Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 8: Daffodil


__ADS_3

Kau adalah aku.


Dan aku adalah kau.


Akui saja.


Dasar pembohong, perusak, penghancur, penipu!


Berisik.


Raut wajah macam apa itu? Kau pikir aku tak bisa mengenalinya?


Kau bukanlah pemimpin. Hanya haus kekuasaan saja.


Tanpa memberikan apapun untuk mereka yang seharusnya kau lindungi.


Berisik berisik berisik! Pergilah!


Bagaimana bisa kau dengan mudahnya berkata seperti itu?


“Apa!?”


Aku terbangun di tengah malam, kulihat jam meja yang masih menunjukkan pukul 1 malam. Sialan. Mimpi apalagi itu Akhir-akhir ini mimpiku aneh-aneh.


“Kau baik-baik saja Master!?”


“C-Came--!?”


Aku terkejut saat melihat Camelyum yang mendekatkan wajahnya ke wajahku.


“K-kenapa kau ada disini?”


“Maaf, aku hanya khawatir karena kau terus-terusan mengigau.”


“B-begitu ya…aku sering bermimpi aneh akhir-akhir ini.”


“Mimpi?”


Aku menepuk rambut Camelyum dan tersenyum padanya.


“Ah tak perlu dipikirkan! Kembalilah ke kamarmu!”


“Sebenarnya roh bunga tak membutuhkan tidur.”


“Eh? B-benar juga sih…tapi…”


“Kalau begitu biarkan aku menjagamu disini, Master.”


“T-tidak usah…”


“Aku khawatir tentang apa yang dikatakan wanita aneh itu tempo hari.”


“Maksudmu Carnation-senpai?”


Camelyum mengangguk. “Tentang organisasi Kuroi Uta itu, aku merasa kalau mereka memang mengincarmu, Master. Tentang sesuatu yang ada padamu.”


“Apa jangan-jangan mereka mengincar roh bungaku?”


“Aku belum tahu, untuk itulah sebaiknya lebih berhati-hati lagi. Aku akan memasang pelindung yang lebih kuat di seluruh kastil ini.”


“Terima kasih, kau sungguh bisa diandalkan.”


Pipi Camelyum agak memerah. “Kalau tidak keberatan…pagi nanti aku yang akan membuat sarapan untukmu.”


“Oh tentu! Dengan senang hati!”


***


“Maafkan aku Master…”


“Ah sudah jangan dipikirkan…hehehe—”


Camelyum memang memasak sarapan pagi ini, sayangnya dia benar-benar tak punya keahlian memasak, telur mata sapi saja gosong, untunglah aku dengan segala ide yang kupunya bisa mengakalinya agar rasanya tidak pahit. Seperti yang sebelumnya kukatakan, aku membawa makanan lebih untuk kuberikan pada murid-muridku di kelas. Hari ini aku akan memberikan sedikit materi baru pada mereka selain sihir pertahanan.


“Mungkin sihir itu sudah waktunya kuajarkan pada mereka.”


“Sihir apa maksudmu Master?”


Tentu saja Camelyum masih kusembunyikan dalam kalung. Tetap terlalu mencolok jika seisi akademi ini tahu kalau roh bungaku itu ‘istimewa’.


“Sihir teleport.”


“Bukanlah itu sihir tingkat tinggi?”


“Tetapi pasti mereka akan senang kalau aku akan mengajari sihir itu.”


“Bagaimana caramu mengajarinya?”


“Nah itu dia aku bisa melakukannya tapi tak bisa kuajari pada orang lain…”


Sejenak aku mengetuk-ngetuk dahiku ke tembok. Aku ini memang payah memang kalau soal mengajari…


“Ah itu dia Riri-sensei!”


Dari kejauhan tampak 2 orang gadis berlari berbarengan. Aku menyipitkan mataku, dan mereka itu adalah!?


“Riri-sensei! Aku membawakan hadiah perayaan keluarnya sensei dari rumah sakit!”


“Hadiah dariku lebih menarik daripada punya si dada besar itu!”


“Apa katamu cewek galak!?”


“Dada besar!”


“Cewek galak!”


“H-hei hei hentikan ah…”


Dibelakang juga ada Elder yang mencoba melerai pertengkaran dua gadis tepat dihadapanku. Dia sempat tersenyum kaku kearahku.


“Ternyata populer agak merepotkan juga ya…”


“Sensei! Ini terimalah!”


“Tidak Riri-sensei! Terimalah punyaku!”


“Ahem! Aku tahu kalau aku ini jadi semakin populer, tapi aku tak bisa membiarkan anak-anak muridku bertengkar hanya demi aku!”


“Kau ini kepedean sekali sih…”


Aku menatap jahil pada si pemilik rambut pink Amaryliss yang terlihat kesal melihatku dengan raut wajah galaknya, tetapi ada gurat pink di pipinya. Sedangkan Iris dia malah sebaliknya.


“Aku gak berantem dengan si galak itu kok! Dia yang mulai duluan!”


“Apa katamu dada besar!?”


“Grrhhhh!!”


“Tolong jangan ribut didepan Riri-sama.”


Tanpa hawa kehadiran, Alstromeria muncul didepanku sambil menarik pedangnya membelakangiku. Aku juga melihat Typha di sampingku yang memberi salam hormat.


Eh tunggu, kok dipanggil –sama…? Oleh Alstro yang kesal abis padaku waktu itu?


“Kenapa memanggil Riri-sensei dengan sebutan –sama segala?” Iris terlihat sewot.


“Bukankah aku sudah mengatakannya kepada seluruh penjuru akademi ini, Riri-sama adalah pelindung akademi Hanatarou ini, Riri-sama telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghindarkan akademi ini dari marabahaya. Aku menyaksikannya dengan kedua mata kepalaku sendiri, bukankah kau, Amaryliss, dan Elder, menyaksikan betapa hebatnya kekuatan milik Riri-sama? Riri-sama telah mengembalikan kepercayaan pada kita para gadis sehingga kita tak perlu lagi merasa cemas dengan adanya pria hebat seperti Riri-sama bersama kita.”


Kedua mataku melotot. Kok bisa-bisanya gadis ini membicarakan tentangku sampai segitunya?


“H-hei Alstromeria…jangan terlalu ngarang begitu—”


“Tidak, itu nyata, Riri-sama, aku benar-benar menyaksikannya dengan kedua mataku sendiri betapa menakjubkannya kemampuan yang Riri-sama miliki. Benar kan, Typha-chan?”


“Aku berpendapat begitu, Riri-san.”


“Panggil Riri-sama, Typha-chan!”


Aku hanya menggaruk belakang kepalaku yang gak gatal. Karena separuh ingatanku hilang, aku gak bisa membayangkannya kekuatan macam apa yang kumiliki sampai Alstro bilang seperti itu.


“Aku datang kesini untuk menjemput Riri-sama, Nona Carnation menunggu di ruangannya.”


“Eh? T-tapi aku ada jadwal mengajar hari ini—”


“Riri-sama tak ingin membuat Nona Carnation menunggu kan?”


Tiba-tiba tatapan gadis itu jadi horror.


“Eh i-iya iya baiklah aku kesana!"


***


“Maafkan aku ya karena aku lupa memberi tahu alamat rumahmu, tapi sepertinya kau sudah menemukannya ya?”


“Itu semua berkat aku, untunglah aku berada disisi Master, jika tidak ia akan celaka karena tersesat. Kau ini memang bodoh, wanita aneh.”


“Siapa yang kau sebut aneh?!”


“Tentu saja kau.”


“Riri-kun, ajari roh bungamu ini sopan santun!!”


“Uh yah…”


“Maaf atas kelancanganku wanita aneh, aku harap kedepannya kau tidak akan membuat kesalahan sekecil itu pada Masterku.”


Carnation hanya tersenyum menahan kesal, sedangkan Riri tak bisa berkata apa-apa.


“Alstromeria bilang kau memanggilku, ada perlu apa sih disaat aku sedang ada semangat untuk mengajar?”


“Wah wah…dimana Riri yang dengan kukuhnya menolak menjadi guru magang disini?”

__ADS_1


“Uh y-yah aku kan sudah berubah!”


Carnation menepuk bahu Riri. “Syukurlah kalau kau sudah bisa beradaptasi disini. Berarti ini adalah saat yang tepat untuk menyerahkan tugas itu padamu.”


“Tugas?”


Carnation membuka salah satu lemari berkasnya, mengeluarkan sebuah map yang sudah kusam. Lalu diberikannya pada Riri.


“Ini apa?”


“Kasus pemberontakan seorang siswa di akademi ini hingga membuat semua siswi trauma dengan keberadaan laki-laki disini. Kasus 10 tahun lalu yang hingga kini belum terungkap.”


“Apa?”


Riri membuka berkas map itu. Didalamnya terdapat foto-foto akademi Hanatarou yang sudah menguning karena termakan usia. Akademi Hanatarou dengan kondisi rusak berat, puluhan siswa dan siswi yang terkapar tak berdaya, kepulan asap dan api yang membakar akademi itu.


“Mengerikan ini semua…”


“Hingga saat ini masih belum ada petunjuk apapun mengenai titik terang kasus ini. Riri, sudah saatnya aku menyerahkan kasus ini padamu.”


“Hah? Kenapa diberikan padaku? Aku kan sama sekali gak tahu menahu tentang semua i—”


“Ssh…semua siswi disini telah menaruh kepercayaan padamu mengenai kasus ini, mereka akan semakin lega jika pada akhirnya pelaku kasus ini tertangkap, sehingga akademi ini akan merasakan kembali ketentraman.”


Carnation menaruh telunjuknya di bibir Riri dan menatapnya serius, dengan tersenyum jahil.


“T-tapi kan… yang seperti ini gak bisa aku terima begitu saja! Tanggung jawabnya terlalu besar! Bagaimana jika aku gagal? Aku akan membuat mereka semua kecewa! Dan lagi, aku kan gak tahu dia orang macam apa!”


Carnation mengangguk-ngangguk. “Ya..ada benarnya juga…berarti ini juga saatnya untuk kuberitahu hal itu, ‘organisasi Kuroi Uta’.”


“Apalagi itu?”


“Aku juga belum begitu mengerti detilnya…yang kutahu mereka adalah organisasi yang akan menyingkirkan segalanya demi mendapatkan benih, dengan cara brutal sekalipun. Sejauh ini mereka sudah membunuh puluhan orang pemilik roh bunga yang memiliki kekuatan dahsyat di bumi ini. Tak hanya pemilik roh bunga yang kuat, mereka juga membantai hampir seluruh keluarga kerajaan yang berpengaruh saat perang perebutan benih beberapa tahun silam. Demi meluruskan tujuan mereka.”


“Apakah…”


“Riri-kun?”


“Saat aku kehilangan seluruh rasku…mereka juga ada?”


“Aku tidak yakin mereka ada atau tidak saat itu. Tetapi firasatku mengatakan mereka ada. Kau tahu mengenai kematian raja Raflesia Arnoldi yang masih misterius bukan?”


“Ya, aku tahu.”


“Aku merasa mereka ada dibalik semua itu.”


“..."


“Menurut beberapa penyidik dari Kementrian Kerajaan, anggota organisasi itu memiliki peringkat dan tandanya masing-masing. Tanda berupa bunga mawar hitam dan angka. Angka yang menunjukkan tingkat kekuatan mereka. Riri, saat Oreanda menyerangmu, apa kau melihat tanda itu?”


“Oreanda…gadis itu dia…”


“Kau tahu dia kan?”


“Aku tidak tahu.”


“Apa? Bukannya kau bilang kau mengenalnya?”


Riri menggeleng. “Entah kenapa saat dia menyerangku, aku merasa bahwa aku mengenalnya. Tetapi dimana? Kapan? Aku sungguh tidak tahu.”


“Tanda bunga mawar hitam…ya aku melihat itu dilehernya…tetapi angka…kurasa aku tak melihatnya.”


“Kau sungguh baik-baik saja, Riri-kun?”


“Ya, nanti juga ingat kok.”


Riri nyengir.


“Kau tahu, saat kau nyengir begitu membuatku gemas ingin mencubiti pipimu~!”


“Oooowww sakit hei!! Kau sudah melakukannya!”


“Menjauh dari Master, wanita aneh.”


Carnation berhenti mencubit kedua pipi Riri saat Camelyum berdiri didepannya dengan tatapan tidak suka.


“Lalu setelahnya kau diserang oleh…Foxglove kalau tidak salah, benar? Apa kau melihat tanda yang sama?”


“Tanda bunga mawar hitam, di betisnya. Aku melihat nomor 10 di tangannya. Ada berapa sebenarnya anggota organisasi Kuroi Uta?”


“Terakhir…kau diserang oleh…siapa dia?”


“Kurasa dia bernama Ixora. Ingatanku saat bertarung dengannya hilang. Aku tak ingat sama sekali.”


“Apa kau tahu sesuatu, Camelyum?”


Camelyum ragu, dia melirik Riri dan sang master itu membalas tatapannya.


“Kenapa, Came-chan? Katakan saja. Aku juga ingin tahu.”


***


Setelah Riri keluar dari kelas, Elder berbisik ke telinga Amaryliss yang sedang membereskan buku-bukunya.


“Amary-chan, apa kau merasa kalau Riri-sensei hari ini agak aneh?”


“Kukira hanya kau yang merasakannya, Elder-chan.”


Amaryliss dan Elder saling berpandangan dan mengangguk.


“Riri-sensei terlihat banyak melamun hari ini.”


“Mimik wajah seperti orang bodohnya juga menghilang.”


“Perlukah kita bertanya keadaannya?”


“D-dia kan bukan anak kecil! Kenapa harus mengkhawatirkannya?”


Elder sedikit terkikik. “Amary-chan, aku tahu kau sangat mengagumi Riri-sensei—”


“Sst!!”


“Kalau kalian memang gak mau bertanya, aku saja yang curi start duluan~”


Iris menyeringaikan senyum jahilnya pada Amaryliss yang langsung membuatnya jengkel.


“A-apa katamu dada besar?!”


“Sejak saat Riri-sensei masuk kelas hari ini, dia memang terlihat lesu, apa jangan-jangan dia sakit? Ada yang sedang dia pikirkan? Sebagai murid yang baik aku akan bertanya padanya!”


Setelahnya Iris berlari keluar kelas dan Amaryliss tak sempat menahannya.


“T-tunggu—”


“Tenang saja Amary-chan, Iris-chan tidak akan bisa menyentuh Riri-sensei kok…”


“Eh?”


“Pendeteksi auraku mendeteksi dia akan terkena sial 15 menit sebelum bertemu Riri-sensei, jadinya dia takkan sempat menemuinya.”


Amaryliss hanya menyunggingkan senyum pahit mendengar kata-kata Elder.


***


“Master, ada yang kau pikirkan?”


Riri tak menjawab pertanyaan Camelyum dari kalungnya. Dia hanya termenung menatap langit biru. Saat itu dia sedang di atap sekolah. Tempat yang akhir-akhir ini sering dikunjunginya.


“Tidak ada, Came-chan.”


Camelyum mengeluarkan wujudnya dari kalung Riri. Menjadi seorang gadis normal, mengenakan dress putih dan rompi hitam di badannya. Juga pita biru di rambut panjangnya.


“Master dan roh bunganya saling berbagi pikiran, dan aku tahu kalau kau sedang gelisah. Terlihat dari cara mengajarmu barusan.”


“Begitu ya, maaf Came-chan, cerita tadi membuatku kepikiran.”


“Tentang kemunculanku dan betapa hebatnya kemampuanmu?”


Riri memandangi telapak tangannya. “Jika aku lepas kendali, aku bisa saja melukai siapapun disekitarku, termasuk kau.”


“Tapi Master, kau sungguh tidak kehilangan kendali. Saat kau melepaskan kekuatanku, kau sempat menolong anak muridmu yang disekap musuh, lalu kau membuatkan sihir pelindung di sekitar mereka, dan juga kau telah membuat dimensi sehingga saat kau mengamuk, kekuatanmu tidak merusak sekitar.”


DEGG


“Master?”


“Berarti…mereka…melihatnya…kan?”


“Hanya mereka ber-4, tetapi mereka tak melihatku, karena aku langsung lenyap.”


“Si galak…Alstro, Elder dan gadis bermata perak itu…apakah itu yang membuatku jadi diperlakukan aneh disini?”


“Mungkin seperti itu. Master. Tak perlu berkecil hati, bukannya itu bagus sehingga kau tak perlu mendapat ancaman dari gadis-gadis di akademi ini?”


“Tidak, aku justru…jadi agak khawatir dengan mereka.”


“Khawatir?”


“Kepercayaan mereka pada laki-laki masih rendah. Aku hanya beruntung saja.”


“Master! Jangan berkata begitu!”


Camelyum memandang tajam Riri dengan pipi yang memerah.


“Wanita aneh itu memberi tugas padamu untuk mengungkap pembunuh sadis di akademi ini 10 tahun lalu kan? Jika begitu kau pasti bisa melakukannya dengan adanya aku sebagai roh bungamu!”


Riri mengeluarkan cengirannya, dan meraih tangan Camelyum.


“Sekalipun kau adalah roh bungaku, aku tak menganggap kau adalah alat, tetapi kau adalah partnerku. Misteri pembunuh di akademi itu, kurasa aku belum siap untuk melakukannya—”


“SENSEI!!!”

__ADS_1


GUBRAKKK


“Apa yang kau lakukan sih?! Jangan bunuh diri!! Kalau kau punya masalah, ceritalah pada kami! Kau kan guru sihir bunga kami satu-satunya!!”


Tanpa hawa kehadiran, tiba-tiba ada yang mendorong Riri jauh-jauh dari pagar pembatas hingga terjatuh.


“N-ngapain sih kalian ah! Sakit nih!”


Protes Riri, dan raut wajahnya berubah saat melihat siapa yang mendorongnya.


“Kalian ngapain kesini sih dan mendorongku segala?! Siapa yang mau bunuh diri!?”


Riri sempat melihat sekeliling, dan untungnya Camelyum sudah kembali ke bentuk kalungnya.


“M-maaf sensei…kami pikir…”


Riri menepuk jidatnya. “Haah…aku benar-benar enggak paham dengan pemikiran kalian—”


“Jangan gunakan cara seperti itu walaupun kau sudah bosan hidup, sensei!”


Riri kaget mendengar seruan dari si galak Amaryliss, kedua matanya berkaca-kaca.


“Sudah banyak orang yang bunuh diri di tempat ini, karena itulah atap ini terlarang, jangan sampai sensei menjadi salah satu diantara mereka yang menyerah dalam hidupnya!”


“Kau ini, siapa yang berniat bunuh diri? Berlebihan banget sih…”


“Terus sensei ngapain disini? Dari cara mengajarmu tadi saja sudah mencurigakan!”


“Tidak ada kok…ahahaha…”


“Sejauh ini cara mengajarmu kan membosankan, dan tadi adalah cara mengajar yang paling membosankan!”


Elder hanya mencoba menenangkan Amaryliss yang terlihat “marah”.


“Sensei..Amary-chan hanya mengkhawatirkanmu—”


“E-Elder-chan! Sst!!”


Wajah Amaryliss semakin memerah.


“Yaah, wajar sih orang populer dan keren sepertiku bikin muridnya jadi khawatir—”


Riri mengibaskan poni panjangnya dengan percaya diri.


“K-kalau memang sensei tidak apa-apa, a-ayo turun! Ada yang ingin kutanyakan mengenai pelajaran tadi!”


“Oke oke—”


“SENSEI!”


BRUAAKK


Tiba-tiba sesuatu mementalkan tubuh Riri hingga terbentur pagar pembatas. Kilat kuning muncul dihadapannya.


“Sense—”


“Jangan mendekat! Tetap disana! Elder! Buat segel!”


Masih dengan tubuh terkapar di tanah, Riri menahan Amaryliss dan Elder menghampirinya, dan dengan segera Elder langsung membuat segel.


“Master!”


“Jangan, Came, jangan dulu keluar, tenang saja…”


Perlahan Riri berdiri dan menanti kilat kuning dihadapannya, sesosok tubuh manusia terbentuk dari sana.


“Yo…jadi kau ya, Riri Hanamizuki yang hebat itu?”


“Siapa kau?”


Pria itu menggunakan jas panjang bercorak keemasan, dengan tombak panjang di tangan kanannya. Dia membungkuk didepan Riri.


“Salam, Riri Hanamizuki, sungguh suatu kehormatan bertemu denganmu, sayangnya tidak di tempat yang tepat.”


“Sensei!”


“Kudengar kau menjadi seorang guru disini, benar kan? Kenapa kau menghabiskan waktumu di tempat seperti ini? Banyak tempat diluar sana yang lebih cocok untukmu.”


“Berisik, apa maumu?”


“Wah, kau kasar juga ya, Riri-kun.”


“Master—”


“Tidak Came, jangan dulu.”


“Apa yang mereka bicarakan?”


Elder dan Amaryliss hanya bisa melihat dari kejauhan sehingga tak bisa mendengar, Elder terus mempertahankan segel yang menyelubunginya.


“Perasaanku mengatakan…dia orang berbahaya…sensei…dia…dia harus lari!”


“Jangan-jangan kau ini…Kuroi Uta?”


“Ha…banyak orang bilang kalau Kuroi Uta itu hanya mitos, hanya orang bodoh yang percaya kalau Kuroi Uta itu benar-benar ada.”


“Kau sungguh bertele-tele. Apa tujuanmu kesini dan bagaimana kau tahu aku?”


“Tentu saja aku tahu, kau telah membunuh Ixora dengan roh bungamu yang kau sembunyikan itu kan?”


Tatapan pria itu mengarah ke kalung Riri, dengan cepat Riri menggenggam erat kalungnya.


“Tidak salah lagi... kau!”


“Bagaimana kalau kau keluarkan saja roh bungamu itu? Aku ingin menguji seberapa hebatnya kau sampai Ixora yang tak terkalahkan bisa kau urus.”


“Master?!”


“Tidak, jangan. Dia hanya mencoba memanas-manasiku.”


“Tapi Master!”


DAKK!


Riri menahan serangan tombak yang tiba-tiba itu hanya dengan lengannya.


“Kenapa? Kau tidak mau mengeluarkannya?”


“Heh, itu hanya buang-buang waktu saja.”


BRUAKKK


Mereka berdua saling terdorong, dan lagi-lagi Riri terpental dan menabrak pagar pembatas.


“Sialan…tongkatnya kuat juga…”


“Master! Tolong gunakan aku!”


“Tidak.”


“Elder-chan, kita harus panggil bantuan!”


“Kalian mencoba lari?”


Pria bertombak itu menutup pintu keluar dengan segel aneh hingga terkunci rapat.


“Takkan kubiarkan ada yang mengganggu pertarunganku dengan Riri Hanamizuki."


Riri mengeluarkan sihir Bluebell dan menyelubungi segel buatan Elder.


“Tetaplah disana dan jangan kemana-mana! Ini perintah!”


Elder dan Amaryliss hanya tercekat melihatnya.


“Sejak awal aku sudah curiga kalau kau orang berbahaya. Apa tujuanmu?”


“Tentu saja niatku kemari sangat baik, hanya untuk mengajakmu minum teh dan mengobrol bersama antar sesama pria.”


“Dengan menyerangku dan menahan muridku melarikan diri?!”


“Oh, kalau yang itu adalah tindakan kedua, karena jika tidak dicegah, rencana yang telah susah-susah kubuat jadi berantakan.”


“Kau!!”


“Oh ya, benar juga, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Daffodil. Senang bertemu denganmu, Riri Hanamizuki.”


Riri melihat angka 5 di atas tangan orang itu, dan mawar hitam di lehernya.


“Kau memang Kuroi Uta…bukankah tujuan kalian juga untuk mendapatkan benih? Lalu kenapa melibatkan akademi ini yang tak ada hubungannya?”


“Aku tadi sudah bilang kan, kalau kita bertemu di tempat yang tidak tepat. Bagaimana, kau menyanggupi tawaranku untuk minum teh bersama?”


“Heh! Aku lebih menyukai teh buatan rumah daripada orang asing! HEAAHH!!!”


Riri membentuk rantai biru dari sihir Bluebell nya dan mengarahkannya pada Daffodil, namun gerakan pria itu sangat lincah dan membuat Riri cukup kewalahan.


“Kau ini lincah juga ya.”


“Kau masih tidak mau mengeluarkan roh bungamu?”


Sementara Riri terus mencoba mengikat Daffodil dengan rantainya, pria itu juga terus menyerang Riri dengan tombaknya.


“Riri Hanamizuki tanpa roh bunganya memang bukan apa-apa. Kira-kira apa yang akan akan membuatmu mengeluarkannya?”


“Kau terlalu banyak bicara.”


Daffodil menyeringai licik. “Benar juga ya, ada yang bisa aku mainkan disini”


“APA!?”


Riri kehilangan kewaspadaannya pada kedua muridnya yang berlindung didalam segel.

__ADS_1


__ADS_2