Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 14: Sunny Day


__ADS_3

“Waktu yang tersisa tinggal 5 menit! Perwakilan kelas 1 A dan B telah berhasil keluar! Dan sekarang hanya tinggal menunggu kelas E, apa mereka akan berhasil di waktu-waktu mepet begini?”


“Aish Carnation-nee itu semangat banget sih—eh senpai—”


“Huh? Kau memanggilnya nee-san?”


Riri menggosok lehernya ketika Typha bertanya padanya.


“Uh yah aku keceplosan…”


“Hei kau! Beraninya memanggil kepala sekolah kami yang terhormat dengan sebutan nee-san! Memangnya dia siapanya kau?!”


“Terserahlah… ngomong sama cewek bikin capek saja…”


“Kau lihat kan? Waktu tinggal 5 menit lagi dan anak-anak muridmu yang payah itu belum juga keluar, kau masih yakin mereka akan menang? Fufufu.”


Kali ini Riri benar-benar tidak berkomentar. Dia hanya melipat kedua tangannya didada dan menatap serius ke arah pintu keluar labirin.


“Waktu tinggal 60 detik! Apa kelas 1-E berhasil keluar!?”


“Gak mungkin...”


“Mereka…?!”


“Tepat sebelum 0 detik, kelas 1-E berhasil keluar dari labirin!!”


Langsung saja sorak sorai dan tepuk tangan riuh bermunculan. Tentu saja ini pertama kalinya bagi kelas E ikut serta turnamen sihir dan berhasil.


“K-kita berhasil?”


“Ini beneran kan?”


“Kita…kita berhasil di babak pertama…?”


Labirin dan kabutnya pun lenyap. Cahaya matahari kembali menyinari seluruh penjuru tempat. Anak kelas 1 A dan B yang melihat keberhasilan kelas 1 E mendecih kesal.


“Pasti mereka curang, mana mungkin anak dari kelas rendahan seperti mereka bisa menang?”


“Bukankah tadi diawal Carnation-senpai bilang, apapun bisa terjadi?”


“Ah, Riri-sensei!”


Riri sensei melambai ke arah ke-3 muridnya yang memanggil namanya.


“Cubit aku, kita beneran berhasil di babak pertama kan?”


“Kita berhasil!”


“Kalian sudah berjuang dengan baik! Aku sempat khawatir lo kalian belum keluar juga di menit-menit terakhir!”


Seperti sebelum memulai turnamen, Riri lagi-lagi menepuk punggung ke-3 muridnya sampai-sampai mereka mengaduh sakit.


“Sakiiitt!!!! Apa yang kau lakukan sih?!”


“Maaf maaf! Aku hanya sangat lega melihat kalian berhasil!”


Riri tersenyum pada ke-3 muridnya itu hingga mereka tersipu malu, apalagi Amaryliss.


“I-itu hanya keberuntungan saja…”


“Yang penting kan kalian sudah—”


Riri tertunduk memegangi wajahnya. Lagi-lagi pandangannya berkunang-kunang.


“S-sensei? Kau baik-baik saja?”


“Ah maaf, aku baik-baik saja kok...! Lalu babak berikutnya?”


“Babak berikutnya diadakan 2 hari lagi, Riri-sama.”


Alstromeria dengan sigap menjawabnya. Riri yang melihat kehadirannya memberikan senyumnya.


“Terima kasih, Alstro-san! Babak pertama ini berjalan dengan baik!”


“I-itu bukan apa-apa—”


“Baiklah! Mari kita rayakan kemenangan pertama ini dengan makan siang bersama!


...****************...


“Babak kedua adalah uji ketepatan sihir bunga…apa yang sudah kuajarkan pada mereka?”


Riri tampak lesu didepan meja kerjanya. Ujian selanjutnya akan diadakan besok, yaitu uji ketepatan sihir bunga. Para penguji akan memberikan tes pada peserta sejauh mana kemampuan sihir bunga masing-masing.


“Setidaknya kau mengajari mereka sihir pertahanan kan?”


“Kalau hanya itu gak bakalan cukup! Baiklah, hari ini aku akan memberikan latihan khusus lagi pada mereka!”


Riri berlari ke dapur dan sibuk melakukan sesuatu. Camelyum yang melihatnya dibelakang hanya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.


“Master, aku agak khawatir dengan uban hitam yang makin menutupi warna perak dirambutmu itu. Kau bilang itu karena kau sedang banyak pikiran kan? Kau yakin baik-baik saja?”


“Ah tenang saja! Aku pernah beruban hitam begini waktu masih jadi pengajar di panti asuhan, sampai-sampai muridku meledekku dengan sebutan rambut arang karena saking hitamnya. Ahahaha!”


Camelyum sedikit tertawa ketika Riri menyebutkan rambut arang dengan gelagat yang lucu. “Sungguh? Bagaimana cara uban itu hilang?”


“Hmm entah? Aku sendiri tidak sadar, tahu-tahu hilang.”


Riri terlihat sibuk membuat 10 potong sandwich yang disusun kedalam wadah bekal.


“Tetapi Master… selama ini aku memperhatikanmu, kau tak hanya sedang banyak pikiran, tapi aliran manamu juga tidak selancar biasanya. Kau tahu kan kalau aku selalu berwujud didalam kalungmu? Otomatis aku juga jadi bisa merasakan detak jantungmu.”


Riri menepuk rambut Camelyum dan memberinya senyuman.


“Aku tidak apa-apa, tidak usah terlalu khawatir begitu! Kau mau ikut tidak? Kalau tidak jaga rumah saja…”


Riri melepas celemeknya dan berlari kekamarnya untuk berpakaian. Camelyum hanya menghela napas pasrah. Dia sangat tahu sifat keras kepala Masternya itu hanya dengan melihatnya saja.


“Mau bagaimanapun aku tetap harus ikut, Master...”


***


“T-tidak ada pelajaran?”


“Yah, khusus hari ini aku takkan memberikan pelajaran.”


“K-kenapa?”


Murid kelas 1-E kebingungan ketika Riri mengumumkan hari ini takkan memberikan pelajaran. Itu karena Riri mengumumkannya dengan riang gembira.


“Sensei! Besok turnamen babak kedua! Kita harus melatih lebih banyak sihir bunga agar bisa menang!”


“Semuanya selain Elder, Iris, dan si galak, untuk hari ini kalian boleh ambil kelas lain selain kelasku, oke?”


Walaupun bingung, mereka menuruti keinginan satu-satunya sensei pria di akademi itu lalu meninggalkan kelas, menyisakan Amaryliss, Elder, dan Iris yang juga ikut bingung.


“Sensei?! Kau mau apa sih?”


“Dengarkan saja aku deh...”


Amaryliss agak terkejut melihat wajah sebal Riri yang menurutnya ‘imut’.


“Khusus untuk kalian ber-3, aku akan membawa kalian ke tempat yang indah.”


“T-tempat yang indah?”


“S-sensei? A-aku belum siap tahu~”


“Ha? Siap untuk apa?”


Riri memandang Iris yang kelihatannya sedang berkhayal aneh-aneh.


“Pasti dia mengkhayal yang tidak-tidak—”


“Apa katamu cewek galak?! Masalah!?”


“Kenapa?! Kau terganggu?!”


“Kau ini!?!!”


“Eeeh sudah sudah berisik ah!”


Riri memisahkan pertengkaran Iris dan Amaryliss dengan mendorongnya. “Sudah kubilang aku akan membawa kalian ke tempat yang indah. Jadi kalian lihat saja ya!”


***

__ADS_1


Sekitar 15 menit lamanya berjalan, mereka berhenti di atas bebukitan. Kota Laurel diapit oleh 2 gunung dengan banyaknya bebukitan. Dari bukit itu mereka bisa melihat pemandangan kota Laurel yang sangat luas dan lebih indah.


“Ternyata kota Laurel bisa seindah ini jika dilihat dari atas!”


“Kau benar Iris-chan!”


Elder dan Iris terlihat sangat senang saat Riri membawa mereka ke bukit ini. Tidak dengan Amaryliss.


“Sensei, apa ini maksudmu indah? Ini kan…biasa saja menurutku…”


Riri menoleh padanya. “Ah, tuan putri sepertimu pasti sering melihat dari tempat-tempat tinggi kan? Atau jangan-jangan punya sihir bunga yang bisa membuat tubuhmu melayang? Ah! Kalau punya sihir seperti itu ajarkan juga padaku!”


Riri memandanginya dengan mata berbinar-binar, membuat Amaryliss langsung mengalihkan pandangannya karena ‘malu’.


“M-mana ada sihir terbang seperti itu! Bahkan alumni saja gak ada yang bisa!”


“Hmm, kalau ‘gak ada yang bisa’, berarti memang ada caranya.”


“Sensei?”


Riri menaruh keranjang isi sandwichnya di bawah pohon. Memandang lurus pemandangan kota Laurel dari bebukitan.


“Segala hal pasti ada jalan, mau itu yang susah sekalipun, buktinya kalian sudah mahir menggunakan sihir teleport melebihi kelas lain kan?”


“I-itu gak istimewa!”


Sergah Amaryliss dengan wajah memerah.


“Kalian tahu, pengetahuan yang luas tidak menjamin hidupmu bahagia. Kecuali jika kalian pandai mengartikannya.”


“Apa maksudmu?”


Elder mengedip-ngedipkan matanya tidak mengerti.


“Aku diberi tugas oleh Carnation-nee—maksudku senpai menjadi guru kalian, kelas sihir dengan peringkat terendah. Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa aku jika mengajar di kelas yang peringkatnya lebih tinggi dari ini. Mungkin aku sudah habis ditelan mereka seperti menelan satu gigitan sushi! Ahaha!”


Iris tertawa kecil mendengarnya.


“Tetapi sejauh ini aku memperhatikan, anak-anak dikelas yang tingkatannya lebih tinggi dari kalian, saling bersaing menjadi yang terbaik. Tanpa mempedulikan posisi teman-temannya yang kesulitan. Contohnya saat aku berbicara dengan anak-anak kelas 3 yang baru lulus itu.”


“E-eh?! Sensei berbicara dengan mereka?!”


“Mereka itu dengan seenaknya merendahkan kelasku, memangnya aku sebodoh itu di mata mereka apa!?”


“Bukankah kau itu memang payah?"


Kata Amaryliss dengan wajah sebal. Wajah Riri langsung tertunduk suram.


“Satu hal yang kupahami saat berbicara dengan mereka adalah, mereka terlalu menganggap remeh orang-orang yang lebih rendah darinya. Tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”


“E-eh?”


“Buktinya kalian berhasil di saat terakhir kan? Aku sangat puas saat melihat wajah kecewa mereka yang menganggap kalian akan gagal.”


Iris, Amaryliss dan Elder tak mampu berkata apa-apa.


Riri-sensei begitu mendukung dan percaya pada kami, walaupun apa yang diajarkannya pada kami tidak seberapa dengan anak-anak yang tingkatan kelasnya lebih tinggi dari kami. Itulah yang istimewa darinya.


Tiba-tiba saja pemikiran itu muncul di benak Amaryliss. Dia mencuri-curi pandangan dengan kedua mata biru Riri.


“Maka di babak kedua nanti, percayalah dengan apa yang kalian punya, apa gunanya bersaing jika kalian meninggalkan hal yang paling berharga?”


“Hal yang… paling berharga?”


Iris mengucapkannya dengan pelan.


Riri merendahkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan ke-3 muridnya.


“Ikatan.”


“I…ikatan…?”


“Ah! Itu tempat yang cocok! Ayo cepat kita turun kebawah!”


Tiba-tiba Riri berseru dan mengambil keranjang makanannya menuruni bukit. Meninggalkan ke-3 muridnya yang masih kebingungan.


***


“Riri-sensei…sudah cukup…aku udah gak kuat jalan lagi…”


“Bertahanlah sebentar lagi! Kita akan sampai ditempat yang lebih indah!”


Riri mengajak Amaryliss, Iris dan Elder naik turun bukit. Kali ini mereka sedang mendaki bukit yang lebih tinggi.


“Pemandangan…di bukit yang tadi…juga sudah indah… tempat apa lagi sih yang in—”


Amaryliss memutus kata-katanya ketika dia melihat pemandangan menakjubkan didepannya. Mereka ber-4 berhenti mendaki bukit, saat melihat sebuah pemandangan indah yang begitu menyejukkan mata.


Didepan mereka terdapat air terjun besar dengan air yang jernih. Namun ada sesuatu yang membuat pemandangannya berbeda.


Dari puncak air terjun itu, memiliki warna pelangi, tetapi aliran air dibawahnya tetap jernih.


“W-woa…a-aku tidak tahu ada tempat seperti ini di bebukitan Laurel!”


“Sensei, apa kau tinggal disini sampai-sampai tahu tempat seindah ini?”


“E-enggak kok! Aku hanya mendengarnya dari beberapa penduduk disini yang membicarakannya.”


‘Aku akan membawa kalian ke tempat yang indah’ memang tidak salah. Sejauh ini Riri telah membuat keringat ke-3 muridnya terkuras dengan menelurusi bebukitan, melihat beragam jenis bunga yang jarang ditemukan di kota Laurel, bertemu dengan macam-macam penduduk setempat dan akhirnya disini, di air terjun pelangi yang jernih.


“A-apa ini air terjun sihir? Kenapa dari atas berwarna pelangi tetapi aliran air dibawahnya tetap jernih? Atau pantulan sinar matahari?”


“Jangan berdiri saja, ayo sini duduk! Aku tahu kalian sudah gak bisa mendaki lagi!”


Mereka ber-4 duduk dipinggir aliran sungai air terjun pelangi. Mereka lebih terkejut lagi saat Riri membuka keranjangnya.


“Nah silakan nikmati sandwich special Riri!”


“W-wah, k-kelihatannya sandwich yang lezat! Sensei yang membuatnya sendiri?”


Tanya Iris yang menggigit duluan sandwichnya, mengunyahnya dengan pipi memerah.


“Yaah salah satu keanehanku adalah aku akan terlalu banyak memasak jika banyak bahan makanan yang belum pernah kutemui! Contohnya saat aku memberikan makanan itu pada kalian, ehehe.”


“Heee hanya mereka berdua? Kenapa kau tidak memberikan juga padaku?”


Sewot Iris, Riri hanya nyengir membalasnya.


“Memangnya kau siapanya Riri-sensei sampai berkata seperti itu?”


“Kenapa ha?! Kau tidak suka kalau aku berkata seperti itu?!”


Lagi-lagi muncul petir diantara mereka yang membuat Riri hanya menghela napasnya.


“Setidaknya pengetahuan kalian bertambah setelah lelah mendaki sampai sini. Kalian adalah orang pertama di akademi Hanatarou yang melihat air terjun ajaib ini.”


“B-benarkah?!”


“Ya, banyak orang yang tidak mau datang kesini karena jaraknya yang sangat jauh. Tetapi kalian akan puas jika sudah tiba disini.”


“Mendaki kesini memang capek tahu! Besok kami akan mulai babak ke-2!”


Sewot Amaryliss dengan mulut yang masih mengunyah sandwichnya. Melihat pipinya memerah, Riri hanya tertawa.


“Dasar cewek galak, bilang saja kalau kau suka saat melihat pemandangan ini! Bukankah kau orang pertama yang mulutnya hampir menyentuh tanah saking takjubnya? Ahahaha!”


Sukses wajah Amaryliss memerah panas. Dia menggigit lagi sandwichnya dengan memalingkan mukanya.


“Maaf, Riri-sensei, Amary-chan memang begitu sejak dulu…bahkan menurutku malah lebih parah saat bertemu denganmu…”


“Eh!?”


Kata-kata Elder membuat Riri kaget. Amaryliss spontan menutup mulut Elder dengan telapak tangannya.


“A-apa yang kau katakan sih Elder-chan?!”


“Tidak, Riri-sama kau salah, kamilah yang pertama datang ke tempat ini sebelum kalian.”


Tiba-tiba terdengar suara lain dari sebrang aliran sungai.


“Eh!? Alstro-san dan Typha-chan?”


“Selamat siang, Riri-sama.”


“Err…sudah kubilang gak usah pake –sama…”

__ADS_1


Alstromeria dan Typha dengan pakaian pasukan keamanan akademi Hanatarou menghampiri mereka. Didampingi oleh roh bunganya masing-masing.


“Woah, roh bungamu cantik ya, Alstro-san!”


Puji Riri tersenyum pada roh bunga Alstromeria, seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai dan berkilau. Dia membalas senyuman Riri.


“Saya telah banyak mendengar tentang Anda dari Master saya, Riri-sama, namaku Peruvian Lily, senang bertemu denganmu, Riri Hanamizuki-sama.”


Roh bunga Alstromeria memberi salam dengan sopan. Riri terkejut saat mendengar namanya.


“Uh? Kau juga memiliki nama Lily? Bukankah itu berarti kita satu ras?”


Tanya Riri pada Alstromeria. Namun Peruvian yang menjawabnya.


“Benar, kita memang satu ras, tetapi berbeda keluarga. Salam hangat untukmu, Riri-sama.”


Riri agak canggung melihat roh bunga Alstromeria yang benar-benar bersikap sopan padanya. Namun setelahnya dia melihat roh bunga Typha.


“Um…roh bungamu…kembar?”


“Selamat siang, Riri-san, namaku Typha II, kembaran dari kakakku, Typha-nee.”


Kata roh bunga Typha sambil memberikan bungkuk hormat. Wajah Typha dan roh bunganya memang mirip, seperti halnya roh bunga Amaryliss.


“Woa kalian memang mirip…bagaimana caraku membedakan kalian?”


“Kakakku Typha-nee memasang pitanya di sebelah kanan, dan aku disebelah kiri.”


Riri memperhatikan pita yang ada dirambut Typha dan roh bunganya. Memang letak pitanya berbeda.


“Riri-san?”


“T-telinga kucing kalian…i-imut sekali…”


“Terima kasih banyak, Riri-san.”


Typha dan kembarannya membungkuk bersamaan. Melihatnya, wajah Riri memerah—dia menahan ingin memeluk mereka berdua karena gemas—


“Apa yang sedang kalian lakukan hingga jauh-jauh kesini?”


“Kami sedang study tour!”


Jawab Riri dengan senangnya, Elder dan Iris tersenyum kaku mendengarnya, dan Amaryliss memajukan bibirnya sebal.


“Benarkah? Tapi mereka ber-3 tampaknya tidak berpikir begitu.”


Kata Alstromeria melirik ke arah Elder, Iris, dan Amaryliss. Riri menoleh ke arah ke-3 muridnya, tersenyum singkat.


“Nanti kalian akan paham saat ujian babak kedua dimulai.”


“Eh?”


“Kalian berdua, Alstro dan Typha, apa yang kalian lakukan disini?”


“Ini perintah Nona Carnation, untuk berpatroli.”


“Apa? Berpatroli sampai ke tempat seperti ini?!”


“Musuh bisa mengambil celah darimana saja, apalagi saat turnamen sihir seperti sekarang ini.”


“Orang itu memang aneh…”


“Anu, Riri-san, apa boleh aku menanyakan sesuatu?”


“Tentu, apa itu?”


“Hubungan apa yang Riri-san miliki dengan Nona Carnation sampai-sampai memanggilnya senpai atau wanita aneh... bahkan kalau aku tidak salah dengar, Riri-san memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’…?”


“Uh…kami hanya kenalan kok, tidak lebih!”


“Benarkah? Tetapi Riri-san dan Nona Carnation terlihat sangat dekat lebih dari sekedar kenalan.”


Anak itu cerdas sekali, sebenarnya berapa sih usianya? Ah tidak, siapapun yang memperhatikan pasti akan penasaran juga!


“Sensei menyebut kepala sekolah dengan sebutan ‘kakak’?! Sebenarnya berapa usianya!?”


“Um itu…”


“Beritahu kami!”


Mendengar celetukan Amaryliss disusul Iris dan Elder, Riri makin bingung harus menjawabnya atau tidak. Riri menarik napasnya sejenak, lalu berdiri dan menatap puncak air terjun pelangi, bibirnya tersenyum singkat.


“Posisiku saat ini hanyalah seorang guru magang. Aku perlu waktu untuk berpikir, dan menceritakan itu pada kalian.”


Gadis-gadis yang memperhatikannya hanya menatap gurunya dalam keheranan.


“Karena jika membicarakan Carnation-senpai, maka itu akan tertuju pada diriku yang dulu.”


“R-Riri-sensei…?”


“Aah ternyata waktu berjalan cepat ya! Matahari sudah mulai terbenam, saatnya pulang! Tolong bawakan keranjang makanan itu ya!”


Riri berlalu begitu saja meninggalkan ke-5 gadis yang masih tenggelam dalam kebingungan.


“Dirinya…yang dulu…?”


“Sejauh ini, kita memang tidak tahu banyak tentang Riri-sensei kan?”


Kali ini Amaryliss mengiyakan kata-kata Iris. Elder menggelengkan kepalanya pelan.


“Walaupun misterius…tetapi aku selalu merasakan aura hangat darinya.”


Gadis berambut pirang itu tersenyum. Lalu mengangkat keranjang milik Riri.


“Nah, ayo kita coba teleport ke tempat Riri-sensei dan kembali ke akademi?”


***


Pukul 6 tepat Riri dan ke-5 muridnya kembali ke kota Laurel. Dengan teleport, dan sedikit bantuan sihir dari roh bunga Alstromeria.


“Terima kasih ya sudah menguras keringat bersamaku!”


Kata Riri dengan cengirannya.


“Riri-sensei, jelaskan, apa hubungannya jalan-jalan melelahkan tadi dengan babak kedua turnamen besok?!”


Sewot Amaryliss masih kesal. Riri hanya menyunggingkan senyumnya.


“Kalian akan tahu saat babak kedua sudah berada didepan kalian besok. Nah cepat kembalilah ke akademi! Alstromeria dan Typha, tolong antarkan mereka dengan selamat ya!”


Alstromeria sedikit merenggut, tetapi setelahnya dengan sopan dia memberikan salam hormat didepan Riri.


“Kalau Riri-sama yang meminta, maka aku akan melakukannya. Hati-hati diperjalanan pulang, Riri-sama.”


Riri tersenyum kaku mendengar kata -sama dari mulut Alstromeria yang hari ini didengarnya selama beberapa kali.


“Baiklah, sampai besok!”


Riri melambai ke arah murid-muridnya yang sudah lumayan jauh darinya. Dia menghela napas.


“Mana mungkin kan…kuberi tahu hubunganku dengan Carnation-nee…”


Camelyum muncul dengan bentuk manusianya dan berdiri di samping Riri.


“Aku mengerti kau tidak akan mungkin memberitahu mereka, Master.”


“Aku yakin Carnation-nee banyak bicara mengenai diriku padamu.”


Camelyum berhadapan dengan Riri dan sedikit merenggut.


“Sebagai partner, itu hal yang wajar kan?”


“Ya ya partnerku—”


Tiba-tiba tubuh Riri oleng dan menubruk tubuh Camelyum yang langsung menahannya.


“M-Master!?”


“Came… bisakah kau gunakan sihir teleport milikmu…? Kurasa manaku tidak akan cukup…”


Camelyum cukup khawatir ketika tangannya bersentuhan dengan lengan Riri yang menjadi sedingin es.


“Master bertahanlah! Riri! Kau dengar kan Riri!?”


Sayangnya Masternya tidak mendengarnya, karena kedua kelopak matanya telah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2