
“A-Alstro-san…? Kau baik-baik saja?”
“Tidak mungkin…kenapa…kenapa dia…?”
Sosok itu menyerang Alstromeria dengan cepat hingga terpental jauh dengan pedang hitamnya. Sama dengan warna rambutnya, sorot mata hitam pekatnya begitu dingin.
Elder yang mampu merasakan aura seseorang, merasakan getaran ditubuhnya.
“Hanya merasakannya dikulit saja ini sangat mengerikan…t-tapi…tapi kenapa…?”
“RIRI-SENSEI—”
“TIDAK! JANGAN DEKATI DIA! DIA BUKAN RIRI SENSEI! PASTI BUKAN!”
Teriak Elder menahan kuat tangan Amaryliss yang hendak berlari ke arah sosok itu.
“Tapi—”
Elder menggeleng cepat, kedua tangannya bergetar.
“Tidak…itu bukan Riri-sensei… aura hitam pekat yang dingin seperti ini…bukanlah dia…!”
Sosok itu memang mirip dengan Riri, dengan warna rambut hitam pekat dan jubah panjang berlumuran darah ditubuhnya. Tatapan mata dingin dari bola mata hitamnya benar-benar membuat atmosfir disekitarnya menjadi memburuk.
Begitu juga dengan kedua pedang ditangannya yang juga berwarna hitam. Dia melirik ke arah Amaryliss yang masih memandanginya tak percaya.
“Tidak mungkin…sosok mengerikan itu…adalah Riri-sensei…?”
Amaryliss menggenggam erat pedangnya. Begitu juga dengan Iris yang tak jauh darinya.
“R-Riri-sensei! Apa yang…apa yang kau lakukan…!?”
Teriakan Iris membuat sosok itu memandangnya dingin.
DEGH!
Hanya…hanya ditatap seperti itu saja…membuatku ketakutan…apa…apa yang terjadi pada Riri-sensei…?
“IRIS! AWAS!”
DAAKKK!!!
Kecepatan yang tak kasat mata, sosok itu—sebut saja dark Riri—menyerang Iris tanpa sedikitpun tanda-tanda dia beranjak dari tempatnya.
“Nona Iris! Mundurlah!”
Roh bunga Iris muncul dengan bentuk manusianya dan menahan serangan kedua pedang dark Riri dengan sekuat tenaga—walau sebenarnya mustahil karena kekuatan serangannya lebih kuat—
“N-Neo-san!”
Melihat sosok dark Riri dari dekat, membuat Elder semakin bergetar ketakutan, begitu juga dengan Amaryliss yang hanya bisa mundur perlahan-lahan.
“K-kenapa…kenapa jadi…kenapa jadi seperti…ini…?”
“Aku…tidak bisa…bertahan…lebih lama lagi…!”
Saking kuatnya serangan dark Riri, Neomarica—roh bunga Iris—tak bisa lagi menahannya hingga tubuhnya terpental dan kembali ke wujud pedangnya. Kini dark Riri berhadapan dengan Iris yang masih terduduk ditanah. Dia mengacungkan salah satu pedang hitamnya ke arahnya.
“R-Riri-sensei…a-apa kau tidak mengenali…kami…? Murid-muridmu…?”
Ucap Iris dengan terbata-bata. Mencoba untuk tidak melihat tatapan dingin kedua bola mata hitam dark Riri. Namun dark Riri tidak mempedulikannya. Tangan kirinya bersiap mengayunkan pedang ke arah Iris.
“IRIS-SAN! CEPAT MENYINGKIRLAH!”
Perhatian dark Riri teralihkan saat lengannya terkena serangan peluru besar yang berasal dari Typha. Namun peluru yang berukuran sebesar pipa itu tak berhasil menembus jubah panjang hitamnya.
“Kalian ber-3 cepat menyingkirlah dari sana! Kami akan mencoba mengalihkan perhatiannya!”
Teriak Alstromeria dengan memegang roh bunganya yang juga berjumlah 2.
“Tidak! Itu mustahil! R-Riri-sensei—tidak, dark Riri memiliki kekuatan mengerikan yang jauh melebihi kita! Kau bisa lihat kan ketika dia menyerang Iris tanpa meninggalkan tanda!?”
Teriak Elder yang sedari tadi ketakutan. Begitu juga dengan Amaryliss dan Iris yang juga tak beranjak dari tempatnya.
“Pasti…pasti ada sesuatu yang membuat Riri-sensei jadi seperti ini! Aku yakin dia bukanlah orang jahat! Dia—”
“Kyaaa!!”
BRUAAAKKKK
Lagi-lagi dark Riri menghantam pedangnya menyerang Elder hingga terpental sejauh 50 meter. Kakinya yang panjang menginjak kaki Elder yang terkapar ditanah dan mengacungkan salah satu pedangnya tepat didepan wajah Elder. Roh bunga Elder terlepas dari tangannya dan berada didekat Amaryliss. Dengan segera Amaryliss mengambilnya dan melemparkannya sejauh mungkin.
“SELAMATKAN ELDER, SAMBUCUS-SAN!”
Pedang ramping Elder melesat cepat menuju pemiliknya, lalu merubah wujudnya menjadi manusia dan bersiap menyerang dark Riri dari belakang.
“MENYINGKIR KAU DARI NONAKU!!”
Lagi-lagi gerakan dark Riri sangat cepat, sebelum ujung pedang Sambucus mengenai punggungnya, dia sudah berdiri didepannya dan menahan serangan pedang Sambucus dengan kedua pedang hitamnya.
“Kau ini…sebenarnya apa…?!”
Ekspresi dark Riri tak berubah sedikitpun. Dia hanya terus mendorong kuat serangan pedang Sambucus.
“Sia…lan…!”
Sebelum tubuhnya terpental, Sambucus langsung melompat dan menghampiri Elder yang masih terkapar ditanah.
“Nona! Kau baik-baik saja!?”
Sambucus menahan tubuh Elder dengan tangannya. Elder melihat sosok dark Riri samar-samar dari kejauhan.
“Riri…sensei…”
Tanpa disadari, airmata menitik dari pelupuk matanya. Sambucus tercekat begitu melihat airmata di pipi nonanya.
“Nona Elder…kau sudah merasakannya kan…orang itu bukanlah lagi sosok gurumu yang kau kenal…pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini! Nona Elder, dengan kemampuanmu merasakan aura seseorang, kau pasti bisa menemukan penyebabnya!”
Elder memeluk kedua telapak tangannya. Masih merasakan ketakutan didadanya ketika melihat bola mata hitam dingin dark Riri.
“Pasti…pasti ada yang ingin mencelakai Riri-sensei…dan membuatnya dibenci oleh seluruh penghuni akademi Hanatarou ini…pasti…! Riri-sensei yang kami kenal…bukanlah orang seperti itu…!”
Dark Riri mengangkat kedua pedangnya ke atas, tiba-tiba tubuhnya melayang seolah kedua pedangnya yang menariknya. Di langit-langit muncul gumpalan awan hitam yang terpusat ke ujung pedangnya hingga menyebabkan suara petir bergemuruh dimana-mana. Dia melirik ke bawah, tepatnya pada Amaryliss yang memandanginya.
“Apa…apa yang harus kita lakukan…?”
“Serangan sekuat ini…tidak mungkin…”
Udara disekitar mereka semakin dingin saat gumpalan awan hitam itu semakin membesar. Bahkan seluruh penduduk kota Laurel dapat melihat gumpalan awan hitam yang semakin membesar. Mereka mulai bertanya-tanya hingga berlarian memasuki rumah.
Aku merasa lemah, tak bisa melakukan apa-apa…
Itu bukan Riri-sensei…dimana muka bodohnya yang menyebalkan itu?
Kenapa dia malah melihatku seperti itu…?
Mata itu…mata yang sama saat Tuan Raflesia memandangku…
Tatapan mata dingin dan tak peduli…
__ADS_1
Kenapa…kau pun memiliki tatapan mata seperti itu…!?
Tidak, Riri-sensei yang kukenal memiliki tatapan mata yang hangat dan menyebalkan!
“Riri-sensei!! Kemana wajah bodohmu yang menyebalkan itu!? Kenapa malah jadi begini!? Siapa yang beraninya merebut wajah bodoh itu darimu!?”
Dark Riri tampak acuh walau Amaryliss meneriakinya dengan cucuran air mata di pipinya. Melihat tatapan dingin itu, Amaryliss mengacungkan pedangnya.
“Aku…aku akan…aku akan menyingkirkan tatapan dingin itu…dan…dan mengembalikan wajah bodohmu yang menyebalkan itu!!!”
“Bagus Amaryliss!”
Tiba-tiba dari langit, cahaya terang berwarna emas muncul hingga membuat gumpalan awan hitam yang diciptakan dark Riri tersingkir.
“BERANINYA KAU MENODAI ANAKKU!!!!”
Itu adalah Carnation yang memegang pedang raksasanya, dengan sekuat tenaga dia menebas punggung dark Riri hingga terjatuh ke tanah. Tetapi gumpalan awan hitam yang ada dilangit masih belum hilang.
“Nona Carnation!”
“Dianthus, kau bisa melihat ada apa di aliran mana Riri?!”
“Aliran mana yang membeku ditubuh Riri berwarna hitam pekat. Itu racun. Aku bisa melihat Camelyum yang ingin melepaskan diri dari cengkraman racun di aliran mana Riri.”
“Apa kau bisa berkomunikasi dengannya?”
“Ya, akan kucoba dengan telepati.”
Pedang besar Carnation langsung lenyap, dia segera berlari menghampiri Amaryliss dan lainnya.
“Kalian semua baik-baik saja? Apa dia melukai kalian?”
“Nona Carnation darimana saja sih!? Lakukan sesuatu pada Riri-sensei! Dia sudah melukai Elder!”
Seru Amaryliss dengan wajah yang masih basah karena air mata. Carnation menoleh ke arah Elder yang masih terkapar ditanah ditemani roh bunganya.
“Sudah kuduga akan jadi seperti ini… anak nakal itu…”
Dark Riri kembali berdiri dan mengacungkan kedua pedang hitam ditangannya keatas.
“Sialan! Dia mau membuat lagi gumpalan awan yang tadi kuhancurkan dengan sihir bungaku!”
Tanpa menanti perintah, Typha melontarkan lagi pelurunya ke arah pedang dark Riri, sayangnya tak ada satupun yang berhasil membuat dark Riri goyah.
“Nona Carnation…”
“Anda…memanggil Riri-sensei dengan sebutan ‘anakku’ tadi kan…?”
Carnation tercekat ketika mendengar pertanyaan Iris. Dia menggigit bibirnya pelan.
“Dengar, masih ada cara untuk mengembalikan guru kalian kembali seperti semula, Riri dia…aliran mananya terkontaminasi racun sehingga membuatnya kehilangan jati dirinya…roh bunganya, Camelyum sedang berusaha melepaskan cengkraman racun itu darinya, yang bisa kalian lakukan adalah membantunya dari luar! Kita harus segera melepaskan racun itu sebelum gumpalan awan besar disana akan meledakkan seisi kota Laurel!”
“Aliran mananya…terkontaminasi racun…?
“Kalian semua adalah orang yang paling dekat dengan anak nakal itu, maka aku percayakan ini pada kalian!”
Dengan bantuan roh bunganya, Elder mencoba berdiri walaupun masih merasakan sakit ditubuhnya karena serangan dark Riri. Dia menunjukkan sorot mata penuh keberanian.
“Sejak awal…aku percaya…kalau Riri-sensei…adalah orang yang bisa kami andalkan!”
“Nona Elder…”
Sambucus terlihat khawatir melihat nonanya berdiri dengan susah payah.
“Sam-kun, pinjamkan aku kekuatanmu…! Aku akan…aku akan menyelamatkan Riri-sensei…!”
Dengan sigap Sambucus mengangguk, kembali merubah dirinya menjadi pedang di tangan Elder.
Amaryliss, Elder, Iris, Alstromeria dan juga Typha menegakkan lehernya bersamaan lalu saling berpandangan.
“Ada…suara yang lewat begitu saja dalam pikiranku…”
“A-aku juga mendengarnya…”
“Dia menyebut nama Riri-sensei…”
“Apa jangan-jangan…?”
“ROAAAAAAAHHHHH!!!!!!”
Tiba-tiba dark Riri berteriak keras, kedua pedangnya jatuh dari tangannya. Dia memegangi kepalanya terlihat kesakitan, menjatuhkan lututnya ke tanah.
“JAAAANGAAANNNN COBAAA COBAAAA MENGHALANGIKUUUUU!!!!!”
Rintihnya, tubuhnya berontak diatas tanah, bagai ada orang yang sedang mengusiknya.
“Nona! Camelyum masih berusaha melepaskan racun dari aliran mana Riri! ini kesempatan untuk menyerang racunnya dari luar!”
“AMARYLISS! ELDER! IRIS! ALSTROMERIA! TYPHA! KERAHKAN SERANGAN TERKUAT KALIAN PADA DARK RIRI DAN SALURKAN IKATAN KALIAN SEBAGAI GURU DAN MURID PADANYA!”
Setelah mendengar perintah itu, mereka ber-5 langsung memposisikan diri secara melingkar. Mengangkat roh bunganya kedepan, dan mengeluarkan serangan pamungkasnya masing-masing.
“Riri-sensei…wajah bodohmu itu pasti akan kukembalikan…!!”
“AMARYLISS VARIEGATA!!!”
“Aura Riri-sensei selalu hangat, bagai memberikan semangat dikelas kami yang selama ini selalu merasa gagal.”
“SAMBUCUS~NIGRA!!”
“Riri-sensei telah mendorongku untuk tidak takut…mengajarkan padaku arti kehidupan yang sesungguhnya, hingga aku lebih tegar menghadapinya.”
“NEOMARICA GRACILIS!!”
“Riri-sama dan nii-san adalah orang yang berbeda, tetapi aku melihat satu kesamaan dari kalian, yaitu senyumannya.”
“PERUVIAN LILY~!”
“Aku suka padamu, Riri-san.”
“TYPHA ANGUSTIFOLRA~!”
“Tak peduli bagaimana kau sekarang…kau tetaplah putraku satu-satunya!”
“DIANTHUS CARYOPHYLLUS!!”
“GROAAAAAAAAA!!!!!!!!!”
***
PRAAGGG!!
“Argh! Sialan!”
Daffodil mengumpat sendiri saat kristal berbentuk segitiga yang ada ditangannya tiba-tiba pecah hingga pecahannya yang berwarna emas berjatuhan di lantai. Dia menginjak-injaknya kesal.
“Padahal…padahal tinggal sedikit lagi…padahal tinggal sedikit lagi akan kupersembahkan pada Tuan Agung!”
“Jadi itu memang ulahmu ya, Daffodil? Caramu cukup sembrono.”
__ADS_1
Seorang wanita berambut ungu pekat menyeringai padanya diambang pintu, sambil melipat kedua tangannya didada besarnya.
“K-kau?! Sejak kapan kau ada disana?!”
“Sejak kau mengumpat-ngumpat ‘ah! Sialan!’”
Wanita itu masuk begitu saja kedalam ruangan ‘Daffodil’, lebih tepatnya ruang penelitian milik Daffodil si peringkat ke-4.
“Sebagai Master racun, kau selalu melakukan eksperimen aneh, namun kali ini kau takkan termaafkan, sayang.”
“Berisik! Seenaknya saja masuk ke tempatku!”
“Oh? Jadi kau mau melawanku, Verbena si cantik peringkat kedua ini?”
Daffodil menahan napasnya sejenak. Lalu dia memungut beberapa pecahan kristal yang tadi diinjaknya.
“Aku akan meracuninya lagi sampai kristal ini sempurna, dan kupersembahkan pada Tuan Agung—”
Sebelum kalimatnya selesai, Verbena menepis kedua tangan Daffodil hingga kristal yang barusan dipungutnya kembali berjatuhan.
“Apa yang kau lakukan hah!?”
“Sekalinya sembrono, tetaplah sembrono, dasar bodoh!”
“Apa kau bilang!?”
“Kau bilang akan meracuninya lagi? Hei, kau pikir Riri Hanamizuki itu tikus yang akan terus-terusan terperangkap di jebakan yang sama berulang kali? Dasar bodoh!”
“Jangan remehkan kemampuanku!”
Verbena memandangi Daffodil dengan tatapan tajamnya. Dia mengambil pistol-satutangan- di pinggangnya dan mengokangnya.
“A-apa yang mau kau laku—”
DHOOORR!!
Setelah melepaskan satu peluru, dia kembali menyimpannya di pinggangnya.
“Riri Hanamizuki hanya seekor anak anjing bodoh yang menggonggong karena ditelantarkan, dan kita akan menjadi tempatnya untuk pulang.”
Verbena tersenyum sinis pada Daffodil yang menganga, dia mengetuk dahi pria yang lebih pendek darinya itu hingga spontan tubuhnya terduduk ke lantai.
“Hei, kau itu belum mati. Masa kubiarkan adik manisku mati ditanganku? Khukhukhu. Aku harus menghemat amunisiku untuk menjemput anak anjing kesayanganku~”
Verbena menghilang dalam kepulan asap begitu saja. Dengan gemetar, Daffodil berbalik ke belakangnya. Melihat bekas tembakan peluru yang menghancurkan salah satu cermin raksasanya hingga pecah berkeping-keping.
“Wanita itu…benar-benar…monster…”
***
“RIRI-SENSEI!! AKU.MOHON~!!!!!”
“Lihat diatas sana…”
Gumpalan awan hitam dilangit perlahan memudar, cahaya menyilaukan berhasil melenyapkannya, membentuk kuncup bunga. Cahaya yang membentuk kuncup bunga dilangit menelan semua gumpalan awan hitam hingga lenyap tak berbekas. Pemandangan menakjubkan itu disaksikan oleh semua warga kota Laurel. Mereka terkagum-kagum hingga beberapa diantara mereka mengucapkan rasa syukur dan berdoa.
“Ya…nama belakang Riri memiliki arti yang sama, kuncup bunga…”
Carnation tersenyum simpul sambil memandangi pemandangan yang luar biasa itu. Dari ujung kuncup bunga, muncul sesosok berpakaian tempur berwarna putih dan hitam, yang tak lain itu adalah—
“Ah! Camelyum!”
Seru Carnation spontan, dan ke-5 gadis yang mendengarnya menoleh bersamaan.
“RIRI!!”
Dengan cepat Camelyum menangkap tubuh Masternya sebelum mendarat ke tanah. Dia telah kembali seperti semula.
“Riri…s-syukurlah…syukurlah kau sudah…kau sudah kembali normal…”
“RIRI-SENSEI!!!!”
Begitu juga dengan ke-5 gadis yang segera berlari menghampirinya. Mereka menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
“S-syukurlah…syukurlah Riri-sensei…!”
Elder bisa merasakan gurunya itu sudah kembali normal dari auranya, hingga air matanya kembali menetes.
“Dianthus, kerja bagus.”
Dianthus muncul dalam bentuk manusianya di belakang Carnation. Dia hanya memberikan salam hormat.
“Yah, menurutku, Camelyum-lah yang paling berusaha keras agar Masternya yang bodoh itu tidak terus terjerumus kedalam dirinya yang lain.”
“Haha, kau juga menganggapnya Master yang bodoh?”
Dianthus sedikit tersenyum. “Dia bodoh karena membuat kita semua repot…terutama gadis-gadis itu, kau tahu kan aku paling tidak tahan melihat air mata wanita.”
“Jadi, apa kau sudah menemukan penyebab racun di aliran mana Riri? Apa yang membuatnya menjadi begitu?”
“Aku masih belum yakin, tapi kurasa, Camelyumlah yang lebih tahu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah memulihkan kondisi mana mereka berdua.”
“Benar juga.”
Dianthus kembali lenyap dan Carnation berlari menghampiri.
“Riri kau baik-baik saja?! Riri!”
Riri tak merespon seruan Camelyum yang mengguncang tubuhnya. Tubuhnya dipenuhi luka gores.
“…Apa…apa guru kami baik-baik saja?”
“Tidak apa, guru kalian ini hanya perlu beristirahat penuh hingga kondisi mananya kembali pulih, begitu juga dengan kalian yang telah berjuang keras mengeluarkan seluruh kemampuan yang kalian bisa untuk menolong anak nakal ini.”
Carnation langsung membalas pertanyaan yang dilontarkan Iris yang terbata-bata.
“…Apa kau…adalah roh bunga milik Riri-sensei?”
Tanya Amaryliss yang sedari tadi terpesona melihat wajah Camelyum ketika menyerukan nama Masternya dengan raut wajah penuh kecemasan. Camelyum tersenyum singkat dan mengangguk. Tangannya menggenggam erat bahu Riri.
“Benar…selama ini Masterku selalu menyembunyikanku dari hadapan kalian semua…karena dia bilang dia tak ingin menarik perhatian karena memiliki dua jenis roh bunga…”
“A-apa!? Riri-sensei memiliki 2 roh bunga?! Bukankah hanya 0.01% saja di dunia ini yang memilikinya?!”
Seru Alstromeria spontan, namun Camelyum tak menjawabnya. Dia berdiri sambil memapah tubuh Masternya.
“Maaf aku tak bisa bicara banyak, keselamatan Masterku adalah prioritasku. Selamat tinggal.”
Dalam sekejap, Camelyum dan Riri menghilang tanpa bekas. Membuat siapapun yang melihatnya akan terkejut.
“S-sihir teleport tingkat tinggi!”
“Kemana mereka pergi? Apa ke rumah Riri-sensei?! Bisakah kami juga pergi kesana?”
“Nona Carnation!”
Ke-5 gadis itu memandangi Carnation bersamaan. Dia menghela napas pendek.
“Apa…Riri-sensei adalah putramu…?”
__ADS_1
Carnation tampaknya tak bisa lagi menyembunyikannya.
“Mau bagaimana lagi…”