
“Terima kasih telah bersedia kemari, Carnation-san.”
“Oh…berarti sekarang kita damai ya?”
“Damai?”
“Tempo hari kau terus memanggilku wanita aneh-wanita aneh sama seperti Master nakalmu itu, apa ini akan berlangsung selamanya ya?”
Camelyum sedikit mendengus, namun Carnation menepuk bahunya.
“Bercanda bercanda…ahaha…kau memang cocok jadi partner Riri.”
“Siapa dibelakangmu itu?”
Carnation mengunjungi kastil Riri, bersama dengan seorang pria dibelakangnya, rambutnya berwarna kuning terang dengan tubuh tinggi. Di punggungnya ada 1 pedang.
“Oh, dia roh bungaku, panggil saja Dianthus. Apa kau tidak merasakan kehadirannya sebagai roh bunga?”
“Uh yah…kau tahu kan Carnation-san, karena hubunganku dan Riri yang masih rendah, kekuatanku juga tak bisa full 100% jika bertemu dengan roh bunga lainnya.”
“Bukankah kau roh bunga terkuat didunia, Camelyum-san?”
Dianthus yang bertubuh jangkung itu tersenyum padanya.
“Tidak, aku bukan apa-apa tanpa Master. Tetapi kenapa kau membawa roh bungamu segala, Carnation-san?”
Tangan kanan Carnation meraih gagang pintu kamar Riri. “Yah, salah satu kemampuan roh bungaku adalah memeriksa aliran mana yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa termasuk aku. Harusnya kau bisa merasakan kalau aliran mana Mastermu sedang tidak normal kan?”
“Aku memang bisa merasakannya, tetapi sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Hati Master sangat tertutup rapat walaupun aku adalah roh bunganya.”
“Tertutup rapat ya…anak nakal itu belum bisa lepas secara penuh dari traumanya.”
Carnation membuka pintu kamar Riri, dia melihat pria berambut perak itu yang sekarang rambutnya tertutupi uban hitam hampir separuhnya terbaring disana. Lalu dia menggenggam tangannya.
“Katamu, suhu tubuhnya tidak kunjung naik, sejak kapan seperti ini?”
“Aku tidak yakin tapi…”
“Dianthus-kun, lakukan pemeriksaannya.”
“Baik, nona.”
Diathus merentangkan kedua tangannya, lalu memeriksa seluruh bagian tubuh Riri dari ujung kaki hingga ujung kepalanya dengan mengalirkan mananya. Dia menutup matanya berkonsentrasi.
“Bagaimana, Dianthus-kun?”
Pemeriksaanya berakhir dan Riri tetap terjaga dalam tidurnya. Dianthus menarik pelan napasnya.
“Aku melihat ada beberapa titik aliran mananya membeku seperti es, titik yang sangat kecil hingga dengan pemeriksaan biasa saja takkan bisa terdeteksi.”
“Membeku…seperti es?”
“Ya, kau bisa bayangkan proses pembekuan es? Seperti itulah keadaannya.”
“Tapi kenapa?! Kenapa aku tak bisa merasakannya kalau ada kejanggalan seperti itu?”
Camelyum frustasi mendengarnya, Carnation menepuk punggungnya pelan.
“Kau tadi bilang hubungan yang kau punya dengan Mastermu masih rendah. Kau juga bilang hatinya tertutup rapat. Itulah salah satu penyebabnya kau tak bisa merasakan kejanggalan di aliran mana Mastermu.”
Dianthus menjelaskannya dengan nada tenang, Camelyum yang merasa frustasi mengepalkan kedua tangannya.
“Apa…apa yang menyebabkan aliran mananya menjadi seperti itu? Apa karena aku? Apa aku terlalu banyak menyerap mananya untuk mengeluarkan Hana no Uta?!”
“Tunggu, Hana no Uta?”
“Salah satu senjata pamungkasku selain Camelyum buster, perisai gabungan dari Camelia dan Lily, aku dengan terpaksa menggunakannya karena bocah bernama Azalea itu tak membiarkan kami kabur…”
“Jangan-jangan…Kuroi Uta!? Bagaimana bisa dia tahu tempat ini?!”
"..."
“Jika salah satu dari mereka sudah mengetahui tempat ini, tak bisa dibiar—”
“Selamat malam, nona-nona.”
PRAGGG!
Tiba-tiba suasana berubah, udara dingin semakin menusuk kulit ketika kaca jendela besar pecah, dan seorang wanita berdiri disana dengan tatapan tajam membunuh.
“Kau! Siapa kau!?”
Carnation langsung berdiri membelakangi Riri, begitu juga dengan Camelyum dan Dianthus yang berubah ke mode tempur.
“Apa aku harus memperkenalkan diri pada orang yang ingin kubunuh ya?”
“Apa kau bilang?!”
Wanita itu memperlihatkan ukiran angka 4 dan bunga mawar hitam yang ada didahinya. Dia menyeruputkan lidahnya.
“Kuroi Uta peringkat ke-4!?”
“Akulah Gladiolus, wanita tercantik pengikut setia dari Yang Mulia-ku! Akan kubereskan kalian disini dan kubawa Riri-chan disana dengan tenang!”
Wanita itu mengeluarkan roh bunganya yang berupa cambuk berduri dan menyerang tanpa ragu.
“HAAAAH!!”
“Dianthus! Pancing dia keluar!”
“Sedang kulakukan!”
Dianthus mengeluarkan bola cahaya menyilaukan dari telapak tangannya, saat perhatian Gladiolus teralihkan, dia menarik kuat cambuk yang ada ditangannya dan mencoba melemparnya keluar.
“Hei kau! Sembarangan sekali menyentuh cambuk cantikku!”
Sayangnya Dianthus gagal, dan malah terlempar keluar karena perlawanan Gladiolus yang kuat.
“Sialan…!”
“Nah, mau kalian serahkan Riri-chan ku dengan tenang?”
Camelyum mengeluarkan kedua pedangnya bersiap menyerangnya.
“Came-chan, aku akan bersatu dengan Dianthus, kau jangan melangkah sedikitpun dari sisi Riri!”
“D-dimengerti!!”
Carnation merentangkan tangannya dan menarik Dianthus untuk menjadikannya pedang tipis dan tajam diujungnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Carnation mencoba membaca pergerakan cambuk Gladiolus.
“Heh, di tempat seperti ini aku sulit bergerak bebas.”
“Nona, tidak usah susah-susah membunuhku, tujuanku hanyalah membawa Riri-chan pergi!”
“Itu takkan pernah kubiarkan!”
Carnation mengubah pedang rampingnya menjadi pedang raksasa, dengan sekuat tenaga mengayunkannya ke arah Gladiolus.
“HEAAAAHHHH!!!!!”
“Kau pikir bisa menang dari cambuk cantikku ini?”
__ADS_1
Gerakan cambuk Gladiolus semakin cepat hingga Carnation kesulitan membaca arah gerakannya.
“Menarilah Hybridus! Tunjukkan kepiawaianmu!”
Seru Gladiolus dengan nyaringnya. Itu kelihatannya Carnation tidak memperhatikan suara bisingnya.
“Majulah Dianthusku!!!”
“A-apa!?”
Pedang raksasa yang ada di tangan Carnation tiba-tiba lenyap, dan tanpa mempedulikan gerakan cambuk Gladiolus yang sangat cepat, Carnation mengarahkan kedua tangannya ke arah leher Gladiolus.
“Sialan kau mencoba mengecohku ya!? Takkan kubiarkan!”
Cambuk Hybridus berhasil mengikat Carnation sebelum kedua tangannya mencekik leher Gladiolus. Dia tersenyum puas.
“Lumayan juga kau pemilik roh bunga Dianthus, kudengar kau salah satu anggota sekertaris kerajaan kan? Kenapa susah-susah menginjakkan kaki di tempat sempit seperti ini?”
Carnation terjebak dalam lilitan cambuk Gladiolus. Terdiam.
“Carnation-san!”
“Jangan melangkahkan kakimu sedikitpun dari Riri! Kuroi Uta berusaha membawa Riri! Aku masih belum tahu apa yang mereka inginkan—”
“Berani sekali mengulik informasi tentang Kuroi Uta huh?”
Gladiolus menusuk pipi Carnation dengan kukunya yang panjang hingga darah menetes darinya. Carnation hanya memandangnya geram.
“Bagaimana caramu mengulik informasi tentang kami? Jika kau sudah mengulik terlalu jauh, maka kau takkan kubiarkan hidup!”
Menahan sakit dari cambuk duri yang melilit badannya, Carnation kemudian menyunggingkan senyumnya.
“Apa yang lucu hah!?”
“Dianthus, lakukan sekarang—”
“Apa!?”
Tanpa sepengetahuan Gladiolus, Dianthus yang berbentuk manusia telah mengambil ancang-ancang menebas punggungnya dengan pedang raksasa di tangannya.
“KALI INI KAU TAKKAN BISA LARI LAGI!!”
ZRAAATTT!!!
Pedang raksasa Dianthus menebas punggung Gladiolus hingga mengenai dinding dan membuat retakan besar. Setelahnya Dianthus kembali lenyap.
“Bagus, Dianthus.”
Namun Gladiolus malah tertawa. Seolah tak merasakan rasa sakit atau luka setelah menerima tebasan pedang raksasa itu.
“Hahahahaha! Serangan macam apa itu? Bahkan kau tak sanggup menodai pakaian cantikku ini kan? Hahahaha!”
Tubuh Carnation yang dipenuhi darah karena cambuk duri yang melilitnya hanya tetap diam.
“Cantik kau bilang ya…dasar wanita gila—”
“Apa katamu!?”
PERT! Dalam sekejab, Carnation dan Gladiolus lenyap dari pandangan Camelyum yang hanya bisa menyaksikannya.
“C-Carnation-san!?”
Camelyum melepaskan mode tempurnya lalu melihat keluar jendela. Tak ada tanda-tanda dari Carnation dan Gladiolus, lenyap tanpa bekas. Dia hanya melihat bekas tebasan pedang raksasa dari Dianthus beberapa saat lalu.
“Kemampuan yang luar biasa…Carnation-san itu…tunggu…kerusakan ini…bagaimana jika Riri melihat semua ini saat dia bangun?! G-gawat, aku harus segera melakukan sesuatu!”
Came…-chan…?
Yang tadi itu…apa…?
Apa ada…yang bertempur…?
***
“Sialan! Ada dimana ini!? Lepaskan aku!”
Carnation membawa Gladiolus ke dalam suatu dimensi, hamparan padang bunga ‘Carnation’ yang sangat luas dengan beragam macam warna.
Carnation menahan kedua tangan dan kaki Gladiolus dengan sulur panjang di tengah-tengah padang bunga ‘Carnation’ kuning. Carnation hanya berjalan memutari Gladiolus yang terus-terusan mengoceh.
“Hei sialan! Cepat lepaskan aku!”
“Berisik sekali, diantara kau atau aku, siapa yang gila, hah?”
Carnation menginjak telapak tangan Gladiolus dan menatapnya geram.
“Sial!!!!!!”
Dianthus muncul dibelakang Carnation, ditangannya dia membawa tangkai hitam berduri dalam sebuah buket.
“Baiklah, akan kumulai—”
“Apa…apa yang akan kau lakukan hah!?”
Carnation mencengkram dagu Gladiolus dengan kasar, memandangnya dingin.
“Katakan, apa tujuan Kuroi Uta selama ini?”
Gladiolus tak menjawab. Hanya memandang remeh pada Carnation.
“Heh, memangnya informasi sepenting itu akan kubocorkan dengan mudahnya?”
“Dianthus, lakukan.”
“Baik nona.”
Dianthus mengambil satu tangkai hitam berdurinya, berjongkok, dan tanpa ampun menusuk kaki Gladiolus.
“AARGHHH!!! KALIAN…KALIAN TELAH MENODAI KAKI INDAHKU!!”
“Jika kau tak ingin ternodai lagi, katakan, apa tujuan Kuroi Uta? Apa yang mereka inginkan dari Riri? Apa yang Riri punya untuk kalian? Siapa pemimpin kalian?! KATAKAN SEMUANYA!”
Teriak Carnation hingga kedua bola matanya membulat sempurna karena emosinya melunjak. Gladiolus yang tak peduli hanya mendecih kesal.
“Jadi kau melakukan cara kotor seperti ini untuk mengorek informasi seseorang? Bagaimana jika Riri-chan tahu ya? Dia pasti akan membencimu~”
“Seorang anak selalu percaya apa yang ibunya lakukan demi kebaikannya!”
“Apa? Ibunya katamu?”
Dianthus mengambil tangkai bunga hitamnya lagi dan mengarahkannya tepat didahi Gladiolus.
“Jangan banyak tanya, jawab saja pertanyaanku! Apa yang diinginkan Kuroi Uta selama ini? Apa yang dimiliki Riri hingga mereka menginginkannya?!”
“Aku takkan pernah mengkhianati kesetiaanku pada Tuan Agu—”
SRATT!
“ARRGHHHH!!!!! KAUU!!! TEGANYA MERUSAK WAJAHKU!!!!”
Dianthus menusuk tangkai hitam berduri tepat di dahi Gladiolus hingga berteriak kesakitan.
__ADS_1
“Sekeras apapun kau mencoba berontak, tempat ini tidak akan menurutimu. Cepat jawab pertanyaanku!!”
Seberapa kalipun Carnation bertanya padanya, Gladiolus tetap menutup mulutnya, hingga seluruh tangkai hitam berduri yang ada di buket Dianthus menyisakan satu tangkai lagi.
“Heh…mau kau cabik-cabik tubuh indahku ini…takkan kubocorkan informasi sepenting itu pada siapapun…”
Carnation berdiri dari tempatnya. Menatap dingin tubuh Gladiolus yang dipenuhi dengan tusukan tangkai hitam. Dia mengambil tangkai terakhir yang dipegang Dianthus.
“Kesetiaan memang penting, tetapi jika kesetiaan itu digunakan di jalan yang salah, kau akan menyesal.”
Carnation mengarahkan tangkai terakhir tepat didepan bola mata Gladiolus. Walau sedekat itu, Gladiolus tidak takut sedikitpun. Dia hanya tertawa meremehkan.
“MENYESALLAH SEUMUR HIDUPMU KARENA KAU WANITA TERBURUK YANG PERNAH KULIHAT!!”
SRAATT!!
***
“M-Master?! K-kau mau pergi kemana?”
“Kemana? Tentu saja ke babak final turnamen sihir, kau sudah tahu kan?”
Riri sibuk berpakaian. Camelyum yang melihatnya malah kebingungan.
“T-tapi…”
“Apa aku terlalu banyak tidur ya? Aku melihat mimpi aneh, kaca jendela itu pecah dan ada bekas retakan yang besar, aku juga melihatmu disitu lo, Came-chan.”
Kata Riri menunjuk kaca jendela kamarnya yang tampak normal, tidak ada kerusakan sedikitpun. Camelyum tersenyum kaku.
Apa Riri melihat kejadian semalam? Tetapi aku selalu memeriksanya, dia terus terjaga karena kondisinya yang menurun. Tapi kenapa Riri bisa tahu?
“Y-yang penting apa kau baik-baik saja, Master?”
“Hei hei, kau sudah tahu kan? Keahlianku adalah selalu dalam kondisi baik disaat yang penting! Ayolah kita pergi!”
Usai berpakaian Riri keluar dari kamarnya menyisakan Camelyum yang masih berdiri ditempatnya.
Ada titik aliran mananya yang membeku seperti es.
“Riri…”
***
“Saat yang dinanti telah tiba! Inilah dia babak final turnamen sihir antara kelas 1 A dan kelas 1 E! Turnamen tahun ini sangat berbeda dari turnamen sebelum-sebelumnya karena kelas E yang tidak pernah lolos hingga final, akhirnya bisa menginjakkan langkahnya di babak penentuan ini! Ayo berikan semangat pada mereka!”
Suara riuh para penonton di stadium membuat suasana semakin panas. Apalagi setelah para penonton melihat komentatornya yang ternyata bukan Carnation.
“Kau cocok sekali disitu, Alstro-san.”
“C-cocok apaan sih?! Lagipula Nona Carnation kemana sih kok jadi aku yang komentatornya?”
“Beliau bilang ada urusan, nanti akan kembali secepatnya untuk menyaksikan babak final ini.”
“Tapi kenapa harus aku sih…”
“Carnation-san bilang Alstro-san sangat bagus saat menjadi komentator!”
“…Ah! Baiklah mari kita sambut para peserta final turnamen sihir tahun ini!”
Suara tepuk tangan yang meriah pun semakin keras saat para peserta memasuki stadium. Mereka semua memegang roh bunganya. Mereka pun saling berhadapan ketika tiba di tengah-tengah arena.
“Hoo…kau sudah kalah saat babak kedua kemarin, masih berani ya mengangkat wajahmu disini?”
Kata Amaryliss dengan nada meremehkan pada kelas 1-A yang memandang tidak suka.
“Berisik! Di final ini kalian akan kalah!”
Sedangkan Elder mencuri-curi pandang ke arah menara atas tempat staff guru dan juri. Senyumnya merekah saat ia melihat ke arah sana.
“Riri-sensei ada disana!”
Spontan Iris juga ikut menoleh ke atas, diikuti Amaryliss. Sepertinya Riri yang berada di m
enara menyadari kalau ke-3 muridnya memandanginya. Dia melambaikan tangannya.
“Dia itu…datang dan pergi seenaknya saja…menyebalkan…”
Gerutu Amaryliss dengan pipi sedikit memerah sambil melipatkan kedua tangannya.
“Baiklah, semua peserta sudah siap diposisi?”
Amaryliss, Elder, dan Iris bersiap di posisi masing-masing, menyiapkan kuda-kudanya dan memegang roh bunganya dengan erat.
“Aku mengandalkanmu, Varie-chan...”
“Bersiaplah, Neomarica!”
“Kau bisa melakukannya, Sam-kun...”
Setelah bunyi pistol tanda pertandingan dimulai ditembakkan, para peserta pun menari bersama roh bunga mereka. ‘menari’ dengan sengit.
“Sulit dipercaya…kelas 1-E yang lemah itu bisa bertahan hingga sejauh ini…?”
“Apa yang selama ini mereka lakukan?”
Riri yang berada di ruang staff guru dan para juri alumni kelas 3 sedikit menyunggingkan senyumnya.
“Hei kau, apa yang kau lakukan pada anak-anak kelas E? Kau menyihir mereka dengan sihir tertentu kan? Bagaimana bisa mereka sekuat ini?”
Tanya anak-anak kelas 3 yang tempo hari meremehkan Riri. Namun Riri tak langsung menjawabnya. Dia hanya tersenyum pada mereka.
“A-apa-apaan senyummu itu?”
“Kalau aku memang menyihir mereka, kau mau apa?”
“Jadi benar kau menyihir mereka!? Kau curang! Pertandingan ini tidak sah! Pemenangnya adalah kelas—”
Sebelum siswi kelas 3 itu berteriak lebih kencang lagi,Riri menaruh telunjuk kanannya di mulut siswi itu. Menatapnya tajam.
“Jangan menuduhku tanpa bukti, nona manis—”
“Tanpa bukti apa katamu?! Kau sendiri yang bilang begitu! Lihat, semua staff guru melihatmu!”
Seru siswi kelas 3 lainnya menunjuk barisan staff guru yang melihat Riri dengan tatapan curiga. Riri tetap bersikap tenang. Dia melepaskan salah satu kancing di kerah bajunya.
“Makanya dengerin dulu dong kalau orang ngomong…dasar cewek…”
Riri menunjukkan muka sebal pada siswi kelas 3 itu yang makin membuat mereka geram. Lalu dia mengalihkan pandangannya kembali pada pertandingan di arena. Ke-3 muridnya tampak semangat bertarung melawan kelas 1-A.
“Lihat saja pertarungan ini sampai selesai, jika mereka menang, tarik kembali tuduhan tidak masuk akalmu itu padaku.”
“Lalu, jika kelas A yang menang?”
“Kalian boleh menjadikanku babu selama satu hari.”
“Hei, siapa kau seenaknya sendiri memutuskan?! Jika kelas E mu itu kalah, maka kau harus keluar dari akademi ini!”
“Boleh saja, taruhanmu menarik.”
Siswi kelas 3 tampak percaya diri kalau pilihannya akan menang. Sedangkan Riri tidak terusik sedikitpun.
__ADS_1
“Master, kau serius?”
“Tenang saja, mereka ber-3 pasti menang.”