Kenapa? Kau mulai terpojok dengan kata-kataku? Kalau kau menurut untuk ikut minum teh denganku, tentu saja aku takkan menggunakan cara seperti ini, terutama bagi orang hebat sepertimu.”


“Berisik..........”


“Akui saja, Riri Hanamizuki!”


“Berisik, dasar cerewet—”


Kedua mata Riri memandang tajam pada Daffodil.


“Jangan samakan kami dengan kalian yang hanya bisa menyakiti orang-orang tak bersalah!”


Riri mengangkat tangannya, mengaktifkan sihir Dandelion yang membuat area sekitarnya melambat. Riri berlari ke arah Daffodil yang telah siap mengacungkan tombaknya, Riri mengeluarkan rantai biru Bluebell untuk mengikatnya-


“Sayangnya sihir rendahan seperti ini takkan berpengaruh pada kekuatan tombakku. Bodoh—”


SRATTT!!


Sedikit saja Riri lengah, tombak Daffodil akan melukai perutnya. Namun tombak keemasan itu berhasil melukai lengan kanan Riri.


“Sialan—”


Sihir Dandelion lenyap seketika. Daffodil menghampiri Riri yang jatuh terduduk ditanah. Dia menurunkan tombaknya dihadapan Riri yang memegangi luka di lengannya.


“Tenang saja… aku takkan membunuhmu. Masih ada orang yang lebih ingin membunuhmu dibanding aku.”


“Siapa yg ingin membunuhku?! Datanglah saja langsung kehadapanku!”


“Ckckck. Kau sungguh berani ya? Kau pikir, sang raja akan turun tangan hanya karena salah satu dari ribuan pasukannya tewas? Pikiranmu sungguh dangkal.”


“Kau—”


Riri melayangkan tinju tangan kanannya, dan dengan mudah ditepis Daffodil.


“Kalau kau memang berani menikam sang raja didepan publik, akan kutunjukkan caranya. Aku akan menunggumu mendatangi undangan minum tehku. Ah maaf aku ralat, aku akan menunggumu melangkahi mayatmu sendiri Riri Hanamizuki! Hahahaha!”


Fyusshh. Daffodil menghilang dalam kilat kuning. Riri mengepalkan tangannya kesal.


“Sensei! Kau baik-baik saja?”


“Ah, orang itu terlalu pengecut sampai-sampai melarikan diri begitu saja! Gak usah dipikirkan!”


“Apa yang…kalian bicarakan tadi…sorot wajahmu pun sampai berubah serius…”


Suara parau Amaryliss mengalihkan perhatian Riri. Dia menyunggingkan senyumnya dan menepuk rambut pinknya.


“Jangan dipikirkan…orang tadi berbahaya, aku tak ingin kalian terlibat terlalu jauh. Kalian masih punya masa depan, belum saatnya untuk mati.”


“Riri-sensei! Kok bilang begitu sih?!”


“Sudahlah, ayo turun, lagipula aku kan tidak apa-apa…”


“T-t-tapi t-t-tanganmu...”


“E-eh?! B-berdarah!? Ini berdarah! Ini berdarah! Gimana dong!?”


Riri tiba-tiba panik karena baru menyadari kalau goresan di tangannya terkena tombak Daffodil tadi mengeluarkan darah. Dia sampai panik sendiri hingga membuat Elder terkikik geli. Amaryliss yang tadi terlihat khawatir melihat Riri, mengeluarkan senyumnya sekilas.


“Aku baru tahu kau bisa sihir healing begini, Elder-chan.”


“T-tidak…aku masih tahap belajar…”


Elder mengobati luka gores di tangan Riri hingga benar-benar menghilang tanpa bekas.


“Terima kasih! Aku tertolong sekali.”


Riri menepuk rambut pirang Elder hingga sang pemiliknya tersipu-sipu.


Tiba-tiba Riri terhenti. Dia teringat sesuatu.


“AAHH!!! AKU LUPA!!”


“A-apanya?”


Riri melesat pergi menuju lokernya, raut wajahnya langsung berubah.


“Aku benar-benar kelupaan….”


Camelyum yang berada di kalungnya melihat. “Makanan yang ingin kau bagikan itu ya, Master?”


“Iya…semuanya jadi rusak karena aku kelupaan...gimana dong…sayang kalau dibuang…hiks…”


Riri jadi menangis kecewa hingga membuat beberapa siswi yang lewat didekatnya terkikik geli. Bukan menertawakannya, justru malah melihatnya sebagai sesuatu yang aneh.


“Sensei! Kenapa sih tiba-tiba lari begitu?!”


Ternyata Amaryliss dan Elder mengikutinya. Mereka menahan tawa saat melihat raut wajah Riri yang menangis, terlihat lucu.


“Gimana dong…tadinya aku berniat memberikan semua makanan ini buat kalian…aku malah kelupaan dan jadinya rusak begini…”


Amaryliss maju lebih dekat ke arah Riri.


“Haah sensei…kau itu sungguh memalukan...”


Amaryliss merentangkan tangan kanannya, dia mengeluarkan sihir regenerasi dan makanan yang rusak itu kembali segar seperti semula.


“Waah sihir yang hebat! Terima kasih! Walaupun galak, ternyata kau memang pandai!”


Wajah Riri yang tadi muram berubah menjadi cerah kembali sambil menggoyang-goyang tangan Amaryliss sehingga membuat pemiliknya tersipu.


“B-bukan apa-apa! H-harusnya kan ini sihir dasar…harusnya kau sebagai guru tahu—”


“Ini silakan dicoba ya! Aku yang membuatnya lo!”


“Wah masakan Riri-sensei!”


“Terima kasih sensei!”


“Boleh aku mencobanya juga?”


Riri malah asyik membagikan makanan yang tadi rusak itu ke beberapa siswi yang lewat, dan tentu saja mereka menerima dengan senang hati.


“Sensei! Dengerin aku dulu dong!”


Wajah Amaryliss memerah padam, Elder menepuk-nepuk bahunya sambil nyengir pahit.


“Ah untuk kalian juga ada! Ini bawalah! Aku yang memasaknya lo!”


Riri memberikan 2 kantong kertas pada Amaryliss dan Elder. Tercium aroma manis dan gurih dari dalamnya. Makanan yang rusak itu benar-benar telah kembali menjadi segar seperti baru dimasak.

__ADS_1


“H-harumnya enak sekali…terima kasih sensei!”


“Terima kasih juga sudah mengobati lukaku Elder-chan! Dan si galak, aku benar-benar bersyukur punya murid jenius sepertimu!”


Riri mengacungkan jempolnya dan memperlihatkan wajah lucu didepannya. Setelahnya dia kembali membagikan makanan pada siswi yang lewat lagi.


“Aura Riri-sensei sudah kembali seperti biasanya.”


“Benarkah?”


Elder mengangguk. “Saat pagi tadi mengajar, auranya memang berbeda. Sedikit menghitam. Tetapi kali ini kembali cerah seperti fajar.”


“Syukurlah, jika kita tidak mengejarnya tadi…”


Elder hanya tersenyum mendengarnya.


***


Petang harinya, setelah Riri berpisah dengan Amaryliss dan Elder di gerbang akademi. Waktu yang sudah mulai petang membuat suasana semakin sepi.


“Master, apa yang kau lakukan?”


“Saatnya inspeksi. Saat akademi ini sudah sepi, akan lebih leluasa bagiku untuk memulai pengecekan. Tentang kasus 10 tahun lalu itu.”


Riri membuka map yang disembunyikannya di balik bajunya. Map mengenai detail kasus pemberontakan oleh siswa laki-laki 10 tahun lalu di Akademi Hanatarou. Dia lalu berjalan dikoridor sambil membaca map itu.


“Bukan itu maksudku!”


Camelyum menjadi bentuk manusia dan berdiri dihadapan Riri, menatapnya marah.


“Uwaa! Kenapa keluar gak bilang-bilang?”


“Kenapa saat Daffodil melukaimu, kau tetap tak memanggilku? Bagaimana jika dia melukaimu lebih parah lagi?”


“...”


“Jika kau mati, otomatis aku akan menghilang! Tujuanmu takkan tercapai! Bukankah kita ini partner?”


“Came—”


“Master, sebagai partnermu, akulah yang seharusnya melindungimu! Bukan aku yang kau lindungi!”


“Came-chan, dengar!”


Riri memegangi kedua bahu Camelyum. Menatapnya lurus.


“Aku hanya melatih emosiku untuk tidak mudah terpancing dengan kata-kata musuh. Bukan berarti aku sedang melindungimu.”


“Master?”


“Sejak awal aku sudah tahu kalau orang itu tidak serius saat melawanku. Dia hanya ingin membuatku mengeluarkanmu dan bertarung secara brutal dihadapan muridku. Bukankah tidak etis memperlihatkan kekerasan didepan muridnya seperti itu bagiku yang seorang guru?”


"..."


“Camelyum, aku tahu prioritas utamamu adalah melindungiku sebagai Master dan mendampingiku sebagai partner. Aku juga tahu apa yang ingin kulakukan.”


“Master—”


“Jika aku mudah terpancing hanya dengan kata-kata, musuh akan dengan mudah menemukan kelemahanku. Lagipula orang itu kelihatan main-main saja, aku jadi malas melanjutkannya, ahaha—”


Seperti biasa, Riri memperlihatkan raut wajah lucu. Camelyum tersenyum simpul.


“Aku mengerti, Master. Mungkin saat itu aku memang terlalu khawatir.”


“Walaupun aku ini payah dalam sihir, jangan sampai sebegitunya dong~”


Riri memperlihatkan wajah memelas dihadapan Camelyum yang lagi-lagi membuatnya sedikit tertawa.


“Yosh, apa kau bisa memastikan kalau di akademi ini sudah tidak ada orang?”


“Master, jadi kau benar-benar akan menanggapi serius kasus yang tidak ada hubungannya denganmu ini?”


Riri membusungkan dadanya dengan tatapan berapi-api.


“Sebagai satu-satunya cowok paling terkenal di akademi ini, aku akan memegang tugas ini dengan nyawaku! Aku bersedia melindungi akademi ini untuk masa depan generasi berikutnya!”


Camelyum tertawa. “Kau jadi percaya diri sekali, padahal saat pertama mendapat map itu, kau terlihat ogah-ogahan.”


Riri membuka-buka lagi map ditangannya dan berhenti di sebuah halaman foto. Disana terdapat pintu yang kelihatannya sebuah laboratorium tak terpakai, dihalangi oleh segel rumit.


“Karena aku hanya merasa punya tanggung jawab saja sebagai satu-satunya laki-laki disini.”


“Woah, ternyata mudah juga ya?”


“Aku sudah memastikan akademi ini sudah tidak ada orang. Tepat pukul 6 sore akademi memang harus dikosongkan.”


“Huh? Darimana kau tahu itu?”


“Aku membaca dari brosur akademi Hanatarou. Bukankah harusnya kau juga tahu sebagai guru disini?”


Riri hanya menggosok tengkuknya sambil nyengir. Camelyum bisa tahu kalau Masternya ini tidak membaca sama sekali brosur itu.


“Aku masuk ke sini hanya dengan modal ke-soktahuanku saja, lagipula kan awalnya aku gak niat masuk kesini, ahahaha—”


“Memang seperti itulah Master yang kumiliki.”


Riri memperhatikan segel rumit yang menyelubungi pintu laboratorium itu.


“Di map ini tertulis disinilah tempat kejadian siswa laki-laki itu menyebabkan kekacauan hingga membuat kerusakan di akademi ini. Haruskah kita mencoba masuk kedalamnya?”


“Tunggu, Master.”


Camelyum mengeluarkan satu pedangnya dan mencoba merusak segel itu.


“Ini segel ringan. Tapi tak bisa sembarangan orang memasukinya. Harus merapal suatu sihir tingkat tinggi untuk membukanya.”


“Apa? Mana aku tahu sihir tingkat tinggi begitu…”


Riri langsung muram. Camelyum menepuk bahunya.


“Ada untungnya kau memilikiku, Master.”


“Hah?”


Camelyum berdiri didepan pintu itu dan merapal suatu mantra.


“Lily putih, Lily merah, Lily hitam, bersatulah. Keluarkan keindahanmu, kabulkankanlah permohonan Mastermu, berikanlah kekuatanmu untuk Mastermu, lepaskanlah sihirmu!”


Cahaya menyilaukan muncul dari tangan kanan Camelyum dan berhasil merusak segel itu tanpa membuatnya lecet sedikitpun.


“Camelyum! I-itu keren banget!!”


Mata Riri terlihat berbinar-binar kagum. Kedua pipi Camelyum memerah.


“S-sudahlah itu bukan apa-apa! Ayo kita periksa ke dalam!”


Mereka berdua masuk ke dalam laboratorium itu. Didalamnya terdapat berbagai jenis buku-buku tua terpajang di beberapa rak usang. Lalu ada meja panjang dan kursi yang biasa terdapat didalam sebuah laboratorium. Selain itu ada beragam jenis bunga yang diawetkan dan di pajang di dinding dengan bingkai.


“Terlihat seperti laboratorium penelitian sesuatu—”


“Master?”


Riri menghentikan langkahnya. Bau ruangan yang sudah lama tak terpakai menusuk hidungnya. Tetapi ada hal lain yang dirasakannya begitu semakin jauh memasuki laboratorium itu.


“Kau tidak apa-apa, Master?”


“Tidak…hanya…”


“Merasa dejavu ya, Riri hanamizuki?”


Tanpa hawa kehadiran, sesosok pria tengah duduk santai tak jauh dari mereka. Di meja hadapannya, terdapat teko dan 2 cangkir mungil dengan bentuk yang aneh. Lalu dia berdiri dan tersenyum.


“K-kau! Daffodil!”


Spontan Camelyum langsung berdiri membelakangi Riri dan mengacungkan satu pedangnya.


“Oh…jadi itu ya…roh bungamu itu…betapa cantiknya—”


“Camelyum, tenang dulu.”


Riri maju selangkah. “Jadi ini yang kau maksud undangan minum teh? Apa jangan-jangan, kau dalangnya ya?”


“Dalang apa maksudmu? Ayo kemari dan duduklah. Ayo kita berbincang layaknya seorang pria.”


Riri mengangkat kedua tangannya kesamping, lalu tubuh Camelyum bersinar dan menjadi 2 bilah pedang. Riri menyiapkan kuda-kudanya.


“Akan kuselesaikan masalah hingga ke akarnya, dan akademi ini bisa kembali damai.”


“Huh? Kau tahu, kau adalah satu-satunya tamu di acara minum tehku yang paling tidak sopan.”

__ADS_1


“Sejak awal aku tak pernah menyanggupi undanganmu!”


TRANGG!!


Dengan kuat, Riri dan Daffodil saling beradu senjata. Daffodil dengan tombak panjangnya dan Riri dengan kedua pedangnya.


“Apa yang kau lakukan? Tidak, apa yang kalian lakukan 10 tahun lalu disini hingga menyebabkan kerusakan parah di seluruh akademi ini?!”


“Kau sungguh blak-blakan ya. Aku tak mengerti maksudmu.”


“Jangan pura-pura bodoh!”


TRANGG!!


Mereka berdua melompat, saling berhadapan.


“Kau bilang…selesaikan masalah sampai akar…memangnya kau sudah tahu dimana akarnya?”


“Aku pasti akan menemukannya. Dimulai dari kau!”


Riri dan Daffodil kembali saling beradu senjata tanpa sedikitpun rapalan sihir. Kemampuan mereka nyaris seimbang.


“Master, ini tidak ada gunanya! Jika kau terus beradu senjata takkan ada habisnya sampai dialah yang menyerangmu duluan!”


“Aku tahu, tapi aku belum mau tumbang seperti waktu itu, jadi kutunggu waktu yang tepat untuk menebasnya.”


“Maksudmu dengan Camelyum Buster?”


Daffodil berhenti sejenak. “Oh iya, Riri Hanamizuki, kau mengalahkan Ixora dengan sekali serang ya? Kau mau melakukan itu padaku juga?”


“Haha. Kau memancingku melakukannya?”


“Sebenarnya aku juga penasaran, sekuat apa kekuatan itu hingga menumbangkan Ixora.”


“Heh! Beraninya meracau denganku ya!”


Riri mengacungkan pedang hitamnya, dia merapal sebuah sihir.


“Wahai Camellia hitam, dibalik kegelapanmu tersirat sebuah cahaya yang akan menghancurkan kebencian, dendam, dan luka. Aku perintahkan sebagai Master untuk memancarkan keindahanmu!”


FYUUSHH


Pedang hitam Riri dikelilingi kelopak bunga hitam yang tak terhitung jumlahnya, menyebar ke seluruh ruangan.


“Pusatkan seranganmu padanya, Master.”


“Ya...”


Ribuan kelopak bunga itu mengikat tubuh Daffodil yang tak berkutik. Riri menguatkan ikatan kelopak bunga hitam itu dengan pedangnya, lalu menghampirinya.


“Sekarang katakan, apa kalian, organisasi Kuroi Uta, yang menjadi dalang dibalik insiden di akademi Hanatarou hingga para gadis menjadi trauma dengan laki-laki?”


Riri mengarahkan pedang putihnya tepat didepan dahi Daffodil yang tak bisa bergerak lagi karena terikat ribuan kelopak bunga hitam.


“JAWAB!”


“KEUHAHAHAHA! HEBAT! HEBAT SEKALI! PANTAS SAJA KAU SANGAT DISUKAI TUAN AGUNG!”


“Apa katamu? Tuan Agung?”


“Lebih tepatnya Sang Raja. Bukankah kau mau menebas sang raja tanpa ragu? Karena itu tak ada gunanya bertanya ataupun membunuhku sekarang.”


“MASTER!”


SRATTT!!


Kewaspadaan Riri berkurang hingga dia lupa dengan keberadaan tombak Daffodil yang bergerak dan berhasil melukai betisnya.


“Cih, kau tetap tidak mau menjawab?”


“Kau sungguh sekeras batu. Sihir seperti ini tidak ada apa-apanya untukku!”


Daffodil memaksa tubuhnya terlepas dari ribuan kelopak bunga hitam yang menyelubunginya hingga benar-benar terlepas, lalu dia memasang kuda-kuda dengan tombaknya.


“Jika kau memang yakin Kuroi Uta adalah dalang dibalik kekacauan 10 tahun lalu di tempat sampah ini, kau salah besar. Bukankah kau merasa dejavu saat masuk kesini?”


DEGH


“Sayangnya, membunuhmu bukanlah tugasku. Ada tangan yang lebih terampil akan mencincangmu, memotong-motong tubuhmu, dan meremukkan tulang-tulangmu. Padahal aku bisa saja melakukannya dengan tombak kesayanganku ini.”


“Siapa dia…siapa Tuan Agung itu…?! Akulah yang akan mencincangnya duluan!”


“Oh, kau sungguh lancang.”


Dibelakang Daffodil, muncul sebuah lubang hitam dimensi, lalu dia masuk ke dalamnya.


“Tetapi tombakku ini sudah cukup baik melaksanakan tugasnya, Riri Hanamizuki, jika saja kau menyerangku dengan bustermu itu, aku pasti sudah mati, hahaha! Sampai nanti—”


WUSSHH


Daffodil pun menghilang tanpa jejak.


“Master! Kau baik-baik saja?!”


Camelyum kembali ke bentuk manusianya dan menahan tubuh Riri yang hampir jatuh ke lantai.


“Lukanya sakit juga, hehe—”


Camelyum menatap wajah Riri yang kelelahan, serta tersirat suatu tanda tanya besar di pikiran Masternya itu.


“Master, apa benar kau merasa dejavu dengan tempat ini?”


Langit menjadi semakin gelap dengan bintang yang mulai bertaburan. Malam benar-benar telah menggantikan senja hari yang begitu singkat. Riri hanya memandang lurus ke arah luar jendela.


“Entahlah, aku tak yakin. Kalau saja tadi kukeluarkan buster—”


“Master, Camelyum buster tak bisa dipakai sembarangan. Karena memerlukan banyak mana. Bukankah saat pertama kalinya digunakan kau sampai tidak bangun selama 3 hari?”


“Yah, kalau begitu aku harus lebih melatih tubuhku untuk lebih banyak menyimpan mana.”


“Master, kau—”


“Kurasa hanya itu kartu asku, aku juga sudah menemukan petunjuk di kasus 10 tahun ini. Walau aku sendiri tidak yakin apa ini petunjuk yang bagus.”


“Master…”


“Ayo pulang, dan tutup kembali ruangan ini dengan segel yang lebih rumit.”


***


“Bagaimana, Tuan Agung? Apakah rasanya sesuai dengan lidah Anda? Anggur ini adalah kualitas terbaik dengan harga yang terbaik pula dikelasnya.”


“Harga ya?”


Meneguk segelas anggur di dalam gelas berukiran aneh baru-baru ini membuatnya tertarik. Hingga dia memerintahkan semua anak buahnya mencarikan anggur terbaik yang cocok untuk lidahnya.


“Segala sesuatu…ditentukan oleh harga…aku tidak mengerti, mengapa manusia beranggapan seperti itu.”


Sambil mengatakannya, dia menumpahkan segelas anggur yang hanya dicicipi satu tetes dilidahnya.


“Tolong maafkan saya Tuan, saya tidak ber—”


PRAGG


Dia menjatuhkan gelas dari tangannya hingga pecah.


“Kau mau tahu, seberapa besar harga yang menyentuh lidahku ini? Jilatlah cairan di lantai itu dengan lidahmu sendiri sekarang juga!!”


Dengan ketakutan, orang itu menjulurkan lidahnya gemetar, ke arah anggur tumpah dilantai.


“Tidak ada yang berharga di dunia ini. Satupun.”


“Tuanku.”


“Ah, rupanya Daffodil pelayan setiaku. Harus bagaimana aku menyambutmu?”


Daffodil membungkukkan badannya dengan sopan dihadapan sang Tuan Agung.


“Saya tidak memliki hak mendapatkan rasa penghormatan yang terlalu tinggi seperti itu, Tuanku.”


“Tetapi aku harus. Kau telah memberikan apa yang kuinginkan.”


Daffodil tersenyum penuh hormat. “Tentu saja, Tuanku. Segalanya bagiku adalah demi kepuasan Anda.”


Sang Tuan Agung mengangkat tangan kanannya yang berkulit putih pucat dengan kuku-kuku yang panjang, menaruhnya di bahu Daffodil.


“Lakukan tugasmu dengan baik. Daffodil.”


Setelahnya sang Tuan Agung berlalu. Daffodil memberikan penghormatan dibelakangnya.

__ADS_1


“Tentu saja, Tuanku.”


__ADS_2